
Setelah empat hari dirawat, Zein akhirnya diperbolehkan pulang. Lukanya juga sudah mulai membaik. Hanya perlu kontrol beberapa kali untuk mengganti dan memantau luka. Kondisi wajah Zein pun berangsur pulih. Meninggalkan sedikit bekas luka dan warna kebiruan bekas memar.
Kasus penusukan Zein pun belum mendapat perkembangan. Sampai saat ini, pihak kepolisian belum menemukan keberadaan pelaku. Pihak polisi juga menempatkan beberapa penjagaan disekitar kediaman Risa untuk mengantisipasi tindakan pelaku.
Safira untuk sementara waktu selalu ikut serta kemanapun Risa pergi. Dia tak pernah lagi menitipkannya pada orang tuanya ataupun Manda. Cukuplah pengawasan mereka terfokus pada Zein, agar tak terulang kejadian yang sama. Risa melarang kedua orang tuanya membuka warung sampai pelaku ditemukan.
Risa sibuk di Cafe memeriksa laporan keuangan di dampingi Tia. Sesekali matanya beralih menatap Safira yang asik bermain puzzle.
"Mbak Risa. Ini udah H-3 loh. Masa' Mbak Risa tetep ke Toko sih ? Persiapan pernikahannya gimana ?". Ucap Tia yang masih setia mendampingi Risa dalam mengerjakan laporannya.
"Kan ini juga ulah kamu Tia. Kalo aja gak pusing sendiri ngerjainnya, saya juga gak bakal turun tangan, kan ?". Jawaban Risa membuat Tia senyum - senyum sendiri.
Kebiasaan Tia adalah ketika ada banyak pengeluaran, dia akan kebingungan dalam menjumlahkan pemasukkan. Padahal pencatatan jelas dan terperinci. Hanya saja saat penjumlahan, akan ada angka yang terselip dan membuat Tia kelabakan.
"Kayaknya saya udah bisa nambah satu karyawan khusus untuk bagian ini. Biar kamu fokus me-manage Cafe". Usul Risa sambil mengakhiri pekerjaannya.
"Makasih ya, Mbak Risa. Sebenernya saya juga pengennya gitu. Tapi takut mau ngusulinnya". Jawab Tia. "Jadi, untuk hari pernikahan Mbak Risa, Kafe dan Toko tutup ya Mbak ?".
"Iya tutup. Gak ada alasan, ya gak bisa dateng ke nikahan saya". Ucap Risa sambil tersenyum.
"Pasti dong, Mbak. Nanti saya ingetin lagi anak - anak".
Tok Tok Tok
Pintu terbuka. Muncul salah satu karyawan wanita yang berhijab. "Maaf, buk Risa saya mengganggu. Diluar ada yang mencari buk Risa. Katanya Kakak Iparnya bu Risa". Ucap karyawan itu sopan.
Alis Risa bertaut. Dia tampak berpikir sejenak. Kak Mira ? atau malah Mbak Nani. Mbak Nani adalah kakaknya Arya. Terkadang memang sering mencari Risa dan selalu menyebutkan dirinya adalah kakak ipar Risa. Walau kenyataannya mereka sudah mantan Ipar.
Risa bergegas keluar ruangan. Sebelumnya dia menitipkan Safira pada Tia agar menemaninya bermain. Risa mengikuti langkah karyawannya menuju salah satu meja pengunjung. Karyawan tersebut mempersilakan Risa dan mengarahkan tangannya pada meja tempat tamu Risa menunggu. Risa masih memandangi punggung wanita yang mencarinya. Dia masih mencoba mengingat sosok yang berada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Risa..."
Panggil seorang wanita dari arah belakangnya. Risa pun membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa pemilik suara tersebut. Risa terkesiap saat melihat pemilik suara tersebut.
"Mbak Nani ?".
"Iya. Ayo duduk, Sa. Apa kabar kamu ?".
"Alhamdulillah, aku sehat. Mbak sendiri gimana ?"
"Alhamdulillah, Mbak juga sehat".
Nani merangkul lengan Risa dan mengajaknya duduk didekat meja yang telah dipesannya. Langkahnya terhenti saat tahu siapa sosok yang wanita yang duduk membelakanginya tadi.
"Kenapa ? Kaget ?". Ucap wanita paruh baya tersebut saat melihat raut wajah Risa.
"Sebenernya saya udah males ketemu sama kamu. Tapi karna satu hal, jadi saya menemui kamu untuk memastikan". Nada bicaranya terdengar angkuh. Wanita paruh baya tersebut sama sekali tak menunjukkan wajah bersahabatnya. "Siapa laki - laki yang akan menikahi kamu ? Apa dia tahu semua tentang kamu ? Saya denger, laki - laki yang akan menikahi kamu adalah seorang lowyer. Lajang ? Atau Duda ?".
Tak satupun kata dapat keluar dari mulut Risa. Tenggorokannya terasa tercekat. Risa mengatur nafasnya berkali - kali untuk menekan emosinya. Biar bagaimanapun, wanita paruh baya itu pernah menjadi ibu mertuanya.
"Apa dia tahu kalau kamu itu mandul ?", Tanya Ria lagi.
