
...HAPPY READING...
...----------------...
Hari minggu ini Rama akan menjemputku di rumah katanya dia mau ngajak aku kumpul sama teman-temannya, aku mengiyakannya.
Dan kebetulan hari ini ayah ada di rumah jadi aku mau mengenal Rama pada ayah, kemarin malam sebenarnya aku sudah menceritakan semua tentang Rama, tentang apa yang sudah dilakukan Rama padaku, dan kelihatannya ayah penasaran sekali ingin bertemu dengan Rama.
Pukul sembilan pagi aku mendengar suara motor di depan rumah, aku segera keluar rumah karena aku yakin pasti itu Rama.
"Rama." Sapaku dengan tersenyum karena melihatnya nampak tampan sekali hari ini, dia mengenakan celana jeans, kaos polos warna hitam dan juga sepatu hitam putih.
"Udah lama.? " Tanya Rama, aku menggelengkan kepala.
"Sini mau ada yang kenalan sama kamu.? "Kata ku.
" Gak mau ah. "
"Kenapa.? "
"Cukup kenal kamu aja aku udah seneng. " Katanya yang membuat aku tersenyum.
"Ih ini ayahku yang mau kenalan sama kamu. "
"Ayahmu."
"Iya."
"Takut ah, ayahmu kan tentara. "
Katanya dengan nada yang dibuat seolah-olah dia takut.
"Lah gangster kok takut. " Dia tertawa, aku juga.
Lalu aku mengajaknya ke dalam untuk mengenalkannya pada ayah. Aku menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu bersama ibuku. Aku memanggil ayah yang ada di kamar.
"Yah Rama udah dateng tuh. " Kataku pada ayah.
"Mana.? "
"Itu di ruang tamu sama ibu. "
"Ya udah ayo. "
Aku dan ayah berjalan menuju ruang tamu. Rama berdiri ketika melihat ayahku, lalu mencium tangannya.
"Rama om. " Rama mengenalkan dirinya dengan tersenyum.
"Pak arya,Ayahnya shinta" Kata ayah ramah sekali.
Lalu ayah duduk di sebelah ibu, dan aku di sebelah Rama.
"Jadi ini yang namanya Rama. " Kata ayah.
"Iya om. " Jawab Rama malu-malu.
"Om denger kamu itu anak gangster ya.? "
"Iya om. "
"Jadi mau kemana ini kalian.? " Tanya ibu kepada kami berdua. Rama menatapku sejenak lalu membisikkan sesuatu pada ibu, ibu mengangguk-anggukan kepala lalu ganti membisikkan kepada ayah, aku mengernyitkan dahi kenapa pada rahasia-rahasian seperti ini.
"Ya udah nanti pulangnya jangan malam-malam ya. " Kata ibu.
Lalu aku dan Rama pamitan kepada ayah dan ibu.
"Mau kemana sih kita.? " Tanyaku ketika kami sedang diperjalanan.
"Kumpul ke warungnya mbak wiwik sama temen-temen. "
"Trus tadi bisikin apa ke ibu.? "
"Rahasia." Katanya dengan tertawa kecil, aku memukul pundaknya karena kesal.
"Udahlah nanti kamu juga tau. "
"Iya." Jawabku ketus.
"Jangan cemberut gitu dong. "
__ADS_1
"Biarin."
"Nanti aku traktir ice cream sepuluh deh. " Katanya merayuku. Seketika itu aku tersenyum lagi.
"Beneran?. " Tanyaku
"Iya."
Aku merasa malu karena Rama melirikku lewat kaca spionnya.
"Gitu dong senyum, kan cantik. " Katanya yang membuat aku semakin merasa malu lalu Aku menyembunyikan wajahku di bahunya Rama.
"Ada yang malu-malu nih. " Katanya mengejekku.
"Apaan sih, udah ah jangan gitu. "
Lalu aku dan Rama sama-sama tertawa.
Saat sampai di warungnya mbak wiwik kulihat di sana ada mamad jefri dan juga via. Aku langsung menyapa semua teman-temannya Rama dengan senyuman, mereka semua membalas dengan senyuman juga.
"Vi ini acaranya ngapain sih, kumpul aja gini.? " Tanyaku pada via.
"Aku juga gak tau shin, baru pertama kali soalnya di ajak kumpul gini. " Jawab via.
