
...HAPPY READING...
...----------------...
Pagi ini entah kenapa aku mempunyai perasaan yang tidak enak sekali tapi entah itu tentang apa. Semoga saja tidak akan terjadi apa-apa padaku ataupun orang-orang yang ku sayangi.
Aku sangat tidak fokus saat jam pelajaran, sampai beberapa kali aku ditegur oleh guru yang sedang mengajar karena aku terus melamun.
Perasaanku benar-benar tidak enak seperti akan ada hal buruk yang akan terjadi. Tapi aku mencoba menghapus semua itu dalam pikiranku dan mencoba untuk fokus belajar.
Beberapa kali juga aku melirik jam tanganku berharap semoga bel pulang sekolah segera berbunyi, tapi tidak akan mungkin karena ini masih jam sebelas siang.
Tapi saat aku sudah mulai belajar, Tiba-tiba ada bu Ani yang masuk ke kelas dengan expresi wajah tidak seperti biasanya, lalu beliau bicara dengan pak adi. Ada apa ini.?
"Shinta kamu ikut ke depan sebentar ya." Kata bu Ani yang membuat jantungku berdetak tidak karuan, karena tidak biasanya bu Ani seperti ini. Lalu aku pun mengikuti bu Ani ke depan kelas .
"Kamu sekarang beresin buku-buku kamu, lalu ambil tas dan ikut ibu ke ruang guru karena ada ibu kamu yang menunggu di sana. "
"Ada apa bu.? " Tanyaku heran
"Nanti dijelasin sama ibu kamu di sana. "
Ibu? Kenapa ibu menjemput ku di sekolah? Ada apa ini? Pikiranku sekarang benar-benar semakin kacau.
Lalu aku pun masuk ke dalam kelas lagi lalu membereskan semua buku-buku ku sesuai perintah bu Ani.
"Ada apa shin.? " Tanya via heran.
"Gak tau vi, di suruh beresin aja sama bu Ani. "
Setelah itu aku berpamitan kepada pak adi dan mengikuti bu Ani ke ruang guru, di sana ku lihat ada ibu. Seketika itu ibu langsung menoleh ke arah ku, astaghfirullah ada apa dengan ibu? Ibu menangis. Aku buru-buru menghampiri ibu.
"Bu ada apa.? " Tanyaku panik karena melihat ibuku menangis.
"Abang kamu. " Kata ibu tidak di lanjutkan.
"Ada apa dengan bang Tito bu.? " Tanyaku mulai cemas.
"Dia kecelakaan waktu menuju kampus. " Kata ibu lalu memelukku.
Deg! Seperti ada hantaman keras yang mengenai tubuhku. Bang Tito kecelakaan? Air mata ku menetes begitu saja setelah mendengar perkataan ibu barusan.
__ADS_1
"Keadaan Bang Tito sekarang gimana bu.? " Kataku lalu melepas pelukannya ibu.
"Dia sekarang kritis. " Kata ibu lalu menghapus air mataku.
"Ayo kesana buk. " Kataku. Lalu ibu berpamitan kepada bu Ani dan mengajakku menuju rumah sakit tempat dimana Bang Tito dirawat.
Saat sampai di rumah sakit ku lihat ada ayah juga di sana, lalu aku berlari menghampiri ayah dan memeluknya.
"Yah gimana keadaan Bang Tito.? " Kataku kembali menangis dipelukan ayah, ayah tidak menjawab beliau hanya mempererat pelukannya.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan.
"Dok giman keadaan anak saya.? " Tanya ibu.
"Keadaan anak ibu sekarang masih dalam masa kritis, yang bisa ibu dan bapak lakukan sekarang hanya berdoa untuk kesembuhan anak ibu dan bapak. "
"Dok saya boleh liat kakak saya.? " Tanyaku masih dalam keadaan menangis.
"Hanya satu orang saja yang boleh masuk." Kata dokter lalu pergi meninggalkan kami bertiga.
Lalu aku meminta izin kepada ayah dan ibu untuk masuk ke dalam karena aku benar-benar ingin melihat langsung keadaan Bang Tito.
Saat masuk ke dalam ruangan ku lihat banyak sekali selang yang terpasang di tubuh Bang Tito, dan itu membuat ku menangis lagi.
Bang, abang harus bangun. Shinta gak mau di tinggal sama Bang Tito, shinta masih butuh Bang Tito. Shinta sayang sama Bang Tito. Bang Tito kan juga udah janji sama shinta bakal jaga shinta sampai kapan pun, kalau abang pergi siapa yang bakal jaga shinta bang? Shinta gak mau kehilangan bang Tito. Shinta benar-benar gak siap kalau harus kehilangan bang Tito sekarang.
