
PoV Author
Setelah acara lamaran selesai. Tamu - tamu juga sudah pulang. Kecuali Rendy dan Erik. Mereka masih tampak berbincang dengan Zein. Sesekali mereka tertawa saat membicarakan hal yang lucu.
Risa dan Manda merapikan peralatan yang kotor ke dapur. Safira ikut Kak Mira ke rumah orang tua Rendy. Mereka, para wanita masih berkutat di dapur. Istri - istri dari Pakdenya Risa juga masih sibuk dengan obrolan mereka. Sesekali terdengar menyebut nama Risa dan statusnya. Risa bersikap cuek, seolah tak mendengat perkataan mereka.
"Udah, ini biar Ibu sama Manda yang beresin. Kamu ke depan aja temeni Rendy". Ucap Misra pada Risa agar dia tak lagi mendengar kasak kusuk dari Bude - Budenya itu.
"Ada Zein sama Erik yang nemeni Rendy. Lagian dia juga udah biasa disini, Bu. Gak perlu ditemeni", sahut Risa sekenanya. Dia masih tetap menata piring yang sudah dicuci Manda ke tempatnya.
"Enak, ya Sa. Dilamar sama bujang. Dikasih mahar berapa ?", tanya Lasmi, istri Pakde Surya.
Risa meliriknya sekilas. "Belum tahu, Bude. Lagian belum ada pembahasan tentang mahar dari mereka".
Lagi. Risa hanya menjawab sekenanya saja. Nada bicara terdengar datar. Sejujurnya dia sangat malas membahas masalah ini. Mereka terlalu mengurusi kehidupan keluarga Risa. Selalu memandang rendah pada keluarga Risa yang hanya mengandalkan hidup dari penghasilan warung. Sementara mereka, masing - masing memiliki sawah dan suami mereka juga bekerja di pabrik. Anak - anak Bude Lasmi ada tiga orang dan sudah berkeluarga semua.
"Kamu nanti mau minta berapa, Sa ? Jangan banyak - banyak. Inget ! Kamu itu janda. Minta ya yang sepantesnya aja". Kali ini yang berbicara adalah Ratmi. Istri dari Pakde Alam. Dia juga punya tiga anak. Hanya tinggal anak bungsunya, putri semata wayangnya, yang belum menikah. Usianya hanya selisih setahun lebih muda dari Zein. Yakni dua puluh satu tahun. Sementara Risa dua puluh tujuh tahun dan sudah hampir dua kali menikah.
Risa menghentikan kegiatannya. Diletakkannya kembali piring - piring yang akan disusunnya. 'Mau minta apa ke Rendy juga aku bingung. Apa yang aku mau bisa ku penuhi sendiri. Bahkan mobil impianku saja sudah kudapatkan. Rumah juga aku sudah punya', Risa hanya bisa membatin menanggapi ocehan mereka.
"Aku sih, terima - terima aja sama yang dikasih Rendy. Dia mau nikahin aku dan nerima Fira aja aku udah bersyukur kok", jawaban Risa terdengar ketus.
Risa memilih meninggalkan dapur. Misra benar. Sebaiknya dia menemani Rendy dari pada harus mendengar ocehan para Budenya. Sudah dapat dipastikan, setelah ini akan banyak gosip yang beredar tentang dirinya.
Risa menghampiri Rendy. Dia tampak sudah mengganti bajunya dengan kaos hitam. Risa duduk tepat disebelah Rendy. Sudah hal biasa bagi Erik melihat Risa dan Rendy duduk bersebelahan. Sejak jaman sekolah mereka sudah dekat. Namun hanya berstatus teman. Dan hari ini mereka telah naik satu tingkat untuk menuju pernikahan.
"Eh, udah jam berapa nih ?", tanya Erik sambil melirik jam dipergelangan tangannya. "Wah... Bentar lagi Ashar. Abis ini kita langsung ke acara Ayu gimana ?".
"Boleh juga. Aku lagi males liat grup. Coba liat dulu kabar dari yang laen", pinta Rendy pada Erik. Dia tahu kalau saat ini akan ada beberapa teman wanita yang akan mengajaknya pergi ke acara pernikahan Ayu. Salah satu yang tercepat mengajaknya adalah Wulan. Sejak kemarin dia sudah mengirimi Rendy pesan untuk pergi bersama.
"Acara apa emangnya ?", tanya Risa heran. Dia sama sekali tidak membaca pesan grup alumni pada aplikasi hijaunya.
"Emang kamu gak baca grup ?". Tanya Rendy yang tampak lebih heran.
"Hahaha. Gimana mau baca grup bang ? Dia aja bangun tengah hari. Itu juga karena Fira yang banguni. Mungkin kalo gak karna hari ini keluarga abang mau dateng, Bapak gak bakal banguni dia. Trus dia bakal molor sampek sore". Zein menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Rendy pada kakaknya. Sedangkan Risa hanya dapat nyengir kuda. Wajahnya tertunduk sambil membuka aplikasi hijaunya dan membaca isi grup alumni perlahan.