"Maaf, Ma. Sepertinya itu semua sudah bukan menjadi urusan Mama. Karena semenjak saya dan Arya resmi bercerai, itu artinya hubungan kita sudah berakhir. Dan Mama tidak perlu tahu siapa yang akan menjadi pendamping saya". Risa berkata dengan sangat hati - hati. Dia tahu, menghadapi orang seperti mantan mertuanya harus dengan tenang dan tentu menguras pikiran.
"Sombong sekali kamu, Risa. Saya cuma mau ingetin ke kamu, supaya pernikahan kamu itu bisa langgeng. Kamu harus jujur dengan calon suami, apalagi calon mertua kamu harus tahu tentang keadaan kamu. Biar keluarga kamu gak malu karena pernikahan anak perempuannya gagal berkali - kali". Ucapnya meninggi.
"Cukup, Ma. Saya hargai perhatian dan rasa peduli Mama. Terima kasih. Tapi saya rasa, Mama gak perlu repot - repot mengurusi urusan pribadi saya. Lebih baik Mama fokus dengan Mbak Nani. Dia lebih membutuhkan perhatian Mama dibanding saya". Risa memaksakan senyumnya.
Hatinya sangat bergemuruh saat ini. Perlakuan mantan mertuanya tak pernah berubah padanya. Selalu berkata sengit dan menyakitkan. Belum ucapannya yang selalu mengatakan bahwa Risa mandul.
__ADS_1
"Kamu..."
"Papa..."
Suara teriakan anak kecil menghentikan kalimat Ria. Dia menoleh ke anak perempuan berambut hitam panjang yang berlari ke arah pria yang dipanggilnya Papa. Hati Ria sedikit berdesir saat melihat anak perempuan dalam gendongan pria tersebut. Pria tersebut menolehkan kepalanya. Ria membuang wajahnya karena takut tertangkap sedang memperhatikan mereka.
"Sayang, kamu lagi ada tamu ?". Ucap pria itu dan langsung membuat Ria menolehkan kepalanya. Dia memperhatikan pria dihadapannya yang menatap kearah Risa. Sementara Risa hanya tersenyum sambil mengangguk. Pria itu adalah Rendy yang sedang menggendong Safira.
"Kalo gitu aku sama Fira nunggu disitu, ya ?". Ucap Rendy sambil menunjuk meja di dekat sudut Kafe.
Risa hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Rendy. Lalu keduanya berjalan menuju meja di sudut Kafe. Ria masih memandangi kepergian Rendy dan Safira. Matanya lekat menatap Safira. Ada perasaan aneh yang menjalar dalam dirinya saat melihat Safira. Sedetik kemudian dia mulai tersadar.
"Ternyata calon kamu duda ? Pantes aja kamu kelihatan PeDe nikah sama dia. Tapi cocoklah. Janda nikah sama Dua. Punya anak lagi. Jadi kamu gak bakal dituntut untuk punya anak sama mertua kamu". Ria menyunggingkan senyum sinis di bibirnya.
Risa terkesiap mendengar ucapan Ria. Namun dia segera mengendalikan diri, mengingat Ria tak pernah tahu kenyataan sesungguhnya. Dia terus menenangkan dirinya sendiri agar emosinya tak meluap. Selain dia tak ingin ada keributan di Kafenya, dia juga lebih memikirkan rasa hormat pada orang yang lebih tua.
"Perlu Mama tahu. Orang yang menikah selama sepuluh tahun dan belum dikaruniai seorang anak, itu belum bisa dikatakan mandul. Apalagi yang baru menikah dua tahun lamanya. Karena urusan rezeki dan keturunan itu Tuhan yang mengatur. Kalau Tuhan sudah berkehendak, siapapun gak bisa mencegahnya".
Ria membulatkan matanya mendengar kalimat yang keluar dari mulut mantam menantunya itu. Rahangnya bergemerutuk menahan amarah. Tangannya sudah mengepal dan siap untuk melayang. Nani mengusap lengan mamanya untuk memberi ketenangan.
"Saya mohon doa restu dari Mama. Juga semoga Mama dan Mbak Nani bisa hadir di acara pernikahan saya".
Hanya itu yang dapat Risa ucapkan kepada mantan mertuanya itu. Dia lebih memilih diam dari pada harus memperkeruh suasana. Sedang Nani, tak dapat berbuat apa - apa dengan semua tindakan yang dilakukan ibunya. Ria bangkit dan pergi meninggalkan Risa.
"Risa. Tolong maafin Mama, ya ? Mbak juga salah karena udah nuruti kemauan Mama untuk bertemu kamu. Kalo aja tadi Mbak bisa cegah Mama untuk gak kesini, mungkin semua ini gak bakal terjadi. Sekali lagi Mbak minta maaf Risa. Permisi".
"Iya, Mbak. Gak masalah. Saya maklum kok". Ucap Risa sambil tersenyum.
Nani mempercepat langkahnya untuk mengejar sang ibu. Setelah kepergian keduanya, Risa mengatur nafasnya berkali - kali. Menetralkan amarahnya yang terus memaksa untuk keluar. Setelah dirasa lega, Risa baru menghampiri Rendy dan Safira. Dia mencoba untuk tersenyum dihadapan mereka agar tak membuat keduanya khawatir.
__ADS_1