
Setelah hati dan pikiran Risa tenang, dia menghampiri Rendy dan Safira yang sudah lama menunggunya. Mereka tampak asik bercanda. Risa duduk tanpa berkata dan membiar mereka saling tawa dengan candaannya. Risa menatap gadis kecilnya yang tertawa lepas saat Rendy menceritakan hal lucu.
'Segitu bahagianya Safira karena telah memiliki seorang Papa. Ayahnya saja tidak pernah memikirkan kebahagian Safira, walau hanya sedetik'. Ucap Risa dalam hati. Jauh dilubuk hatinya, dia sangat ingin putri semata wayangnya mendapat pengakuan dari Ayah kandungnya. Yang jelas - jelas tahu akan keberadaan putrinya.
"Bunda..."
Risa tersentak saat tangan mungil milik putrinya menggoyang lengannya. Dia menggelengkan kepalanya mencoba mencapai kesadarannya. Lalu di tatapnya wajah Safira yang tampak heran memandangnya.
"Kenapa sayang ?", ucap Risa mencoba tersenyum.
"Bunda ngelamunin apa ? Udah gak sabar ya sama hari pernikahan Bunda sama Papa ?". Gadis kecil itu mulai menggoda ibunya.
Risa tersenyum menanggapi ucapan putrinya. "Fira seneng, kan kalo Bunda nikah sama Papa ?".
"Seneng banget, Bunda. Kalo Bunda sama Papa udah nikah, Fia kan gak takut kalo nanti temen Fia minta main ke rumah".
"Takut kenapa, sayang". Ucap Rendy dan Risa hampir bersamaan. Keduanya saling tatap, lalu kembali menatap Safira.
"Takut nanti mereka tanya, mana poto pernikahan Bunda sama Papa. Soalnya, Aqilah pernah bawa poto pernikahan orang tuanya dan selalu aja tanya - tanya gitu ke yang lain. Jadi temen - temen yang lain pada ikutan bawa poto pernikahan orang tuanya. Fia juga pengen kayak gitu".
Risa memeluk putrinya. "Maafin Bunda ya sayang".
"Bunda kan gak salah. Yang salah itu Ayah. Kenapa Ayah malah ninggalin kita. Fia sempet kepikiran mau bawa poto pernikahan Bunda sama Ayah. Tapi, temen - temen taunya kan Papa, bukan Ayah. Trus mereka juga taunya Ayah itu Papanya Aqilah. Nanti malah temen - temen jadi ngeledekin Fia. Trus ngatain yang enggak - enggak tentang Bunda".
Rendy juga Risa sama - sama tercenung mendengar penuturan gadis kecil itu. Mereka tak menyangka jika gadis kecil dihadapan mereka dapat berpikiran seperti itu. Bisa saja memang, Safira membawa poto pernikahan orang tuanya. Namun, dampak buruknya malah akan mengganggu psikologi Safira.
"Fira sabar, ya. Bentar lagi Fira bisa tunjukkin ke temen - temen Fira poto pernikahan Bunda sama Papa". Ucap Rendy sambil membelai surai panjang nan hitam lebat milik calon putri sambungnya itu.
"Yaudah, sekarang Fira habisin makanannya. Biar kita langsung pulang".
"Kalian kesini naik apa ?", tanya Rendy
"Aku bawa mobil".
__ADS_1
"Lah, kan udah aku bilang jangan nyetir sendiri".
"Aku udah telpon Alfin untuk jemput mobil. Dia udah aku sewa buat nyupirin serumah untuk acara nanti".
Acara pernikahan mereka yang tinggal tiga hari lagi akan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang. Sengaja dilakukan disana agar tak terlalu terekspos oleh alumni sekolah mereka. Beruntung teman kuliah dan kerja Rendy tak ada yang satu alumni saat sekolah. Sehingga Rendy masih bisa memgundang mereka. Sementara dari alumni, mereka hanya mengundang Erik dan Dewi.
"Oh, gitu. Mama juga udah ngasih kabar. Untuk konsumsi dan tempat udah aman. Tinggal dekornya aja. Itu udah jadi urusan Kak Mira sama Lita. Mereka gak mau terima usul atau saran dari aku".
Risa hanya manggut - manggut sambil tersenyum. "Jadi fix nih, gak ngundang temen - temen alumni ? Kalo aku sih, mereka kan gak terlalu peduli sama aku. Jadi kalo pun aku undang, udah pasti mereka bakal cuek - cuek aja. Apalagi ini pernikahan kedua aku". Ucap Risa.
"Fix kok. Ada beberapa sih yang aku undang selain Erik dan Dewi. Tapi ya, temen main aja. Yang penting masih sealumni kita, walau gak sekelas". Jelas Rendy.
"Oke deh, aku mah ikut kamu aja".
Usai membahas persiapan pernikahan, mereka melanjutkan makan. Sambil menunggu kedatangan Alfin untuk menjemput mobil. Sesekali Safira akan menggoda Risa yang tertangkap basah menatap kagum pada Rendy. Atau mengusili Rendy yang mencari kesempatan untuk menyentuh Risa.
