
...HAPPY READING...
...----------------...
Aku bangun tidur dengan semangat sekali, aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan Rama di sekolah. Aku lega karena hubunganku dengan Rama sudah membaik. Dan semoga tidak akan ada lagi kesalahpahaman diantara kami.
Aneh juga kenapa aku harus seantusias begini untuk bertemu dengan Rama, padahal Rama bukan siapa-siapa ku, pacar bukan teman juga kayaknya bukan hehe.
Tapi ada rasa tersembunyi dihatiku, bergejolak dan meronta-ronta ingin selalu bersama Rama. Ini adalah rasa yang pernah aku rasakan kepada pras dulu, tapi masak iya aku sudah jatuh cinta dengan Rama? kayaknya tidak mungkin secepat ini. Dulu saja aku butuh waktu satu tahun untuk merasakan rasa ini kepada pras tapi Rama bisa membuat rasa ini begitu cepat. Sekarang dia lah penguasa pikiran ku, dan seenaknya sendiri keluar masuk dalam pikiranku.
Baru saja aku memikirkannya ibu memanggilku karena ada Rama yang sudah datang menjemputku. Dengan semangat aku bergegas menemui Rama di ruang tamu.
"Hai." Sapaku. dia tersenyum manis sekali.
"Hai juga."
"Udah sarapan?." Tanyaku masih dalam keadaan berdiri.
"Udah belum ya? belum kayaknya." katanya yang membuat aku tertawa kecil.
"Ya udah ayok sarapan dulu ya." Rama menganggukan kepala lalu mengikutiku ke meja makan. Kebetulan di meja makan udah ada Bang Tito di sana.
"Bang, kenalin ini yang namanya Rama." aku memperkenalkan Rama lagi kepada Bang Tito karena ini kali pertama nya Bang Tito bertatapan langsung dengan Rama begitulun sebaliknya. Rama dan Bang Tito saling berjabat tangan dan tersenyum, aku juga.
Setelah selesai Sarapan aku dan Rama berpamitan kepada ibu dan Bang Tito untuk berangkat ke sekolah.
"Ayo." Kata Rama mempersilahkan aku untuk duduk di jok motornya.
"Iya." Kataku dengan tersenyum, lalu duduk di jok motornya.
"Rama, ini aku bawa jaket kamu." kataku di tengah perjalanan menuju sekolah.
"Udah dicuci belum? kalau belum aku gak mau."
"Udah lah."
"Makasih mbak loundry."
"Eh kok loundry."
"Iya kan biasanya yang nyuciin bajuku mbak loundry."
aku tersenyum, masih pagi begini dia sudah membuat aku bahagia.
Setelah lima belas menit perjalanan akhirnya aku dan Rama sampai di sekolah. Di parkiran aku lihat Ada karina dan temannya yang baru saja keluar dari mobilnya. Dia memandangku sinis sekali seakan-akan aku ini adalah musuhnya. Tapi aku tidak peduli.
Aku merogoh tas ku lalu mengambil jaket Rama dari tas ku.
"Ini jaketmu." kataku lalu menyerahkan jaket kepadanya.
"Bawa aja dulu, kan ini aku lagi pake jaket" katanya.
"Oh ya udah aku masukin lagi ya ke tas."
"Yuk ke kelas" Ajaknya.
aku hanya menganggukan kepala mengiyakan.
saat sampai di depan kelas aku berpamitan kepada Rama untuk masuk ke dalam kelas duluan, dia hanya tersenyum.
"Shin kamu udah ngerjain PR matematika.? " tanya via ketika aku baru saja sampai dan duduk di kelas.
"Udah vi, kenapa.?"
"Nyontek dong, aku kemarin ketiduran jadi lupa gak ngerjain." katanya dengan senyum malu-malu.
Aku merogoh tasku lalu mengambil buku matematika.
"Nih." kataku menyerahkan buku kepada via. Dia mengambil buku dari tanganku dengan tersenyum.
Aku melihat jam tangan masih menunjukkan pukul setengah tujuh, masih ada waktu tiga puluh menit untukku memikirkan Rama.
Namun ketika aku bersiap untuk memikirkan Rama, afredo datang duduk di kursi depanku dan membuatku mengurungkan niatan ku untuk memikirkan Rama.
"Shin." Sapa afredo ramah. aku tersenyum.
"Hai do." Aku menyapanya balik.
"Em nanti pulang sekolah mau pulang bareng lagi gak.? " tanyanya dengan senyum malu-malu.
"Aduh do maaf ya kayaknya aku gak bisa deh." Kataku dengan wajah yang ku buat memelas seakan aku ini bersalah karena menolaknya.
Dia terdiam sejenak.
