
...HAPPY READING...
...----------------...
Seminggu setelah di rawat di rumah sakit akhirnya Bang Tito diizinkan pulang oleh dokter karena keadaannya sudah sangat membaik, aku sangat bersyukur untuk itu.
Dan aku sudah mulai aktif lagi bersekolah dan juga latihan musik sepulang sekolah karena ujian sudah ada di depan mata.
Ku pikir setelah aku menolak cintanya afredo akan menjauhiku tetapi ternyata tidak. Dan aku bersyukur karena dia bisa bersikap dewasa tidak kekanak-kanakan.
Saat jam istirahat via mengajakku untuk ke kantin, awalnya aku menolak karena rasanya malas sekali tapi akhirnya aku mau juga, karena tidak tega melihat wajah kawanku yang terus merengek seperti anak kecil.
Setelah selesai makan aku buru-buru untuk mengajak via balik ke kelas, karena di kantin tadi aku melihat ada karina dan juga temannya. Dia menatapku sinis sekali sehingga membuat aku risih.
Bel masuk pun berbunyi, sekarang adalah jam pelajaran dari bu suhartin tapi kok yang masuk bu Ani wali kelas kami, ada apa lagi ini.? Dan ku lihat wajah bu Ani sangat-sangat tidak enak.
"Anak-anak tadi kepala sekolah bilang kalau ada yang mencuri soal-soal ujian, maka dari itu ibu minta kalian letakkan tas kalian di atas meja dan ibu harap semoga kalian tidak ada yang melakukan perbuatan tercela seperti itu. " Kat abu Ani yang segera dituruti oleh semua murid, aku dengan pede meletakkan tas ku di atas meja karena aku tidak melakukan perbuatan seperti itu.
Tapi saat bu Ani memeriksa tas ku, dia mengeluarkan beberapa tumpukan kertas dari sana, aku melongo. Kok bisa ada soal-soal ujian di dalam tas ku.
"Shinta apa ini.? " Tanya bu Ani sedikit meninggikan suaranya.
"Tapi bu saya gak ngelakuin itu. "
Semua teman-teman ku memandangku tidak percaya termasuk via. Aku sendiri tidak percaya ada soal-soal itu di dalam tas ku.
"Udah kamu jelasin semuanya di ruang kepala sekolah. " Kata buat Ani yang membuat aku meneteskan air mata. Via menepuk-nepuk pundakku.
"Shin aku percaya bukan kamu pelakunya. " Kata via, aku hanya bisa menangis karena tidak tau harus berbuat apa.
Lalu bu Ani mengajakku untuk ke ruang kepala sekolah. Banyak murid dari kelas lain yang melihatku lewat jendela, ada juga yang berbisik
"Malingnya ketangkep. "
Kata-kata itu yang membuat aku merasa sakit hati sekali.
Saat di ruang kepala sekolah aku melihat wajah pak hendri sudah sangat masam dan kesal sekali aku jadi takut padahal bukan aku yang melakukan tapi semua bukti tertuju kepadaku.
Bu Ani membisikkan sesuatu pada hendri yang membuat wajah beliau semakin masam.
"Duduk." Kata pak hendri tegas, aku pun menurutinya.
__ADS_1
"Apa benar kamu yang mencuri soal-soal ujian.? " Tanya pak hendri dengan suara tegasnya.
"Bukan pak, saya gak tau apa-apa tentang ini. " Kataku masih dalam keadaan menangis.
"Tapi semua soal-soal ini ada di dalam tas kamu. "
"Pak saya gak tau, sumpah saya gak mencuri soal-soal itu pak. "
"Udah gini sekarang kamu telpon orang tua kamu suruh kesini. " Kata pak hendri yang memuat jantungku berdegup kencang sekali. Kenapa harus melibatkan orang tua untuk hal yang tidak pernah aku lakukan.?
"Tapi pak ponsel saya ada di kelas. "
"Kamu hafal nomor orang tua kamu.?"
"Iya Pak. "
"Ini kamu telpon pakai ponsel bapak." Kata pak hendri memberikan ponsel padaku, aku pun mengambil dari tangannya.
Aku sangat bingung apa yang harus ku katakan nanti pada ibu.
Aku menelpon ibu tapi nomornya tidak aktif.
