Ayah Untuk Safira

Ayah Untuk Safira
Niat Awal


__ADS_3

Risa berada di toko roti yang diberi nama Safira's Cake. Hari ini pembeli sangat ramai. Baik online maupun yang datang langsung ke toko, hingga Risa juga harus turun tangan melayani pembeli. Setiap hari Senin pembeli akan semakin membludak. Mungkin karena toko libur di hari minggu, jadi pembeli yang sudah menjadi langganan seperti merapel jadwal pembelian kemarin di hari ini.


Risa keluar dari dapur dengan memakai celemek dan membawa nampan berisi kue - kue yang baru di kepak untuk di susun di lemari etalase. Dia meletakkannya perlahan. Kue yang dibawanya baru jenis kue ringan dalam bentuk kemasan. Jika ada yang memesan dalam jumlah banyak, maka kue - kue tersebut akan di kepak dalam bentuk kotak. Saat ini karyawan yang di toko tersisa tiga orang sebagai pelayan dan dua orang kasir. Dikarenakan beberapa karyawan ditugaskan membantu Tia mengurus toko cabang yang baru dibuka.


Saat Risa tengah menyusun beberapa kue ke dalam lemari etalase, seorang pembeli menghampirinya dan melihat - lihat kue yang baru disusunnya. Mata pembeli tersebut menelisik satu per satu kue yang baru tersusun itu. Sesekali bibirnya terdengar mengecap seolah tidak tahan ingin segera melahap kue tersebut.


"Mbak, tolong ambilin kue yang ini dong. Saya mau dua". Risa mengikuti arah telunjuk pembeli tersebut. Kue yang hampir keseluruhan terbuat dari coklat putih dengan hiasan potongan kacang mette dan dibaluri dengan lelehan coklat serta taburan chocochip menjadi pilihan pembeli tersebut.


Risa mengambil pengapit yang berada di dalam etalase lalu mengarahkan pengapit tersebut pada kue yang di maksud si pembeli. "Yang ini, mbak ?". Tanya Risa tanpa menoleh ke pembeli untuk memastikan.


"Iya, mbak yang itu". Sahut si pembeli.


"Yang ini juga tersedia dalam bentuk utuh kalau mbak mau". Jelas Risa. Sebagai pemilik toko tentu Risa menginginkan pembeli bisa membeli kue dengan jumlah atau harga yang lebih besar. Selain ingin mencari keuntungan, Risa juga ingin kue - kue yang dijualnya dapat habis dengan segera agar pekerjaan mereka lebih santai.


"Enggak usah, Mbak. Yang ini aja. Saya mau dua ya, Mbak". Tolak pembeli dengan halus.


"Baik, Mbak". Lalu Risa mengambil pesanan si pembeli dan meletakkannya ke dalam nampan yang di bawanya. "Ada lagi, Mbak ?"


"Itu aja, Mbak".


Risa mengambil Note kecil dan pulpen di saku celemeknya. Lalu mencatat pesanan pembeli tersebut. "Silakan tunggu di kasir ya, Mbak. Atas nama siapa Mbak ?"


"Wulan".

__ADS_1


Tangan Risa terhenti sejenak saat pembeli itu menyebutkan namanya. Rasa penasarannya memaksanya untuk mengangkat kepalanya dan melihat si pembeli tapi urung dilakukannya. Dia melanjutkan menulis pesanannya terlebih dulu lalu menempelkan lembar Note nya di atas bungkus kue tersebut.


Kepala Risa terangkat dan mendapati pembeli tersebut sedang menatap arah lain. Risa langsung bisa mengenali siapa pembeli tersebut. Ada rasa ingin menyapa si pembeli, namun hati kecil Risa seolah berteriak untuk jangan melakukannya karena hanya akan mengusik ketenangannya saja.


Risa membuang nafas perlahan lalu meninggalkan pembeli tersebut dan berjalan menuju meja kasir untuk mengepak pesanan si pembeli ke dalam kotak. Diletakkannya pesanan tersebut di deretan antrian pesanan pembeli yang lain. Risa memperhatikan pembeli tersebut yang wajahnya tampak sumringah. Diperhatikannya arah pandangan si pembeli. Risa mendapati Rendy tengah berdiri di dekat parkiran bersama Alfin, salah satu karyawan toko bagian pengantaran. Rendy memakai kemeja abu - abu lengan panjang yang di lipat hingga ke bagian sikunya dengan bawahan celana bahan panjang.


Tak lama Rendy masuk kedalam toko dan langsung menuju meja kasir. Risa sedikit menggeser posisinya ke arah pintu kasir yang terhubung ke dapur. Dia menyibukkan diri dengan mengecek persediaan kotak yang ada di dekat kasir. Dua orang kasir yang berjaga tampak beramah tamah dengan pembeli yang sedang mengantri.