Setelah dari Kafe, Risa mampir ke warung untuk memeriksa bahan - bahan makanan yang tersisa untuk dibawa pulang. Tentu saja dengan diantar oleh Rendy. Pria bertubuh atletis itu tak membiarkan calon pengantinnya pergi sendirian. Dengan alasan khawatir jika terjadi sesuatu tak terduga. Risa menyetujuinya, namun tak membiarkan Rendy ikut turun. Dia menyuruhnya untuk tetap didalam mobil bersama Safira. Agar mempercepat pekerjaannya.
"Heh, kalian. Stop. Jangan berantem terus". Teriak Risa.
Risa membulatkan matanya saat melihat wajah Akbar sudah bonyok sana sini. Nafasnya tampak ngos - ngosan. Mata Akbar tampak nanar menatap Risa. Sementara lawannya, maju selangkah menghadap Risa.
"Lu cewek. Gak usah ikut campur. Pergi sana".
Pria itu mengacungkan pisau pada Risa agar mau pergi. Namun, bukan Risa namanya jika tidak melawan. Dia sama sekali tak gentar saat pria tersebut memberikan ancaman padanya.
"Kami yang harusnya pergi dari sini". Ucap Risa sambil mendekati pria tersebut.
"Cari mati lu, ya".
Pekik pria itu lalu menyerang Risa. Dia terus mengarahkan pisaunya pada Risa. Namun dengan sigap Risa dapat menghindarinya. Risa mencoba menendang dan meninju pria tersebut. Kembali, pria tersebut menyerang Risa tanpa henti. Risa menendang tangan pria tersebut yang masih memegang pisau dengan keras dan membuat pisau terhempas jauh. Lalu Risa meninju wajah pria tersebut hingga tersungkur.
Risa kemudian menghampiri Akbar yang tampak tak bertenaga. "Kamu gak apa - apa ? Ayo bangun, kita harus cepet pergi". Ucap Risa sambil memapah Akbar.
__ADS_1
"Dia orangnya Kak. Dia yang nusuk Zein". Ucap Akbar sambil menahan nyeri pada rusuk kirinya.
Risa membulatkan matanya. Lalu dia menoleh pada si pria untuk menatap wajahnya. Pria tersebut telah bangkit dan menatap Risa dengan penuh amarah. Dia berjalan cepat mendekati Risa dan menyerangnya. Risa dapat menghindar. Namun tanpa diduga, pria tersebut secepat kilat mengarahkan tangannya pada bahu kanan lawannya. Risa terpekik menahan sakit dibagian bahunya akibat tusukan dari pria tersebut. Tanpa pikir panjang, Risa meninju leher pria itu dengan sekuat tenaga dan menendang alat vitalnya hingga ia terjerembab ke belakang.
Di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari warung, Rendy mulai merasa tak tenang karena Risa tak kunjung kembali. Dia masih mengawasi Safira yang bermain rubik di kursi belakang. Hatinya berkata untuk menyusul Risa. Saat ia ingin membuka pintu mobil, terdengar suara teriakan dari arah warung. Tanpa pikir panjang, Rendy langsung turun dari mobil dan menuji sumber suara. Safira yang melihat Rendy keluar dari mobil dengan panik, juga ikut turun menyusul.
"Risa..."
Teriak Rendy saat melihat Risa terjatuh akibat menendang lawannya. Rendy tergopoh berlari kearah Risa.
"Bunda..."
Safira yang melihatnya pun ikut berteriak dan berlari menyusul Rendy.
"Ri... Ini kenapa kok..."
"Nanti aja nanyanya. Sekarang cari apa kek buat ngiket dia. Trus telpon polisi". Ucap Risa memotong kalimat Rendy sambil menahan nyeri di pundaknya. "Akbar, tolong bantu cari sesuatu untuk bisa nahan dia".
Safira langsung memeluk sang ibu dengan cemas. Akbar/Abek bejalan tertatih mencari tali ke dalam bengkel. Sementara Rendy masih sibuk menahan pria tersebut yang masih meringkuk menahan sakit pada selangkangannya. Dia mencoba meraih ponselnya untuk menghubungi polisi. Abek datang dengan membawa tali dan langsung mengikat pria tersebut.
"Bunda kenapa ? Papa... Tangan Bunda berdarah. Hiks hiks... Bunda".
Safira berteriak saat menyadari tangan Risa yang basah karena rembesan darah. Risa meringis sambil terus menenangkan putrinya.
"Ssst. Fira jangan nangis, ya. Bunda gak apa - apa".
"Kita ke rumah sakit sekarang". Ucap Rendy sambil ingin memapah Risa.
"Akbar juga butuh penangan, Rend. Kalo kita tinggal dia dengan kondisi begini, yang ada malah bahaya buat dia. Gimana nanti kalo temen - temennya dateng trus ngeroyok Akbar ?".
Ucapan Risa membuat Rendy frustasi. Melihat Risa yang menahan sakit dengan darah yang terus merembes membuatnya sangat khawatir. Sementara yang dikhawatirkan malah memikirkan kondisi orang lain. Rendy mengacak rambutnya frustasi.
Tak berapa lama satu mobil polisi datang. Ternyata teman Rendy dan satu petugas lain yang datang karena sedang patroli di sekitar daerah tersebut. Setelahnya Rendy langsung pamit ke rumah sakit untuk menangani Risa dan Akbar.
__ADS_1