
PoV Risa
Dari sejak aku selesai mandi hingga aku telah selesai sholat, kulihat Manda masih berada dikamarku. Dia terlihat sedang fokus pada ponselnya. Disampingnya sudah ada gamis warna abu - abu dengan tile warna navy. Juga pashmina warna senada dengan tile itu. Itu adalah gamisku yang ku beli beberapa minggu lalu. Apa dia mau meminjamnya ? Buat apa ?
Aku berjalan untuk menggantungkan mukenahku ke pintu lemari. "Kamu mau pakek gamis itu ?", tanyaku mengalihkan fokusnya.
"Udah, selesai sholatnya kan ? Sekarang kakak pakek ini", dia malah menyodorkan gamis abu - abu itu padaku. Aku menatap heran padanya. "Udah, cepetan jangan banyak tanya". Sambungnya lagi.
Manda tampak melepaskan baju yang dikenakannya. Lalu menggantinya dengan gamis yang sudah disiapkannya. Aku lalu menurutinya saja. Melepas dasterku dan menggantinya dengan gamis pilihan Manda.
"Nih. Dari tadi bunyi", Aku menerima ponsel yang diberikan oleh Manda. Sedangkan dia, menuntunku untuk duduk di depan meja rias.
Aku mulai fokus pada ponselku. Ternyata ada tiga puluh tujuh panggilan yang terlewat dari Rendy. Dan panggilan itu terjadi sejak pagi tadi. Aku tercenung melihat banyaknya panggilan tersebut. Apa sangat penting sampai dia menelponku berpuluh kali. Ku lihat mode panggilan. Berbunyi dengan volume lima. Cukup keras karena aku lupa mengubahnya saat hendak tidur tadi malam. Apa aku begitu lelap sampai - sampai suara panggilan telpon saja aku tak bisa mendengarnya ?
Ku buka aplikasi hijau melihat pesan masuk. Ada sekitar dua puluh sembilan pesan masuk dari grup alumni. Ku abaikan pesan - pesan tersebut. Karena pasti isinya hanya ghibah. Lalu ku beralih pada pesan selanjutnya. Hanya ada satu pesan dari Rendy. Dia melakukan panggilan berkali - kali tapi hanya mengirimi satu pesan. Dan itupun diakhir waktu panggilannya. Ku abaikan pesan dari Rendy. Aku beralih pada pesan Erik.
[Sa, aku mau pinjem Safira. Nanti aku beliin dia mainan deh. Bentar doang. Boleh, ya ?]
Dia menambahkan emoticon penuh love pada akhir pesannya.
[Aku udah di depan rumah. Kayak kebo kamu. Molor mulu]
What ??? Dia sudah dirumah ? Erik ? Ku lirik jam pesan masuknya. 12.48. Lalu ku lirik jam saat ini. 13.35.
"Astaghfirullah..." Aku terlonjak melihat jam tersebut.
"Santai aja, cuy", ucap Manda sambil menahan kedua pundakku.
"Erik udah dateng ?", tanyaku pada Manda. Ku tatap Manda yang menautkan alisnya. Heran. Aku hendak beranjak dari duduk namun lagi, Manda menahan kedua pundakku untuk tetap duduk. Lalu tangannya mendorong pipiku untuk melihat pantulan diriku di cermin.
"Astaghfirullahaladzim".
Lagi. Aku terlonjak kaget melihat pantulan diriku dicermin. Apa aku terlalu fokus pada ponsel sehingga aku tak sadar kalau Manda telah mencoret - coret wajahku. Bahkan dia telah memakaikan ciput dikepalaku.
"Cantik, kan hasil karyaku ? Simple tapi tetep keliatan elegan". Ucapnya dengan senyum puas. "Dah gak usah kebanyakan bengong. Mau aku yang pakein jilbabnya atau pakek sendiri ? Buruan. Udah ditunggu diluar".
Dia menyodorkan pashmina warna navy padaku. Aku langsung meraihnya dan memakainya. Menyesuaikan dengan gamisku. Aku baru menyadari kalau diluar kamar terdengar sedikit ramai. Sepertinya sedang ada tamu.