"Ya udah deh gak papa, nanti kalau kamu mau pulang bareng lagi tinggal ngomong aja ya sama aku, pasti aku anterin kok." Katanya.
"Iya Do makasih ya." Jawabku.
__ADS_1
"Sama-sama, aku balik ke meja ku dulu ya."
"Iya" Jawabku dengan tersenyum ramah.
"Ini shin, makasih ya." Kata via memberikan buku kepadaku.
"Iya vi sama-sama."
"Kamu tadi berangkat sekolah sama Rama ya.? Tanya via dengan senyum menggoda.
" Enggak." Kataku malu-malu.
"Halah gak usah bohong deh, tadi aku liat kamu di depan kelas jalan bareng tuh sama Rama." Kali ini aku tidak bisa mengelak lagi.
"Iya iya." Jawabku masih malu-malu.
"Sejak kapan.?" Tanya via.
"Apanya yang sejak kapan.?" tanyaku heran.
"Pacaran sama Rama."
"Gak pacaran kok."
"Masak.?" Tanya via dengan menatapku penuh selidik.
"Iya vi beneran."
"Ah gak percaya aku, kamu gak mau ngaku karena gak mau aku mintain pajak jadian kan?" Tanya dengan senyum menggoda lagi.
"Apaan sih nggak lah, udah ah bentar lagi udah beli masuk."
setelah jam ketiga selesai akhirnya waktu istirahat pun tiba, Aku ke kantin bersama Via dan Reni.
Seperti biasah mataku mulai mencari-cari keberadaan Rama tapi lagi-lagi aku tidak menemukannya, Kemana dia? Batinku.
"Eh eh ada yang berantem, ada yang berantem." Kata seorang siswa yang ada di kantin. Aku langsung berdiri, karena aku yakin pasti itu Rama yang sedang berantem.
"Vi, Ren ayok liat." Aku mengajak mereka berdua untuk memastikan apakah itu benar Rama apa bukan dan ternyata itu benar Rama. Dia sedang berkelahi dengan deo kakak kelas. Tidak ada yang berani untuk memisah mereka berdua karena tidak ada yang berani dan takut kena tinju salah sasar.
Aku panik dan aku khawatir, bingung harus berbuat apa.
"Vi tolong kamu panggil pak Adi ya." kataku serius kepada via. Via segera pergi untuk memanggil pak Adi.
Seperti ada dorongan dalam diriku, aku menerobos gerombolan siswa-siswa lain agar aku bisa melerai perkelahian ini.
Aku berusaha untuk memisahkan Deo dan Rama tapi mereka berdua sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Reni memanggilku menyuruh agar aku minggir tapi aku tidak mendengarkannya. Karena kecerobohan ku dan kebodohanku yang tidak mungkin bisa memisah kedua orang ini, tidak sengaja bibirku terisikut oleh Deo dan berdarah, aku meringis kesakitan. Rama yang melihat bibirku berdarah karena deo seakan ada kekuatan yang muncul dalam dirinya, dia menjadi seperti kesetanan menghajar deo, hingga deo jatuh tersungkur ke lantai. Saat Rama akan meninju Deo lagi pak Adi,mamad dan jefri datang dan memisahkan mereka berdua, aku sedikit lega karena itu. Via datang menghampiri ku karena melihat aku yang terluka.
"Shin kamu gak papa.?" Tanya via panik.
"Gak papa kok vi."
"Tapi bibir kamu berdarah." Kata via dengan nada jengkel.
"hehe jangan galak-galak gitu dong."
"Udahlah ayok ke UKS."
"Gak usah via ini darahnya juga udah berhenti kok." Kataku, lalu aku menghampiri Rama.
"Rama." Rama menoleh.
"Bibir kamu." Katanya khawatir.
"Gak papa, kamu gak papa.?" Tanyaku panik karena darah yang mengalir dipelipis Rama.
"Sedikit."
"Sedikit apa.?"
"Sedikit sakit, tapi gak papa" Katanya dengan meringis.
"Rama kamu ikut bapak ke ruang kepala sekolah!." Kata lak Adi dengan nada yang meninggi.
"Iya Pak siap." Kata Rama, lalu dia menatapku lagi.
"Bentar ya."Kata Rama.
"Iya." Kataku khawatir.
Via dan Reni mengajakku untuk duduk lagi, aku pun menurut apa kata mereka.
"Kok bisa kayak gini sih shin." Kata via mengomel ketika membersihkan sisa darah yang masih menempel di bibirku, aku meringis kesakitan.
"Sakit ya.?" Tanya via.
"Sedikit." kataku.
__ADS_1
"Lagian kamu ngapain sih mau misah mereka berdua.?"
