Ayah Untuk Safira

Ayah Untuk Safira
Si Tukang Kepo


__ADS_3

PoV Arya


Aku tak menyangka akan bertemu lagi dengan Risa di sekolah. Hari ini dia mengantar Safira. Biasanya, Safira berangkat diantar Manda atau Zein. Mungkin memang takdir menuntun kami untuk bertemu. Jika boleh jujur. Perasaanku pada Risa tak pernah berubah. Meski aku telah bersama Rani. Dia telah memiliki tempat tersendiri dalam hatiku.


Namun bukan itu yang menjadi permasalahnnya. Risa mengantar Safira dengan mobil yang pernah dipakai Rendy untuk menjemput Safira. Mobil yang disebut Rendy sebagai mobil milik toko tempat Risa bekerja. Bukan itu saja yang membuatku terkejut. Melainkan pengakuannya yang mengatakan kalau mobil sport mewah itu adalah miliknya.


Sejak kapan ? Itu adalah mobil impian kami dulu. Sekarang malah dia telah memilikinya. Jika dia mendapatkan warisan dari orang tuanya, tentu tidak mungkin. Orang tuanya hanya memiliki setapak rumah yang belum sah menjadi milik mereka. Itu adalah milik kakek Risa. Sementara ayah Risa hanya sebatang kara. Tak punya sanak saudara apalagi harta.


Dari mana dia bisa mendapat uang untuk membeli mobil mewah itu ? Aku harus menyelidikinya. Jika memang mobil itu memang miliknya, berarti aku telah salah mengikuti kemauan Mama untuk menikahi Rani karena status orang tuanya. Sekarang Risa malah jauh diatas Rani levelnya. Wajahnya juga semakin hari semakin cantik.


Satu - satunya cara agar aku tahu kebenaran tentang mobil itu adalah bertanya pada karyawan toko tempat Risa bekerja. Ya. Aku harus kesana untuk memastikan mobil itu.


Untung saja sekarang aku sudah tidak bekerja di pabrik lagi. Dua hari yang lalu, Papa mertuaku membuatkan toko material untukku. Jadi aku bisa mencari tahu tentang kebenaran ucapan Risa. Aku juga sudah mempekerjakan dua orang karyawan disana. Jika nantinya sudah semakin ramai, aku akan menambah karyawan lagi untuk meringankan pekerjaan.


Aku telah sampai dipelataran toko roti tempat Risa bekerja. Tak ada mobil yang dibawa Risa bertengger disana. Pengunjung disana juga sangat ramai. Jika aku ingin menanyakan tentang kebenaran itu, maka sepertinya ini bukan waktu yang tepat.


Aku memutar otakku untuk mencari cara mendapatkan informasi tersebut. Jika benar itu memang mobil Risa, itu artinya sekarang dia sudah kaya. Aku harus bisa mendapatkannya lagi. Ada Safira diantara kami yang bisa dijadikan alasan agar kami bisa bersatu kembali.


Netraku menangkap sesuatu yang membuatku heran. "Safira's Cake". Kubaca tulisan tebal yang menempel di bagian atas toko. Safira. Nama anakku dan Risa. Apa jangan - jangan... ? Oh, Tuhan. Apa keluarga Risa telah bangkit dan menjadi sukses ? Apa artinya, toko ini adalah milik Risa ? Aku baru ingat, dulu Risa pernah meminta izin padaku untuk berjualan kue online. Namun aku menolaknya dengan alasan tak punya modal.


"Aku punya sedikit simpenan, Ar. Aku cukup hemat sewaktu sekolah. Jadi aku akan pakek uang tabungan aku sebagai modal awal jualanku. Aku cuma butuh izin darimu karena kamu adalah suamimu", ucapnya saat itu. Dia sangat menghargaiku sebagai suami. Bahkan saat ingin berkumpul dengan temannya, jika aku tak memberi izin dia tak akan pergi.

__ADS_1


"Terserah kamu saja, Sa. Aku pusing jika harus membagi gajiku lagi untuk modal usahamu. Aku masih harus menanggung jawabi Mama". Aku mengatas namakan Mama sebagai alasan agar dia tak meminta bantuan modal usahanya.


Tak disangka sekarang dia telah memiliki toko roti yang besar dan laris. Andai saja saat itu aku mendukungnya, sudah pasti sekarang aku bisa berleha - leha. Tak perlu memikirkan cara mengolah kebun milik Papa mertua untuk mendapatkan tambahan uang.


"Fin, tolong bantuin Edo bawain pesenan ini dong. Tanggung dikit lagi. Kita udah hampir telat nih nganterinnya", ucap seorang wanita pada pria yang berada disampingku. Dia tampak kesusahan dengan membawa plastik besar berisi beberapa kotak yang katanya adalah pesanan.


"Oke", ucap pria disamping sambil berjalan lurus menuju pintu samping toko.


Dia berpapasan dengan seorang pria yang juga membawa plastik besar seperti wanita tadi. Sepertinya itu adalah pesanan untuk hajatan melihat dari banyaknya jumlah yang akan diantar.


"Tinggal ini aja, kan ?", ucap pria yang dimintai tolong oleh wanita tadi.