"Bang Rendy ada kirim pesan ?", tanya Manda saat aku masih mematut diri dicermin. Hem. Lumayan juga hasil oretan Manda. Aku mengagumi karyanya.
"Belum aku baca, sih". Jawabku datar.
__ADS_1
Tampak dari cermin Manda membelalakkan mata. "Gile lu, Ndro ? Baca dong. Siapa tau aja penting". Ucapnya sedikit sewot. Wajahnya tampak masam, namun tetap dipolesnya.
Aku kembali membuka aplikasi hijau. Melihat pesan Rendy yang sempat ku abaikan tadi.
[Sehabis Zuhur aku akan kerumah. Pakai baju yang rapi. Jangan kayak inem]
Aku membelalakkan mata saat membaca pesannya. Tak tahu kenapa, jantungku terus berdegup kencang. Tiba - tiba saja rasa gugup menghampiriku. Berbagai pikiran aneh muncul dibenakku.
Apa maksud Rendy ? Tidak biasanya dia berkata seperti itu. Biasanya kalau ingin mengajak kondangan, pasti dia akan langsung to the point. Tapi ini ? Apa jangan - jangan...
Argh. Kepalaku tiba - tiba migrain. Aku tak bisa membiarkan pikiranku berkelana dan membayangkan yang tidak - tidak. Tapi, apa yang ada dipikiranku benar ? Apa itu suara keluarga Rendy. Dadaku terasa penuh. Otakku seakan tak bisa berpikir jernih
"Risa... "
"Ibu... ", suara Ibu menyadarkanku.
"Sudah ditunggu. Keluar nak. Manda... Bawa kakakmu keluar, ya", titah Ibu pada Manda. Kalimatnya sangat lembut. Membuat jantungku semakin berdegup tak karuan.
'Ya, Allah. Pertanda apa ini ? Kuatkan hamba ya, Allah', aku hanya bisa berucap dalam hati.
Perlahan kakiku melangkah keluar kamar. Berjalan menuju ruang tamu. Kamarku dan kamar ibu berada dibelakang di dekat dapur. Sementara kamar Manda dan Zein terletak di depan dekat ruang tamu.
Langkah kakiku semakin terasa berat saat kulihat ruang tamu dipenuhi beberapa orang. Manda sedikit mendorongku untuk mempercepat langkah. Aku memegangi dadaku yang terus berdegup tak tentu ini.
Manda menuntunku untuk duduk disebelah Bapak yang duduk bersandarkan dinding pembatas kamarku. Aku tak sanggup mengangkat wajahku. Pandanganku hanya terpaku pada kedua tanganku yang saling bertaut.
'Kenapa tak ada yang memberi tahuku tentang acara ini?'
Hanya itu yang terngiang dikepalaku. Aku sama sekali tak punya persiapan untuk menghadapi situasi seperti ini. Sungguh tak pernah ku bayangkan.
"Risa... Keluarga Pak Rino datang hari ini ingin memintamu untuk menjadi bagian dari keluarganya. Apa kamu bersedia dilamar oleh Nak Rendy ?". Itu suara Pakde Surya, kakak pertama Ibuku.
"Keputusan ada dikamu, Risa. Bapak hanya ingin kamu jujur dengan perasaanmu. Apapun yang membuatmu bahagia, pasti Bapak restui", aku langsung menoleh saat Bapak membisikkan kalimat itu. Senyumnya terukir tulus diwajahnya. Ku tatap lekat wajah Bapak. Aku mengatur nafasku dan mengangguk pada Bapak. Lalu Bapak membalasnya dengan senyuman. Digenggamnya erat tanganku.
"Risa setuju dengan lamaran ini", ucap Bapak pada semua yang hadir. Aku belum tahu siapa saja yang ada diruangan ini. Kepalaku rasanya berat untuk melihat sekeliling.
"Kalau begitu, izinkan kami menyematkan ini sebagai tanda lamaran kami diterima".
Kepalaku langsung bergerak melihat si pemilik suara. Tante Diana ? Ada kak Mira, Sakha, juga Lita. Safira juga ada disana memangku Sakha. Mataku terasa memanas. Kukerjapkan beberapa kali agar bulir bening ini tak mengalir.
