Ayah Untuk Safira

Ayah Untuk Safira
Bantuan


__ADS_3

Setelah seharian kemarin pembeli ramai. Hari ini Risa tak pergi ke toko dan ingin beristirahat. Rencananya dia akan meminta Zein mengantarnya ke Cafe. Dia ingin mengecek keadaan disana. Rencana launching pembukaan cabang tokonya itu akan diadakan di hari sabtu. Bertepatan dengan malam minggu yang akan menjadi waktu yang pas untuk berpromosi.


Seperti biasa, Safira diantar Zein ke sekolah. Manda memilih Off untuk hari ini karena ingin beristirahat. Dia menggunakan waktu Off nya dengan hanya berdiam di rumah. Untuk detik ini, dia belum punya rencana untuk menghabiskan waktu Off nya.


Risa lebih memilih mengecek pesanan online yang masuk dan merekapnya. Judulnya saja dia ingin beristirahat. Tapi faktanya dia masih berkutat dengan pekerjaannya di dunia maya. Setelah rekapannya selesai, Risa bersiap diri untuk ke bengkel Zein. Dia harus menservice motornya yang mulai tak nyaman di pakai.


Sesampai dibengkel, keadaan masih lenggang. Zein mulai mempekerjakan seorang teman yang biasa dipanggil Abek. Plesetan dari Akbar. Bengkelnya mulai ramai sehingga dia membutuhkan tenaga tambahan.


Risa langsung meminta Zein untuk segera mengantarkannya ke toko. Dia hanya ingin menyerahkan daftar pesanan ke toko kue dan selanjutnya berkunjung ke Cafe.


"Selamat siang, Mbak Risa". Ucap Selly dan Arni, petugas kasir saat wanita yang tak lain adalah atasan mereka tiba di toko.


"Cantik banget hari ini", sambung Selly menatap penampilan Risa yang berbeda. Biasanya dia hanya akan memakai kaos oversize lengan panjang dengan celana kulot bahan atau jeans yang dipadukan dengan jilbab pasmina. Hari ini Risa datang dengan memakai gamis cokelat dengan motif bunga pada bagian bawahnya serta jilbab warna cokelat terang.


"Siang", balas Risa dengan senyuman dan anggukkan. Lalu berlalu masuk ke ruangan ya. Disana sudah ada Siti, bagian administrasi. Dia juga yang mengerjakan masalah perpajakan. Siti tidak setiap hari masuk. Dia hanya masuk dua sampai tiga kali dalam seminggu. Sesuai kesepakatan kerja dengan Risa.


"Selamat siang, Bu". Ucapnya sambil berdiri dan sedikit membungkuk.


"Siang, Siti", balas Risa.


Risa memeriksa pendapat kemarin yang belum sempat dilakukannya. Setelahnya dia berencana menyetorkan uangnya ke Bank bersamaan dengan pendapatan di Cafe.


Tok tok tok


"Masuk". Ucap Risa masih menatap pekerjaannya.


"Permisi, Mbak". Rati masuk membawa buku laporannya. "Ini laporan pendapatan kemarin, Mbak. Sudah saya kerjakan". Dia menyerahkan selembar catatan yang di rekapnya melalui buku pendapatan miliknya.


Risa melirik sekilas. "Makasih, Rati. Dan ini... ". Risa mengeluarkan selembar kertas berisi rekapan pesanan online yang memesan via ponsel pribadinya. Biasanya itu berasal dari pembeli yang sudah menjadi langganan sejak lama. Sebelum Risa punya toko kue.


Rati mengambilnya dan memperhatikan pesanan tersebut. Kepalanya manggut - manggut tanda memahami pesanan tersebut. "Baik, Mbak. Biar segera kami kerjakan pesanannya. Ada lagi yang Mbak Risa butuhkan ?". Tanyanya sopan.

__ADS_1


"Untuk saat ini tidak ada, Rati. Kamu boleh lanjutin pekerjaan kamu". Jawabnya tak kalah sopan yang disambut dengan senyuman oleh Rati. Kemudian Rati pun berlalu dari ruangan Risa setelah berpamitan.


Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Risa pun mengakhiri pekerjaannya dan menyerahkan pada Siti. Dia harus segera ke Cafe untuk memeriksa situasi juga perkembangan disana. Saat Risa hendak melangkah keluar pintu toko, tiba - tiba terdengar suara teriakkan memanggil namanya.


"Mbak Risaaa ".


Risa menoleh mendapati namanya dipanggil dengan suara melengking.


."Mbak Risa mau ke Cafe ?". Tanya Rati sedikit tergesa.


"Iya. Ada yang mau disampein ? Atau... ".


Belum sempat Risa menyelesaikan kalimatnya, Rati berlalu kedalam. Lalu beberapa saat kemudian, Rati dibantu oleh dua karyawan bagian produksi keluar membawa beberapa kardus ukuran sedang.


Risa mengernyitkan dahinya melihat kardus - kardus yang dibawa mereka. Lalu menatap Rati hendak bertanya.


"Ini titipan Mbak Tia, Mbak". Ucap Rati sebelum Risa sempat bicara. "Tadi ada beberapa bahan kue yang habis. Jadi mereka minta dibawakan. Tapi Edo sama Alfin belum pulang dari nganter pesenan, Mbak. Kalo mereka harus keluar untuk belanja keperluan ini, pasti makan waktu banyak". Jelas Rati dengan wajah cemasnya.


"Yang dua ini bahan mentahnya, Mbak. Yang dua itu kue yang udah jadi, Mbak. Antisipasi kalo pengunjung mulai rewel". Ucapnya sambil menunjuk kardus - kardus yang dibawa dua karyawan itu. "Nah, yang saya bawa ini, bahan yang sudah diolah dan tinggal masuk oven. Semua pengeluaran ini udah saya catat dan saya masukkan sebagai bon Cafe, Mbak. Jadi nanti mereka bakal ganti rugi atau bayar pengeluaran ini". Risa tersenyum dengan penjelasan Rati. Tak disangka dia begitu detail dalam mengolah pemasukkan dan pengeluaran bahan toko.


"Oke. Kalo gitu bawa ke mobil aja, ya. Saya mau ambil kuncinya dulu".


"Eh, ini Mbak kunci". Sambung Rati sambil menyodorkan kunci mobil pada Risa sebelum Risa bergerak mengambilnya.


Risa menautkan alisnya menatap kunci yang disodorkan Rati. "Ooh... Jadi semua udah direncanain, toh". Ucapnya sambil melirik tajam pada tiga karyawannya. Kemudian tertawa pelan melihat wajah mereka yang berubah cemas. "Yaudah, buru. Bawa ke mobil. Nanti keburu pengunjung rewel. Kasian Tia disana".


Mereka bertiga mengikuti Risa mobil Pa*e*o Sport yang terpakir di garasi toko. Itu adalah mobil pribadi Risa yang selalu bertanggar di toko. Risa tak pernah membawanya ke rumah karena selain larangan kedua orang tuanya, juga karena tak ingin menjadi pusat perhatian warga tempat tinggalnya.


Risa menyalakan mesin mobilnya terlebih dahulu sambil menunggu para karyawannya selesai menata kardus - kardus pesanan Cafe. Setelah mereka selesai, Risa berpamitan pada ketiganya dan berlalu meninggalkan toko. Dengan kecepatan sedang Risa membawa mobilnya kejalanan menuju Cafe. Dinyalakannya radio yang langsung memutarkan lagu mellow milik Rosa, yang berjudul tegar. Hingga tanpa terasa sudah membawanya ke halaman Cafe yang telah diramaikan oleh kendaraan para pengunjung.


