Ayah Untuk Safira

Ayah Untuk Safira
LDR


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak pertunangan Risa dan Rendy. Kedua orang tua mereka juga sudah menentukan tanggap pernikahan mereka yang akan diadakan di hari jumat. Terhitung tiga minggu dari sekarang. Mereka juga sudah sepakat, jika hanya akad dan acara syukuran yang dihadiri oleh keluarga terdekat.


Rendy sangat memaklumi keputusan Risa. Selain itu, dia juga tak ingin teman - temannya malah akan mengolok Risa. Apalagi kawanan Wulan. Mulut mereka pasti hanya akan mengeluarkan kalimat menyakitkan.


Safira telah libur sekolah. Dia akan memulai pelajarannya lagi setelah tahun baru. Dia mendapat peringkat pertama dengan nilai yang sangat memuaskan. Bahkan dia mendapat rekomendasi dari gurunya untuk masuk ke sekolah yang setaraf internasional. Mengingat kepintarannya dalam memahami setiap pelajaran diatas rata - rata temannya.


"Wah... Anak Papa dapet juara kelas. Fira mau hadiah apa dari Papa ?", ucap Rendy saat melihat hasil rapotnya.


Safira hanya menggelengkan kepala. "Kata Bunda, kalo Fia dapet juara Fia gak boleh minta hadiah. Karena kalo Fia minta hadiah, itu artinya Fia belajar cuma berharap dapet hadiah". Ucapnya membuat Rendy bergeming. "Tapi kalo ada yang mau ngasih hadiah, Fia harus terima. Itu artinya orang itu udah menghargai keberhasilan Fia". Lanjutnya lagi.


Rendy tersenyum melirik Risa. Sementara Risa hanya mengangkat bahunya. "Besok Papa bakal ke Bandung. Sepulang dari sana, Papa bakal bawa oleh - oleh untuk Fira".


Baik Risa maupun Safira menatap Rendy heran. Rendy tertawa melihat wajah kedua orang tersayang di depannya. Dia langsung mengambil ponsel di sakunya dan mengarahkannya kepada mereka berdua. Keduanya pun tanpa sadar menautkan alisnya melihat tingkah aneh Rendy.


"Papa aneh, deh". Ucap Safira.


"Kamu kenapa ketawa ? Ngeprank ?", tanya Risa dengan wajah kesal.


"Ya, ampun. Aku tuh ketawa liat kalian bedua. Mirip banget expresinya. Nih, liat".


Rendy menyodorkan ponselnya pada Risa. Safira pun mendekat pada Risa karena penasaran dengan apa yang akan ditunjukkan pada Papa sambungnya itu. Dan lagi. Keduanya tanpa sadar memberengut kesal kearah Rendy hingga membuat Rendy kembali tertawa.

__ADS_1


"Kompak banget sih kalian berdua", ucapnya lagi. "Duh... anak gadis Papa. Jangan cemberut gitu dong. Bundanya juga jangan cemberut. Nanti wajahnya jadi jelek beneran loh". Tangannya menjawil pipi keduanya.


"Papa serius mau ke Bandung ? Kok mendadak ? Pulangnya kapan ?". Tanya Safira beruntun.


"Iya sayang. Maafin Papa karena baru ngasih tau sekarang, ya. Papa ada urusan pekerjaan disana. Sekitar dua mingguan lah Papa disana". Jelas Rendy pada gadis kecil itu. Matanya beralih pada Risa yang membelai surai panjang milik putrinya untuk memberi ketenangan.


"Bundaaa". Safira mendongak menatap Risa dengan wajah memelas. Matanya tampak berkaca - kaca.


Risa tersenyum menatap Rendy. Lalu beralih lagi pada putrinya. "Nanti, kan kita masih bisa video call sama Papa. Lagian Papa disana untuk kerja bukan liburan. Fira bisa ngertiin Papa, kan ?". Risa mengecup kening Safira. "Fira harus dukung dan doain Papa. Supaya urusan Papa lancar dan Papa cepet pulang. Oke sayang".


Safira tersenyum. Dia memahami penjelasan Risa. "Papa janji, ya. Nanti harus sering - sering video call sama Fia. Trus Papa harus rajin belajar juga rajin kerja. Biar urusan Papa cepet selesai dan Papa bisa cepet pulang. Fia gak mau ditinggal lama - lama sama Papa. Nanti Fia diledekkin temen - temen Fia lagi karena Papa Fia selalu pergi".


Rendy sama terkejutnya dengan Risa. Kemudian Safira menjelaskan bagaimana disekolah teman - temannya selalu mempertanyakan sosok ayahnya yang tak pernah terlihat. Selama ini Safira selalu menunjukkan kebahagiaan di depan mereka. Dia tak pernah mengeluh pada siapapun tentang teman - temannya yang selalu mengoloknya. Apalagi saat Rendy belum memintanya untuk memanggil Papa. Bahkan Aqilah pernah menyebutnya sebagai anak haram karena tak pernah bisa membuktikan bahwa dia masih memiliki Ayah atau Papa. Gara - gara ucapan Aqilah, semua teman - temannya mengolok dia dengan sebutan seperti itu.


"Aqilah itu saudaranya Safira. Anaknya Arya". Ucap Risa sedikit kesal. Dia tak menyangka jika anak seusianya bisa berkata seperti.


