Ayah Untuk Safira

Ayah Untuk Safira
Drama Keluarga


__ADS_3

(Masih PoV Arya)


Sampai dirumah, ku dapati mobil Rani sudah terparkir dihalaman. Cepat sekali dia pulang. Harusnya dia belajar lebih lama dengan Mertuaku mengenai butik. Agar uang masukkan kami bisa bertambah. Ini malah pengeluaran yang bertambah. Sifat manjanya semasa gadis masih saja terbawa sampai sudah berumah tangga.


Gajiku dari pabrik tak pernah cukup untuk biaya kehidupannya. Beruntung setiap sabtu dan minggu atau hari libur kerja, Papa mertuaku selalu memberiku uang lima ratus ribu per hari hanya untuk memantau kebun dan sawah. Kerjanya juga tidak berat. Setidaknya uang itu masih bisa aku tabung karena Rani tak pernah mengungkit masalah pemberian Papa padaku. Tapi hari ini, aku harus merelakan uang lima ratus ribu hanya untuk mengantar dan menjemput Aqilah. Kalau saja aku tahu Rani hanya sebentar di butik, pasti aku lebih memilih untuk ke kebun mertua.


Aku mengajak anak - anak masuk ke rumah. Aditya membantuku membawa gulali Aqilah. Dia sangat pengertian. Berbeda dengan Aqilah yang selalu bertindak bak Ratu yang keinginannya selalu dituruti. Bahkan untuk membawa tas sekolahnya saja dia tidak bisa. Hah. Harusnya aku tak cuti kerja. Sudah panas - panasan begini malah diomeli sama anak lagi.


Masuk ke rumah, ku lihat Rani tengah menonton drama di ruang tamu dengan laptop. Terkadang aku berpikir, untuk apa tv segitu besarnya terpampang di ruang tengah jika untuk menonton masih menggunakan laptop. Hanya menambah pengeluaran saja.


"Mamaaa... ", teriak Aqilah saat mendapati Rani tetap fokus pada laptopnya. Drama apalagi yang kali ini akan dibuat ibu dan anak ini.


"Masa Papa jemput aku pakek motor, sih. Mana panas lagi. Sebel, deh. Untung aja Safira gak liat aku naik motor. Bisa - bisa dia ngeledekin aku lagi". Ucapnya sambil terus berteriak saat tubuhnya sudah dijatuhkan ke sofa sebelah Rani. Suara Aqilah tak sedikit pun direndahkan. Padahal dia sedang berbicara di dalam rumah, bukan di hutan.


"Safira bukan orang yang seperti itu. Dia pasti anak yang baik. Terlihat dari wajahnya yang ramah. Dia bukan tipe yang suka merendahkan orang lain". Belaku pada putriku juga. Aku sangat yakin, Risa pasti mendidik Safira dengan sangat baik. Tak mungkin Safira akan bersikap seperti yang dibayangkan Aqilah.


"Iiih. Papa bukannya bela anaknya malah belain orang lain, sih", tatapannya tajam ke arahku.


"Kamu gak boleh gampang menilai orang Aqilah. Dia kan teman kamu. Papa liat kalian tampak akrab selama ini".

__ADS_1


Seandainya kamu tahu Aqilah, bahwa sebenarnya Safira adalah saudaramu juga. Sama seperti Aditya. Tapi jika dia tahu, aku takut dia malah tak bisa akrab dengan Safira. Sebaiknya memang ku simpan rapat rahasia ini.


Raut wajah Rani berubah melas seolah merasa bersalah pada putri kesayangannya itu. Hal itulah yang membuat Aqilah tak pernah bisa mengerti dengan keadaan orang tuanya. "Maafin Mama, ya sayang. Tadi Mama pakek mobilnya", dia menangkup wajah Aqilah dan mengecup pipinya.


"Mama tau ? Safira dijemput Papanya pakek mobil mewah. Mobil yang pernah Mama tunjukkin ke aku waktu kita pergi ke mall sama Opa".


Apa ? Mereka pergi ke mall dengan Opa ? Papa Mertua ? Kapan ? Oh, pantas saja dia punya koleksi tas dan gaun baru. Apa dia mau buat aku malu dihadapan Papanya ? Selama ini Papanya menyuruhku membantu pekerjaannya di kebun, semata - mata hanya ingin memberiku uang. Dengan dalih agar putri kesayangan mereka tidak merasa kekurangan dengan gajiku yang hanya sebagai karyawan pabrik.


Aku tak habis pikir Rani masih saja seperti anak kecil yang masih merongrong pada orang tuanya untuk menuruti keinginannya. Aku bisa saja menuruti setiap keinginannya. Itupun jika dia masih mau tinggal dirumah orang tuanya. Dia yang memintaku untuk mengambil satu unit rumah diperumahan elit ini. Bulanannya saja hampir memakan separuh gajiku. Untungnya Papa mertua mau membantu kami membayar cicilan ini.


Rani melirikku sekilas. Mungkin dia takut aku marah atau malah mencercanya dengan berbagai pertanyaan. Tidak untuk saat ini Rani. Masih ada anak - anak yang harus ku pikirkan perasaannya.


