Ayah Untuk Safira

Ayah Untuk Safira
Launching Kafe


__ADS_3

PoV Author


Siang ini Risa disibukkan dengan menata Kafe. Dia membantu para karyawan mendekor Kafe agar tampak lebih nyaman. Hari ini adalah launching promo yang diadakan Kafe. Semua menu didiskon lima puluh persen dari harga normal. Acara ini dibuat juga sebagai bentuk rasa syukur karena Risa dapat mengembangkan bisnis barunya.


Risa tak banyak mengundang tamu. Mengingat hanya kedua orang tuanya yang tahu akan bisnisnya. Risa hanya mengajak kedua orang tuanya serta adiknya. Juga Rendy beserta keluarganya. Tak lupa para karyawan juga keluarganya. Dia juga mengajak serta Erik.


Para pengunjung sudah berdatangan sejak Kafe dibuka. Hari ini Kafe buka dua jam lebih cepat dari biasanya. Tentu saja Risa memberi bonus pada para karyawannya karena acara ini. Toko rotinya ditutup, dan para karyawannya dialihkan ke Kafe.


Risa menghampiri meja kedua orang tuanya. Meja dengan enam kursi itu hanya menyisakan satu kursi kosong untuk dirinya saja.


"Bunda, Kafenya bagus banget ya. Nama Kafenya kayak nama Fia". Ucapnya saat pertama kali melihat suasana Kafe tersebut.


'Karena kamu adalah semangat Bunda. Makanya Kafe ini Bunda beri nama seperti namamu'. Risa hanya bisa berucap dalam hati seraya tersenyum pada putri semata wayangnya. "Fira suka sama tempatnya ?".


"Suka, Bun. Makanannya juga Fia suka". Jawabnya antusias.


"Ada lowongan gak disini ? Siapa tau aja, kan bisa masukkin aku kerja disini", ucap Manda seloroh.


"Lah, terus kerjaan kamu itu mau dikemanain ?", ucap sang Ibu menowel pipinya.


"Mau resign aja, Bu. Trauma". Ucapnya dengan wajah ditekuk. Dia lalu menyeruput jus alpukatnya.


"Nanti aku pikir - pikir dulu", sahut Risa dan memindai pandangannya ke sekeliling Kafe. Dia lalu tersenyum saat mendapati sosok yang dikenalnya tengah memasuki Kafe.


"Fira sayang. Coba deh, Fira liat kesana ?", Risa mengarahkan telunjuknya ke sosok pria yang tengah melangkah mendekati mereka.


Mata Safira berbinar. "Papa... ". Gadis kecil itu langsung berlari menuju sosok pria bertubuh tegap itu dan menghambur dalam gendongannya.


"Anak gadis Papa", sambutnya sambil menempelkan dahi mereka.


"Papa nya doang yang dipanggil ?", goda Diana pada Safira.


"Heheee. Hai Oma, Hai Opa, Hai Tante, Hai Sakha". Ucapnya sambil melambaikan tangannya pada mereka satu persatu.


"Hai sayang", sahut Rino, Papanya Rendy. "Cucu Opa cantik banget hari ini".

__ADS_1


"Iya, dong harus. Anak gadis harus selalu tampil cantik. Ya, kan sayang". Sambung Mira menggoda Safira.


Gadis kecil itu hanya tersenyum malu menanggapi ucapan Mira. Setelahnya Risa menyapa mereka dan menuntun mereka ke meja yang sudah di sediakan. Andra, suami Mira tak dapat ikut karena masih ada urusan pekerjaan.


Sore itu pengunjung kian ramai. Sampai - sampai mereka harus membuka rooftop dadakan. Sebisa mungkin Risa menata bagian rooftop agar layak digunakan oleh para pengunjung. Risa tak menyangka jika hari ini pengunjung akan membludak. Dia juga sudah mengantisipasi dengan menggunakan halaman Kafe sebagai area pengunjung. Namun dikarenakan hari promo, area tersebut pun tak mampu menampung. Bahkan ada yang rela menunggu pengunjung lain pulang agar mereka bisa duduk di Kafe tersebut.