Rendy hanya bisa membulatkan bibirnya. Dalam hatinya berkata bahwa sebenarnya Aqilah lah yang merupakan anak dari hasil perbuatan haram. Rendy pernah mencari informasi tentang Arya. Dia mendapati jika Arya menikahi istri barunya secara siri setelah wanita itu memasuki usia kandungan tujuh bulan. Dan masuk dalam catatan sipil tiga bulan pasca melahirkan. Atau setelah dia dan Risa ketok palu.


Saat itulah, Rendy mulai kembali berjuang untuk mendapatkan Risa. Dia tak lagi bergonta ganti pacar hanya untuk mengalihkan perasaannya pada Risa. Hanya satu wanita yang tak bisa dihindarinya. Itupun karena menghargainya sebagai mantan yang ingin berteman baik. Selebihnya dia bisa mengatasi setiap masalahnya dengan para wanita.


"Atau, kita liburan ke Bandung aja Bund. Fia kan udah libur sekolah. Kata Bunda, Bunda mau ajak Fia liburan setelah libur sekolah". Safira langsung memberi usul dan disambut dengan senang oleh Rendy.

__ADS_1


"Bool...."


"Jangan dong, sayang", ucap Risa memotong kalimat Rendy. Dia menatap tajam pada pria yang akan menjadi suaminya itu.


"Fira dengerin penjelasan Bunda, ya. Kalo kita ikut Papa ke Bandung, yang ada Papa malah gak fokus sama pekerjaannya. Nanti disana Papa bakalan trus mikirin kita. Mikirin liburan kita, mikirin kenyaman kita, mikirin keadaan kita. Kalo kita ikut Papa, berarti kita harus ikutin aturan kantor Papa. Jadi, mending kita liburannya disini aja. Biar Papa juga bisa cepet nyelesaiin pekerjaannya. Trus bisa cepet pulang".


Safira tampak berpikir. Dia kemudian memahami penjelasan Risa dan mengangguk tanda setuju dengan usulan Risa. "Oke, deh Bunda".


"Yah... Padahal aku berharap banget tahu", gumam Rendy pelan. Dia menatap Risa penuh kecewa.


"Jangan cemberut gitu dong, Papa. Nanti Papa makin jelek, loh", ucap Risa menirukan gaya bicara Safira.


Risa kemudian tertawa saat wajah Rendy perlahan bersemu akibat ucapan Risa. Tangan Risa terulur menyentuh Pipi Rendy. Lalu membelainya pelan. Seketika Rendy menangkap tangan Risa lalu mengecup telapak tangannya yang lembut itu. Kemudian dia beralih pada Safira dan menjawil pipi chubby gadis kecil itu.


"Papa disana jangan macem - macem, ya. Jangan lirik - lirik cewek lain. Inget! Papa udah punya Fia sama Bunda. Papa gak boleh buat Bunda sedih. Nanti Fia bakal marah dan gak mau ketemu lagi sama Papa kalo sampek Papa buat Bunda sedih. Fia rela terus diejek temen - temen karena gak punya Papa lagi. Asal Bunda gak sedih. Papa jangan kayak Ayah Arya, ya". Ucap Safira menatap tajam pada Rendy.


"Pinter anak Papa, ya. Papa janji gak akan buat Bunda dan Fira sedih. Papa bakal terus buat kalian bahagia. Kalo Fira sedih, Papa juga pasti sedih". Ucap Rendy menenangkan Safira.


Bagaimana bisa aku akan menyakiti Risa ? Sementara perjuanganku mendapatkan Risa sangat tak mudah. Aku pastikan pria yang sudah meninggalkan Risa menyesal karena tak bisa mempertahankan berlian seperti Risa. Rendy hanya bisa berucap dalam hati sambil terus menatap lekat pada sang pujaan hati.


Setelah memberi tahu dua orang kesayangannya tentang kepergiannya besok. Rendy kembali ke rumah mempersiapkan segala keperluannya selama dia menjalankan tugasnya di kota itu. Dia akan berangkat subuh dengan mengendarai mobil. Karena perjalannya hanya memakan waktu tiga sampai empat jam. Menurutnya akan lebih memudahkan pekerjaannya jika dia membawa kendaraan kesana. Daripada harus menggunakan kendaraan umum yang akan membuat pengeluarannya semakin membengkak.

__ADS_1


Selepas sholat subuh, Rendy sudah mengemasi barangnya ke dalam mobil. Dia juga sudah memeriksa keadaan mobilnya. Lalu dia berpamitan kepada kedua orang tuanya dan Lita. Lita mulai tinggal bersama orang tua Rendy karena ingin menghemat biaya. Daripada harus ngekos, lebih baik uangnya untuk keperluan lain. Ucapnya kala itu. Tentu itu membuat Rendy senang karena akan ada yang menemani kedua orang tuanya selama dia tak ada.


Rendy melajukan mobilnya. Meninggalkan pelataran rumahnya yang masih tampak gelap. Sebelumnya dia telah mengirim pesan pada Risa. Sengaja ia tak menelpon Risa karena tak mau mengganggu waktu Risa. Dia tahu, Risa pasti sibuk selepas subuh karena harus membantu Ibu menyiapkan keperluan warung.


__ADS_2