Ayah Untuk Safira

Ayah Untuk Safira
Kronologi dan Penyesalan


__ADS_3

PoV Author


Keadaan Zein mulai membaik. Dia telah dipindahkan ke ruangan bersama Misra setelah beberapa jam selesai operasi. Kedua orang tua Rendy juga sudah pulang. Setelah memastikan kondisi keluarga calon besannya membaik. Manda, Lita dan Safira sudah kembali ke ruangan setelah mereka mengisi tenaga mereka di kantin rumah sakit. Mereka juga membawakan makanan untuk yang lain.


"Maaf Kak, aku boleh permisi pulang ? Udah malem soalnya". Abek berpamitan dengan sopan.


"Oh, boleh. Kamu pulang naik apa ?", tanya Risa sambil meraih dompetnya di meja dekat tempat tidur pasien.


"Naik angkot, kak". Jawabnya singkat.


"Bawa motorku aja Kak. Kan udah malem juga, biar nanti aku bareng mobil kakak atau bang Rendy". Ucap Lita memberi saran.


"Boleh juga. Kamu, Sandra ? Mau sekalian pulang bareng dia ? Ini udah malem, pasti orang tuamu kuwatir sama kamu".


"Mending jangan Kak". Sambung Abek cepat. Risa menautkan alisnya bingung.


"Aku takut. Pelakunya kan belum ketemu, nih. Nanti kalo pelakunya liat aku boncengan sama dia, malah aku jadi sasaran selanjutnya. Aku masih harus bantu Ibu biayai adek - adek aku kak". Jelasnya lagi dengan wajah cemas.


"Bener juga, Ri. Mending dia pulang sendiri aja. Sandra biar aku yang nganter sekalian sama Lita". Ucap Rendy menimpali.


"Tapi aku pulangnya ke rumah kak Risa, bang. Aku udah izin sama tante mau tidur dirumah kak Risa. Pakaian aku juga udah disana". Lita memberengut dengan usulan Rendy.


"Kalo gitu, Manda sama Safira juga ikut pulang aja sekalian. Biar aku sama Bapak yang jaga".


"Fia gak mau, Bundaaa. Fia mau sama Bunda". Gadis kecil itu merengek dan langsung memeluk sang Ibu.


"Fira, sayang. Rumah sakit gak baik buat anak - anak yang sehat. Fira kan sehat. Fira harus istirahat dirumah. Besok kan Fira bisa kesini lagi bareng tante Manda".


Safira menatap Ibunya dengan wajah sendu. Kemudian pandangannya beralih pada Rendy. Berharap mendapat dukungan darinya.


"Turutin kata Bunda, ya sayang. Bunda ngomong gitu karena sayang sama Fira. Kalo Fira pulang, Fira bisa istirahat total. Bangun tidur badan Fira bisa Fit. Kalo Fira dirumah sakit, yang ada nanti malah Fira gak nyaman". Rendy mencoba membujuk calon putri sambungnya itu. Dia menjelaskan dengan pelan dan hati - hati agar dapat dimengerti oleh Safira.


Gadis kecil itu kembali menatap ibunya. Risa hanya tersenyum sambil membelai lembut surai panjang nan lebat milik putri semata wayangnya itu. Safira menghembuskan nafasnya pelan.


"Yaudah, deh. Fia pulang ikut tante Manda sama tante Lita. Tapi besok malem, Bunda harus temenin Fia tidur".

__ADS_1


"Iya sayang. Bunda janji. Sekarang Fira pulang bareng Papa, ya". Ucap Risa sambil tersenyum.


Risa memeluk putrinya. Lalu dia membuka dompetnya dan menyerahkan dua lembar uang berwarna merah pada Abek. Awalanya Abek menolak pemberian Risa. Setelah Risa menjelaskan kalau itu untuk uang jalan dan jajan adik - adiknya, Abekpun akhirnya mau menerima pemberian Risa.


