
...HAPPY READING...
...----------------...
Ujian kenaikan kelas tinggal tiga minggu lagi. Aku harus merubah pembagian waktuku lagi karena klub musikku sudah harus berlatih untuk perpisahan kakak kelas yang akan dilaksanakan tiga hari setelah ujian.
Akhir-akhir ini aku selalu menyuruh Rama untuk pulang duluan karena aku tidak ingin membuatnya menungguku terlalu lama. Awalanya Rama menolak untuk ku suruh pulang duluan tapi aku terus memaksanya akhirnya dia mau.
Kak mira ketua klub kami terkadang mengantar aku pulang jika tidak ada yang menjemputku. Saat latihan aku selalu bertanya pada kak mira lagu apa yang harus kubawa kan saat pementasan nanti, tapi jawaban kak mira selalu sama yaitu terserah aku.
Alhasil aku berlatih dengan beberapa lagu yang ku bisa.
Pulang latihan musik selalu sampai jam lima sore. Sebenarnya capek tapi mau bagaimana lagi sudah menjadi tanggung jawabku karena sudah diberi kepercayaan oleh kak mira, dan aku tidak mungkin menyia-nyiakannya. Dan setelah itu aku mandi, makan, belajar dan tidur, sampai tidak ada waktu lagi untuk Rama, yang biasanya sehabis belajar aku selalu ngobrol dengannya via telpon.
"Rama kamu pulang duluan ya. " Kataku saat Rama sedang menungguku di depan kelas waktu pulang sekolah.
"Duluan lagi.? " Tanyanya dengan nada kecewa, aku jadi merasa bersalah.
"Iya, nanti kamu nunggunya lama. "
"Gak papa. "
"Tapi.? "
"Gak papa, orang sampai jam lima doang kan.? "
"Iya sih tapi kan lama."
"Udah gak papa, sana latihan dulu aku tunggu di depan ruang latihan. " Katanya, aku hanya tersenyum lalu beranjak bergabung dengan teman-teman ku di klub musik.
Latihan ini aku benar-benar tidak bisa fokus karena beberapa kali aku melirik jam tangan. Sampai beberapa kali juga kak mira menegurku, aku hanya meringis saat kak mira menegurku.
Akhirnya latihan selesai juga, aku buru-buru pamitan kepada kak mira dan juga teman-teman yang lain untuk pulang karena kasihan Rama.
Saat sampai di depan ruang latihan ku lihat Rama tertidur di gazebo depan ruang latihan musik. Aku menghampirinya, terdapat rasa bersalah dan juga kasihan dalam diriku karena telah membuat dia menungguku lama sampai tertidur.
"Rama bangun. " Kataku sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rama. Dia terperanjak dari tidurnya.
"Udah selesai.? " Tanya Rama.
"Udah, ayok pulang. "
"Ayok."
"Maaf ya. " Kataku saat kami ditengah perjalanan pulang.
"Maaf buat apa.? "
"Membuat kamu nunggu lama. "
"Cuman dua jam doang. "
"Itu kan lama. "
"Aku mau kok kalau harus nunggu kamu gak hanya dua jam tiga jam tapi bertahun-tahun aku juga mau. " Katanya yang membuat aku tersenyum malu.
Sebelum pulang Rama mengatakan kalau malam nanti dia akan menelponku dan aku mengiyakannya, karena aku sendiri merasa rindu ngobrol malam-malam bersamanya.
Pukul sembilan Rama menelponku, sebenarnya aku merasa ngantuk tapi aku tidak ingin membuatnya kecewa.
Setelah tiga puluh menit mengobrol Rama menyuruhku untuk tidur.
"Tidur sana. "
"Iya kamu juga. "
"Iya jangan lupa. "
__ADS_1
"Jangan lupa apa.? "
"Jangan lupa baca doa dan jangan lupa mimpi aku. "
"Hehe iya, kamu juga ya. "
"Selamat malam shinta "
"Selamat malam juga Rama. "
Hari ini Rama meminta izin untuk menungguku latihan lagi, awalnya aku menolaknya karena aku kasihan kalau dia harus menunggu lama lagi, apalagi menungguku sampai ketiduran. Tapi dia terus memaksa akhirnya aku pun mengiyakannya. Katanya dia mau menjagaku karena ada kak reza yang suka curi-curi pandang sama ku.
Kali ini Rama tidak menungguku di luar tapi dia menunggu di dalam ruang latihan, untung saja kak mira mengizinkannya.
Selama latihan beberapa kali aku melirik Rama, ternyata dia tengah menatap ku, aku sedikit malu karena ketahuan mencuri pandang samanya.
Pukul lima sore akhirnya latihan selesai juga. Kami membereskan semua alat musik yang kami gunakan.
Saat aku akan berjalan menghampiri Rama salah satu kawanku tidak sengaja menabrak ku yang membuat aku kehilangan keseimbangan dan akan terjatuh kalau saja kak reza tidak menangkapku. Aku dan kak reza saling memandang selama beberapa detik laku akhirnya saling menjauh.
