AZARAH

AZARAH
Diawasi


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Aku mengenakan jam tangan pemberian deo karena Rama yang memintaku, katanya dia ingin tau seperti apa jam tangannya, jadi aku menurutinya.


Pukul enam lebih sepuluh menit Rama sudah datang ke rumah untuk menjemputku. Kami sarapan bersama ibu dan Bang Tito setelah itu pamitan untuk berangkat sekolah.


"Ya udah aku masuk kelas dulu ya. " Kata ku ketika kami sudah sampai di depan kelas.


"Iya, yang semangat belajarnya. " Katanya.


"Iya." Kata ku dengan tersenyum.


"Jangan lupa. " Katanya yang membuat aku heran.


"Jangan lupa apa.? " Tanyaku keheranan.


"Jangan lupa mikirin aku biar tambah semangat belajarnya. " Katanya yang membuat aku tersenyum malu-malu. Dan ku yakin sekarang pipiku memerah seperti tomat.


"Selalu." Kata ku yang membuat dia tersenyum. Lalu pergi ke kelasnya.


"Selamat pagi. " Aku menyapa via Reni dan juga nike.


"Pagi shin. " Jawab mereka kompak.


"Eh shin nanti temenin aku yuk. " Kata via memohon sambil memegang lenganku.


"Kemana.?. " Tanyaku heran.


"Ke toko buku, mau ya. " Katanya dengan senyum menggoda. Aku tertawa.


"Pulang sekolah.? "


"Iya."


"Ya udah nanti istirahat aku bilang dulu ke Rama kalau nanti gak pulang bareng. " Kata ku via tersenyum senang, aku juga senang melihat kawanku itu senang.


"Tenang nanti aku dijemput sama kakakku, jadi nanti pulangnya aku anterin sama kakakku. " Kata via.


"Iya vi. "


Jam istirahat via buru-buru menggandeng lenganku mengajak ke kantin. Katanya dia udah laper sekali dan lemes sehabis pelajarannya pak onim, guru super killer di sekolah kami.


Di kantin mataku mencari-cari keberadaan Rama yang tak kunjung datang, akhirnya aku lun menyerah mungkin Rama tidak ke kantin. Tapi setelah beberapa menit ku lihat Rama bersama mamad dan jefri berjalan ke arahku dan juga via. Aku tersenyum melihatnya.


"Minggir vi. " Kata Rama menyuruh via untuk pindah tempat duduk di depanku, karena dia akan duduk di sampingku.


"Udah kenyang.? " Tanyanya dengan tersenyum.


"Belum nih. " Kata ku seolah-olah aku ini memang belum kenyang setelah menghabiskan satu piring batagor dan segelas es jeruk.


"Nambah lagi gih. "


"Pesenin dong males ngantri. " Kata ku bercanda.


"Pantesan kamu sedikit berisi soalnya doyan makan. " Katanya dengan tertawa, aku mencubit pinggangnya karena kesal dia mengatai ku gendut padahal enggak.

__ADS_1


"Kamu lucu kalau lagi marah gini. " Katanya berusaha merayuku. Aku tetap cemberut.


"Udah jan ngambek dong nanti cantiknya hilang, senyum, aku suka liat kamu senyum. " Katanya yang membuat hatiku luluh, lalu aku lun tersenyum.


"Oh ya ram nanti aku gak bisa pulang sama kamu. " Kata ku.


"Kenapa." Tanyanya penuh selidik.


"Mau ke toko buku sama via. "


"Oh ya udah gak papa. "


"Ya udah aku ke kelas dulu ya. " Kataku.


"Iya hati-hati. " Katanya dengan tersenyum, aku juga.


Tidak terasa aku sekolah di sini sudah lumayan lama. Setelah dua bulan sekolah di sini aku mengikuti ektrakurikuler musik karena sebenarnya aku sedikit menyukai musik. Dan rencananya nanti di perpisahan kakak kelas tiga kami akan berpartisipasi untuk itu. Aku sedikit senang karena katua klub kami kak mira menyuruh ku untuk menyumbangkan sebuah lagu dan aku bebas untuk memilih lagunya dengan memainkan alat musik gitar, karena dia tau aku ahlinya di gitar. Dan aku menerimanya dengan senang hati.


Aku senang Rama tidak pernah mengeluh ketika dia harus menungguku selesai berlatih musik. Kata dia aku keren karena bisa bermain gitar.


Pulang sekolah via langsung mengajakku untuk menunggu kakaknya di depan sekolah, sebenarnya aku ingin berpamitan dulu pada Rama tapi aku tidak melihatnya, sebenarnya agak kecewa tapi mungkin Rama sedang buru-buru.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya kakak via datang. Via langsung mengajakku untuk masuk ke mobilnya lalu mengenalkan aku pada kakaknya. Namanya adalah kak iva dia sangat cantik dan karismatik. Kak iva ini adalah seorang mahasiswa seperti bang Tito.


Saat baru lima menit perjalanan menuju ke toko buku, telingaku mendengar deru motor seperti sedang ada konvoi. Aku pun melihatnya dan betapa terkejutnya aku ternyata itu adalah Rama bersama teman-temannya sedang mengikuti aku dan juga via, aku tersenyum melihatnya, aku kira dia sudah pulang ternyata belum.