Mereka semua berpamitan pulang kepada Risa dan Pak Sarja. Rendy yang mencoba untuk memeluk Risa malah mendapatkan capitan lagi dipinggangnya.


"Aduh, Ri... Yang kemaren aja belum ilang bekasnya. Ini malah kamu tambahin lagi, sih". Rendy mengaduh dengan wajah menahan sakit.


"Makanya kamu jangan cari kesempetan", ucap Risa sambil mendorong Rendy untuk keluar. "Udah sana ah. Hati - hati dijalan".


"Iya, sayaaang". Ucap Rendy sambil melangkah keluar ruangan.


Dia berjalan menyusuri koridor ruangan tersebut. Rendy berbalik sambil berjalan mundur. Tangannya melambai ke arah Risa. Lalu dia mencium telapak tangannya dan meniupkannya pada Risa. Risa hanya tertawa melihat tingkah lucu calon suaminya itu.


Setelah mereka tak terlihat, Risa mulai masuk ke ruangan. Dilihatnya Zein yang masih tertidur pulas karena efek obat bius. Wajahnya masih terlihat pucat. Tak ada yang menyangka Zein akan mengalami hal seperti ini. Hanya karena wanita, orang tersebut sampai nekat bertindak diluar batas. 'Zein saja yang selalu bertindak hati - hati bisa seperti ini. Apalagi Manda yang suka berbuat sesuai hatinya'. Ucap Risa membatin.


Pagi harinya, polisi datang untuk meminta keterangan pada Misra dan Zein. Sebelumnya pihak polisi menerima laporan mengenai kejadian yang menimpa Zein dari pihak rumah sakit atas persetujuan keluarga. Setelah mengetahui Zein dan Misra sudah sadarkan diri dan bisa untuk dimintai keterangan, mereka pun langsung mengintrogasi keduanya.


Setelah Misra dan Zein menceritakan kronologi kejadian tersebut, polisi mulai membuat laporan dan penyelidikan mengenai pelaku. Kondisi Zein masih lemah walau sudah bisa diajak berkomunikasi. Dokter juga mengatakan bahwa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Hanya tinggal memantau dan perawatan luka.


Terdengar suara ketukan pintu saat Risa ingin duduk didekat tempat tidur Zein. Risa melangkahkan kakinya menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Assalamualaikum Kak Risa. Maaf saya dateng pagi - pagi. Ini sekalian saya bawain sarapan". Ucap gadis berambut pirang itu dengan ramah.


"Waalaikumussalam Sandra. Ayo, silakan masuk. Jadi repot nih dibawain sarapan segala". Sambut Risa.


Risa mempersilakan Sandra duduk di sofa. Sementara dia sendiri ingin menyuapi Zein. Namun, lagi - lagi Risa harus menunda kegiatannya karena terdengar suara ketukkan lagi. Dengan malas Risa berjalan mendekati pintu dan membukanya.


"Assalamualaikum Bundaaa..."


Wajah muram Risa seketika berubah ceria melihat siapa yang datang. "Waalaikumussalam, anak Bundaa. Duh... Bunda kangen". Ucap Risa seraya memeluk gadis kecilnya.


"Fia juga kangen Bunda". Ucap gadis kecil itu manja.


"Papa gak ada yang kangenin ?", ucap pria bertubuh tinggi tegap itu.

__ADS_1


Risa hanya memutar malas bola matanya. "Enggak tuh".


"Tapi Papa kangen Bunda. Pengen peluk juga". Ucap pria tersebut menirukan gaya bicara Safira sambil merentangkan tangannya.


"Diiih... Kamu, ya. Modus aja. Dah ah. Masuk, yuk".


Risa menutup kembali pintu ruangan. Kali ini dia duduk di sofa bersama Rendy dan Safira. Karena ternyata Sandra telah menggantikan posisinya untuk menyuapi Zein. Sandra mempersilakan Risa untuk sarapan.


