Ayah Untuk Safira

Ayah Untuk Safira
Ngambek


__ADS_3

Sore itu, sambil menikmati cemilan pesta. Ozi terus berceloteh menghidupkan suasana. Dia selalu memiliki ide untuk mencairkan suasana. Walau kadang ada saja yang dijadikan sasaran candaannya. Dia mampu membuat teman - temannya tertawa hingga sakit perut.


Lain hal dengan Rendy, yang seakan mencari kesempatan. Dia meraih tangan Risa dan menautkan jemari mereka. Membawanya keatas pahanya dan menggenggamnya dengan tangan satunya. Hal yang paling ditunggunya sejak lama. Risa membiarkan kelakuan Rendy dan mencoba fokus dengan celotehan Ozi.


"Udah ah, Zi. Lu ngomong gak ada abisnya. Gak capek apa ? Gua aja sampek laper bro dengerin ocehan lu", ucap Erik yang masih meringis sambil memegang perutnya.


"Gak tau aja lu, Rik. Ini salah satu siasat biar bisa makan banyak. Digoncangin dulu ama lawakan gua. Abis itu nikmati hidangan sepuasnya. Hahahaa", ucap Ozi yang disambut gelak tawa dari yang lain.


"Iya. Bener banget, Zi"


"Bisa aja lu, Zi"


"Ada benernya juga"


Yang lain saling bersahutan menanggapi Ozi. Risa melepaskan tautan tangannya pada Rendy. "Kamu jangan diem mulu. Entar malah kamu yang dapet giliran digoda Ozi. Sikap kamu gak kayak biasanya", bisik Risa di dekat telinga Rendy yang langsung menyadarkannya.


Buru - buru dia mengambil ponselnya untuk mencari alasan jika tiba - tiba mendapat serangan. Dia terus menunduk, menatap ponselnya. Jemarinya terus menari diatas layar ponsel.


Risa tetap memperhatikan ocehan Ozi seperti biasa. Dia tak mau bertingkah aneh atau memberi tanggapan berliebih agar tak mencolok perhatian. Risa beralih pada Erik yang duduk di dekat Dewi. Mereka tampak akrab dan berbeda menurut Risa.


'Aku tunggu cerita darimu, Rik'. Tatapan Risa seolah mengisyaratkan kalimat itu saat matanya bersitatap dengan Erik. Alis Risa terangkat sebelah dengan bibir yang menunggingkan senyum penuh arti.


Erik mulai menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia dan Risa adalah teman semasa kecil. Ibu Risa dan Ayahnya bersahabat. Bahkan, dulu orang tua Risa yang mengurus kebun milik orang tua Erik. Sehingga Erik dan Risa kecil tumbuh bersama tanpa ada rahasia.


"Nah, ini nih..." Ozi mulai mengalihkan tatapannya. Risa mengikuti arah tatapannya yang ternyata tertuju pada Rendy. "Si play boy kita lagi dapet mangsa kayaknya. Ponsel mulu yang diliat".


'Apa kubilang ?', ucap Risa dalam hati. Untungnya dia telah punya firasat akan hal ini. Kalau saja dia tak melepaskan tangannya dari Rendy, mungkin saat ini mereka akan menjadi bahan candaan selanjutnya.


Rendy mengangkat kepalanya menatap Ozi. Kemudian beralih menatap yang lain bergantian. Dia hanya memberikan cengiran kuda pada mereka. Lalu beranjak menuju antrian prasmanan sebelum Ozi berceloteh ria lagi.


"Eh, si play boy malah ke antrian", ucap Ozi kecewa karena belum sempat menggoda Rendy.


"Wah... Rendy juga yang bener, nih. Ayolah kita masuk antrian", ucap Edi mengikuti Rendy. Lalu yang lain pun mengikutinya.


Mereka mulai masuk dalam antrian prasmanan termasuk Risa. Dia mencoba mempercepat langkah agar bisa mendekati Erik. Diabaikannya tatapan tajam dari Wulan padanya. Dia tak mau menambah masalah. Risa tahu, hari ini dia bisa selamat dari mulut tajam Wulan karena Ozi terus berceloteh. Ditambah lagi, teman - teman yang ada tak mendukung untuk Wulan bertindak semena - mena pada Risa.

