
...HAPPY READING...
...----------------...
Hari ini deo menjemput ku ke sekolah lagi, awalnya aku menolak karena kasihan tapi dia terus memaksa akhirnya aku pun mau.
Di sekolah, aku langsung masuk saja ke ruang latihan karena sudah tidak ada pelajaran dan terlebih besok sudah hari-H perpisahan kelas tiga.
Sebelum latihan kak mira bertanya pada ku apa aku dikeluarkan dari sekolah atau tidak. Lalu aku menceritakan semua pada kak mira. Dia nampak prihatin, katanya mungkin ini sudah takdir dan menjadi yang terbaik untukku.
Selesai latihan, aku menemui via dan Reni yang sedang duduk di kursi yang ada di pinggir lapangan. kebetulan hari ini nike tidak sekolah.
"Hai." Aku menyapa kedua temanku itu.
"Hai shin. " Jawab mereka kompak.
Aku terdiam sejenak, lalu menarik nafas panjang.
"Aku jadi pindah ke sekolah lama ku. " Kataku memecah keheningan di antara kami bertiga.
"Pindah.? " Tanya via.
"Iya, kan aku gak bisa buktiin kalau aku gak bersalah. " Kataku dengan senyum.
"Maafin kita ya shin, kita gagal bantu kamu buat nyari pelakunya. " Kata Reni. Aku tersenyum untuk mereka berdua.
"Aku malah berterima kasih sama kalian, karena udah bantu dan semangatin aku selama ini. " Jawabku.
"Aku sedih banget shin kamu harus ninggalin sekolah ini . " Kata via dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku sebenernya juga sedih, tapi mau bagaimana lagi. " Jawabku dengan senyum yang ku paksa.
"Kamu di sana nanti tinggal sama siapa shin.? " Tanya Reni.
"Aku tinggal sama mbak icha, orang kepercayaan ibu di sana. " Jelasku.mereka terdiam sejenak.
"Kita akan tetap jadi teman kan.? " Tanya via.
"Iya lah vi, kalian itu teman terbaikku. " Kataku, lalu via dan Reni memelukku seolah tidak ingin membiarkan aku pindah sekolah.
"Shin ke kelas yuk. " Ajak via.
"Kalian duluan aja, nanti aku nyusul. " Kataku, lalu mereka pergi. Mungkin paham kalau sekarang aku sedang ingin sendiri.
Aku duduk di tepi lapangan sendirian. Aku melirik sekitar sekolah, baru sebentar aku di sini tapi sudah terlalu banyak kenangan yang ku lewati di sini.
__ADS_1
Aku tersenyum ketika mengingat saat aku pingsan di lapangan ini dan Rama yang membawa ku ke UKS, Rama aku rindu kamu. Batinku.
Aku membuyarkan lamunanku ketika aku melihat di sebrang sana ada Rama tengah menatap ku, aku tersenyum padanya tapi dia malah memalingkan pandanganya. Lalu aku menundukkan kepala dan meneteskan air mata, tapi aku buru-buru menghapus air mataku, aku tidak mau menjadi cengeng seperti ini.
Tapi aku selalu teringat kata-kata Rama kalau dia menyukaiku dan akan selalu menjaga senyumku, tapi sekarang dia bukan Rama yang dulu. Dia sudah berbeda.
Deo menepuk pundak ku dan membuyarkan lamunanku tentang Rama.
"Ngelamun aja. " Kata deo lalu duduk di sampingku.
"Nggak." Jawabku singkat tapi tersenyum.
"Pulang yuk. " Katanya. Aku terdiam sejenak.
"Oh ya de, aku udah telpon mbak icha dan ngasih tau kalau aku bakal pindah lagi ke sekolah ku yang lama. " Kataku mengalihkan pembicaraan. Senyum dari bibir deo memudar hilang.
"Kamu pindah ke kota lama mu.? " Tanya deo.
"Iya."
"Aku kira kamu tetap di sini. "
"Nggak de, terlalu sakit kalau aku tetap di sini. " Kataku. Deo terdiam
"Gimana kamu udah lulus tes belum.?" Tanyaku pada deo.
"Wah selamat ya. " Kataku.
"Iya, makasih ya. "
Lalu deo mengajakku untuk pulang, karena memang sebagian murid sudah pada pulang.
