Ayah Untuk Safira

Ayah Untuk Safira
Tragedi Lagi


__ADS_3

Dirumah sakit. Lagi - lagi Risa mendapat beberapa jahitan di bagian tubuhnya. Setelah beberapa waktu lalu dia mendapat jahitan pada lengan kirinya. Kali ini dia harus merasakan tubuhnya kembali ditanami benang agar jaringan ototnya dapat menyatu. Bahu kanannya mengalami luka tusukan yang cukup dalam dan membuatnya mengalami keterbatasan gerak pada tangan kanannya.


Luka tusukan akibat obeng tersebut sedikit melebar karena saat Risa meninju leher pelaku, tangan si pelaku malah menarik kuat obeng tersebut hingga terlepas dari bahu Risa. Beruntung karena tak sampai mengenai bagian vital di bahu.


Setelah mendapatkan penanganan, Risa langsung dibolehkan pulang. Dokter menyarankan agar Risa tak melakukan banyak gerakkan pada tangan kanannya. Apalagi sampai mengangkat suatu beban. Baik ringan maupun sedang. Apalagi berat. Agar luka dan cedera pada bahu Risa dapat pulih dengan cepat.


Pelaku penusukkan Zein pun telah diamankan dan sedang dalam pemeriksaan. Menurut keterangan dari pihak polisi, pelaku merupakan pemakai sekaligus pengedar narkoba. Polisi telah mengincarnya sejak lama dan sempat kehilangan jejak. Namun, keberadaannya kembali tercium akibat insiden penusukkan Zein.


Setelah mendapatkan keterangan dan kronologi dari Risa dan Akbar alias Abek, petugas kepolisian pun undur diri. Risa masih menatap wajah putrinya yang sudah terlelap di sampingnya. Selama proses perawatan lukanya, Safira tak mau lepas dari dekapannya dan terus menangis. Hingga akhirnya dokter dan perawat membiarkan Safira dalam dekapannya agar tenang.


"Aku udah kabari Ibu kalo kita pulang agak malem".


Risa menatap Rendy yang telah duduk di sisi ranjang. Pria yang akan menjadi suaminya itu membelai lembut kepala putrinya.


"Kamu gak bilang yang sebenernya kan ke Ibu ?".


"Enggaklah. Aku gak bisa bayangin gimana keadaan Ibu kalo sampek tahu tentang kejadian ini". Ucap Rendy pelan. "Kita mau pulang sekarang atau gimana ? Tadi Abek udah pulang dijemput temennya. Aku juga udah kasih dia uang untuk beli makanan buat keluarganya dirumah".


Risa tersenyum. "Makasih, ya calon suami. Baik banget sih". Tangannya menjawil dagu pria dihadapannya.


Saat Rendy akan membalas Risa, terdengar suara deheman dari arah belakang mereka. Keduanya menoleh dan mendapati salah seorang petugas polisi telah berdiri diambang pintu. Rendy menautkan alisnya melihat petugas polisi itu yang seakan tertawa meledeknya.


"Mesra - mesraannya ditahan dulu. Masih tiga hari lagi". Ucap petugas polisi itu yang tak lain adalah teman Rendy.

__ADS_1


"Sial lu. Ganggu moment aja". Rutuk Rendy pada temannya.


"Hai Risa. Aku heran deh, kok kamu selalu aja berurusan dengan penjahat dan rumah sakit". Ucap petugas polisi yang diketahui bernama Indra. "Pertama, sewaktu kasus Ijal. Kedua sewaktu kasus penusukkan. Dan sekarang..." Pria itu tak melanjutkan kalimatnya.


"Bukan saya yang berurusan dengan penjahat Pak pol. Tapi penjahatnya aja yang seneng berurusan dengan saya". Jawab Risa ketus.


"Jangan panggil saya 'Pak', Ris. Jadi keliatan tua banget saya". Seloroh Indra. "Oh iya. Gimana keadaan lukanya, Ris ?"


"Alhamdulillah, udah ditangani Mas. Sudah dibolehi pulang juga sama dokter". Jawab Risa lebih santai


Mata Rendy terbelalak mendengar Risa memanggil temannya dengan sebutan 'Mas'. Wajahnya berubah masam seketika. "Dia itu seumuran kita, Ri. Gak usah dipanggil 'Mas' juga. Panggil namanya aja. Aku aja kamu panggil nama doang".


"Apaan sih Rend". Risa menatap heran pada calon suaminya itu.


Risa menautkan alisnya menatap Rendy yang tampak cemberut. "Aku sedikit aneh liat dia. Dulu sikap dia gak kayak gini loh. Sekarang, makin hari kok makin manja aja. Ngelebihi Safira manjanya".


"Lah, kan aku manjanya sama calon istriku sendiri. Bukan sama perawat - perawat disini". Ucap Rendy tak mau kalah.


Sementara Indra hanya tertawa melihat berdebatan kecil pada calon pengantin tersebut. Mereka berbincang - bincang sedikit sambil menunggu masa observasi luka Risa. Setelah Risa dirasa membaik, akhirnya mereka pun pulang.


Baik Risa maupun Rendy, sama sekali tak memberi tahu Misra mengenai keadaan Risa sesungguhnya. Tapi Rendy telah memberi pesan pada Zein dan Sarja mengenai kondisi Risa. Sarja yang mengetahui sifat asli putri sulungnya hanya bisa menggelengkan kepala mendengar kejadian yang menimpa Risa tersebut.