"Parah lu, Sa. Inget Sa, lu udah punya anak. Bukan gadis lagi", ucap Erik meledeknya. Risa hanya meliriknya dengan sinis sambil menaikkan bibir atasnya.
"Entar kalian pakek pakaian gini aja ?", ucap Risa mengalihkan pembahasan. Dia menatap Rendy dan Erik bergantian.
"Aku pakek baju yang tadi. Makanya tadi aku langsung ganti baju", ucap Rendy.
__ADS_1
"Kalo aku mah udah prepare dari awal. Udah bawa pakaian ganti juga. Niatnya mau ajak Fira kencan ke mini market. Eh, ternyata ada acara kejuatan buat aku". Erik menaik turunkan alisnya menatap Risa dan Rendy bergantian.
Risa hanya melengos. "Aku juga kaget Rik sama acara ini. Kejutan banget buat aku malah", ucap Risa. Dia memang terkejut dengan kedatangan keluarga Rendy ke kediaman orang tuanya. Tak ada pembahasan dari Rendy sebelumnya.
"Wah. Ini mah namanya kesempetan dalam kesempitan nih. Dateng tiba - tiba biar gak ada penolakan". Kata - kata Erik mampu membuat Rendy melongo.
"Nah, aku juga mikirnya gitu, Rik. Kan kalo udah bawa keluarga pasti bakal keterima kan ? Aku juga gak mungkik buat dia malu di depan banyak orang", ucap Risa seloroh. "Aku pikir malah yang mau lamar aku si Tio. Duh, padahal tadi aku udah sempet jantungan. Ternyata yang ngelamar malah orang deket", Risa kembali menggoda Rendy yang sudah menunjukkan wajah masamnya.
Zein dan Erik menanggapinya dengan gelaj tawa hingga memegangi perut masing - masing. Sementara Risa meraih jemari Rendy lembut. Lalu berbisik, "becanda". Lalu menarik lagi jemarinya sebelum tindakannya disadari Erik dan Zein. Wajah Rendy berubah seketika dengan tindakan Risa yang tak pernah diduganya. Dia memang sering bersentuhan dengan Risa. Tapi hanya sebatas saling pukul dan saling cubit.
Setelah selesai sholat Ashar, ketiganya kemudian bersiap - siap. Rendy dan Erik memakai kamar Zein untuk mengganti pakaian mereka. Risa sudah siap dengan setelan kebaya modern warna rose berpadukan rok batik lilit dengan mengenakan hijab warna senada. Serta tas jinjing kecil sebagai pelengkapnya.
"Kita naik mobilku aja. Atau kamu mau bawa motor sendiri ?", tanya Rendy pada Erik yang masih sibuk dengan rambutnya.
"Mending kita naik motor aja. Cari pakir mobil susah. Lagian kalo aku ikut naik mobil bareng kalian, jadwal pulangku pasti kalian yang atur", ucap Erik sedikit bersungut.
"Gimana ?", tanya Rendy meminta pendapat Risa.
"Aku sih terserah kamu. Kalo emang mau naik motor... ", Risa menjeda kalimatnya sambil memanjangkan lehernya melihat halaman rumahnya. "Berarti kita naik motornya Manda. Soalnya motorku udah dibawa Zein balik ke bengkel".
Setelahnya mereka pergi menggunakan motor. Erik lebih dulu berangkat karena harus menjemput seseorang. Rendy melajukan motor dengan santai. Saat motor mulai keluar dari area perkampungan Risa, tiba - tiba saja motor seperti tersendat. Saat dicek tangki motor, bensin masih ada. Lalu Rendy memperhatikan bagian mesin yang keseluruhannya tertutup kap motor. Ingin mengecek lebih jauh, tak ada peralatannya.
Risa sibuk berkirim pesan pada Manda. Wajahnya tampak kesal karena membaca pesan - pesan dari Manda.
"Kenapa ?", tanya Rendy yang menangkap kegelisahan Risa.
"Motornya emang mau diperbaiki. Manda lupa ngasih tau", jawab Risa sewot sambil meletakkan ponselnya di telinga saat tanda sambungan telah muncul.
"Halo, Do. Kamu sibuk ?"
"..."
"Saya minta tolong, dong. Jemput saya di deket pertigaan kampung saya. Ajak Alfin juga. Suruh dia bawa motor. Motor saya mogok disini. Nanti sekalian kalian anter ke bengkelnya Zein".
"..."
"Oke makasih, saya tunggu".
Risa mematikan panggilannya. Lalu mengibas - ngibaskan tangannya ke arah wajahnya. Walau sudah sore, tapi cuaca masih saja panas seperti siang hari. Risa melihat ke arah sebuah kios pedagang asongan. Terlihat ada lemari pendingin di terasnya.