Seperti biasa deo langsung pulang tidak mampir dulu setelah mengantarkan aku pulang.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua murid karena selain perpisahan kakak-kakak kelas tiga ini juga hari pembagian rapot kelas satu dan dua. Aku sangat gugup karena akan tampil di penutupan acara.
Aku akan menyanyikan lagu dari last child duka, karena memang liriknya seperti menggambarkan perasaanku saat ini yang sedang berduka.
Kak mira dan teman-teman memberiku semangat saat aku akan naik ke panggung.
Saat dipanggung, mataku mencari-cari keberadaan Rama, dan aku bisa menemukannya. Dia duduk di sebelah karina. Aku menatapnya sebentar, aku menarik nafas panjang lalu mulai fokus pada gitar ku dan mulai bernyanyi.
"Kau membunuhku dengan kepedihan ini. Kau hempaskan ku kedalam retaknya hati. Hingga air mata tak mampu tuk melukiskan perih yang kau ukir dalam hati ini."
"Kau hancurkan diriku saat engkau pergi, setelah kau patah kan sayap ini. Hingga ku takkan bisa tuk terbang tinggi lagi.dan mencari bintang yang dapat menggantikan mu. "
__ADS_1
"Sampai kini masih ku coba tuk terjaga dari mimpiku yang buat ku tak sadar bahwa kau bukan lagi milikku. Walau hati tak akan pernah dapat melupakan dirimu dan tiap tetes air mata yang jatuh kuatkan rinduku. Pada indah bayang mu. Canda tawamu, pada indahnya duka dalam kenangan kita "
Aku sangat menghayati lirik demi lirik yang ku nyanyikan sampai tak sadar aku meneteskan air mata.
Aku di sambut oleh tepukan para penonton ketika aku selesai bernyanyi. Aku sangat lega aku telah menyelesaikannya.
Aku turun dari panggung dan bergabung dengan teman-temanku yang lain yang terlebih dulu tampil.
"Akhirnya selesai juga. " Kata kak mira.
"Iya kak. " Jawabku.
"Kakak bangga sama kalian. " Kata kak mira yang membuat kami semua tersenyum.
"Kak aku ke toilet dulu ya. " Kata ku pada kak mira, dia hanya menganggukan kepala mengiyakan.
Aku berjalan menuju ke kamar mandi, susana sekolah sangat sepi karena semua orang tengah berkumpul di aula sekolah.
Aku sedikit berlari karena memang aku sudah menahan pipis sedari tadi.
Setelah lega membuang hajat, aku segera kembali lagi ke aula.
Namun saat aku keluar dari kamar mandi, aku melihat ada Rama yang menyenderkan bahunya di tembok.
"Rama." Kataku sedikit terperanjat. Dia hanya diam.
"Kamu ngapain di sini.? " Tanyaku.
"Cuman ngantar karena di sini sepi, takutnya kalau ada apa-apa. " Katanya yang membuat aku tersenyum.
"Gak usah GR. " Kata Rama lalu berjalan meninggalkan aku.
Aku berjalan di belakang Rama, dan saat akan sampai di aula ada karina yang menghampiri Rama lalu menggandeng tangannya.
"Kamu dari mana aja sih kok lama banget " Kata karina dengan nada sedikit manja. Rama menatap ku sebentar.
"Ayok balik. " Kata Rama mengalihkan pertanyaan karina.
Aku mematung terdiam sejenak di sana, seharusnya aku yang menggandeng tangan Rama bukan Karina.
Mungkin sekarang aku harus benar-benar merelakan Rama dengan karina, sudah waktunya untuk aku move on dan melupakan semua tentang Rama. Aku tau ini akan sulit tapi aku akan tetap berusaha. Aku tidak ingin terlalu lama terpuruk dalam perasaan sedih, karena bersedih terlalu lama juga tidak terlalu baik untuk diri.
Tapi di sisi lain aku juga senang karena ternyata di ujian kenaikan kelas ini aku mendapatkan ranking dua di kelas.
Memang benar ternyata hidup itu pasti akan ada suka duka nya. Adakalanya kita akan merasa sedih dan terpuruk tapi suatu saat setelah kita bangkit dari keterpurukan itu pasti akan ada kebahagian yang luar biasa sedang menanti kita.
__ADS_1
Dan sekarang aku sedang dalam masa keterpurukan, aku yakin bisa melewati ini semua karena ada orang-orang baik di sekitar ku.