"Pak nomornya tidak aktif, kalau saya telpon kakak saya gimana pak.? "
"Halo Bang ini shinta. "Kataku sedikit menahan tangis.
"Halo Shin, kamu kenapa kok nangis.?" Tanya Bang Tito cemas.
"Ibu ada di rumah.? "
"Ibu sekarang lagi ke butiknya, ada apa. "
"Abang bisa ke sekolah shinta gak.? "
"Bisa, ada apa Shin.? " Tanya Bang Tito sekali lagi .
"Udah abang kesini aja dulu. " Jawabku.
"Iya, abang kesana sekarang. "
Aku menutup telponnya lalu memberikan ponsel ke pak hendri lagi, kami saling terdiam tidak ada obrolan sama sekali sampai Bang Tito di sekolah ku.
__ADS_1
Pak hendri ketika melihat Bang Tito langsung menyuruhnya untuk duduk di sampingku.Bang Tito heran melihat aku yang menangis di sana.
"Ada apa pak.? " Tanya Bang Tito. Lalu pak hendri menjelaskan semua . Bang Tito menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya.
"Tapi pak saya kenal adek saya itu bagaimana, dia gak mungkin melakukan itu semua. " Kata Bang Tito, aku hanya terdiam mendengar pembicaraan antara Bang Tito dan juga pak hendri.
"Tapi semua bukti sudah mengarah ke shinta. " Bang Tito terdiam sejenak, sepertinya dia bingung harus bicara apa lagi.
"Sekarang begini saja, saya kasih kesempatan sama kamu untuk mencari tau siapa pelaku yang sudah menaruh soal-soal ini ke tas kamu, karena sebenarnya saya juga tidak percaya kalau kamu yang melakukan, saya kasih waktu kamu sampai ujiannya selesai, kalau sampai ujian selesai kamu belum menemukan pelakunya makan dengan berat hati kami pihak sekolah akan mengeluarkan kamu dari sekolah karena perbuatan seperti ini tidak bisa di toleransi " Kata pak hendri yang membuat aku terperanjat.
Kenapa harus aku? Bukan aku yang melakukan itu semua tapi kenapa aku yang harus di hukum sampai dikeluarkan dari sekolah.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku hanya bisa menangis untuk perbuatan yang tidak ku lakukan.
"Untuk sekarang kamu pulang dulu sama kakak kamu, kamu belajar di rumah. " Kata pak hendri aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan.
Aku dan Bang Tito keluar dari ruang kepala sekolah.
"Bentar ya Bang aku ambil tas dulu. " Kataku
"Abang anterin. " Kata Bang Tito, aku senyum walaupun ku paksakan.
Aku menjadi pusat perhatian oleh murid-murid lain, aku sangat malu karena jelas berita tentang aku sudah menyebar ke satu sekolah.
Di kelas aku melihat via, Reni dan juga nike, wajah mereka tampak khawatir sekali.
"Shin kamu gak papa.? " Tanya via cemas, aku hanya mengangguk dan tersenyum tidak menjawab karena aku sekarang tidak baik-baik saja, lalu aku mengambil tas ku.
"Shin." Kaya via lagi.
"Aku di suruh pulang dulu. " Jawabku dengan senyuman yang ku paksa. Lalu aku meninggalkan mereka bertiga.
"Udah.? " Tanya Bang Tito.
"Udah." Jawabku.
Lalu aku Bang Tito pun berjalan menuju parkiran, tapi saat di depan kelas Rama, aku melihatnya. Aku ingin bicara sama dia, aku ingin menjelaskan bahwa bukan aku yang melakukan. Tapi saat akan menghampirinya dia malah menghindar. Aku terdiam, Rama apa kamu tidak percaya sama aku? Batinku lalu menarik nafas panjang karena menahan air mata ku yang akan jatuh.
Ku lihat Bang Tito menepuk pundakku lalu mengajakku untuk segera pulang.
Saat di rumah aku langsung masuk ke kamar lalu menutup wajahku dengan bantal dan menangis. Kenapa ada orang yang ingin memfitnah aku seperti ini? Apa aku ada salah sama dia?
__ADS_1
Dan yang membuat aku gak habis pikir, bisa-bisanya Rama tidak percaya padaku, itu membuat hatiku sakit sekali.