__ADS_1


Mereka menikmati hidangan pesta. Seperti biasa, Rendy terus menempel pada Risa. Bukan hal baru bagi yang lain melihat kedekatan mereka. Hanya sikap Wulan yang sedikit menjadi perhatian. Biasanya dia akan terus mengganggu Rendy. Kali ini dia seperti menjaga jarak pada Rendy. Dia masih memikirkan ancaman Risa, yang ingin memberi tahu tentang kelakuannya tempo hari sewaktu memviralkan Risa. Dia dan sepupunya telah menghapus unggahan tersebut. Karena takut Risa akan melaporkannya pada Rendy.


Setelah selesai menikmati hidangan dan sedikit bercanda tawa dengan yang lain. Mereka pun membubarkan diri setelah bersalaman dan berpoto dengan pengantin. Erik memberi isyarat pada Risa dan Rendy ingin mengantar Dewi. Sementara Rendy langsung menggandeng tangan Risa menuju parkiran. Risa menautkan alisnya melihat sikap Rendy yang terkesan seperti anak remaja. Tanpa mereka sadari, seseorang tengah mengikuti mereka.


Rendy membukakan pintu mobil untuk Risa. Namun sebelum Risa masuk, seseorang telah masuk terlebih dahulu dikursi sebelah supir.


"Aku nebeng ya, Rend. Tadi aku kesini dianter sepupu", ucap wanita itu setelah menjatuhkan bobotnya dikursi sebelah kemudi.


Risa memberengut kesal melihat sikap wanita tersebut. Lalu dengan cepat dia membuka pintu belakang dan duduk menahan emosi. Sementara Rendy, mulai menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia bingung harus berbuat apa. Tanpa menutup pintu, Rendy melangkah dengan gontai ke arah kursi kemudi. Lalu menyalakan mobil dan melajukannya.


Selama perjalanan Risa hanya diam. Dia memilih berkutat pada ponselnya. Rendy berusaha fokus pada jalanan, walau pikirannya tertuju pada Risa yang berada dikursi belakang.


"Kamu mobil baru ya, Rend ? Bagus banget mobilnya. Gimana kalo kita anter Risa dulu ? Trus abis itu kita nongkrong dulu di Kafe". Ucap Wulan, wanita yang menyerobot kursi sebelah kemudi milik Risa. Dia sangat bersemangat mengajak Rendy untuk ke Kafe bersamanya. Selama ini Rendy tak pernah mengabaikan permintaannya.


"Kayaknya gak bisa deh Lan. Aku harus nganter kamu dulu. Maaf, ya", ucap Rendy sopan. Dia masih saja berhati - hati saat berbicara dengan Wulan.


"Loh, kok gitu ? Lagian kan rumahku ngelewati rumahnya Risa. Kalo kamu nganter aku dulu baru Risa yang ada malah kamu muter - muter dong", jawab Wulan sewot. Tak terima karena merasa dinomor duakan oleh Rendy.


Risa menghela nafas kasar. "Kalo kamu gak mau dianter duluan, gak apa - apa. Biar nanti aku yang anter kamu setelah Rendy aku anter pulang". Ucap Risa dengan tegas.


"Kurang jelas ucapanku ?", Risa malah balik bertanya.


"Kalo ngomong tuh..."


"Lan. Stop", Rendy langsung memotong kalimatnya. "Dengerin. Ini mobilnya Risa. Jadi ya wajar kalo dia ngomong kayak gitu. Masih untung Risa ngebolehin kamu nebeng", lanjut Rendy dengan lembut berharap Wulan dapat sadar akan tindakannya.


Wulan membelalakkan matanya mendengar penuturan Rendy. Wajahnya memerah menahan malu. Ada rasa tak percaya dalam hatinya dengan apa yang diucapkan Rendy. Ingin membantah, dia takut Rendy akan semakin illfeel padanya. Dia hanya memberengut kesal.


