
PoV Risa
Tak disangka, hari ini lebih melelahkan daripada berada di toko. Niat hati ingin beristirahat karena kondisi tubuh yang terasa remuk redam. Malah harus mengeluarkan tenaga lebih extra. Baru siang tadi aku merasakan tubuhku kembali segar. Siangnya aku harus kembali merasakan nyeri di tubuh dan juga pikiran.
Mulanya dengan urusan Manda. Gegara mulut judesnya, dia harus merasakan hal yang tak terduga. Lelaki yang menaksirnya tega berbuat nekat hanya untuk menunjukkan perasaannya pada Manda. Aku sudah berkali - kali menasehatinya agar menjaga ucapan. Apalagi berbicara dengan lawan jenis. Bisa - bisa dia kena tulah karena lelaki tersebut sakit hati dengan ucapannya.
Siang ini, kekhawatiranku terjadi. Malah lebih mengerikan. Lelaki itu mengajak serta dua temannya untuk memberi Manda pelajaran agar dia bisa lebih menghargai seseorang.
"Makanya, jadi cewek jangan belagu. Gak usah sok oke. Aku bakal buat kamu nyesel karena udah ngacangin perasaanku. Bila perlu aku akan buat kamu ngemis - ngemis cinta padaku. Dan saat itu, aku gak akan mau peduliin kamu".
Masih terngiang ancaman lelaki itu pada Manda saat aku tiba dilokasi. Kondisi Manda saat itu sudah lebam pada wajah. Darah segar juga masih mengalir disudut bibirnya. Tangannya sudah di pegangi oleh kedua teman lelaki yang ku tahu bernama Ijal.
Emosiku seketika berada dipuncak saat melihat kondisi adik perempuan yang menyedihkan itu. Perkara apa masalahnya itu urusan nanti. Sekarang yang terpenting aku harus melepaskan Manda dari mereka dulu.
Ku tendang pinggang Ijal hingga membuatnya terjengkang. Lalu aku beralih pada dua orang yang memegangi Manda. Mereka tampak bingung melihatku. Aku menatap mereka satu persatu dengan tajam. Kakiku langsung bergerak refleks saat salah satu dari mereka ingin memukulku. Sasaranku adalah lehernya. Itu adalah tempat yang cukup fatal menurutku.
Benar saja. Lelaki itu langsung terjatuh ke samping saat ku panjangkan kakiku ke arah lehernya. Tinggal satu orang lagi. Tubuhnya lebih besar dari mereka berdua. Aku tak peduli. Sebelum dia menyerangku, dia mendorong Manda hingga terjerembab. Aku terkesiap melihat tindakkannya. Hampir saja aku teralihkan dengan tindakannya. Dengan sigap ku tangkis pukulannya, lalu melayangkan tinju pada rusuk kiri dan kanannya. Setelahnya ke tendang ulu hatinya untuk menjatuhkannya.
Saat aku hendak menolong Manda, Ijal dengan cepat mengarahkan pisaunya padaku. Karena tak siap, aku gagal menghindar dan mengenai lengan kiriku.
"Kaaaak...". Pekik Manda saat melihat darah mengaliri tanganku.
"Rasain kamu. Berani macem - macem sama Ijal", ucap laki - laki itu dengan seringai yang tercetak jelas di bibirnya.
Aku meringis merasakan perih dan sakit. Dengan sisa tenaga yang ku punya, ku tendang alat vitalnya sekuat mungkin. Lalu ku tinju wajahnya yang menertawai kesakitanku hingga ia tak mampu lagi mengeluarkan tawa itu.
Beruntung setelahnya, Zein dan Rendy datang. Mereka menyelesaikan sisanya. Aku menghampiri Manda yang sudah menangis histeris melihat keadaanku. Aku mencoba menenangkannya.
__ADS_1
"Udah, jangan nangis. Aku gak apa - apa". Ku rengkuh dia dalam pelukanku. Ku usap punggungnya agar dia lebih tenang.
"Aku takut, kak", lirih Manda dengan isak tangis yang belum luntur.
"Yang penting sekarang kita udah aman", ucapku berusaha menenangkan.
Tak lama mobil polisi pun datang mengamankan lokasi dan kami semua dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Setelah memberikan keterangan dan lukaku mendapat perawatan. Kami pulang diantar Rendy. Dimobil, hawa terasa begitu panas. Padahal AC mobil menyala. Ku coba memendam segalanya agar tak didengar Rendy. Tapi dada semakin sesak.
Aku meluapkan segala isi kepalaku. Memarahi adik bungsuku yang selalu bersikap acuh dan judes setiap kali berurusan dengan lawan jenis. Padahal menurutku tak ada salahnya jika kita merespon seseorang yang ingin dekat dengan kita. Jika memang tidak suka, bicarakan baik - baik tanpa harus menyinggung perasaan orang tersebut. Biar bagaimanapun, perasaan seseorang tak bisa kita mengerti dengan baik.
Aku juga selalu menyarankan pada Manda agar bersikap sedikit lebih ramah. Mulut pedasnya yang tak bisa dikendalikan terkadang malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Bukan tak pernah ia mendapat teguran dari orang yang merasa sakit hati dengan ucapannya. Namun Manda seolah tak peduli dan tetap pada pendiriannya.