"Gak sengaja."
Via masih saja mengomel karena aku ikut-ikutan perkelahian tadi, tapi aku tau dia seperti itu karena khawatir kepada ku.
"Eh tau gak tadi ada yang sok jago mau misahin si Rama sama deo" Kata seorang di kantin, Aku dan via menoleh ke sumber suara dan ternyata itu Karina. Via menatap Karina jengkel, tapi aku menenangkannya dan menyuruhnya untuk membiarkannya.
"Mau caper ya mbak.?" Katanya langsung to the point kepadaku. Aku masih diam. ku pikir kalau aku mendiamkannya dia akan berhenti untuk berbicara tapi ternyata tidak.
"Gatel amet sih jadi cewek, oh ya lupa kan kamu cewek murahan." Katanya dengan tertawa meledek, aku tidak Terima setiap kali dia mengataiku seperti itu karena memang aku tidak begitu. Aku berdiri lalu menggebrak meja. Semua orang yang ada di kantin pu terkaget termasuk Via dan Reni, Karina juga.
Sekarang aku dan Karina menjadi tontonan seluruh orang yang ada di sini.
"Maksud kamu apa hah." Kataku dengan nada yang ku naikan.
"Kok jadi marah? kan emang benar kan kamu itu cewek gatel, murahan." Katanya mengejekku lagi, aku sudah habis kesabaran. Aku mencengkram kerah baju Karina.
"Coba kamu bilang lagi." Kataku dengan nada yang semakin menaik, Via dan Reni berusaha memisah ku dengan Karina tapi tidak berhasil cengkraman ku terlalu kuat.
"Dasar murahan. " kata Karina lagi.
Plakkk!! sebuah tamparan keras dariku mendarat di pipi mukus Karina hingga meninggalkan bekas merah di sana.
Ku lihat Karina menangis, dih ternyata cuma segini nyalinya. Dia tidak berani membalasku dan memutuskan untuk pergi dari kantin itu bersama dua temannya.
"Udah shin tenang ya" Kata via berusaha menenangkan aku yang masih terbakar emosi, aku menarik nafas panjang untuk membuang emosiku.
Saat bel pulang sekolah, aku keluar kelas dengan terburu-buru karena ingin bertemu dengan Rama, ternyata Rama sudah menungguku di depan kelas.
"Yuk." Katanya dengan tersenyum.
"Ayok."
Rama tidak langsung mengajakku untuk pulang tapi dia mengajakku untuk ke warungnya mbak wiwik. Seperti biasa di sana ada teman-temannya Rama yang sedang nongkrong, Rama menjabat tangan mereka satu per satu, aku hanya memberikan senyuman ramah kepada mereka semua.
Rama mengajakku untuk duduk di depan.
"Kenapa berantem sih.?" Tanyaku.
"Gak papa, pingin aja berantem." Katanya.
"Aku serius gak mungkin kalau gak ada alasan." Kataku dengan nada kesal.
"Kamu ingat waktu aku dikroyok waktu itu.?"
"Iya ingat. "
"Itu orang suruhannya deo."
"Kamu tau darimana? ."
"Mata-mataku banyak. "
"Tapi kenapa dia nyuruh orang buat ngeroyok kamu.?"
"Dia itu suka sama Karina, jadi waktu dia tau ada gosip tentang aku dan karina pacaran dan dia gak Terima mangkanya dia nyuruh orang buat ngeroyok aku, karena dia tau kalau dia sendiri gak akan sanggup ngelawan aku."
"Iya lah gak sanggup, Ketua gangster dilawan" Kataku.
"Oh ya tadi aku denger katanya kamu berantem sama karina.? "
"Kok kamu tau.? "
"Sudah ku bilang mata-mataku banyak. "
"Iya."
"Kenapa.? "
"Emang mata-matamu gak bilang kenapa aku berantem sama karina.? "
"Bilang, cuman aku mau dengar dari kamu sendiri."
"Siapa sih Ram yang gak sedih kalau dikatain cewek murahan, gatel.?"
"Iya aku tau. "
"Aku marah karena aku tidak seperti apa yang dikatakan karina. "
"Dia iri sama kamu. "
"Iri kenapa.? "
"Karena aku sukanya sama kamu bukan sama dia. " Katanya yang membuat aku tersenyum malu.
Dan hukuman untuk Rama dan deo adalah diskors selama tiga hari, Rama bilang begitu kepadaku saat kami di perjalanan untuk pulang. Sebenarnya aku sedih karena selama tiga hari aku tidak akan bertemu dengan Rama di sekolah tapi Rama bilang kepadaku kalau dia akan tetap mengantar dan menjemputku di sekolah.
__ADS_1