"Itu loh, Ma. Yang Opa marah sama Mama karena Mama minta beliin mobil itu. Yang waktu itu kita sempet poto berdua di deket mobil itu". Wajah Aqilah semakin kesal karena Rani seolah ingin menutupi kenyataan bahwa dia masih menggantungkan dirinya pada orang tua untuk memenuhi kebutuhannya.


Aku ingat betul, Papa mertua selalu memarahinya kalau dia masih bersikap manja pada mereka. Apalagi sikap borosnya yang selalu minta padaku untuk dibelikan ini dan itu. Papa mertuaku sangat pengertian padaku. Hingga melarangku untuk menuruti keinginannya jika memang aku tak sanggup. Tentu saja itu memberatkanku. Dengan gaji hanya lima juta sebulan, dan aku masih harus membayar cicilan rumah. Memang sih, mertuaku juga ikut membantu membayar cicilan. Tapi aku juga tidak mau di cap sebagai mantu yang mencari untung.


"Oo.. Yang itu. Emang Papanya Safira kerja apa sampek punya mobil seperti itu ?", Rani beralih padaku untuk mendapat jawaban.


Aku menatapnya sebentar sebelum menjawab. Lalu beralih pada Aqilah yang masih menekukkan wajahnya. "Kan tadi Papanya Safiea bilang kalo itu bukan mobil Papanya. Masa Aqilah gak denger, sih. Itu kan mobil milik toko Bundanya Safira. Tadi gitu kan kata Papanya Safira ?".

__ADS_1


Sebenarnya lidahku sedikit kaku mengucapkan Papa Safira untuk Rendy. Dia bahkan bukan suami Risa. Panggilan itu hanya untuk kesenangan Safira semata karena dia tak mendapat kasih sayang dariku. Bukan. Hanya belum mendapat. Aku tak bisa menemuinya karena segala gerak gerikku terbatas.


"Nah, dengerkan apa kata Papa ? Itu bukan mobilnya Safira. Papanya cuma minjem. Kalo minjem doang, mah Mama bisa. Tapi buat apa ? Cuma bikin malu doang. Bagus pakek punya sendiri walau cuma naik motor. Ya, kan ?".


Sepertinya kali ini Rani sedikit bijak. Dia tak langsung membela perbuatan Aqilah. Dia malah memberi pengertian pada Aqilah mengenai sikapnya. Seharusnya memang begitu mengajarkan anak. Oh, iya. Aku jadi teringat sesuatu. Sepertinya moment ini pas.


"Ma. Kamu coba bilang ke Papa. Minta sama Papa mobil lagi. Seken juga gak apa - apa. Buat aku jemput Aqilah pas lagi Off kalo mobil kamu pakek. Kamu denger sendiri, kan gimana anak kita yang komplain karena dijemput pakek motor ?", ucapku mengatas namakan Aqilah. Syukurnya Aqilah adalah cucu kesayangan juga. Dia adalah cucu perempuan satu - satunya. Tentunya permintaannya akan dituruti.


"Naik motor lebih enak, Pa. Adit suka". Adit yang sedari tadi sibuk dengan mainannya mulai angkat bicara. Wajahnya menatapku dengan mata berbinar. Ternyata diam - diam dia menyimak obrolan orang tuanya.


"Bener tuh, kata Papa, Ma. Minta sama Opa buat kasih Papa mobil. Aku kan malu sama temen - temen. Setiap hari kalo Mama yang jemput selalu pakek mobil. Eeeh. Giliran Papa yang jemput malah pakek motor". Tangannya dilipat ke dada dengan wajah yang masih kesal. Dia masih TK, tapi gengsinya yang menurun dari ibunya membuat dia selalu ingin terlihat 'wah' di depan teman - temannya.


Rani tampak berpikir. Semoga saja dia berpihak padaku. Aku juga sebenarnya sudah mali naik motor lamaku. Ingin beli baru, takut nambah pengeluaran. Alhasil, aku tetap mempertahankan kendaraan lamaku untuk mengais rezeki.


"Nanti Mama coba bilang ke Opa, deh. Doain. Supaya Opa mau ngabulin permintaan kita. Apalagi cucu kesayangannya ini yang minta". Rani menjawil dagu Aqilah. Wajah Rani tampak semringah dan penuh keyakinan.


"Yeee". Aqilah bersorak gembira. Wajahnya pun kembali ceria.


"Tapi, kapan - kapan kita tetep jalan - jalan naik motor ya Pa".

__ADS_1


Lagi. Aditya menyuarakan pendapatnya. Aku hanya menganggukin ucapannya. Dia jarang meminta karena aku selalu mengajarkannya untuk memahami kondisi keluarga. Dia sangat mudah untuk diajak kompromi. Sikapnya terlihat lebih dewasa dari umurnya. Dia lebih sering mengalah dalam hal apapun jika sudah berurusan dengan kakaknya, Aqilah. Berbanding terbalik dengan Aqilah yang cenderung manja dan susah diatur. Keinginannya harus selalau dituruti.


__ADS_2