"Makasih kak. " Kataku.
"Sama-sama,lain kali hati-hati ya. " Katanya dengan tersenyum manis sekali.
Setelah itu aku melihat Rama expresi wajahnya nampak sedikit marah, aku jadi takut. Mungkin dia cemburu melihatku dengan kak reza.
"Rama yuk pulang. "Kataku tapi dia hanya diam saja tidak menjawabku.
Selama perjalanan pulang Rama juga diam saja tidak seperti biasanya yang selalu berisik.
" Makasih. "Kataku ketika kami sudah sampai di depan rumah.
" Iya. "Jawabnya singkat lalu berlalu begitu saja tanpa mengucapkan apapun lagi.
Aku sedikit merasa bersalah pada Rama, tapi aku juga tidak mau menyalahkan kak reza yang sudah menolong ku, kalau saja dia tidak menangkapku tadi aku akan jatuh.
Aku menunggu telpon dari Rama tapi dia tak kunjung menelponku, apakah dia benar-benar marah?ah Rama Jangan ngambek aku sedih jadinya.
Pagi ini pun selama perjalanan menuju sekolah Rama tidak mengatakan apapun, dia hanya diam saja, aku jadi bingung harus ngomong apa? Mau minta maaf tapi dia buru-buru masuk ke kelasnya. Alhasil aku mengurungkan niatku untuk minta maaf padanya.
Untung saja hari ini tidak ada latihan alias libur. Aku buru-buru keluar kelas lalu menunggu Rama di depan kelasnya. Kulihat Rama keluar kelas bersama mamad dan jefri lalu ketika melihatku Rama menyuruh mamad dan jefri untuk duluan.
"Rama."
"Ayuk." Ajaknya.
Aku lun mengikuti langkahnya menuju parkiran.
Rama mengajakku untuk makan dulu di warung nya mbak wiwik aku mengangguk mengiyakannya.
"Rama, aku minta maaf. "
"Maaf buat apa.? "
"Buat kemarin, pas sama kak reza. "
"Aku udah gak marah, karena aku gak betah lama-lama marah sama kamu. " Katanya yang membuat aku tersenyum senang .
"Kamu kemarin kenapa gak telpon aku.?"
"Oh kemarin? Paket data ku habis mau beli tapi males keluar ya udah aku tidur aja. "
"Oh gitu ya, tapi beneran kan kamu udah gak marah lagi.? "
"Iya nggak, ini aku senyum. " Katanya lalu meringis.
"Itu mah bukan senyum tapi meringis. " Kataku laku mengacak-ngacak rambutnya, lalu dia tertawa.
__ADS_1
"Rama aku boleh nanya sesuatu gak.?"
"Nanya apa.? "
"Kamu punya mantan gak.? "
Rama sedikit terkejut dengan pertanyaan ku itu
"Kalau kamu gak mau jawab juga gak papa kok, gak maksa aku. "
"Aku pacaran aja gak pernah. "
"Masak.? " Tanyaku sedikit tidak percaya seoarang Rama yang tampan ini tidak pernah pacaran.
"Beneran."
"Aku kira dulu kamu itu malah playboy. "
"Emang mukaku, muka playboy ya. "
"Sedikit." Dia tertawa kecil.
"Aku ngedeketin cewek ya baru kamu, tapi yang ngedeketin aku banyak. "
"Kenapa gitu.? "
"Gak tau kenapa waktu pertama kali liat kamu, aku langsung penasaran banget sama kamu. " Katanya yang membuat aku tersenyum.
"Terus masak kamu gak ada satupun tertarik sama cewek yang ngedeketin kamu. "
"Gak ada tuh. "
Aku mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.
"Kalau kamu punya mantan.? "Tanya Rama .
" Punya, cuman satu. "
"Siapa.? "
"Temen SMA ku di kota ku yang dulu."
"Trus kenapa putus."?
"Gak usah dibahas, males kalau bahas tentang dia. "
"Aku bersyukur. "
"Bersyukur kenapa.? "
"Bersyukur karena kamu udah putus sama dia. " Lagi-lagi dia membuat aku tersenyum senang.
"Terus kalau aku belum putus sama dia gimana.? "
"Ya aku gak akan deketin kamu. "
"Kenapa.? "
"Kan kamu udah punya pacar. "
"Aku juga bersyukur nih. "
"Bersyukur kenapa.? "
"Bersyukur karena udah putus sama dia. "
"Bersyukur karena aku deketin kamu? "
__ADS_1
"Iya." Kataku dengan tersenyum, dia juga.
Tuhan Terima kasih, rencanamu sangat indah untuk mempertemukan aku dengan Rama. Aku berharap senyumku dan senyumnya ini tidak hanya untuk hari ini tapi untuk selamanya.