Setelahnya, mereka diam satu sama lain. Rendy sesekali melihat Risa dari spion. Wanita itu tampak biasa saja seperti tak ada kejadian. Namun Rendy tetap tak merasa tenang. Baginya rumah Wulan terasa amat jauh hingga perjalanan terasa begitu lambat. Ingin berkata tapi dia takut salah.


Setelah sepuluh menit, Rendy menghentikan mobil di halaman rumah bercat hijau tua dengan banyak bunga di sekitar terasnya. Rendy melirik ke arah Wulan. Wanita itu hanya diam, berharap Rendy mau membukakan pintu untuknya.


Rendy menghela nafas pelan. "Udah nyampek, Lan".


Wulan menatap Rendy penuh tanya. Biasany Rendy memang akan membukakan pintu untuknya. Tapi kali ini, dia sama sekali tak keluar dari mobil.

__ADS_1


"Gak mau mampir dulu", ucapnya berbasa basi.


"Enggak, Lan. Makasih. Aku buru - buru belum magrib pan", tolak Rendy halus.


"Sholat magrib dirumah aja. Biar keburu". Lagi, Wulan mencari cara agar Rendy mau mampir kerumahnya.


Rendy tersenyum. "Makasih, Lan. Aku takut Risa kemaleman nganter aku pulang. Aku harus pulang sekarang. Silakan turun, Lan". Ucap Rendy lembut. Dia melirik sekilas pada Risa yang sama sekali tak mengangkat wajahnya dari ponsel.


Dengan terpaksa, Wulan turun dari mobil menuruti permintaan Rendy. Dia sangat malu dengan penolakkan yang diberikan Rendy. Apalagi itu di depan Risa. "Pasti janda gatel itu seneng liat aku ditolak Rendy", gumamnya pelan sambil terus berjalan masuk ke rumah.


Rendy menatap Risa. Dia mengatur nafasnya untuk menghilangkan rasa gugupnya. "Ri... Risa...", panggilnya lembut pada wanita dihadapannya.


"Hem". Risa mengangkat wajahnya menatap Rendy.


"Pindah ke depan dong. Aku berasa supir kalo kamu duduk dibelakang", pintanya dengan memelas.


Risa menggelengkan kepalanya. "Gak mau. Aku masih kesel", ucapnya sambil menatap layar ponselnya lagi.


"Ayo, dong Ri... Kalo kamu gak mau pindah ke depan, aku gak mau jalani mobilnya".


Risa menatap Rendy. Wajahnya ditekuk menahan kesal. "Kayak anak kecil kamu mah. Pakek ancem - ancem segala. Aku tinggalin dirumah Wulan baru tau rasa kamu. Biar jadi bulan - bulanan si Wulan". Risa terus mengomel sambil turun dari mobil dan pindah ke kursi depan.


Dia membanting kencang pintu mobil setelah menjatuhkan bobotnya dikursi. Tanpa disadarinya, wajah Rendy sudah berada di dekatnya. Lalu dengan cepat Rendy mengecup pipi Risa, hingga membuat sang empunya terkesiap.


Risa melirik Rendy yang sudah kembali ke kursinya. Dia menatap sengit pada Rendy yang sedang mengulas senyum kemenangan.


Dengan secepat kilat, tangan Risa telah bertanggar di pinggang Rendy. Jemarinya menjapit kecil kulit disekitar pinggangnya. Rendy menjerit tertahan menahan sakit di pinggangnya.


"Jangan cari kesempatan", ucap Risa penuh penekanan.


"Ampun, Ri. Enggak lagi. Janji". Rendy menahan sakit dan berusaha tetap fokus pada jalan.


Risa melepas jepitannya pada pinggang Rendy. Sedikit ada rasa bersalah menyelimuti hatinya saat melihat tunangannya itu kesakitan. Tangan pria itu terus mengelus tempat dimana Risa menjapitnya tadi.


"Lain kali aku bakal minta izin dulu deh. Suer". Ucapnya tetap menatap ke depan. Wajahnya masih menunjukkan kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2