
...HAPPY READING...
...----------------...
Ujian berlangsung selama 2 minggu, dan aku benar-benar tidak fokus untuk itu, karena aku belum mendapatkan bukti bahwa aku bukan pelaku yang mencuri soal-soal ujian itu.
Setelah ujian selesai pak hendri memanggilku untuk ke ruangannya, aku sangat takut.
"Bagaimana? kamu udah nemu pelakunya.? " Kata pak hendri dengan suara tegasnya.
"Belum pak. " Kataku dengan menundukkan kepalaku.
Aku pasrah dan menerima kenyataan kalau aku akan dikeluarkan dari sekolah. Aku menyerah, aku putus asa. Mungkin sudah takdirku hanya sebentar di sini dan harus kembali ke sekolah ku yang lama.
"Sudah sesuai kesepakatan, karena kamu tidak bisa menemukan bukti bahwa kamu tidak bersalah maka kamu akan di keluarkan dari sekolah, sebenarnya bapak juga sangat berat melepas murid baik seperti kamu tapi ini sudah kebijakan dari sekolah dan bapak gak bisa menolong kamu. " Kata pak hendri, yang membuat mataku berkaca-kaca.
"Iya Pak saya paham, tapi beri saya waktu sampai selesai liburan ya pak, saya janji setelah liburan saya akan segera mengurus semua surat kepindahan saya. " Kataku memohon pada pak hendri.
"Bapak minta maaf shinta, tidak bisa berbuat banyak untuk kamu, tapi bapak akan menuruti permintaan terakhir kamu di sekolah ini. " Kata pak hendri.
"Iya Pak. " Kataku, lalu aku berpamitan kepada Pak hendri untuk keluar dari ruangannya.
Diluar ruangan Pak hendri, aku terdiam lalu berjongkok dan menangis sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku, ini benar-benar menjadi akhir ku di sekolah ini.
Aku sangat sedih, aku kecewa karena tidak bisa membuktikan aku tidak bersalah. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus ikhlas menerima semua ini.
Seseorang memegang pipiku ketika aku menangis, lalu aku membuka mata, kulihat ada deo, aku buru-buru menghapus air mataku. Aku tidak ingin terlihat sedih di depan orang lain.
Apalagi di depan deo yang selama ini selalu membantuku dan menyemangati ku.
"Maaf." Kata deo.
"Maaf buat apa.? " Tanyaku heran karena deo tidak membuat kesalahan.
"Maaf karena aku gagal membujuk papa ku untuk tidak mengeluarkan kamu dari sekolah. " Kata deo, aku kaget. Papa? Pak hendri ayahnya deo.?
"Papa.? " Tanyaku lalu mengernyitkan dahi.
"Ah iya aku lupa ngasih tau kamu, pak hendri itu sebenarnya papaku, dan gak banyak orang yang tau karena aku sengaja merahasiakannya. " Kata deo.
"Iya de gak papa, mungkin ini sudah takdir ku. " Kataku dengan senyum yang ku paksakan.
Lalu aku berjalan pelan meninggalkan deo, tapi aku tau deo mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Aku bingung harus bilang apa ke ibu dan Bang Tito nanti? Tapi sebenarnya ibu dan juga Bang Tito sudah mempersiapkan sesuatu jika hal seperti ini benar-benar terjadi.
Ayah akhirnya tau tentang pemersalahanku di sekolah karena ayah bertanya pada ibu apa yang terjadi padaku yang terlihat sangat murung tidak seperti biasanya, ayah tidak marah karena ayah percaya padaku.
Aku menarik nafas panjang, dan mencoba tersenyum walaupun rasanya berat sekali.
Deo mengantar aku pulang, aku menyuruhnya untuk mampir terlebih dahulu tapi dia tidak mau. Dia ingin membiarkan aku sendiri dulu untuk memenangkan pikiran.
Aku segera masuk rumah dengan langkah pelan seperti tidak punya tenaga. Aku melihat ada Bang Tito dan ibu sedang duduk di ruang tamu. Aku pun ikut duduk di sebelah Bang Tito.
"Buk shinta di keluarin dari sekolah " Kataku sambil menahan tangis, rasanya sesak sekali di dada.
Ibu dan bang Tito terdiam sejenak.