"Siapa itu shin kok ngikutin kita. " Tanya kak iva yang membuat aku tersipu malu.


"Pacarnya shinta kak. " Kata via dengan senyum menggoda, aku semakin malu.


"Enggak kak, belum pacaran kok. " Kata ku dengan malu-malu. Kak iva memandangku lewat kaca dengan tersenyum.


"Rama, kamu ngapain kesini. " Kataku dengan tersenyum.


"Gak papa. " Katanya dengan tersenyum juga.


"Ya udah aku masuk dulu ke toko buku sama via dan kak iva ya. " Kataku lalu meninggalkan Rama dan juga teman-temannya, tapi sebelum pergi aku memberikan senyuman manis untuk menyapa mereka semua.


"Oh ya vi kamu mau cari buku apa sih. " Tanyaku ketika kami sudah ada di dalam toko buku.


"Ini aku mau cari buku tentang sejarah, soalnya sebenarnya aku suka sekali dengan sejarah dan rencananya nanti kuliah mau ambil sejarah. "


"Oh gitu. " Kataku dengan mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.


"Shinta kamu mau beli buku apa?. " Tanya kak iva.


"Enggak kak, aku kesini cuman mau nemenin via aja kok. " Jawabku dengan tersenyum.


"Gak papa kalau mau beli ambil aja nanti kakak yang bayar sekalian sama punya via. "


"Gak usah kak makasih. "


"Udah lah shin gak usah sungkan anggap aja ini kakak kamu sendiri. "


"Em ya udah deh. " Aku mengambil sebuah novel romantis karena aku suka membaca novel. Lalu ku berikan pada kak iva, kak iva laku membayarnya.


"Makasih ya kak. "

__ADS_1


"Sama-sama." Kakaknya dengan tersenyum.


Saat aku keluar dari toko buku kupikir Rama dan teman-temannya sudah pulang karena aku via dan kak iva sangat lama, hampir satu jam di dalam toko buku. Ternyata Rama masih menunggu di parkiran.


"Rama kok belum pulang.? " Tanyaku


"Iya, ya udah sana udah ditungguin sama via. " .


"Iya, kamu habis ini mau kemana.? "


"Mau ngawal kamu sampai depan komplek habis itu ke warungnya mbak wiwik." Katanya yang membuat aku tersenyum.


"Ya udah aku pulang dulu ya. " Kataku lalu pergi menuju mobilnya kak iva.


Di dalam mobil aku tersenyum, sebegitunya Rama khawatir padaku sampai-sampai dia harus mengawalku bersama teman-temannya, agak lucu sebenarnya hehe.


Tepat di depan komplek Rama melambaikan tangan padaku lalu berlalu menuju warung mbak wiwik.


"Mampir dulu ya kak. " Kata ku pada kak iva.


"Gak usah shin ngrepotin. "


"Gak papa kak, bentar aja ya. " Kataku sedikit merengek.


Lalu aku mengajak via dan juga kak iva untuk masuk. Di depan ruang TV ada Bang Tito dan juga ibu.


"Bu liat deh ada tamu. " Kataku lalu ibu dan Bang Tito mengalihkan pandangannya dari TV kepada via dan kak iva. Kulihat wajah Bang Tito dan juga kak iva sama-sama kaget.


"Tito." Kata kak via.


"Iva."kata Bang Tito .


" Kok kamu ada di sini.? "Tanya kak iva bingung lalu memandangku.


" Itu abangnya shinta kak, kak iva sama bang Tito udah saling kenal.?" Tanyaku heran pada mereka berdua . Bang Tito tersenyum.


"Iva ini mah teman sekampus abang. " Kata bang Tito. Aku mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.


"Kok berdiri aja, ayok duduk. " Kata ibu mempersilahkan via dan juga kak iva.


"Gak usah tante, soalnya habis ini aku mau ada acara. " Kata kak iva.


"Oh gitu ya. " Kata ibu.


"Next time tan aku bakalan mampir lagi. "Kata kak iva.


" Iya deh. "


"Ya udah tan, Tito aku pamit pulang dulu ya. " Kata kak iva lalu mencium tangan ibu.


Aku mengantar kak iva dan juga via ke depan teras.


"Mangkanya tadi aku agak gak asing sama kamu, soalnya wajahnya mirip Tito, ternyata benar kamu adeknya Tito. " Kata kak iva sebelum masuk mobilnya.


"Hehe iya kak. " Kataku meringis. Lalu kak iva pulang.


Sungguh senang kalau seandainya kak iva adalah pacarnya Bang Tito. Karena kak iva orangnya cantik dan juga baik. Terlebih lagi aku dan via bisa saja mejadi saudara beneran.

__ADS_1


Tapi apapun pilihan Bang Tito, asalkan itu yang terbaik dan bisa membuat Bang Tito bahagia aku akan mendukungnya, karena kalau Bang Tito bahagia aku pasti juga akan ikut bahagia. Karena doa ku selama ini untuk Bang Tito semoga dia selalu diberi kebahagiaan oleh Tuhan, Amin.


__ADS_2