
PoV Zein
Hari ini bengkel lumayan ramai. Walau hanya tambal ban, setidaknya aku tetap memiliki pemasukkan untuk bisa memberi upah pada Akbek (Akbar). Dia meminta untuk diberi upah harian agar dapat membantu biaya makan keluarganya. Usianya dua tahun lebih muda dariku. Dia anak yatim yang harus membantu ibunya menafkahi tiga adiknya. Ibunya hanya seorang buruh cuci. Sementara ketiga adiknya masih bersekolah.
Ibu juga sering membawakannya makanan saat dia pulang dari bengkel. Selain dia cekatan dibengkel, dia juga tak segan membantu Ibu dan Bapak diwarung saat pembeli sedang ramai. Itu sebabnya Ibu selalu menyisikan makanan diwarung untuk dibawanya pulang.
Aku mulai membereskan peralatan tambal setelah pelanggan terakhir berlalu. Abek menepuk pundakku dan mengangkat dagunya, seolah sedang menunjuk sesuatu. Kulihat arah dagunya. Ternyata seorang wanita dengan rambut pirang berjalan mendekat ke arah bengkel. Wanita itu memakai sweater warna navy dengan kaca mata hitam dan masker. Aku tetap mengenali wanita itu walau dengan tampilan seperti itu. Dia adalah Sandra. Aku baru mengenalnya sekitar tiga bulan yang lalu. Saat menghadiri acara pernikahan teman.
"Zein. Lagi sepi ?", ucapnya sambil menatap sinis pada Abek. Dia lalu melepaskan sweaternya dan meletakkannya di lengannya.
Terkadang aku heran dengan para wanita yang baru pertama kali bertemu dengan Abek. Selalu menatapnya sinis atau merendahkan. Mungkin karena penampilannya yang dekil dan wajah kusamnya. Tapi, dia sedang bekerja dibengkel. Tentu saja penampilannya akan seperti itu. Penampilanku juga pasti sama seperti dia.
"Alhamdulillah. Baru aja sepi. Duduk dulu, San", aku menunjuk pada kursi panjang tempat biasa pelanggan bengkel duduk.
"Nongkrong, yuk. Cari makan", ucapnya cepat saat aku menawarkannya untuk duduk.
Aku tersenyum. Sudah pasti dia tidak mau duduk ditempat kotor seperti itu. "Ibuku udah masak, San. Kasian Ibu sudah capek - capek masak tapi aku malah makan diluar". Aku berusaha menolak ajakannya dengan lembut.
Pipinya menggembung. Sepertinya dia marah karena penolakkanku. "Aku gak enak kalo harus makan di warung Ibumu. Nanti pasti digratisin sama Ibumu. Kan Ibumu juga jualan untuk cari uang". Wajahnya mulai mengiba.
Aku selalu menolak ajakannya karena tak ingin memberinya harapan. Dia sudah berkali - kali menyatakan perasaannya padaku. Dan berkali - kali juga aku telah menolaknya dengan begitu halus. Tapi sepertinya dia sangat kerasa kepala. Padahal dia itu cantik, tak sulit baginya mendapatkan pria yang lebih dariku.
"Kita makan diwarung aja, ya. Lagian kan kamu tamuku. Ya gak mungkin lah Ibu nyuruh kamu bayar atas hidangan yang disajikan untuk tamu".
"Sekali iniii aja, Zein. Please", dia mulai merangkul lenganku. Bergelayut manja tanpa memperdulikan orang - orang memandang apa padanya.
Aku mencoba melepaskan tangannya. Namun dia malah semakin memelukku. Wajahku terasa panas menahan malu. Beberapa orang yang lewat adalah ibu - ibu tetangga dirumahku. Mereka tampak mencibir kelakuan Sandra padaku. Sudah dapat kupastikan, besok akan ada berita heboh di warung - warung tentang kejadian ini.
"San... Please. Jangan kayak gini. Tanpa kamu sadar, kamu udah nurunin harga diri kamu sebagai seorang wanita. Harusnya kamu bisa lebih menjaga sikap. Bukan seperti ini. Coba kamu liat. Banyak orang yang memandang sinis kearah kita". Perlahan Sandra melepaskan tangannya dari lenganku. Wajahnya masih cemberut.
"Maafin aku, San. Ada baiknya kamu harus jaga jarak padaku. Aku gak mau ada cerita miring tentang kita yang nantinya akan sampai ke telinga Ibuku. Itu hanya akan menambah pikiran Ibuku. Kamu ngerti maksud aku kan ?"
Aku menatap Sandra. Kemudian menatap Abek yang memberi isyarat ingin pergi. Aku mengangkat tanganku sebagai tanda agar Abek tetap ditempatnya. Aku tak mau orang yang melihat semakin berburuk sangka pada kami karena hanya berdua - duaan.
__ADS_1
"Kalo kamu emang mau makan bareng aku, kita makan diwarung Ibuku. Karena aku gak punya cukup uang untuk mentraktirmu makan diluar. Dan aku juga gak bisa terus menerus menerima traktiran darimu".
