
...HAPPY READING...
...----------------...
Aku bersiap-siap lebih pagi hari ini karena hari ini adalah jadwal piket ku dan terlebih karena Rama akan mengantarkan aku ke sekolah.
pukul enam kurang sepuluh menit Rama sudah sampai di rumah, aku mengajaknya untuk sarapan terlebih dulu sebelum berangkat.
Setelah selesai sarapan aku pamit kepada ibu untuk berangkat sekolah bersama Rama, awalanya ibu bertanya kenapa Rama tidak memakai seragam hari ini dan aku menceritakan semua pada ibu. Ibu tidak kaget dan memaklumi kehidupan seorang remaja seperti Rama, katanya dulu Rama seperti ayah waktu ayah masih muda dulu.
"Makasih bang ojek." Kataku pada Rama saat kami sudah sampai di gerbang sekolah, Rama tersenyum.
"Belajar yang bener. "
"Iya, habis ini mau kemana.? "
"Ke warungnya mbak wiwik sampai kamu pulang sekolah. "
"Ya udah hati-hati. "
"Iya."
Aku masuk ke dalam sekolah ketika Rama sudah melajukan motornya menuju warung mbak wiwik.
Saat di kelas kulihat hanya ada beberapa orang saja karena memang sekolah masih sepi.
"dim mana aja nih yang belum di sapu.? " Tanyaku pada dimas.
"Yang tengah shin belum. " kata dimas ramah sekali. Aku segera menyapu bagian yang belum di sapu.
Setelah selesai menyapu aku duduk di meja ku dan mulai membaca buku lagi karena nanti ada ulangan harian.
Setelah beberapa menit membaca via datang dan duduk di sebelah ku. Dia nampak terlihat bahagia.
"Napa vi bahagia banget kayaknya.? " Tanyaku pada via.
"Iya nih shin, kemarin tau gak aku ke rumahnya mamad terus kenalan sama ayah dan mamanya." Kata via dengan tersenyum, aku juga tersenyum melihat kawanku itu.
"terus gimana. ? "
"Aku direstuin sama ayah dan mamanya. "
"Wah enak dong. "
"Iya bahagia banget aku. "
Aku tersenyum, via juga.
Saat Bel pulang sekolah aku menyuruh via untuk pulang duluan karena aku ingin ke kamar mandi terlebih dahulu, awalnya via ingin menungguku karena keadaan sekolah sudah mulai sepi tapi aku menolaknya kasian kalau dia harus pulang telat gegara harus menunggu aku ke kamar mandi. Kita sudah telat pulang karena ada pelajaran tambahan dari bu Ani dan aku tidak ingin membuat via pulang lebih telat lagi.
Selesai dari kamar mandi aku mengecek ponselku ada pesan dari Rama dia sudah menungguku di depan sekolah, belum sempat aku membalas tiba-tiba ada yang menarik tanganku secara kasar dan dibawa ke belakang sekolah.
__ADS_1
Ternyata itu adalah deo dan dua temannya, aku sungguh kesal dan jengkel karena dia menarik tanganku dengan kasar sekali.
"Apaan sih.? " Tanyaku jengkel kepada deo.
"Kamu yang namanya shinta.? " Tanya dengan senyum meledek.
"Kalau iya kenapa.? "
"Kamu pacarnya Rama.? "
Aku terdiam sejenak.
"Iya aku pacarnya Rama, kenapa.? "
"Bilangin ke pacar mu jangan ganggu karina lagi. " Katanya dengan nada ketus sekali, aku tertawa mendengarnya karena yang selalu mendekati bukanlah Rama tapi si karina.
"Gak salah nih kamu bilang gitu.? Yang ada karina kali yang selalu ngedeketin Rama. " Kataku dengan senyum sinis. Nampak wajahnya begitu marah tapi aku tidak peduli toh aku tidak merasa bersalah.
"Dan kamu kemarin nampar karina kan waktu di kantin.? " Tanyanya yang membuat aku berdecak kesal, ternyata si mulut licin itu ngadu kepada deo tapi aku tidak merasa takut sama sekali.
"Oh jadi dia ngadu sama kamu? Gak nyangka ternyata dia gede diomongan doang tapi sebenarnya nyalinya ciut. " Kataku dengan tertawa mengejek.
"Maksud kamu apa.? " Tanyanya dengan menaikan suaranya, dia kira aku bakalan takut tapi dia salah, aku tidak takut sama sekali.
"Bener kan, kalau dia berani gak mungkin dia nyuruh kamu buat ngelabrak aku kayak gini, lagian kamu kan cowok kok beraninya sama cewek sih.? " Kataku, kulihat wajahnya memerah menahan marah, dua temannya berusaha menenangkan deo.
"Aku peringatin kamu kalau berani nampar karina lagi aku gak akan segan-segan untuk nyakitin kamu balik" Katanya dengan suara yang meninggi.
"Tenang de dia tuh cewek" Kata salah satu temannya.