Setelah sekitar sepuluh menit di warung mbak wiwik, ada dua teman Rama yang datang membawa nasi kotak banyak sekali. Aku heran ngumpul di warung kok bawa masi kotak. Kan bisa pesan makan di mbak wiwik, batinku.
"Gimana udah siap semua.? " Tanya Rama.
"Udah ram. " Jawab beni yang tadi membawa nasi kotaknya.
"Ya udah ayok berangkat.? " Kata Rama.
"Berangkat kemana.? " Tanyaku pada Rama.
"Udah nanti juga tau.? " Jawabnya.
Lalu mereka semua berpamitan pada mbak wiwik.
Rama memimpin perjalanan ini, aku merasa kalau kita semua sedang mengadakan konvoi karena banyak sekali rombongan kami. Baru pertama kali ini aku ikut konvoi dengan anggota gangster. Dan aku merasa bahagia.
Setelah sekitar dua puluh menit perjalan kami sampai dan berhenti di sebuah panti asuhan. Aku bertanya-tanya dalam benak kenapa mereka berhenti di panti asuhan ini?
Lalu Rama mengajakku untuk masuk panti asuhan, di sana ada ibu-ibu usia sekitar empat puluh tahunan sedang menyambut kita semua dengan senyum ramah sekali.
"Iya bu. " Kata Rama dengan senyuman ramah sekali. Lalu ibu panti menatapku dengan expresi wajah seperti bertanya-tanya. Lalu aku menjabat tangan ibu panti untuk memperkenalkan diri.
"Shinta bu. " Kataku dengan tersenyum.
"Bu Ranti. " Jawab ibu panti tak kalah Rama.
"Calon pacar saya bu. " Kata Rama yang membuat aku tersenyum malu-malu, lalu mencubit pinggangnya. Ibu Ranti hanya tersenyum melihat tingkah lakuku dan Rama.
Beni dan jefri lalu membagikan nasi kotak tadi kepada anak-anak panti. Terlihat wajah bahagia mereka melihat kami semua ada di sini. Aku juga bahagia melihat mereka semua, Lucu-lucu soalnya.
Rama mengajakku untuk duduk di sampingnya lalu kami semua makan bersama-sama. Baru pertama kali ini aku merasa seperti keluarga dengan teman-teman Rama.
Sehabis makan Rama dan juga teman-temannya bermain dengan anak-anak panti. Nampak bahagia di wajah anak-anak panti, aku juga bahagia melihat itu semua.
"Mas Rama itu baik banget ya mbak shinta. " Kata bu Ranti ketika beliau duduk di samping ku. Aku tersenyum.
"Mas Rama dan teman-temannya setiap satu bulan sekali pasti kesini bawa makanan dan mainan buat anak-anak. "
"Udah lama bu.? " Tanyaku.
"Lumayan, ada dua tahun ini, dan anak-anak selalu bahagia sekali kalau ada mas Rama dan teman-temannya di sini. " Kata bu Ranti dengan tersenyum, aku juga.
"Anak-anak gak takut bu? Kan Rama sama teman-temannya gangster.? " Tanyaku dengan sedikit tertawa, bermaksud untuk bercanda. Bu Ranti juga tertawa.
"Nggak, kan sebenarnya mereka semua itu anak baik kok. " Jawab bu Ranti. Aku tersenyum.
Mengapa banyak orang yang menilai Rama itu anak nakal atau yang lebih sering dipanggil Bad Boy? Dan kenapa banyak orang yang menilai orang itu hanya dari covernya aja? Bukannya kita tidak boleh ya menilai buku dari covernya aja tapi harus dilihat isinya dan makna dari buku tersebut.
Aku dulu juga hampir pernah menjadi salah satu dari mereka yang menilai orang hanya dari covernya. Tapi sekarang setelah aku mengenalnya lebih dekat ternyata dia baik tidak seperti penampilan atau apa yang dikatakan orang-orang tentang dia.
Rama Terima kasih karena kamu telah merubah pikiranku yang tidak ingin terbuka luas, kamu telah mengajarkan aku bahwa kebaikan tidak harus diumbar agar orang lain tau dan menilai kita sebagai orang yang baik. Tapi kebaikan itu untuk diri kita sendiri. Cukup diri sendiri dan Tuhan saja yang tau.
"Eh kok jadi melamun. " Kata bu Ranti membuyarkan lamunanku.
"Hehe iya bu maaf. "
__ADS_1
"Mikirin apa.? "
"Nggak bu. " Jawabku malu-malu.