Dan hari ini, dia bisa menikmati akibat dari mulut pedasnya yang berhasil menyakiti hati seseorang. Sebenarnya aku sedikit geram dengan Manda setelah mendengar alasan mengapa orang tersebut sampai berbuat nekat padanya. Namun melihat keadaannya yang memprihatinkan membuat lidahku kehilangan kata - kata.
Kalau mengingat kejadian siang tadi, aku selalu merutuki mulut Manda yang judes itu. Apalagi jika sudah berhadapan dengan orang yang tak disukanya. Dia tak akan sedikitpun berpura - pura dalam bersikap. Prinsipnya, jika tak suka jangan berpura - pura dan jangan memberi harapan.
Belum lagi tenang pikiranku karena kejadian siang tadi. Sore ini, aku harus menimpa kejadian yang sangat memalukan. Sebenarnya aku sama sekali tidak malu, hanya kesal. Aku tak berbuat salah sama sekali. Aku juga tak pernah berbuat seperti yang mereka tuduhkan.
Jika aku mau aku bisa saja menuntut mereka atas pencemaran nama baik. Tapi aku masih memikirkan dia sebagai teman. Apalagi menurut Manda, Sandra merupakan salah satu perempuan yang sedang dekat dengan Zein. Aku penasaran, sejauh mana sudah hubungan mereka. Sampai - sampai sikapnya seperti tadi padaku.
"Mereka itu mau ngelabrak orang bukannya cari info yang lengkap malah setengah - setengah. Mau ngerugiin orang malah yang ada ngerugiin diri sendiri", ucap Manda dengan wajah kesalnya.
Sepertinya dia juga merasa tersinggung dikatai pelakor muda. Biar bagaimanapun adikku itu tak tahu apa - apa dengan masalah mereka. Bukan cuma Manda, sebenarnya aku juga. Mereka hanya mengandalkan emosi sesaat tanpa memikirkan dampak ke depannya.
"Namanya juga orang sirik. Sirik tanda tak mampu, kan", ucapku menimpali.
__ADS_1
Aku mengendikkan bahu mengingat ulah dua wanita tadi. Meski kesal aku sendiri malas memikirkan kejadian yang sudah menguras sedikit tenagaku.
"Aku mau nelpon Abang, ah. Mau ngadu". Ucap Manda mengambil ponselnya.
Aku memilih masuk ke kamar. Merebahkan tubuhku yang mulai terasa nyeri. Aku harus istirahat. Besok adalah hari promo sekaligus syukuran untuk Cafe. Tak mungkin aku tak hadir disana.
Tiba - tiba saja muncul niatku untuk menghubungi Wulan. Ku cari kontaknya digrup alumni. Lalu aku mengiriminya pesan.
[Aku masih berbaik hati sama kamu. Karena aku masih anggap teman. Kalo video tadi gak kamu hapus, aku bakal bilang ke Rendy untuk ngurus kasus kamu. Inget. Rendy pengacara. Aku bisa bawa kamu ke jalur hukum dengan pasal pencemaran nama baik]
Aku tahu, mungkin saat ini video tersebut sudah tersebar di medsos. Setidaknya, hanya untuk menghentikan pihak lain menyebar luaskannya. Sengaja ku jual nama Rendy agar dia bisa memikirkan kata - kataku. Dia sangat menjaga imej di depan Rendy. Karena dia punya perasaan padanya. Walau banyak orang tahu kalau dia selalu mendekati banyak pria yang memiliki banyak uang.
Aku mencari kontak Rendy untuk mengirim pesan.
[Besok ada acara syukuran sekaligus kayak launching gitu di Kafe. Kamu dateng, ya. Bawa keluarga juga boleh. Dan jangan lupa untuk bawa uang. Kafe lagi promo. Jangan ngarep yang gratisan terus]
Tulisku dengan emoticon tertawa. Bibirku melengkung ke atas saat mengetik pesan tersebut pada Rendy. Saat aku hendak meletakkan ponsel, notifikasi pesan masuk berbunyi. Aku langsung membuka pesan tersebut.
[Dasar janda kegatelan. Kamu gak usah bawa - bawa Rendy, deh. Udah salah, malah mau nyalahin. Makanya jangan suka ngerebut milik orang. Ini berondong pun disikat. Mending sama Om - Om aja kamu. Jangan racuni yang masih muda.]
Pesan dari Wulan. Dia juga membubuhkan emoticon marah pada pesan tersebut.
Aku menautkan alis saat membaca pesan Wulan. Aneh pikirku. Dia mengataiku seperti itu saja sudah bisa dikatakan dalam tindak pidana. Tindakan tidak menyenangkan. Banyak sekali pasal yang didapatnya jika aku ingin memperkarakan dia.
[Aku gak merasa bersalah. Karena memang aku gak salah. Aku gak pernah merebut yang bukan milikku. Mungkin sebaiknya kalian cari info yang lengkap sebelum memvonis seseorang bersalah. Kalo kamu tetep gak mau hapus video tadi, terpaksa aku harus bawa ke jalur hukum]
Ku kirim pesan tersebut. Sepertinya menghadapi orang seperti Wulan memang harus menggunakan ancaman. Setelahnya ku senyapkan pemberitahuan darinya. Aku tahu, pembahasannya akan melebar. Sebaiknya aku istirahat saja. Pikiran dan tenagaku perlu di re-charge. Masih ada yang lebih penting daripada mengurusi tingkah Wulan.
__ADS_1