"Alusin? Hei dari tadi kamu ngomong kasar loh sama aku, masak aku gak boleh kasar balik ke kamu.? Lagian kan benar apa kataku kamu kok beraninya sama cewek.? "
Plakkkkkk!!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku, aku memegang pipiku yang nampak merah itu dengan mata yang berkaca-kaca. Aku menatap deo tajam, aku benci sama dia. Kok ada cowok yang beraninya sama cewek kayak dia? Sebegitu cintanya dia sama karina sampai rela menampar aku seperti itu. Dasar banci.
Dia menarik nafas panjang.
"Gila kamu de, dia tuh cewek. " Kata salah satu temannya.
"Aku gak sengaja. "
"Bakalan panjang urusanmu, yang kamu tampar itu pacarnya Rama, aku gak ikut-ikutan. "
"Iya aku juga, kamu bilang tadi cuman mau memperingati dia aja tapi kalau sampai nampar seperti ini aku gak Ikut-ikutan. "
Air mata yang kutahan sedari tadi akhirnya jatuh juga, bukan karena sakit tapi aku merasa sedih diperlakukan seperti ini. Mungkin kalau karina yang menamparku aku tidak akan menangis seperti ini tapi ini deo, seorang cowok!
Deo mengajak dua temannya untuk pergi meninggalkan aku yang mematung dan menangis. Aku tidak habis pikir, dia tidak meminta maaf padaku karena sudah menamparku.
Aku menarik nafas panjang, aku harus segera ke depan sekolah karena Rama sudah menungguku, aku mengecek ponsel ku ternyata Rama mengirim pesan banyak padaku. Aku mengeluarkan kaca dari tas ku untuk melihat pipiku, ternyata bekas tamparan deo begitu memerah. Aku benci deo tapi disisi lain aku tidak ingin Rama berkelahi lagi dengan deo kalau sampai Rama tau tentang ini. Aku berpikir sejenak, kalau Rama bertanya tentang pipi merah ku aku akan membuat alasan.
__ADS_1
Aku segera menghapus air mataku dan berlari ke depan sekolah, aku tidak mau kalau Rama harus terlalu lama menungguku. Tapi saat aku sampai di lapangan basket aku menghentikan langkahku karena aku melihat orang sedang berkelahi, kulihat di sana ada dua teman deo tadi. Aku segera berlari menghampirinya karena itu adalah Rama yang sedang menghajar deo. Dua teman deo tidak berani melerai perkelahian itu karena Rama menghajar deo seperti orang kesetanan.
"Rama udah. " Kataku pada Rama, Rama mengurungkan niatnya untuk meninju deo, lalu menatap ku sebentar.
"Cepet minta maaf sama shinta!. " Kata Rama. Deo hanya terdiam memandangku.
"Cepet." Kata Rama menarik kerah baju deo.
"Aku minta maaf. " Kata deo. Aku jadi tidak tega melihatnya karena bibir dan hidungnya berdarah.
"Rama bentar ya. " Kataku pada Rama yang saat ini ada di sampingku.
Aku mengeluarkan tisu dan obat merah yang selalu ku bawa dari tas ku.
Deo nampak terkejut karena tiba-tiba
Aku membersihkan darah dari bibir dan hidungnya itu. Dia meringis kesakitan ketika aku memberinya obat merah.
"Udah.? " Tanya Rama. Aku menatap Rama sebentar, lalu menatap deo.
"Udah aku maafin, aku juga minta maaf. " Kata ku, lalu Rama menggandeng tanganku mengajakku pergi meninggalkan deo dan dua temannya.
Rama tidak langsung membawaku pulang tapi dia mengajakku untuk makan bakso yang ada di pinggir jalan dekat sekolah dulu.
"Kamu kenapa.? " Tanyaku pada Rama.
"Kenapa apanya.? "
"Ngehajar deo sampai kayak gitu. "
"Dia nampar kamu. " Katanya tanpa menatapku.
"Kok kamu tau.? "
"Aku nunggu kamu lama, trus aku cari kamu ke dalam sekolah dan gak sengaja aku liat deo nampar kamu. "
"Aku gak papa kok, lain kali jangan kelahi lagi ya sama deo. "
"Aku gak terima dia nampar kamu, pipi kamu sampai merah gitu. "
Aku tersenyum.
"Gak papa kok, udah ya jangan emosi lagi. "
"Kamu kenapa pake ngobatin dia segala.? "
"Dia kan juga manusia, juga punya rasa sakit kalau terluka. "
Rama hanya terdiam memandangku.
"Kamu cemburu.? " Tanyaku dengan senyum menggoda.
__ADS_1
"Tau lah. " Jawabnya ketus sekali.
Aku tersenyum melihat expresi wajahnya sekarang, meskipun dia tidak bilang kalau sedang cemburu tapi dapat kubaca dari wajahnya yang nampak kesal. Ternyata ketua gangster bisa juga cemburu, batinku.