"Shinta gak papa kok buk, mungkin ini udah jadi takdir shinta. " Kataku.
"Apa sebaiknya kamu tetap sekolah di kota sini aja shin, daripada balik ke sana. " Kata ibu.
"Gak papa shinta balik ke sana lagi "
"Tapi kamu nanti di sana sama siapa.?" Tanya Bang Tito.
"Nanti shinta bakalan telpon mbak icha, shinta akan tinggal sama mbak icha sampai lulus sekolah. " Kata ku,
Mbak icha adalah orang yang diberi kepercayaan oleh ibu untuk mengurus butiknya yang ada di kota lama ku, dan sudah di anggap anak sama ibu dan ayah.
"Nanti ibu telpon mbak icha dulu ya. " Kata ibu menahan tangisnya.
"Biar shinta aja bu yang telpon. " Kataku, Bang Tito hanya bisa diam tidak bisa berbicara apa lagi. Lalu dia memelukku.
"Maafin abang ya gak bisa ngelakuin apa-apa buat kamu. " Kata Bang Tito, aku membalas pelukannya.
"Gak papa Bang, udah takdir. " Kataku.
"Abang memang kakak yang buruk gak bisa nepatin janji untuk gak bikin kamu nangis. " Katanya, aku merasakan pundak ku terasa basah,lalu aku melepaskan pelukan Bang Tito.
"Abang kakak terhebat yang shinta punya. " Kataku lalu menghapus air mata Bang Tito, aku melihat ibu juga menghapus air matanya.
Setelah ngobrol dengan ibu dan Bang Tito, aku masuk ke kamar lalu duduk di meja belajar ku.
Aku mengambil beberapa foto polaroid yang ada di sana, terdapat banyak sekali fotoku bersama via, Reni, nike dan juga teman-teman yang lain. Aku melihatnya satu persatu,walaupun cuman sebentar tapi rasanya sudah sangat lama aku mengenal mereka semua, apa lagi via.
Berat sekali untukku meninggalkan teman-teman yang sudah sangat baik padaku, selalu ada dibelakang ku untuk memberi dukungan dan semangat.
__ADS_1
"Maafin aku ya teman-teman. " Gumamku.
Aku mulai membereskan semua buku-buku ku yang ada di meja belajar lalu kemasukan ke dalam kardus.
Setelah membereskan buku-buku, aku beranjak untuk merebahkan tubuhku sebentar, lalu duduk lagi untuk menelpon mbak icha untuk memberinya kabar bahwa aku akan tinggal bersama dia.
"Halo." Kata orang di seberang sana.
"Halo, mbak icha ini shinta." Kataku.
"Oh shinta, ada apa shin, tumben telpon. "
"Em gini mbak, shinta mau pindah lagi sekolah lagi ke sana, boleh gak shinta nanti tinggal di sana sama mbak icha sampai lulus sekolah. "
"Boleh banget lah, nanti kan mbak biar ada temannya. "
"Iya mbak makasih ya. "
"Tapi kenapa pindah lagi ke sini.? "
"Nanti deh aku cerita ya. "
"Em ya udah, kapan mau kesini.? "
"Nanti mbak setelah libur sekolah. " Jawabku.
Lalu aku berpamitan kepada mbak icha untuk istirahat dan menutup telponnya.
Pukul delapan malam aku terbangun dari tidur ku, aku ke ruang TV yang di sana masih ada ibu. Lalu aku duduk di sampingnya.
"Shinta tadi udah telpon mbak icha buk. " Kataku, lalu ibu mengalihkan pandangannya dari TV ke aku.
"Terus gimana.? " Tanya ibu.
"Kata mbak icha gak papa. " Jawabku, ibu terdiam sejenak.
"Kamu beneran mau balik lagi ke sana.? " Tanya ibu sekali lagi
"Iya bu shinta yakin. " Jawabku lalu tersenyum pada ibu. Ibu mencium kening ku.
"Udah tidur lagi sana, besok harus ke sekolah kan, katanya mau latihan musik. " Kata ibu.
"Iya bu.?" Kataku lalu ke kamar lagi.
__ADS_1
Besok adalah hari terakhir latihan musik, dan besok aku akan berpamitan kepada semua teman-temanku.
Aku ingin ini semua segera berlalu, karena semakin aku pikir malah terasa semakin sakit.