Risa turun dari mobil, lalu melambaikan tangannya pada security yang berjaga di depan Cafe. Dengan sigap security tersebut menghampir Risa dan mengikuti perintah Risa untuk membawa pesanan milik Cafe. Sekilas, Risa dapat melihat sosok yang sangat dikenalnya sedang berada di salah satu meja pengunjung. Lelaki dengan pakaian kasual itu duduk dengan di temani secangkir kopi dihadapannya. Lelaki itu terlihat sedang sibuk dengan ponselnya. Wajahnya dipenuhi dengan raut kecemasan dan emosi.

__ADS_1


Risa menghampiri Lelaki itu setelah barang pesanan Cafe dibawa oleh security dan salah satu karyawannya.


"Rendy... "


Panggil Risa menyadarkan lelaki tersebut dari kecemasannya.


"Risa... ? Kamu disini ? Sama siapa ? Safira mana ?", cecarnya sambil celingukkan mencari sosok Safira.


"Aku kesini sendiri. Ada urusan. Kamu kenapa ?". Tanya Risa langsung pada intinya.


Rendy menatap Risa yang telah duduk di hadapannya. Lalu berdecak pelan. "Ini, Ri. Mama sama Papa aku bentar lagi nyampek di bandara. Kak Mira nyuruh aku buat jemput. Karena sepupu aku juga ikut. Tapi mobilku tiba - tiba aja bocor. Mana aku gak bawa ban serep. Trus yang bikin apesnya lagi, kayaknya aku kelupaan ganti oli. Si hitam jadi ngambek". Dagunya seolah menunjuk kesal pada mobil sedannya yang berwarna hitam metalic, yang terpakir diluar area Cafe karena mogok sebelum sempat memasuki pelataran Cafe.


Risa memperhatikan mobil tersebut. Lalu beralih pada Rendy lagi yang masih sibuk berkutat pada ponselnya.


"Ah... sial!". Rendy mengacak rambutnya frustasi.


"Awas ketombemu rontok. Trus rambutmu jatuh ke makanan. Trus nanti kamu komplain seolah makanan Cafe yang gak bersih". Ucap Risa dengan nada datar pada Rendy.


Rendy terperanga menatap Risa. "Ya Allah, Ri. Teganya kamu ngomong kayak gitu ke aku. Disaat aku lagi frustasi gini". Ucapnya sambil meratap dengan wajah dibuat semelas mungkin.


Risa tersenyum melihat tingkah Rendy yang dianggap konyol tersebut. "Jam berapa kira - kira orang tua kamu sampek bandara ?", tanyanya.


"Sekitar setengah jam lagi kayaknya". Jawabnya lalu menyeruput kopi dihadapannya. Wajahnya masih tampak kesal.


Risa menyodorkan kunci mobil miliknya kehadapan Rendy. "Pakek ini aja. Cepetan kamu pergi. Aku mulai bad mood liat kamu uring - uringan gitu". Ucap Risa tanpa wajah bersalah.


"Ri, bisa gak sih kamu ngomong yang lembut gitu sama aku. Kamu makin buat aku tambah sayang sama kamu kalo cara bicara kayak gitu terus". Ucap Rendy sambil tersenyum menggoda Risa. "Eh, by the way. Ini punya toko ? Apa gak masalah kalo aku bawa ?". Dia masih menatap kunci yang berada di tangannya.


"Itu punya aku. Mobilnya yang itu". Ucap Risa sekenanya sambil menuju letak mobilnya terpakir. "Dah gak usah banyak tanya. Buruan ke bandara. Entar biar aku minta tolong sama yang lain buat bawain mobil kamu ke bengkel. Siniin kunci kamu ?" Tangan Risa menengadah di hadapan Rendy. Dengan patuh Rendy memberikan kunci mobilnya pada Risa.


"Oke. Aku masuk dulu. Masih ada urusan". Ucap Risa sambil berlalu meninggalkan Rendy yang mematung di mejanya. Dia menatap punggung Risa sampai menghilang dibalik pintu kaca Cafe.

__ADS_1


Sedetik kemudian dia tersadar, dan langsung menuju parkiran mobil Risa. Lalu mengendarainya keluar Cafe menuju bandara.


__ADS_2