Tangannya penuh dengan barang bawaan. Dia menyusunnya ke dalam mobil carry mini bus yang telah dimodifisi. Aku memperhatikan tiga karyawan itu yang menata pesanan - pesanan tersebut. Salah satu karywan pria keluar dan menutup pintu mini bus tersebut. Lalu setelahnya mobil pengantar tersebut berlalu.


"Eh, iya nih Mas. Kalo hari Senen, mah biasa kayak gini Mas. Antrian pengunjung langsung dan online panjang". Jawabnya sambil kembali duduk di atas motor antar barang.


"Itu nama pemiliknya ya Mas ?", tanyaku sambil menunjuk tulisan yang bertengger diatas toko.


"Oh... Itu nama anaknya Mas. Katanya karena anaknya dia punya semangat untuk sukses. Makanya nama tokonya pakek nama anaknya".


"Kalo pemiliknya siapa namanya, Mas ?" Aku sangat berhati - hati saat mengeluarkan pertanyaan itu agar tak dicurigai.

__ADS_1


Pria itu terdiam sejenak. Dia menggaruk kepalanya. Entah karena gatal, entah karena berpikir. "Saya udah hampir setahun bekerja disini, Mas. Tapi saya gak pernah tahu siapa pemilik bahkan nama yang punya toko. Semua karyawan lama, saat saya tanya selalu jawab, yang penting gaji jalan. Jadi saya juga gak mau ambil pusing cari tau siapa pemilik tokonya, Mas".


Dari cara dia berbicara, sepertinya dia tak berbohong. Aku juga pasti tak akan ambil pusing mencari tahu siapa pemilik toko jika yang lain saja tak banyak yang tahu.


Setelah sedikit berbincang dengan karyawan tersebut, aku masuk ke toko untuk membeli brownist. Aku berencana mengunjungi Mama untuk memberi tahu tentang toko baruku. Juga tentang Risa.


Sampai dirumah Mama, aku menceritakan pada Mama tentang Papa mertua yang memberiku toko. Agar aku tak bekerja dipabrik lagi. Setelahnya baru ku ceritakan tentang pertemuan tak sengaja dengan Risa yang membawa mobil mewah. Mama tampak terkejut.


"Jadi sekarang dia udah kaya ?", ucap Mama sambil menggelengkan kepala. "Pasti dia pakek pesugihan. Makanya bisa cepet kaya. Kamu harus inget. Papa mertua kamu baru aja ngebuatin usaha untuk kamu. Jangan langsung tergiur dengan apa yang dimiliki Risa. Mending kamu pikir - pikir lagi, deh. Mama tau betul apa yang ada dipikiran kamu saat ini".


Aku terdiam mencerna kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Mama. Mama selalu tahu jika aku masih memendam rasa pada Risa. Sejujurnya, apa yang dikatakan Mama ada benarnya. Papa mertuaku baru saja memberiku sebuah toko yang memang atas namaku. Itu jika dalam waktu tiga bulan aku berhasil memajukannya. Jika tidak, maka Papa mertua akan menarik kembali toko tersebut dariku.


"Dan kamu harus inget baik - baik, Arya. Kalau kamu menceraikan Rani, kamu akan dituntut oleh keluarganya untuk mengembalikan seluruh uang yang pernah kamu pakai. Apa kamu sanggup ? Belum tentu setelah kamu bercerai dengan Rani, kamu akan dengan mudah mendapatkan Risa. Bisa aja kan, Risa balas dendam sama kamu. Setelah kamu cerai dengan Rani, dia malah mencampakkan kamu. Pikir Arya. Jangan terlalu bego. Mengejar seseorang harus dengan otak yang cerdik. Dan pemikiran yang panjang. Bukan cuma matang".


Sepertinya ucapan Mama sangat benar. Aku terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Bisa saja, saat ini Risa sedang bersekongkol dengan atasannya agar dia terlihat seperti orang kaya. Mungkin saja mobil itu memang milik atasannya yang dipinjam untuk membuat Safira terlihat WAH didepan teman - temannya.


Risa sepertinya sedikit tertekan dengan keadaan. Aku heran, kenapa dia malah menyekolahkan Safira di sekolah elit itu jika memang tak mampu. Dari dulu dia selalu berusaha agar dipandang hebat oleh orang lain. Memaksakan tenaganya agar bisa mencapai apa yang dia mau. Mungkin seluruh keluarganya ikut membantu biaya sekolah Safira yang mahal itu. Jika hanya mengandalkan gajinya dari toko roti, tentu tidak akan cukup. Seperti apa kata pribahasa. Besak pasak daripada tiang.


Ah. Sebaiknya aku tak usah memikirkan Risa. Aku harus fokus pada keluargaku dan toko baruku. Jika aku berhasil memajukannya. Toko itu akan menjadi milikku dan aku tak perlu bagi hasil lagi dengan Papa mertua.


"Sebaiknya kamu kembali ke toko. Mungkin saja saat ini mertuamu sedang memantau pekerjaanmu", ucap Mama menyadarkanku.

__ADS_1


Aku beranjak pergi setelah melihat jam di ponsel. Tak terasa, Aqilah sebentar lagi pulang. Waktuku terasa cepat berlalu karena terbuang hanya untuk mencari informasi tentang Risa. Aku gegas memacu mobil menuju sekolah Aqilah. Terlambat sedikit, gadis manja itu akan ngomel sepanjang jalan. Sifat yang diturunkan Rani padanya.


__ADS_2