
...HAPPY READING...
...----------------...
Bang Tito masuk ke dalam kamar ku, lalu menyuruh ku untuk duduk. Aku menuruti dan langsung memeluknya. Aku menangis di dalam pelukan Bang Tito, hal yang selalu ku lakukan saat aku merasa sedih.
"Abang percaya kan kalau shinta gak ngelakuin hal seperti itu.? " Tanyaku di sela-sela tangis ku. Bang Tito mempererat pelukannya dan mengelus-ngelus rambut ku.
"Iya abang percaya sama kamu. " Jawab Bang Tito.
"Bang gimana kalau shinta gak berhasil nemuin pelaku yang sebenarnya.? " Tanyaku lalu melepaskan pelukan.
"Kamu pasti bisa, kamu adek abang yang gak pernah nyerah " Jawab Bang Tito memberi aku semangat, lalu aku memeluknya lagi. Sejenak aku merasa tenang di dalam pelukan Bang Tito.
Setelah aku sedikit tenang Bang Tito menyuruhku untuk istirahat saja, aku menurutinya. Aku merebahkan diriku di kasur tanpa mengganti baju dulu.
Aku masih memikirkan tentang sikap Rama tadi, kenapa dia seperti itu? Apa dia percaya kalau aku yang mencuri soal-soal ujian itu?.
Aku kembali menangis ketika mengingat tentang hal itu, tentang bu Ani yang tadi mengambil soal-soal dalam tas ku, tentang pak hendri yang sangat kecewa padaku, dan tentang Rama yang percaya kalau aku yang mencuri.
Aku menangis lama sekali, buktinya aku menangis sampai ada teman-teman ku main ke rumah yaitu via, Reni dan juga nike.
Aku menghampiri mereka lalu ku peluk via, dia menepuk-nepuk pundak ku untuk menenangkan ku.
"Shinta kita percaya kok sama kamu. " Kata via.
"Iya Shin, kita tau kamu itu anak baik gak mungkin ngelakuin hal seperti itu. " Kata nike.
"Aku gak percaya karena kan shinta selalu sama kita ke mana-mana tadi juga kamu kan ke kantin sama kita. " Kali ini kata Reni. Lalu aku melepaskan pelukan ku dari via.
"Bener kamu ren, seandainya shinta yang ngelakuin kapan dia ngambil soalnya.? " Kata via.
"Fiks pasti ada orang yang sengaja naruh soal itu di tas kamu. " Kata Reni.
"Tapi siapa yang tega ngelakuin itu sama aku.? " Tanya ku pada mereka bertiga, mereka terdiam sejenak.
"Aku dikasih waktu sampai ujian selesai untuk mencari pelaku aslinya. Tapi kalau aku gak nemuin aku bakal di keluarin dari sekolah. " Kataku yang membuat mereka terkaget.
"Gila aja, bukan kamu yang ngelakuin tapi kamu yang dihukum. " Kata nike, aku juga berpikir seperti itu, aku dihukum untuk hal yang tidak pernah aku lakukan.
"Lah mangkannya itu. " Jawabku.
"Kamu yang tenang ya, ada kita di sini yang siap bantu kamu untuk nangkap pelaku yang sebenarnya. " Kata Reni, aku tersenyum.
__ADS_1
"Iya shinta, kamu gak sendirian ada kita di samping kamu. " Tambah Reni.
Aku tersenyum, lalu kita saling berpelukan.
"Makasih ya kalian selalu ada buat aku pas sedih ataupun senang. " Kataku meneteskan air mata lagi.
"Iya shinta kita kan sahabat. " Kata nike.
"Iya sahabat kan harus selalu ada dalam keadaan apapun. " Tambah via.
"Dan semoga kamu kuat untuk menjalani ini semua. " Kata Reni, aku tersenyum untuk mereka.
Aku sedikit terhibur karena kedatangan teman-temanku tadi, Tuhan terima kasih di saat sulit seperti ini engkau memberikan aku teman-teman yang baik seperti mereka.
Pukul delapan malam ibu sudah sampai di rumah, awalnya aku ingin menceritakan semua kejadian di sekolah hari ini yang menimpa ku tapi setelah melihat wajah ibu terlihat sangat capek aku mengurungkan niatku.
Bagaimana ini? Besok aku harus sekolah dan pastinya besok akan banyak orang yang menggunjing ku karena mengira aku lah pencuri soal-soal ujian itu.
