
PoV Author
Risa sudah berada dirumah bersama Safira. Setelah seharian menemani putrinya mengikuti perlombaan disekolah, dan membawa dua buah piala kemenangan, Risa memutuskan untuk pulang kerumah agar bisa beristirahat. Padahal Rendy, Aldi dan Erik sudah berencana ingin mengajak mereka merayakan kemenangan Safira di sebuah mall di kota. Namun Risa menolak dengan alasan takut Safira kelelahan karena telah mengeluarkan banyak tenaga untuk hari ini.
Safira mendapatkan juara satu lomba lari dan juara dua menari. Risa sangat bangga dengan prestasi yang di raih oleh putrinya. Dia tidak pernah melarang putrinya dalam mengikuti kegiatan disekolah. Walau putri semata wayangnya itu masih bersekolah di taman kanak - kanak, tapi semangatnya untuk mengikuti kegiatan yang ada disekolah sangat besar. Terutama dibidang olah raga.
Safira tengah berbaring di tempat tidurnya setelah selesai mandi. Karena kelelahan dia terlelap lebih cepat dari biasanya. Risa memperhatikan putrinya yang sedang berada di alam mimpi. Diliriknya jam di atas tempat tidurnya. 04.20 sore. Dia akan membangunkan putrinya satu jam lagi. Karena tak baik membiarkan putrinya tidur menjelang magrib.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Mereka melewati hari tanpa Arya selama hampir enam tahun. Bujuk rayu selalu dilakukan Risa agar Arya mau bertemu dengan putri mereka. Tapi Arya sama sekali tak menghiraukan mereka. Hingga hari ini, di acara perlombaan sekolah menjelang akhir semester, merek dipertemukan tanpa sengaja. Risa mengira bahwa Safira akan sangat senang dan antusias jika bertemu langsung dengan Ayahnya. Selama ini dia hanya bisa melihat Ayahnya dari poto di ponsel Bundanya atau sekedar melihat dari kejauhan. Namun kali ini mereka di pertemukan secara langsung. Anehnya, Safira sama sekali tak peduli dengan Ayahnya dan abai terhadap sosok Ayahnya yang ada di depan matanya.
'Maafkan Bunda ya, Sayang. Karna kamu harus bertemu dengan Ayahmu dengan situasi yang seperti ini'. Risa meratapi nasib putrinya yang harus melihat Ayah kandungnya telah memiliki keluarga baru. Di belainya surai putrinya yang hitam lebat dan lurus. 'Seandainya, Ayahmu tak menyembunyikan keberadaanmu dari keluarganya. Pasti kamu tetap bisa merasakan kasih sayangnya'. Batinya lagi. Dikecupnya lembut pucuk kepala putrinya. Seolah menyalurkan perasaan sayangnya pada gadis kecil dalam dekapannya itu.
Risa selalu dengan sekuat tenaga membahagiakan Safira. Tapi sepertinya kebahagiaan Safira tak lengakap tanpa seorang Ayah. Disaat anak seusianya bermain ditemani dengan kedua orang tuanya, Safira hanya akan bermain dengan ibunya. Beruntung masih ada Tante dan Omnya (adik - adik Risa) yang masih ada disekitarnya. Setidaknya, keluarga Risa sepenuhnya mendukung perjuangan Risa membesarkan anaknya dengan caranya sendiri.
"Bundaaaa". Safira mulai menggeliat.
"Eh, udah bangun sayangnya Bunda". Risa mengurai dekapannya dan menatap putrinya.
"Udah, Bunda. Tapi... " Wajahnya mulai murung.
"Kenapa sayang ?", Risa meletakkan punggung tangannya di kening putrinya. Alisnya bertaut. Tidak demam batinnya. "Ada yang sakit ?".
Safira menggeleng pelan. "Fia cuma ngerasa pegel Bunda. Fia mau makan sup di warung Uti, Bun. Boleh, ya ?". Rengeknya dengan suara parau khas orang bangun tidur.
Risa mengulas senyum. "Boleh, sayang. Kita siap - siap dulu, ya. Trus langsung berangkat. Soalnya sebentar lagi mau magrib".
"Oke Bundaa". Safira menyatukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O. Lalu gegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Risa meraih jilbab instannya yang tergantung di pintu lemari lalu mengenakannya. Dia keluar kamar lebih dulu untuk mengecek setiap pintu dan jendela rumah sudah terkunci dengan benar.
"Ayo, Bun". Safira sudah keluar kamar sambil mengenakan sweater. Rambutnya yg panjang dibiarkan masuk kedalam sweater. Dia segera menuju motor matic milik sang ibu.
__ADS_1
"Duuuh... Semangetnya yang mau ke warung". Goda Risa pada putrinya sambil menyusulnya menuju motor maticnya.
Safira tersenyum malu. "Iya, dong, Bunda. Fia udh laper banget, nih. Tenaga Fia udah abis buat lomba tadi".
"Yaudah. Yuk berangkaat".
"Berangkat"
Risa melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena perjalanan hanya memakan waktu sepuluh menit. Sekalian menikmati perjalanan.
"Bunda... "
"Ya, sayang". Risa memfokuskan pandangannya pada jalanan.
"Bunda mau gak nikah sama Papa Rendy ?".
Deg.... Jantung Risa terpacu seketika. Dia berusaha menormalkan kembali detak jantungnya dengan mengatur nafasnya. Agar tetap bisa fokus berkendara.
"Ya, sayang...." Risa sedikit mencondongkan tubuhnya ke putrinya yang berada di depannya.