Acara syukuran pun dimulai selepas magrib. Pembacaan doa dipimpin oleh Pak Sarja, Bapaknya Risa. Kemudian diakhiri dengan makan bersama.


*****


Pagi ini, tak seperti biasa. Misra, Ibunya Risa sibuk di dapur membuat banyak makanan. Hari ini akan ada tamu spesial yang berkunjung ke rumah mereka. Misra juga mempersiapkan beberapa cemilan untuk disajikan siang nanti.


Risa selepas subuh langsung kembali tidur karena kelelahan akibat acara di Kafe. Dia pulang agak larut bersama Zein. Acara Kafe berjalan dengan lancar. Antusias pengunjung akan tempat tongkrongan baru sangat tinggi.


"Bu, banyak banget masaknya ?", tanya Manda menghampiri Misra di dapur. Dia baru pulang dari jogging bersama Safira. Hari ini dia masih libur bekerja akibat kejadian Ijal tempat hari.


"Iya. Mau ada tamu yang dateng nanti siang". Jawab Misra sekenanya. "Kamu mau bantu atau cuma mandorin aja ?", lanjut Misra lagi melihat anak gadisnya hanya diam memperhatikan makanan yang tersaji di meja dapur.


"Aku ganti baju dulu, Bu. Bau keringet", sambungnya cepat dan berlalu ke kamarnya.


Misra tersenyum menatap cucu semata wayangnya. "Ini uti tinggal buat sayur asem". Ucapnya sambil mengaduk masakan itu. Harumnya telah menguar. Misra menyendok kuah dan sayur dari panci tersebut untuk mengecek rasa. "Cp. Hem... ", dia mulai mengangguk - anggukkan kepalanya tanda masakannya sudah pas dilidah.


"Enak, Uti ?", tanya Safira yang penasaran.


Misra melirik sekilas cucunya lalu mengambil piring kecil di dekat rak wastafel dan menuang kuah ke dalam piring kecil tersebut. Serta beberapa melinjo, kacang panjang dan terung. Juga ikan nila yang menjadi pelengkap sayur asam tersebut. Lalu diberikannya pada Safira untuk dicicipi.


"Silakan dicicipi, Bu", ucap Misra pada gadis kecil itu seraya menyerahkan sendok padanya.


Safira menyambut piring tersebut sambil tersenyum. "Trima kasih, Uti". Ucapnya. Di dekatkannya hidungnya pada piring tersebut yang masih mengepulkan uap. "Hmm... Harum banget Uti".


"Iya dong. Sekarang kamu duduk makannya, ya". Misra menuntun cucunya ke meja makan. Lalu kembali berkutat pada pekerjaannya.


"Apa yang perlu dikerjakan, Bu ?", tanya Manda saat sudah kembali ke dapur.


"Wah... Uti, rasanya seger banget. Pas banget sama cuacanya", ucap Safira sambil terus menikmati isi piring kecilnya itu.

__ADS_1


"Fira makan apa ?", tanya Manda sambil mendekatinya. Dilihatnya piring kecil dihadapan Safira. "Sayur asem ? Wih, enak nih. Aku makan dulu ya, Bu baru bantu - bantu". Tanpa menunggu jawaban sang Ibu Manda mengambil piring dan sendok lalu menyendok sayur asem yang masih di panci atas kompor. Lalu dia beralih pada nasi yang berada dipenanak nasi. Setelahnya, dia bergabung dengan Safira dimeja makan.


"Lah, tadi kan kita udah makan lontong sayur di deket taman, Tan ?", Safira menatap heran pada Manda yang menyantap sarapan keduanya.


"Iya. Laper lagi liat masakan Utimu", jawab Manda sekenanya. Lalu menikmati sayur asam yang menggoda perutnya.