Aku benar-benar harus menguatkan mental untuk menghadapi hari esok dan seterusnya sampai pelaku yang sebenarnya terungkap dan membebaskan aku dari semua tuduhan.
Malam ini aku menunggu telpon dari Rama tapi dia sama sekali tidak menelpon atau mengirim pesan seperti biasanya.
Aku berulang kali juga menelponnya tapi dia juga tak kunjung mengangkat telponku, ada apa Rama? Kenapa kamu percaya aku yang melakukan itu? Di saat seperti ini aku sangat membutuhkan kamu di sampingku untuk menguatkan aku, tapi kamu malah menghindari aku. Aku sangat sedih Rama, aku sangat terpukul, kamu harus tau itu.
"Kok belum tidur Shin.? " Tanya ibu lalu duduk di sebelahku.
"Iya buk belum ngantuk. " Jawabku dengan senyum yang ku paksakan.
"Ada apa.? " Tanya lalu mengelus rambutku, aku menarik nafas panjang menahan air mataku agar tidak keluar lagi.
"Gak ada apa-apa buk. " Jawabku dengan tersenyum.
"Kamu gak bisa bohongin ibu sayang." Kata ibu yang membuat aku langsung memeluknya laku menangis lagi. Sebenarnya aku lelah menangis.
"Cerita sama ibu. " Kata ibu sambil mengelus-ngelus rambutku.
"Ada yang naruh soal-soal ujian di tas shinta bu, shinta gak tau siapa yang tega ngelakuin hal itu ke shinta. " Kataku dengan tangis sesenggukan. Ibu terdiam sejenak sambil terus mengelus rambutku.
"Ibu percaya kan shinta gak ngelakuin itu. "
"Iya ibu percaya sama kamu sayang, kamu anak ibu yang baik gak mungkin ngelakuin hal itu. " Jawab ibu yang membuat aku mengeratkan pelukanku, karena aku nyaman ada di pelukan ibu.
"Tadi Bang tito udah cerita semua sama ibu, dan ibu yakin kamu pasti bisa nangkap pelaku yang sebenarnya. "
__ADS_1
"Do'ain shinta bu, kalau shinta gak berhasil shinta dikeluarkan dari sekolah. "
"Iya ibu selalu do'ain anak-anak ibu. " Jawab ibu lalu mencium kening ku.
"Makasih ya bu udah percaya sama shinta. " Kataku.
"Kamu kan anak ibu, ibu tau kamu itu bagaimana, kamu anak baik sayang. " Jawab ibu lalu menghapus air mataku.
"Buk, jangan bilang ke ayah dulu ya, aku takut kalau ayah nanti kepikiran terus gak fokus kerjanya. " Kataku. Ibu tersenyum.
"Iya sayang. "
"Makasih ya bu. "
" Iya, Sekarang kamu tidur ya, kasian mata kamu udah bengkak gitu. "
"Iya buk. " Jawabku, lalu ibu pergi dari kamarku.
Aku memejamkan mataku mencoba untuk tidur, tapi baru beberapa menit aku memejamkan mata ada sebuah panggilan telpon dari ponselku, aku kira itu Rama ternyata itu deo.
"Halo de. " Sapa ku.
"Halo shin. " Sapanya balik.
"Ada apa.? " Tanyaku heran karena dia menelpon ku malam-malam seperti ini.
"Aku turut prihatin atas kejadian tadi yang nimpa kamu, aku yakin kok bukan kamu pelakunya. " Kata deo, aku tersenyum mendegarnya.
"Iya de makasih ya. "
"Iya shin, jangan terlalu dipikirin, lebih baik kamu fokus belajar kan sebentar lagi ujian kenaikan kelas. " Kata deo memberiku semangat.
"Iya do,tapi aku diberi waktu sama pak hendri sampai ujian selesai untuk nangkap pelaku yang sebenarnya, kalau aku gak berhasil aku bakalan dikeluarkan dari sekolah. "
"Kamu pasti bisa shin ngungkap pelaku yang sebenarnya. "
"Semoga."
"Ya udah, maaf malam-malam mengganggu, selamat istirahat. " Katanya lalu menutup telponnya.
Untuk pelaku yang menaruh soal-soal itu di tas ku, selamat ya kamu berhasil. Iya berhasil membuat aku menderita, membuat aku dihukum atas kesalahan yang tidak aku lakukan, berhasil membuat Rama menjauh dari aku.
Tapi cepat atau lambat aku pasti akan menemukan kamu, karena sepintar-pintarnya orang menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga.
__ADS_1