Bapak memberiku isyarat untuk mendekat pada Tante Diana. Aku menggeserkan bobotku mendekati Tante Diana yang juga ikut mendekat. Tangannya terulur ingin menyambut tanganku. Lalu menyematkan cincin ke jari manisku.
__ADS_1
"Mulai sekarang, panggil Mama. Jangan tante lagi", ucapnya lalu mengecup keningku.
"Aku boleh juga ?", walau berbisik, aku tetap bisa mendengarnya. Kutatap tajam si pemilik suara. Dia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Aku pikir tadi yang mau melamar aku Tio", ucapku menggoda saat mataku bersitatap dengan Tio. Aku tahu, Rendy sangat tidak suka jika aku dekat dengan Tio. Sementara Tio yang terkejut menjadi salah tingkah karena ucapanku.
"Kalo aku sih, mau aja dilamarin kamu jadi istriku", selorohnya dengan malu - malu.
Kulirik dari ekor mataku. Matanya hampir lolos dari tempatnya. Aku berhasil membuatnya ketar - ketir.
"Tadinya, Mama juga punya niat begitu. Tapi, Mama takut ada yang meledak".
Aku tersenyum menang. Ternyata bukan cuma aku yang suka menggodanya. Tapi Mamanya juga.
"Ya sudah, jangan dilanjut. Bagaimana kalau kita langsung bahas kapan pernikahan ya akan dilaksanakan ?"
Aku beralih pada si pembicara. Papanya Rendy. Ya, aku hampir lupa. Jika sudah ada acara seperti ini, selanjutnya akan ada acara pernikahan. Apa aku akan siap menghadapi pernikahan keduaku ini ?
"Gimana kalo bulan depan ? Sudah memasuki awal tahun juga", kali ini Kak Mira ikut bersuara.
Aku perlahan menggeser posisiku kembali didekat Bapak.
"Ciye... Lamaran nih ye... " Manda berbisik di telingaku. Kalau saja tidak dalam situasi seperti ini, mungkin aku akan mencubit bibirnya.
"Sepertinya ide yang bagus. Lebih cepat lebih baik, kan ? Sebulan. Saya rasa cukup untuk mempersiapkan segalanya", ucap Papanya Rendy memberi usul.
Bapak terdengar kasak kusuk dengan Pakde Surya dan Pakde Alam. Kepala mereka tampak manggut - manggut. Sepertinya setuju dengan usulan Papanya Rendy.
"Kami setuju dengan usulannya. Lalu acaranya mau bagaimana dan dimana ?", tanya Bapak sopan. Sepertinya Bapak ingin calon besan memberikan pendapat. Mungkin juga orang tua Rendy ingin melangsungkan ditempat mereka. Mengingat ini adalah pernikahan pertama Rendy.
"Risa maunya bagaimana ?"
Aku terkejut saat Mama melontarkan pertanyaan itu. "Kalo Risa. Karena ini pernikahan kedua Risa, Risa mau acaranya sederhana aja. Yang dihadiri oleh keluarga. Kalo masalah tempat, Risa ikut saja mau dimana diadakannya".
Aku harus sadar dengan status yang kusandang. Tak mungkin aku meminta acaranya yang mewah. Sementara aku adalah janda beranak satu. Bagiku sah dimata Tuhan dan negara sudah cukup.
"Kalau begitu, kita tinggal menentukan tanggalnya saja, ya. Seminggu lagi kami akan kesini untuk memberi kabar", Ucap Mamanya Rendy yang disetujui oleh pihak keluargaku.
Aku hanya manut saja dengan rencana mereka. Tatapanku terkunci pada Safira yang sedari tadi menatapku dengan senyum manisnya. Wajahnya tampak sangat ceria hari ini.
"Bunda cantik banget", aku memperhatikan pergerakkan mulutnya yang tanpa suara sedikitpun. Lalu aku tersenyum saat memahami kalimat yang diucapkannya.
__ADS_1
Setelah mendapat putusan, kami melanjutkannya dengan makan siang bersama. Walau sudah telat karena harus berunding dulu. Aku harap setelah ini tidak akan ada yang sakit magh karena terlambat makan.