Bang Tito kakak terhebat yang shinta punya, kakak satu-satunya yang shinta sayang di dunia ini. Shinta mohon abang bangun ya, shinta janji bakal nurut sama Bang Tito.
Abang inget gak dulu pernah bilang ke shinta kalau abang mau liat shinta nikah sama orang yang shinta cinta? Dan waktu itu aku hanya tertawa karena aku masih umur lima belas tahun dan belum sampai mikir kesana.
Kata Bang Tito disaat waktu itu tiba maka tugas untuk menjaga shinta selesai karena sudah ada seseorang yang menggantikan abang untuk menjagaku.
Bang terlalu banyak hal yang sudah abang lakuin biar bisa melihat aku bahagia. Gak akan pernah abang biarain ada orang yang nyakitin dan membuat aku menangis.
Shinta belum bisa bahagiain abang tapi Shinta juga mau ngelakuin itu ke abang, shinta ingin membuat Bang Tito bahagia, gak akan aku biarin ada orang yang nyakitin abang, maka dari itu shinta mohon Bang Tito bangun ya.
Setelah sekitar satu jam aku menunggu Bang Tito dan menangis di kamarnya, aku keluar kamar karena aku lapar sekali, ah aku merasa mataku bengkak karena kelamaan menangis.
"Shinta." Kata ayah.
"Ibu mana yah.? " Tanyaku lalu duduk di sebelah ayah.
__ADS_1
"Ibu cari makan bentar lagi juga datang. "
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Lalu aku menyandarkan kepala ku du pundak ayah.
"Yah Bang Tito pasti sembuh kan?. " Tanyaku lalu air mata mulai keluar lagi.
"Iya pasti sembuh, kita berdoa semoga Bang Tito segera sadar, udah kamu jangan nangis lagi ya kalau Bang Tito tau kamu lagi nangis kayak gini pasti sedih sekali. " Kata ayah berusaha menenangkanku, lalu aku menghapus air mataku karena benar kata ayah, kalau Bang Tito melihat aku menangis sampai seperti ini dia pasti akan sedih.
Beberapa saat kemudian ibu datang membawa makanan dan menyuruhku untuk segera makan, aku pun menuruti apa kata ibu.
"Shin kamu pulang aja ya, biar ayah sama ibu yang jaga abang kamu di sini. " Kata ibu.
"Nggak mau bu, shinta mau ada di sini sampai Bang tito sadar. "
"Tapi besok kamu harus sekolah. "
"Shinta izin dulu gak masuk sekolah ya. " Kata ku memelas lalu menangis, ibu terdiam beberapa saat.
"Udah bu biarin aja shinta di sini, daripada dia nangis lagi. " Kata ayah lalu menghapus air mataku. Aku tersenyum lalu memeluk ayah.
"Ya udah ibu ambilin baju kamu dulu, masa kami mau pake seragam kayak gini terus. "
"Biar ayah aja yang ambil, ibu di sini aja sama shinta. " Kata ayah, ibu hanya mengangguk mengiyakan.
Sekitar jam sembilan malam ayah datang lagi membawa beberap baju dan juga keperluan lainnya, lalu menyuruh ku untuk ganti baju. Aku pun mengiyakan.
"Kamu tidur dulu shin, pasti kamu capek. " Kata ibu.
"Shinta tidur di dalem sama Bang Tito ya bu. " Kataku, tanpa menunggu persetujuan ibu aku langsung saja masuk ke kamar Bang Tito.
Aku duduk di sebelah Bang Tito dan memegang tangannya lagi, seakan aku tidak mau melepas Bang Tito untuk pergi.
Aku terbangun ketika ada seseorang yang mengelus rambutku lembut.
"Shin bangun, ada dokter yang mau meriksa. " Kata ibu, lalu aku membuka mataku dan ku lihat sudah ada ibu dan juga dokter.
"Iya bu. " Kata ku, lalu mempersilahkan dokter untuk memerikasa keadaan Bang Tito.
Aku sangat takut ketika dokter itu mulai memeriksa Bang Tito, aku takut kalau yang kudapat bukan kabar baik tapi kabar buruk.
"Alhamdulillah bu, sekarang keadaan anak ibu sudah selesai dari masa kritisnya. " Kata dokter ketika selesai memeriksa, aku ibu dan juga ayah tersenyum bahagia dan mengucap kata syukur mendengar kabar baik itu.
__ADS_1
Ibu kembali menangis, tapi bukan karena air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan, lalu aku memeluk ibu.
Ya Tuhan terimakasih karena engkau telah mengabulkan semua doa kami. aku sangat lega sekali karena Bang Tito sudah selesai dari masa kritisnya.