"Rama beruntung punya pacar seperti kamu, udah cantik baik. " Kata bu Ranti yang membuat aku semakin malu.
"Tapi kamu juga beruntung bisa mendapatkan mas Rama, dia baik sekali sama orang. "
Aku tersenyum.
"Iya bu. "
Setelah puas bermain dengan anak-anak panti, kami berpamitan kepada bu Ranti untuk pulang karena anak-anak waktunya untuk tidur siang.
Aku dan teman-teman Rama berpisah di persimpangan jalan dekat komplek rumahku dan Rama. Ku pikir dia akan mengantar ku pulang ke rumah ternyata tidak, dia mengajakku untuk main ke rumahnya.
"Malu Ram sama mama mu. " Kataku ketika kami sudah sampai di rumah Rama. Rumahnya cukup besar dan memang menggambarkan orang kaya.
"Kamu pakai baju kan.? " Katanya.
"Iya lah. "
"Trus ngapain malu. "
"Ih gak gitu maksud ku. " Kataku kesal,dia malah tertawa.
"Udah gak papa, mamaku baik gak galak. " Katanya lalu menggandeng tanganku masuk ke rumah. Jantungku rasanya memompa lebih cepat dari biasanya, aku sangat gugup.
Rama memanggil mamanya, lalu keluar wanita berusia sekitar empat puluh lima tauan yang cantik. Aku kagum dengan kecantikan mama Rama, tak heran kalau anaknya setampan ini, batinku.
Aku meraih tangan mama Rama lalu menciumnya.
"Siapa nih.?" Tanya mama Rama dengan tersenyum.
"Temennya Rama tante. " Jawabku dengan tersenyum juga.
Lalu beliau mengajakku untuk duduk.
"Namanya siapa.? " Tanya mama Rama lagi.
"Shinta tan. "
"Loh kok bisa pas ya Rama Shinta. " Kata mama Rama yang membuat aku malu-malu, sekarang aku yakin kalau wajahku memerah seperti tomat.
"Do'ain ma. " Kata Rama dengan menatapku.
"Do'ain apa sih ram.?" Tanya mamanya heran.
"Do'ain semoga dia mau sama Rama. " Katanya yang membuat aku semakin malu. Mama Rama tersenyum melihatku, aku juga.
"Shinta maaf ya tante gak bisa nemenin lama-lama soalnya tante habis ini ada jadwal operasi,nanti kalau tante ada waktu shinta main kesini lagi, kita ngobrol-ngobrol ya" Katanya, aku menganggukan kepala. Aku baru tau ternyata mama Rama adalah seorang dokter.
"Iya tante. " Jawabku dengan tersenyum.
"Eh manggilnya mama aja kayak Rama. " Kata mama Rama, Aku tersenyum malu-malu.
"Iya tante, eh iya ma. " Kataku dengan menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahku yang masih memerah karena menahan malu.
Selepas itu mama meninggalkan aku berdua dengan Rama di ruang tamu.
"Kamu sendirian ram di rumah.? " Tanyaku.
"Nggak, ada si bibi lagi di dapur. " Katanya.
"Oh ya kamu anak tunggal.? "
"Aku punya kakak. "
"Dimana sekarang, kok aku gak liat. "
"Dia sekarang lagi kuliah di London. " Katanya, aku mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Lalu aku dan Rama sama-sama terdiam. Rama menatapku tajam, begitupun aku. Semakin lama Rama semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku memejamkan mataku karena ku pikir dia akan menciumku, rasanya deg-degan sekali, aku menunggunya lama, Rama tak kunjung menciumku lalu aku membuka mataku.
"Ngapain merem kayak gitu.? " Tanya Rama dengan tertawa.
"Nggak." Jawabku malu sekali.
"Belum waktunya, nanti kalau udah pas waktunya. " Katanya , aku hanya diam karena tidak tau harus ngomong apa lagi.
Rama mengajakku untuk bermain PlayStation, tapi berulang kali juga dia kalah dariku, aku tertawa melihat expresi wajahnya yang nampak kesal itu,terlihat lucu sekali.
__ADS_1
Sekitar pukul lima sore Rama mengantarku pulang, dia tidak mampir dulu dan langsung berpamitan kepada ayah dan ibu.
Terima kasih Rama untuk hari ini aku bahagia sekali. Biarlah orang menilai mu sebagai Bad Boy tapi bagiku kamu itu good Boy Rama.