
Sudah lebih dari seminggu Rendy pergi ke Bandung untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sesuai janji, Rendy tak pernah absen menelpon ataupun video call dengan calon putri sambungnya. Dia dengan setia mendengarkan celotehan gadis kecil itu. Bahkan mereka juga saling bertukar cerita keseharian mereka yang hanya sibuk dengan buku - buku. Safira sibuk dengan buku baru mengenai perhitungan. Sedang Rendy dengan buku yang membahas kasus penyelidikkannya.
Seperti sekarang ini, mereka juga meluangkan waktu sebelum mengisi perut mereka.
"Fira coba tanya ke Bunda. Bunda gak kangen sama Papa ?".
Risa langsung menghentikan jemarinya yang sedari tadi sibuk memeriksa laporan keuangan Toko. Dia menatap putrinya yang duduk di sofa ruang kerjanya dengan alis bertaut.
"Bunda. Papa tanya, Bunda kangen gak sama Papa ?", ucap gadis kecil itu mengulangi pertanyaan penelpon diseberang sana.
Risa menghela nafas perlahan. "Fira sayang. Bilang sama Papa, Bunda gak kangen".
"Diiih. Bunda bo'ong. Masak gak kangen sama Papa. Kita udah lebih seminggu loh gak ketemu sama Papa". Ucap Safira sambil mengerucutkan bibirnya.
Risa membelalakkan matanya mendengar kalimat yang keluar dari gadis kecilnya itu. Terdengar suara tawa dari seberang telpon dan kikikan dari meja sebelahnya. Risa melirik tajam pada Siti yang menutup mulutnya karena menahan tawa.
'Pasti Rendy jadi kepedean denger omongan Fira'. Risa hanya bisa membatin menanggapi tawa dari seberang telpon tersebut.
"Papa. Kayaknya Bunda malu deh mau bilang kangen sama Papa", ucap gadis kecil itu lagi sambil tertawa. Dia melirik ibunya yang sudah menganga.
Risa menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan putrinya. Dia mulai meraup wajahnya lalu memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. Tak menyangka jika putrinya akan mengucapkan hal yang membuatnya malu.
"Tuh liat Pa. Bunda mulai galau. Papa cepet pulang. Kasian Bunda nahan rindu buat Papa".
Lagi. Risa terkesiap dengan ucapan putrinya. Safira telah mengarahkan kamera ponselnya ke arah Risa. Wajah Risa yang tampak kaget dengan ucapan putrinya itu, terlihat lucu dan menggemaskan. Risa lalu mengalihkan pandangannya pada tumpukkan kertas di atas mejanya.
"Fira bilang sama Bunda, ya. Papa juga gak bisa lama - lama nahan rindu sama Bunda. Doain aja kerjaan Papa cepet selesai. Biar Papa cepet pulang".
Tanpa sadar, garis bibir Risa tertarik walau hanya sedikit. Wajahnya berubah pias hanya dengan mendengar kalimat sederhana dari calon suaminya itu.
"Oke, Papa. Nanti Fia sampein ke Bunda. Papa jangan telat makan, ya. Jaga kesehatan. Rajin belajar juga biar pekerjaannya cepet selesai. Trus Papa juga jangan macem - macem disana. Jangan lirik - lirik perempuan lain".
Risa tak kuasa menahan tawa mendengar pesan putri kecilnya untuk calon Papa sambungnya. Sungguh sangat mewakili batin Risa. Lagi - lagi dia dibuat heran dengan perlakuan posesif putrinya pada Rendy. Selama ini Risa tak pernah mau mengangkat telpon dari Rendy. Jika sudah tertera nama Rendy di layar ponselnya, dia akan buru - buru memberikannya pada Safira. Dia masih merasa sungkan jika harus menerima panggilan telpon ataupun video dari Rendy. Padahal, sebelumnya dia selalu saja menerima panggilan telpon maupun video dari Rendy walau dalam keadaan apapun.
Setelah panggilan diakhiri, Safira kembali ke tempat duduknya. Lalu mengeluarkan kotak bekal makanannya ke atas meja. Dia menatanya rapi diatas. Lalu melirik Risa yang masih sibuk dengan kertas - kertasnya. Kemudian dia melirik pada karyawan ibunya yang tampak sedang meregangkan otot - otot tubuhya.