"Jadi gitu ceritanya, Pak. Makanya kami sampek larut begini pulangnya. Sekarang pelaku penusukkannya Zein udah ketemu. Dan kata temen saya, dua pelaku lainnya juga sudah ditemukan". Ucap Rendy dengan hati - hati. Dia takut jika suaranya akan terdengar oleh calon Ibu mertuanya.

__ADS_1


"Trus Abeknya baik - baik aja, kan Bang ?", tanya Zein.


"Dia baik kok. Cuma lebam - lebam doang kayak muke lu. Kalo cerita dari Abek, itu Abek udah hampir ke tusuk juga. Karena Risa muncul, tuh pelaku malah nyerang Risa. Risa nendang tangannya pelaku sampek pisau yang dipegang terlepas jauh dari mereka. Trus pelakunya malah dapet obeng dan nusuk bahu Risa pakek obeng itu". Rendy agak bergidik saat menceritakannya. Dia mengusap bahunya seolah hal tersebut terjadi pada dirinya. "Hebatnya Risa, walau dia udah kena tusuk, dia masih sempet nyerang balik. Malahan ngelumpuhin lawannya". Sambung Rendy lagi sambil menggelengkan kepalanya.


Sarja manggut - manggut sambil tersenyum mendengar cerita Rendy. Dia sendiri tak heran jika putri sulungnya tersebut bisa melakukan hal itu. Sejak kecil, dia selalu mengajak putri sulungnya untuk ikut nonton acara tinju di televisi. Bahkan Risa kecil mampu menirukan gerakan para petinju dengan baik. Sarja juga sempat membuatkannya samsak untuk berlatih. Namun, hal tersebut mendapat larangan dari sang Istri. Mengingat anak pertamanya adalah perempuan.


Tapi rasa penasaran dan ketertarikkan Risa kecil pada tinju, membuatnya berlatih diam - diam dari sang Ibu. Setiap kali Misra pergi kerja dan menyuruh Risa kecil untuk menjaga adiknya, dia akan berlatih sambil mengajak adiknya ikut serta.


"Dari dulu, Risa itu paling gak bisa liat adek - adeknya dijahili sama orang lain. Dia pasti langsung bales tindakan orang yang berani berbuat jahat ke adek - adeknya. Penampilannya yang kalem dan terkesan lembut, membuat orang - orang gak menyangka kalau Risa itu bisa bertindak seperti laki - laki. Ditambah lagi, sewaktu SMP, dia pernah minta izin ke Bapak untuk ikut ekskul taekwondo. Ya, Bapak izini aja. Katanya sekedar mempercantik gerakan. Supaya gerakannya lebih terarah saat menghadapi lawan".


Rendy masih tercenung mendengar penuturan calon Bapak mertuanya itu. Dia sama sekali tidak pernah tahu kalau Risa pernah ikut latihan bela diri. Selama disekolah, dia hanya tahu kalau Risa adalah orang yang pendiam. Namun jika sudah akrab, orang - orang akan tahu kalau sebenarnya Risa memiliki sikap ramah dan mudah berbaur dengan yang lain.


Apalagi saat masuk SMA. Risa dengan mudahnya dapat dikenal oleh seluruh murid disekolah karena sikap ramah dan lembutnya. Ditambah lagi paras cantiknya yang mendukung. Bahkan dia sama sekali tak pernah terlibat perkelahian ataupun percekcokan sesama perempuan. Dia lebih memilih diam dan mengalah saat ada yang mengusik dirinya.


"Aku aja sampek heran sama kak Risa. Badannya yang mungil dan keliatan kalem, bisa ngejatuhin tiga orang sekaligus sewaktu peristiwanya Manda kemaren. Padahal, lawannya pada pakek senjata. Eh, malah lawannya pada bonyok. Sementara dia cuma luka gores dilengan doang". Ujar Zein mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu.


Hah... Ternyata dibalik wajah lembut nan teduhnya Risa, menyimpan kegalakan. Aku harus hati - hati ke dia. Batin Rendy sambil terus menyimak obrolan calon mertua dan calon adik iparnya.


"Lu hati - hati, bang. Jangan sampek dibanting sama Kak Risa. Walau dikata badan lu udah kayak atlit angkat besi, dia masih sanggup loh ngebanting lu". Ucap Zein sambil terkekeh.


Rendy membulatkan matanya mendengar ucapan Zein. Sementara Sarja hanya menggelengkan kepalanya melihat wajah cemas Rendy yang membayangkan ucapan Zein.


"Risa gak mungkin sanggup nyakitin orang yang dia sayang. Palingan dia cari pelampiasan, biar gak nyakitin kamu". Ucap Sarja menenangkan calon menantunya tersebut.

__ADS_1


Wajah Rendy langsung bersemu. Dia tersenyum sambil menundukkan wajahnya malu akibat perkataan calon mertuanya itu. Risa memang tak pernah mengatakan perasaannya pada Rendy. Walaupun begitu keluarga Risa bisa tahu betapa sayangnya Risa pada calon suaminya itu. Begitupun Rendy yang bisa merasakan bahwa perasaannya pada Risa tak bertepuk sebelah tangan.


__ADS_2