"Permisi, Mbak... " Tegur Rendy pada Selly, salah seorang kasir.


Selly menoleh lalu tersenyum. "Ya, Pak. Ada yang bisa... "


"Rendy... " Suara seorang wanita mengalihkan pandangan Rendy dari petugas kasir di depannya. Dia mendapati wanita yang tadi memanggilnya tengah melambaikan tangannya seraya mengisyaratkan untuk menghampirinya.


Wanita yang bernama Wulan itu meraih lengan Rendy dan bergelayut manja disana. "Iya, aku lagi pengen beli kue cokelat. Bayarin, ya". Pintanya dengan nada manja.


"Oke, gak masalah". Jawab Rendy enteng. Dia mulai celingukkan mencari - cari. Mata menelisik setiap etalase yang di datangi oleh para pembeli yang lain.


"O iya, Ren. Kamu mau beli kue apa ?"


Rendy menatap Wulan sekilas lalu kembali mengedarkan pandangannya lagi. "Aku juga masih bingung mau cari kue apa". Jawab Rendy sekenanya.


"Aku bantu pilih, ya ?". Wulan menarik lengan Rendy menuju lemari etalase terdekat untuk melihat kue - kue. Satu tangannya masih bergelayut pada lengan Rendy sementara tangan yang lain berada di dagu seolah sedang menimbang kue yang ingin di pilih.

__ADS_1


Wulan menarik lagi lengan Rendy untuk berpindah ke lemari etalase yang lain. Mulutnya bergumam tak jelas sambil jari telunjuknya terus menunjuk kue - kue yang terpajang disana. Sementara Rendy, matanya sama sekali tak tertuju pada kue - kue yang terpampang dihadapannya.


Risa keluar dari dapur. Kali ini dia tak membawa kue. Melainkan menenteng plastik besar berisi kotak - kotak kue pesanan pembeli. Dia terus berjalan menuju pintu keluar toko hendak menghampiri Alfin yang masih berdiri di dekat parkiran motor. Rendy yang melihat Risa keluar lalu melepaskan tangan Wulan dari lengannya dan segera menyusul Risa keluar.


"Alfin... "


"Risa... "


Risa membalikkan badannya ke sumber suara yang memanggil namanya. Alisnya bertaut saat mendapati seseorang yang memanggilnya sudah berada di sampingnya. "Rendy... ?"


"Ada yang mau aku omongin sama kamu, Ri." Wajahnya tampak serius dari biasanya.


"Mbak Risa. Ini pesanan yang mau diantar ?". Alfin mengambil alih plastik besar dari tangan Risa. "Mau dianter kemana, Mbak ?"


Risa mengambil kertas yang telah diselipkannya disalah satu kotak pesanan itu. Lalu menyerahkannya pada Alfin. "Ini alamatnya. Lengkap sama nama penerima dan nomor HP nya. Nanti kalo udah mau deket lokasinya, kamu kabari pembelinya. Itu juga udah saya tulis rincian kekurangannya dan kopian kuitansi pembayaran sebelumnya. Di perhatiin baik - baik ya, Fin". Perintah Risa dengan tegas pada karyawannya itu.


Alfin mengambil kertas yang disodorkan Risa. Memperhatikan kertas tersebut dengan teliti lalu mengangguk. "Oke, Mbak. Nanti kalo ada apa - apa saya kabari Mbak Risa. Saya pamit dulu, Mbak. Permisi Mbak, Mas". Pamitnya sopan lalu meninggalkan keduanya.


Risa memperhatikan ke samping dan sudah ada Wulan berdiri disana. Dia mencoba mengulas senyum pada Wulan yang menatapnya dengan tajam. Seolah ingin menerkam dan mencabik - cabik Risa, Wulan berjalan perlahan lalu berdiri disamping Rendy. Dia meraih lengan Rendy untuk digandeng.


"Ayo, Ren. Bentar lagi giliran aku. Nanti keburu dipanggil lagi. Kan bisa malu aku". Ucapnya dengan begitu manja pada Rendy. Dia seolah tak menganggap Risa ada.


Rendy mengeluarkan dompetnya lalu mengambil selembar uang seratus ribuan dan di berikan pada Wulan. "Nih, kamu ke kasir aja dulu. Aku masih mau ngomong sama Risa".

__ADS_1


Mendengar jawaban Rendy, Wulan langsung memberengut dan beralih menatap Risa. Tatapannya semakin tajam dan menusuk. Sementara Risa seolah abai dengan tatapan kebencian dari Wulan.


__ADS_2