AZARAH

AZARAH
Usaha Seorang Rama


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Aku berjalan ke kelas dengan malas sekali, aku takut kalau nanti aku akan bertemu dengan Rama ataupun karina lagi.


Namun saat aku akan sampai di kelas, kulihat ada Rama sedang duduk di depan kelasku. Dia menatapku, aku putar balik dan berlari tapi Rama mengejarku lalu menarik tanganku. Dia membawaku ke belakang perpustakaan.


"Apa sih Ram" kataku kesal sekali padanya.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


"Gak papa, emang aku kenapa?" aku bertanya balik.


"Gak usah bohong, mamad kemarin cerita ke aku"


"trus?"


"Iya aku mau jelasin ke kamu"


aku memutar bola mataku, lalu menghembuskan nafas panjang.


"Udah lah Rama gak ada yang perlu di jelasin"


"Ada lah"


"Apa lagi, gak ada urusannya sama aku. Lagian kamu mau pacaran sama karina kek, sama yang lainnya kek itu bukan urusan aku, itu hak kamu dan aku nggak peduli" dia hanya diam dan menatapku.


"Udah ya aku pergi" Kataku lalu beranjak meninggalkan dia sendiri.


Maaf Rama aku gak bermaksud jahat sama kamu tapi harga diriku lebih penting dari itu semua, aku tidak ingin pacarmu yang judes itu menghinaku lagi. Aku gak mau sakit hati lagi atas ucapan karina kemarin dan aku gak mau berharap terlalu tinggi lagi sama kamu.


"Gak ke kantin Shin?" Kata via ketika jam istirahat tiba.


"Nggak vi, lagi males" jawabku dengan menggelengkan kepala.


"Ya udah aku ke kantin dulu ya sama Reni"


aku tersenyum dan menganggukan kepala mengiyakan.


Aku meletakkan kepalaku di meja lalu memejamkan mataku, entahlah aku merasa ingin segera pulang dan menjauh dari Rama dan juga Karina cs.


Aku merasa delapan jam belajar di sekolah lama sekali tidak seperti biasanya, mungkin perasaanku saja.


Pukul dua siang bel pulang sekolah pun berbunyi, aku cepat-cepat memasukkan buku ke dalam tas.


"Vi aku duluan ya" Kata ku kepada via, dia menatapku heran karena tidak seperti biasanya aku begini.


"Kok buru-buru shin?" tanyanya heran.


"Iya nih kepalaku masih agak pusing, pengen cepat-cepat rebahan di kasur" kataku sedikit berbohong, eh tidak sedikit tapi memang aku berbohong.


"Shin pulang bareng yuk" aku menoleh ke sumber suara, afredo. Aku terdiam sesaat, mungkin kali ini tawaran afredo untuk pulang bersamanya akan ku terima karena pasti kalau aku naik angkot Rama akan menemuiku lagi di pertigaan.


"Em ya udah ayok do" jawabku, afredo tersenyum, dilihat dari wajahnya sepertinya dia tidak percaya kalau aku mau diantarnya pulang.


"Bye vi aku duluan ya" via hanya menganggukan kepala dan tersenyum.


"Do kamu gak papa nganterin aku, soalnya rumah kita beda arah loh" kataku ketika kami sudah berada dalam mobilnya afredo.

__ADS_1


"Udah lah Shin gak papa kok santai aja" katanya dengan senyum manis sekali, memang sih afredo juga tampan, pintar tapi aku tidak ada rasa tertarik sama sekali sama dia.


"Kemarin aku denger kamu dilabrak ya sama karina?"


"iya do, kamu kok tau?" tanyaku heran, padahal kan aku tidak menceritakan ke siapa pun kecuali via. Dan via tidak mungkin menceritakannya pada afredo.


"Ya ampun masak kamu gak tau? udah nyebar kali Shin jadi bahan gosip di sekolah"


"Apa?" Tanyaku terperanjat, aku tidak menyangka ternyata karina tidak hanya judes tapi mulutnya juga licin sekali sampai semua orang di sekolah tau tentang permasalahan ku dengannya, Dasar tukang gosip!!. Aku mendercak kesal.


"Iya tapi ya udah lah gak usah di dengerin anggap aja mereka gak ada" kata afredo menenangkanku, mungkin dia takut melihat expresi wajahku sekarang.


"Iya do" jawabku datar sekali, Lagi-lagi mood ku hancur di buatnya.


Aku dan afredo sama-sama terdiam untuk beberapa saat.


"Shin sebenarnya aku suka sama kamu" kata afredo memecahkan keheningan di antara kami berdua. Aku terkaget lalu menatapnya.


"Eh do nanti perempatan depan belok kanan ya" kataku mengalihkan pembicaraan, aku malas kalau harus membicarakan hal yang menyangkut pautkan perasaan.


"Em iya Shin" kata afredo, lalu dia diam. Aku lega.


"Makasih ya do" kataku ketika kami sudah sampai di depan rumahku.


"Iya Shin sama-sama, kalaupun setiap hari aku harus ngantar kamu pulang aku mau kok" katanya dengan tersenyum, aku juga tersenyum namun senyum yang ku paksakan.


"Hati-hati" kataku padanya.


"iya".


Aku masuk rumah lalu menemui Bang Tito di kamarnya, seperti biasanya aku langsung masuk dan merebahkan tubuhku di samping Bang Tito.