__ADS_1
"Tante udah mau istirahat ?".
Siti yang mendengat suara Safira jadi salah tingkah. "Eh, iya nih Safira. Udah waktunya istirahat juga, kan". Ucapnya ragu sambil melirik Risa.
Risa menatap Siti lalu beralih melirik jam pada ponsel lain miliknya. Dia mengangkat kedua alisnya. "Wah... Ternyata kita terlalu fokus sampek lupa waktu. Oke. Kita istirahat dulu, Siti". Ucap Risa sambil beralih menghampiri Safira yang duduk disofa.
Siti pun pamit untuk keluar untuk istirahat. Sementara Risa menikmati makan siangnya bersama putri semata wayangnya. Safira lebih suka makan masakan milik Uti, Ibunya Risa. Ketimbang harus makan makanan diluar. Safira agak pemilih untuk soal makanan.
Setelah selesai dengan urusan toko, Risa mengajak Safira untuk ke warung Uti. Dia mulai membiasakan diri membawa mobil miliknya yang lama bertanggar di toko. Dia sudah tidak lagi memikirkan apa kata tetangganya tentang dirinya. Sebelum ke warung, Risa menjemput Manda yang sudah mulai membuka toko baju di kios pinggiran kota dekat perkampungan untuk pulang bersama. Semenjak peristiwa beberapa pekan lalu, Risa tak mengizinkan Manda untuk berkendara sendiirian. Apalagi jika waktu menjelang petang.
Sampai di warung. Terlihat sudah ada Lita yang sedang duduk di kursi pembeli. Dia tampak sibuk dengan ponselnya. Setelah mobil parkir, Safira langsung turun dan berlari menemui Lita.
"Tante udah lama nunggu ?", tanya Safira yang langsung duduk disamping Lita.
"Enggak, kok. Tante baru aja nyampek".
"Jadi nginep dirumah ?", tanya Risa yang juga ikut duduk di kursi tersebut. Lita hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu udah mandi ?". Risa memperhatikan penampilan Lita yang tampak awut - awutan.
Risa menggelengkan kepalanya. "Yaudah, kalo gitu kamu sama Fira pulang duluan aja. Trus mandi. Fira juga belum mandi. Nanti tolong mandiin sekalian, ya".
"Aku juga ikut pulang dong, Kak. Badan aku gerah banget rasanya". Ucap Manda sambil terus menggaruk tubuhnya.
Tubuh Manda akan selalu menimbulkan reaksi gatal jika dia mengeluarkan keringat yang berlebih. Itu sebabnya dia tidak terlalu suka diwarung dan bekerja yang menimbulkan keringat. Karena akan membuatnya tak nyaman dengan rasa gatalnya.
Risa mulai membantu Misra untuk melayani pembeli. Setelah ketiga gadis tersebut pulang, pembeli diwarung semakin banyak. Sarja masih sibuk membuatkan teh dan kopi. Sementara Misra menyiapkan pesanan pembeli untuk dibawa pulang. Risa mulai melayani pembeli yang akan menikmatinya di warung.
Saat pembeli mulai sepi, terdengar keributan dari bengkel Zein. Awalnya Risa tak begitu mempedulikan suara gaduh tersebut. Hingga akhirnya, salah seorang pembeli berteriak histeris dan suasana warung menjadi riuh. Risa langsung keluar dan mendapati Sarja memangku sang Ibu yang tengah pingsan diambang pintu. Lalu terdengar tangisan histeris dari arah bengkel dan teriakan saling bersahutan. Sebagian ada yang berlarian.
"Risa, kamu liat dulu keadaan Zein", perintah Sarja pada putri sulungnya. Tangannya terulur menyambut gelas berisi air putih dari salah satu pembeli.
Kaki Risa melangkah cepat menuju bengkel. Dia mendekati gadis berambut pirang yang tengah terisak. Dipangkuannya, Risa dapat melihat adik laki - lakinya meringis kesakitan. Wajahnya penuh lebam dan darah. Mata Risa terbelalak saat melihat bagian perut Zein yang telah berlumuran darah
"Astaghfirullah... Zein. Ya Allah... ". Risa tak bisa berkata apa - apa melihat kondisi adik laki - lakinya tersebut. Air mata Risa luruh seketika.