Safira hanya menggelengkan kepalanya melihat nafsu makan Tantenya yang begitu tinggi. Untungnya tubuh Manda tidak mudah melar. Sehingga makan banyak pun dia, berat badannya akan tetap stabil. Seperti Risa dan Zein. Mungkin mereka bertiga mewarisi gen dari Eyang Kakungnya. Jika dari Utinya, mungkin sekarang Manda akan tampak seperti paus terdampar.


Setelah selesai makan, Manda dan Safira membantu Misra di dapur. Risa belum juga bangun untuk sarapan. Terkadang jika sudah tidur, Risa bisa melupakan jika dia sudah punya anak. Dia akan tidur lelap seperti saat gadis dulu.


Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Pekerjaan mereka telah selesai. Rumah juga sudah diberesi. Sofa diruang tamu telah di geser ke teras rumah. Zein sudah pulang karena Misra yang meminta. Sarja juga telah pulang dari rumah Pak RT untuk memberi tahu acara hari ini dirumahnya.


"Fira. Bundamu belum bangun ?", tanya Sarja yang belum melihat putri sulungnya.


Safira hanya menggelengkan kepala. Lalu gegas masuk ke kamar dan membangunkan sang Ibu. Seolah mengerti dengan sikap yang diberikan oleh Sarja padanya. Dia membangunkan ibunya dengan menggoyangkan bahu Risa perlahan.


"Bundaaa. Bunda bangun. Udah siang. Bundaaa."


Risa menggeliat. Matanya mulai mengerjap dan terbuka. Ditatapnya gadis kecilnya yang duduk disampingnya. Perlahan Risa bangkit untuk dudu. Dia menggerak - gerakkan tubuhnya untuk meregangkan persendiannya.


Setelah tubuhnya dirasa enakkan, Risa baru menyapa Safira.


"Selamat pagi sayang", ucapnya sambil mengecup kening putrinya.


"Siang, Bunda. Ini udah siang. Matahari aja udah di atas kepala. Untung kita tinggal sama Uti. Kalo tadi kita tinggal cuma berdua, pasti Fia udah kelaperan karena Bunda gak bangun - bangun". Pipinya menggembung, bibirnya pun mengerucut dengan wajah ditekuk. "Sana Bunda mandi. Bentar lagi adzan zuhur. Fia udah laper pengen makan. Fia maunya Bunda masakin. Fia bosen makan masakan Uti terus".


Safira langsung pergi meninggalkan Risa yang mematung mendengarkan ucapan gadis kecilnya itu. Sejak kapan anaknya mulai berani memprotes dirinya, batin Risa. Dia mulai menyadari sikapnya yang selalu mengabaikan putri semata wayangnya itu. Apalagi saat sedang dirumah seperti ini. Dia lebih memilih tidur ketimbang bermain dengan Safira.


'Kayaknya aku memang udah makin jauh dari Safira. Padahal ini hari libur. Seharusnya aku habisin waktuku bersama dia', batin Risa.


Dia kemudian keluar kamar untuk mandi. Saat akan menuju kamar mandi, semua orang dirumah menatapnya sambil menggelengkan kepala. Ditatap seperti itu, Risa hanya nyengir kuda dan bergegas ke kamar mandi.


Risa masuk kamar mandi. Sedangkan Manda mulai mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Risa. Menurut cerita Misra, ibunya, Rendy belum memberi tahu Risa tentang niatnya yang akan datang siang ini. Sehingga sudah dapat dipastikan, Risa tidak akan mempersiapkan dirinya untuk menyambut kedatangan Rendy. Jika Manda tak ikut campur mempersiapkan segala persiapannya, Risa pasti akan banyak tanya.


Setelah memilih gaun yang akan dipakai Risa, Manda meletakkannya di atas tempat tidur. Kemudian dia mencari jilbab warna senada dengan gaun tersebut.

__ADS_1


"Hem. Dipaduin dengan warna ini pasti makin cantik. Tinggal poles dikit. Penampilan kakak pasti makin sempurna", gumamanya sambil memperhatikan gaun dan jilbab pilihannya secara bergantian. Lalu Manda pun keluar kamar setelah selesai mempersiapkan pakaian Risa.


__ADS_2