"Kita dorong motornya ke situ, Ren. Disini panas", ucap Risa sambil mengarahkan tangannya pada bagian belakang motor. "Aku bantu dorong, deh".
__ADS_1
"Iya iya", sahut Rendy yang wajahnya sudah dibanjiri keringat.
Sesampai dikios tersebut, Risa langsung membeli dua botol air mineral dingin. Memberikannya satu pada Rendy dan satu untuknya. Kemudian menenggak botol tersebut. Tenggorokannya pun mulai lega. Risa melirik ke arah Rendy yang menyeka keringat di dahinya. Dia lalu mengambil tisu dari dalam tasnya dan membantu Rendy menyeka keringat diwajahnya.
Setelah menunggu beberapa saat, Alfin datang dan memarkirkan motornya di dekat Risa. Tak lama setelahnya, Mobil sport hitam pun berhenti di hadapan mereka. Edo turun dan menghampiri Risa.
Edo memberikan kunci mobilnya pada Risa. Lalu beralih pada motor Risa. Merekapun langsung melaksanakan perintah Risa.
Didalam mobil.
"Dah, ayo buruan. Entar Erik malah mikirnya kita cari lapak lagi karena terlalu lama", ucap Risa sambil memperbaiki make up nya.
"Apa gak masalah kalo mobil toko dipakek, Ri ?", tanya Rendy sambil menyalakan mesin mobil. Dia telah membuka kemejanya yang basah karena keringat dan hanya memakai kaos hitam lengan pendek.
"Kata siapa ini mobil toko ? Perasaan aku udah pernah bilang deh ke kamu, kalo ini mobil aku", jawab Risa heran.
Rendy menatapnya tak kalah heran. Dia tampak memikirkan ucapan Risa.
"Udah deh. Kapan - kapan aku jelasin. Mending sekarang langsung ke tempat Ayu. Erik pasti udah nyampek dari tadi". Ucap Risa menyadarkan lamunannya.
Rendy melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang. Hanya butuh lima belas menit untuk menuju lokasi acara. Sekarang Rendy tengah memarkirkan mobilnya dengan bantuan petugas parkir. Setelahnya baru mereka turun bersama dan memasuki gedung.
Seperti saat pergi ke kondangan lainnya, Risa menggandeng lengan Rendy saat memasuki lokasi. Mereka mencari keberadaan Erik atau teman yang lain. Karena menurut kabar dari grup, mereka sudah menyiapkan tempat khusus bagi anggota alumni yang hadir.
"Heh, Bro. Nyampek juga ternyata", ucap Ozi yang akhirnya menghampiri mereka.
Ozi tampak memperhatikan Risa lekat. Alisnya bertaut saat menatap Risa. "Kayak kenal. Alumni juga ?".
Risa menatap Ozi lalu berganti pada Rendy. Alisnya bertaut saat menatap Rendy yang hanya tertawa melihat kebingungan Ozi.
"Yakin gak kenal sama dia ?", tanya Rendy memastikan.
Ozi memiringkan kepalanya memperhatikan Risa. "Mirip Risa waktu SMA", ucapnya yang langsung disambut tawa oleh Rendy dan Risa.
Mata Ozi membelalak seketika melihat tingkah mereka. "Risa ? Jadi bener ini Risa ? Ya, ampun. Kamu masih kayak dulu cantiknya. Padahal yang aku denger kamu udah janda loh. Punya anak lagi". Dia tertawa girang mengenali sosok Risa yang tetap cantik. "Buka pendaftaran untuk calon pendamping hidup gak ?", sambung Ozi lagi menggoda.
Risa tersenyum malu. "Baru ditutup dua jam yang lalu. Sayang banget kamu telat nanyanya", ucap Risa membuat Ozi menghela nafas kecewa. Sementara Rendy tersenyum puas melihat kekecewaan Ozi.
Mereka kemudian menuju tempat duduk mereka yang sudah disiapkan. Tak banyak yang hadir sore itu termasuk Erik. Beberapa dari mereka sudah ada yang hadir disiang hari. Dan kemungkinan yang lain datang dimalam hari.
Kedatangan keduanya tak luput dari tatapan tajam Wulan. Wajahnya memandang sinis pada Risa yang menggandeng lengan Rendy. Dia sengaja mengosongkan satu kursi disebelahnya karena tahu kalau Rendy datang. Namun dia harus dibuat kesal karena Rendy lebih memilih duduk disebelah Risa dengan posisi tepat dihadapannya.
__ADS_1
'Sial! Dasar janda gatel. Gadak kapoknya. Gak tau malu banget dia berani gandeng - gandeng tangan Rendy. Udah aku buat viral juga tetep berani muncul', ucapnya dalam hati.
Dia terus memutar otaknya untuk membuat Risa malu seperti biasa saat mereka berkumpul. Dia tak pernah berpikir jika Risa akan hadir di acara ini. Karena yang dia tahu Risa tak terlalu aktif dengan grup alumni.