"Yaudah, deh. Kita makan masakan Ibu kamu aja", ucap Sandra pasrah.
Aku tersenyum dan mulai mengajak Sandra ke warung Ibunya. Aku memberi kode pada Abek untuk ikut. Namun, tiba - tiba saja seseorang datang dan langsung menyerangku.
"Ba***at".
Teriak pria itu sambil meninju wajahku. Aku yang tak siap dengan serangan tersebut terhuyung ke belakang. Saat itu juga rasanya dunia berputar. Aku tak bisa memfokuskan pandanganku. Pria tersebut langsung menghampiriku yang masih terbaring dan terus melayangkan tinju ke wajahku. Dengan sisa tenaga, ku berusaha untuk menangkis dan melawan
"Zein...", Sandra berteriak histeris.
"Kep***t. Berani - beraninya lu ngerebut cewek gua".
Pria itu trus melayangkan tinjunya ke wajahku. Aku bisa melihat matanya yang dipenuhi kabut emosi. Sebisa mungkin aku menangkis pukulannya.
Abek mendorong pria berhoody hitam itu dari atasku. Lalu membantuku untuk bangkit. Aku meringis menahan sakit pada wajahku yang terasa panas disana sini. Pria berhoody hitam itu kembali mendekatiku. Namun dengan sigap Abek menghalaunya.
"Gua gak punya urusan sama lo. Minggir". Pria itu mendorong Abek dan ingin meninjunya. Buru - buru ku tangkis serangannya lalu menendangnya hingga terjerembab.
"Beraninya maen keroyakan lo, ya. Oke. Gua jabanin". Ucapnya lantang.
Kemudian pria itu meletakkan jari telunjuk dan jempolnya ke mulut untuk bersiul. Seketika, dua orang yang sama - sama memakai hoody hitam dan memakai masker datang mendekat. Sepertinya ini memang sudah direncanakan. Tanpa aba - aba, keduanya mulai menyerang Abek.
Kulihat disekeliling sudah ramai penonton yang rata - rata adalah wanita. Mereka tak ada yang berani melerai. Aku berusah membantu Abek melawan dua orang itu. Tapi, tunggu...
"Rasain, lo". Aku menatap wajah pria itu. Dia menyeringai. Wajahnya tak tampak seperti manusia. "Mati aja lo sekalian".
Aku menahan sesuatu yang telah menembus kulit perutku dengan sisa tenagaku. Ku rasakan tetesan yang membasahi kakiku yang hanya beralaskan sandal. Lalu ku coba mengayunkan tinju kearah wajah pria itu. Hingga akhirnya aku terjatuh.
Aargh. Ngilu dan perih terasa diperutku saat sesuatu tercabut dari sana. Aku dapat merasakan darah mengucur deras ditanganku. Ku coba menahannya dengan terus menekan bagian luka itu.
"Zeeinn... "
__ADS_1
"Astaghfirullah..."
"Tolong..."
Aku masih bisa mendengar suara - suara riuh diujung sana. Ku lihat wajah pias Ibu sebelum dia jatuh tak berdaya.
"Zein... Astaga. Gimana ini ?".
Aku meringis menahan sakit diperut ini. Tampak jelas darah terus merembes disekitar perutku.
"Woi... kejer mereka jangan sampek lolos".
Aku tak tau Abek sedang berbicara pada siapa. Mataku rasanya tak sanggup terbuka. Aku hanya bisa mendengar rintihan suara Sandra yang sangat dekat.
"Woi gimana ini"
"Bawa ke rumah sakit".
"Cari angkutan. Cari angkutan".
Aku masih menjaga kesadaranku. Mataku terus ku paksa untuk tetap terbuka. Rasa ngantuk semakin menjalar. Terasa seperti menyembuhkan rasa sakit tapi malah semakin terasa memberatkan tubuhku.
"Astaghfirullah... Zein. Ya Allah... ".
Aku dapat mendengar suara parau milik kakakku. Dari suaranya dapat dipastikan dia sangat panik sekarang.
"Sakit, kak"
Hanya itu yang dapat lolos dari mulutku. Aku mencoba kembali membuka mataku. Namun pandanganku mulai terasa buram. Kurasakan sesuatu sedang diletakkan dan ditekan di dekat lukaku. Aku semakin meringis menahan sakitnya. Entahlah. Tubuhku rasanya sangat berat. Bahkan untuk sekedar menegakkan kepala pun aku sudah tak sanggup.
"Tolong bantu angkat ke mobil".
Aku tak tahu siapa saja yang mengangkatku. Yang kutahu saat ini aku sudah berada didalam mobil bersama Sandra dan Abek. Lalu Abek berpindah posisi ke kursi depan. Aku tak lagi dapat melihat siapa yang masuk dan duduk disebelahku. Semuanya terasa gelap.
__ADS_1