"Iya bang diantar sama temenku" kataku tanpa menatapnya.


"Kok gak diantar sama Rama mu itu?"


"Apaan sih Bang, nggak"


"Ada apa, berantem kalian?"


"Nggak kok"


aku dan Bang Tito terdiam sejenak.


"Bang, abang pernah gak sih dideketin sama seseorang, tapi sebenernya dia itu udah punya pacar? "


"Pernah sekali"


"Terus abang gimana?"


"Ya gak gimana-gimana, ya udah biarin aja, kenapa sih nanya gitu?Rama udah punya pacar"


"iya bang, kemarin aku dilabrak sama pacarnya"


"Tapi Rama bilang gak kalau dia udah punya pacar"


"Nggak Bang, mangkannya itu shinta agak kesel sama dia, tadi pagi aja dia mau ngejelasin tapi gak tau mau ngejelasin apa? "


"Ya seharusnya didengerin dulu Shin, itu kan yang bilang si cewek kan kalau dia pacarnya Rama tapi Rama nya sendiri nggak ngaku kan? siapa tau ceweknya itu yang ngaku-ngaku jadi pacaranya Rama" aku terdiam sesaat merenungkan omongan Bang Tito barusan, bener kata Bang Tito kenapa tadi aku tidak mendengar dulu penjelasan dari Rama?.

__ADS_1


"Iya ya Bang"


"Mangkanya kalau ada apa-apa itu jangan tergesa-gesa nanti bakalan nyesel di akhir kalau kenyataan nya si cewek itu bukan pacarnya Rama"


"Trus gimana Bang?"


"Ya kamu temuin aja si Rama trus tanya dia baik-baik, kalaupun dia mengiyakan bahwa dia memang pacaran sama cewek yang nglabrak kamu ya udah biarin aja toh kamu kan juga belum pacaran kan sama si Rama"


"Tapi kan malu Bang, tadi pagi aku udah nyuekin dia"


"Ya terserah kamu lah"


"Nggak ah, biarin aja toh bukan urusan aku" kataku lalu meninggalkan kamarnya Bang Tito karena ibu menyuruhku untuk segera mandi lalu makan.


setelah selesai makan aku masuk lagi ke kamarku dan merebahkan tubuhku di kasur nyamanku dan tidak ada niatan untuk belajar karena aku sedang malas sekali.


baru beberapa menit aku memejamkan mata aku mendengar suara sepeda motor di depan rumah, aku langsung mengintipnya lewat jendela dan ternyata itu Rama. Aku panik kenapa dia harus kesini lagi sih?. Aku naik lagi ke kasur ku dan berpura-pura untuk tidur.


Ibu masuk ke kamarku dan membanngun kan aku.


"Shin bangun, ada Rama tuh di depan" kata ibu.


"Ah bu shinta ngantuk banget nih, suruh aja dia pulang ya capek banget nih" kataku lalu berpura-pura tidur lagi.


Ibu keluar dari kamarku, aku segera mengendap-ngendap mengikuti ibuku dari belakang, ku lihat Rama duduk di ruang tamu.


"Maaf ya nak Rama Shinta nya udah tidur tuh" kata ibu lalu duduk di sofa depannya Rama.


"Oh iya gak papa bu, saya kesini juga bukan nemuin dia, sebenarnya saya kesini cuman mau nganter martabak buat ibu" katanya.


"Ah buat ibu apa buat shinta nih? " tanya ibuku dengan nada menggoda.


"Iya bu, shinta jangan boleh makan martabak nanti tambah gendut dia" katanya, ibuku tertawa mendengarkan perkataan Rama, aku juga tertawa tapi aku langsung membungkam mulutku dengan kedua tanganku takut kalau ibu dan Rama mengetahui keberadaan ku.


"Oh ya buk shinta sekarang lagi marah sama saya" kata Rama, aku kaget sekali kenapa dia harus ngomong seperti itu kepada ibuku.


"Marah kenapa?" tanya ibuku heran.


"Dia salah paham, soalnya di sekolah ada cewek yang ngaku-ngaku jadi pacar saya bu"


"Terus, ya tinggal jelasin aja sama shinta"


"Itu masalahnya, shinta gak mau mendengarkan penjelasan saya, cewek yang ngaku-ngaku jadi pacar saya itu namanya karina buk, saya gak suka sama dia, saya suka nya sama shinta" Aku tersenyum mendengarkan perkataan Rama, benar kata Bang Tito kalau ada apa-apa jangan tergesa-gesa tapi harus mendengarkan penjelasannya dulu, perasaan kesal yang kusimpan di hatiku sejak kemarin seketika luntur begitu saja.


"Do'ain ya buk semoga shinta besok gak ngambek lagi sama saya" kata Rama, ibuku tertawa kecil.


"Iya iya ibu do'ain"


"Ya udah ya buk saya pulang dulu, takutnya nanti tetangga ibu salah paham sama saya"


"Salah paham kenapa lagi"


"Nanti dikira saya ngapelin ibu lagi bukan shinta" katanya yang membuat ibuku tertawa aku juga.


Kok ada sih orang seperti Rama, yang bisa membuat semua orang disekitarnya merasa bahagia.


Besok aku harus bertemu dengan Rama, aku harus meminta maaf karena sudah salah paham dan marah-marah sama dia.


Rama tunggu aku besok.

__ADS_1


__ADS_2