__ADS_1
"Sakit, kak", rintih Zein sambil memegangi perutnya yang terus mengucurkan darah.
Risa tampak panik dengan kondisi Zein. Dilihatnya wanita berambut pirang yang memegang sweater. Lalu Risa menarik sweater tersebut dan menggulungnya. Lalu menekannya kuat pada luka Zein untuk menghentikan perdarahannya. Zein semakin meringis dengan apa yang dilakukan Risa.
"Tolong bantu angkat ke mobil".
Hanya itu yang dapat Risa ucapkan. Pikirannya kacau melihat dua orang tersayang terkapar tak berdaya. Misra pun ikut dibopong ke mobil karena tak kunjung sadar. Risa melajukan mobilnya kencang saat Zein dan Misra sudah berada di dalam. Gadis berambut pirang beserta teman bengkel Zein juga ikut serta dimobil.
Berkali - kali Risa menekan klakson agar pengendara lain memberikan jalan padanya. Risa berusaha untuk tetap fokus berkendara agar selamat sampai tujuan.
Dua puluh menit perjalanan akhirnya membawa Risa ke rumah sakit ternama dikotanya. Dia langsung mengarahkan mobilnya ke pelataran UGD. Sementara Zein dan Misra mendapat penangan, Risa menunggu diluar ruangan dengan sangat cemas. Sarja berkali - kali tampak memanjatkan doa pada Tuhan untuk anak dan Istrinya.
Risa mulai menenangkan dirinya. Dia tak boleh lemah, karena hanya dia tumpuan bagi keluarganya. Risa mulai mengatur nafasnya. Mengontrol air matanya agar tak jatuh lagi. Dia menghampiri gadis berambut pirang yang terus saja menangis.
"Jangan nangis lagi. Doa untuk keselamatan Zein". Ucap Risa sambil mengusap punggung gadis tersebut.
Perlahan isaknya mereda. Suara tangisnya mulai menghilang. Hanya menyisakan guncangan dari bahunya karena sesenggukan.
Tak lama setelahnya seorang perawat pun keluar.
"Keluarga Pasien atas nama Zein Malik ?".
"Saya kakaknya, Sus". Ucap Risa sambil menghampiri perawat tersebut. Gadis berambut pirang itu membulatkan matanya mendengar ucapan Risa.
"Luka pasien cukup dalam, dan harus segera dilakukan operasi. Namun, pasien kehilangan banyak darah dan harus mendapatkan transfusi darah. Kami sedang melakukan pengecekan ke bagian PMI... "
"Pakai darah saya saja, sus. Golongan darah kami sama", ucap Risa yang langsung memotong penjelasan perawat tersebut.
Beruntung saat sekolah Risa dan kedua adiknya sudah melakukan pengecekan golongan darah. Sehingga untuk saat genting seperti ini Risa langsung bersedia mendonorkan darahnya untuk saudara laki - lakinya. Jika kiranya masih kurang, masih ada Manda yang juga memiliki golongan darah yang sama.
"Baiklah kalau begitu. Silahkan ikut saya".
Risa mengikuti perawat tersebut. Hatinya begitu cemas memikirkan nasib Zein. Dia tak tahu persis apa penyebab kejadian tersebut. Tapi dia dapat memastikan ini semua pasti hanya kesalah pahaman antar remaja.
Teman Zein yang lainnya juga sedang mengejar pelaku. Akbar yang sedari tadi ikut menemani Zein sampai di rumah sakit terus mengerahkan teman - temannya untuk segera menangkap pelaku. Zein termasuk orang yang mudah berbaur. Hampir disetiap tempat dia memiliki teman yang menyeganinya. Selain sikapnya yang sopan, dia juga selalu menghargai dan membantu teman - temannya. Terutama Akbar, yang sampai saat ini merasa banyak berhutang budi pada Zein. Dia terus memanjatkan doa agar Zein dapat selamat dan pelakunya dapat tertangkap.
__ADS_1