"Jawab, dong..."
Aah... Otak Risa seolah berhenti tak dapat berpikir. Dia berusaha mencari kalimat yang pas untuk menjelaskan jawaban pada putrinya.
"Em... Kalo Fia sendiri gimana ?".
Haa... Seperti pertanyaan menjebak. Risa seolah malah menjerumuskan dirinya sendiri ke pertanyaan yang konyol itu. Tentu saja jawaban putrinya pasti ingin dia menikah dengan Rendy.
"Fia pengen punya keluarga yang lengkap, Bun. Kayak temen - temen Fia. Fia seneng banget waktu Papa Rendy bilang mau jadi Papanya Fia. Tapi... " Kalimat Fia terjeda saat beberapa meter di depan mereka telah nampak warung milik Utinya.
"Bunda boleh mikir dulu, kok untuk jawab permintaan Fia". Sambungnya lagi. Lalu gegas turun saat motor matic milik Bundanya telah terpakir di depan warung Utinya.
__ADS_1
Risa masih mematung menatap punggung putrinya yang mulai menghilang di balik dinding warung. Suasana warung nampak ramai meski hari sudah menjelang petang. Risa segera menyusul putrinya ke dalam untuk mengalihkan pikirannya. Dia tidak ingin berakhir melamun di atas motor saat hari menjelang petang. Mitos mengatakan, hal tersebut dapat memicu datangnya makhluk halus ke tubuh kita. Buru - buru dia menyusul putrinya masuk ke warung.
Di dalam warung, Safira sudah duduk manis menyantap sup buatan Uti. Risa membelai surai hitam milik putrinya lalu duduk disampingnya. Di tatapnya gadis kecil itu yang dengan lahap menikmati setiap suapan sup yang masuk ke mulutnya. Pipinya menggembung penuh karena sup yang disuapkannya.
"Kamu mau Ibu bikinin juga, Sa ?". Tanya Ibunya yang baru keluar dari dapur membawa dua mangkuk sup yang masih mengepulkan asap menuju meja dimana pembeli sudah menunggu.
"Enggak, Bu".
"Kalo gak mau makan, mending Kakak bantu kami, deh. Dari pada duduk nganggur gitu", sambung Manda yang juga lewat membawa makanan pesanan pembeli tanpa menoleh ke arah yang diajak bicara.
Risa menautkan alisnya. Adik perempuannya itu terlihat sangat sinis melihat dia yang sedang santai. Keadaan warung memang sangat ramai. Ditambah lagi ini adalah malam minggu. Tidak hanya para ibu - ibu dan bapak - bapak yang mampir ke warung mereka. Melainkan para remaja juga memenuhi pesanan di warung itu. Juga pelanggan bengkel milik Zein yang menunggu motor mereka selesai di perbaiki.
Akhirnya Risa bangkit dari duduknya dan menuju meja kosong yang terdapat banyak mangkuk dan gelas kotor. Disambarnya nampan dan lap yang berada dekat mejanya dan memindahkan mangkuk serta gelas kotor ke nampannya. Lalu dibersihkannya meja kotor tersebut dengan lap yang dibawanya. Setelahnya mebawa tumpukan mangkuk dan gelas kotor ke dapur. Dapur dan tempat cuci peralatan kotor menjadi satu. Risa mulai mengerjakan pekerjaan yang ada.
Setelah pembeli mulai sepi, Risa mengistirahatkan tubuhnya. Dia duduk di sebelah putrinya yang tengah duduk sambil membaca koran di sudut warung.
"Capek ya, Bun ?" Safira meletakkan koran yang dibacanya ke atas meja.
Risa melirik koran tersebut. Safira membaca cerpen, batinnya. Lalu melirik kwmbali putrinya yang tengah menatapnya. "Lumayanlah. Fira belum ngantuk ?". Dia melirik jam di dinding pintu warung. 09.10 malam.
Safira hanya nyengir kuda. "Heheee. Bunda duduk aja dulu. Dari tadi kan Bunda kesana kemari. Biar kakinya gak pegel".
Risa tersenyum melihat kelakuan putrinya. "Mending kita langsung pulang. Biar kamu juga bisa langsung tidur. Kamu lebih butuh istirahat dibanding Bunda. Lagian bentar lagi juga warung tutup. Udah sepi".
"Mm... " Safira mengetukkan jari telunjuknya ke dagu seolah sedang berpikir. "Ayok, deh. Lagian besok Fia juga punya janji sama Papa".
"Eh... " Risa menatap tajam putrinya. Alisnya bertaut.
Mendapat tatapan seperti itu Safira hanya membalas dengan cengiran kuda. "Hehee... Dilarang kepo". Jari telunjuknya di goyangkan di hadapan sang Bunda.
"Iiih... Udah mulai rahasia - rahasiaan sekarang, ya". Risa memasang wajah kesal seolah tengah marah dengan putrinya. Lalu dengan cepat dia memeluk gadis kecilnya itu. "Yaudah, sekarang kita pulang biar bisa cepet istirahat".
__ADS_1
Risa pulang bersama Zein karena pekerjaan di bengkel telah semua dirampungkan. Setiap minggu, baik warung maupun bengkel akan mereka tutup untuk merehatkan tubuh mereka. Manda membawa motor matic sendiri karena sepulang dari kerja dia langsung menuju warung untuk membantu orang tua mereka. Sedangkan orang tua mereka berboncengan menaiki motor bebek. Malam ini mereka gunakan untuk istirahat tanpa harus menyiapkan dan mengolah bahan untuk dijual besok.