"Manda sama Lita gak kesini ?", tanya Risa sambil menyuap bubur ayam ke mulutnya.


"Enggak. Mereka mau beresi rumah dan warung dulu katanya. Jadi aku bawa Fira kesini. Aku juga udah minta mereka nyiapin pakaian buat kamu sama Bapak. Nanti selesai sarapan kamu mandi gih. Pakaianmu udah lecek gitu". Ucap Rendy sambil memperhatikan penampilan Risa yang memang belum berganti sejak kemarin.


Risa menyelesaikan sarapannya cepat. Setelahnya dia pun mandi dan berganti pakaian. Kemudian disusul oleh Bapak yang bergantian dikamar mandi. Risa menceritakan pada Rendy mengenai kasus Zein yang baru masuk penyelidikan. Polisi sudah mulai mencari pelaku berdasarkan poto yang sudah diberikan oleh Sandra saat kemarin dimintai keterangan.


"Aku tadi juga udah minta polisi buat jaga - jaga disekitaran rumah sakit. Siapa tahu aja, pelakunya masih ngincar Zein". Ucap Rendy yang kini sudah berada didekat tempat tidur Zein.


"Makin ganteng aja lo kayak gini, bro". Ucap Rendy pada Zein.


"Sialan lu bang. Mujinya kebangetan". Zein menanggapinya dengan senyum sambil menahan sakit. Wajahnya yang masih lebam disekitar tulang pipinya membuatnya kesulitan untuk bicara. Apalagi tertawa.


"Maafin aku ya Zein. Gara - gara aku, kamu jadi kayak gini. Ibu juga jadi drop begitu". Ucap Sandra dengan menundukkan wajahnya.


Sandra menceritakan bahwa kejadian yang menimpa Zein karena salah paham pria yang bernama Jaka. Dia adalah mantan tunangan Sandra. Sandra memutuskan pertunangan tersebut karena sering mendapati Jaka mengonsumsi barang haram. Awalnya Jaka berjanji untuk tidak menyentuh barang itu lagi asalkan Sandra masih mau melanjutkan pertunangan mereka. Namun janji yang dibuat hanya janji. Tanpa bukti.


Sandra kembali memergokinya sedang dalam keadaan fly. Disaat itu Sandra meluapkan kekesalannya karena si pria tak kunjung berubah. Namun, kondisi Jaka yang saat itu sedang dalam pengaruh obat - obatan malah membuatnya mendapatkan kekerasan fisik. Saat itu juga Sandra langsung memutuskan sepihak hubungan mereka.


Setelah kejadian itu, tanpa sengaja Sandra bertemu Zein di acara pesta pernikahan temannya. Dia mulai mendekati Zein untuk sekedar menghilangkan rasa kecewanya pada Jaka. Namun, seseorang atas suruhan Jaka memata - matai mereka dan melaporkannya. Hingga kejadian naas pada Zein pun bisa terjadi.


"Sudahlah, Nak Sandra. Ini semua jadi pelajaran buat kita. Agar kita tetap berhati - hati dalam berbuat dan berucap. Setiap orang punya penilaian yang berbeda terhadap kita. Jadi, kita harus lebih mawas diri saja kedepannya". Ucap Sarja sambil memijit kaki sang istri.


"Ibu sebaiknya pulang saja, Sa. Lebih nyaman istirahat dirumah. Lagian tadi kata dokter, Ibu udah boleh pulang. Kondisi Ibu juga sudah membaik". Ucap Misra lirih.


Risa menatap Sarja yang menganggukkan kepalanya. "Yaudah, kalo emang Ibu mau pulang. Biar nanti dianter sama Rendy. Sekarang Ibu istirahat aja dulu. Nanti biar Risa bantu beresi pakaian Ibu sama Bapak".


Risa kemudian membereskan pakaian yang sempat diantar Abek tadi malam. Setelahnya dia pergi ke bagian administrasi untuk mengurus kepulangan Misra.

__ADS_1


__ADS_2