
...HAPPY READING...
...----------------...
Setelah tau Bang Tito sudah selesai dari masa kritis aku benar-benar merasa lega, aku sudah tidak menangis lagi seperti kemarin.
Tapi aku masih merasa sedih karena Bang Tito tak kunjung sadar.
Ibu tak pernah berhenti berdoa untuk kesembuhan Bang Tito, begitupun juga ayah.
Sebenarnya aku merasa kasihan kepada ayah dan ibu karena semalaman mereka berdua tidak tidur. Aku sudah memaksa mereka untuk pulang saja dan beristirahat biar aku saja yang menjaga Bang Tito tapi mereka tetap tidak mau.
Aku terus menggenggam tangan Bang Tito, aku berharap semoga Bang Tito segera sadar, aku kangen senyuman Bang Tito, aku kangen semua tentang Bang Tito.
Aku meletakkan kepalaku di samping Bang Tito, sebenarnya aku juga capek karena cuman tidur sebentar. Tapi demi menjaga Bang Tito aku rela ngelakuin apapun.
"Bang Tito kapan bangun? Gak kangen ya sama shinta.? " Kataku.
Lalu aku memejamkan mataku, mencoba untuk tidur tapi baru beberapa menit aku memejamkan mata ada sebuah tangan yang mengelus rambutku. Aku tidak membuka mataku karena aku yakin itu pasti ibu menyuruh ku untuk pulang dan istirahat.
Tapi tangan itu terus-terusan mengelus rambutku, seolah ingin aku bangun dan membuka mata.
Akhirnya pun aku bangun dan membuka mataku, tapi gak ku lihat ada siapa-siapa di sana. Akun heran, lalu aku melihat Bang Tito ternyata dia sudah membuka matanya.
"Bang Tito, abang udah bangun. " Kataku girang sampai-sampai keluar air mata karena melihat Bang Tito sudah sadar.
"Shinta, ayah sama ibu mana.? " Tanya Bang Tito lemah sekali.
"Ayah ibu. " Aku berteriak memanggil ayah dan ibu yang ada di luar.
Setelah ku panggil ayah dan ibu masuk ke ruangan.
"Ada apa shinta kok teriak.? " Tanya ibu cemas.
"Liat bu Bang Tito udah sadar. " Kataku pada ayah dan ibu.
Expresi wajah ayah dan ibu seketika berubah menjadi bahagia.
Ya Tuhan terimakasih sekali lagi engkau telah mengabulkan semua doa kami.
"Bang shinta kangen banget sama abang. " Kataku ketika Bang Tito selesai diperiksa oleh dokter.
Bang Tito menghapus air mataku yang keluar lagi.
"Abang juga kangen, kamu jangan nangis ya, kamu tau kan abang paling gak bisa liat kamu nangis. " Kata Bang Tito dengan tersenyum, aku juga.
"Shinta takut aja kalau harus kehilangan Bang Tito. "
"Abang gak bakal ninggalin kamu, kan abang udah janji bakal jagain kamu. " Kata Bang Tito, lalu aku memeluknya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak memeluknya. Bang Tito membalas pelukan dengan mengelus-ngelus rambutku.
"Shinta biarin Bang Tito istirahat dulu ya. " Kata ayah.
"Iya yah. " Kataku lalu meninggalkan kamar Bang Tito.
Sekitar pukul tiga sore aku mendapatkan panggilan telpon dari via, aku buru-buru mengangkatnya.
"Halo vi. " Sapa ku.
"Halo shin, abang kamu di rawat di ruang apa ya.? " Tanya via lalu aku memberitahu diruang apa Bang Tito dirawat.
Setelah lima belas menit via menelpon, via datang tapi tidak sendirian. Dia bersama kak iva, mamad, dan juga Rama. Aku senang sekali ada Rama di sini. Karena dari kemarin aku tidak mengabarinya sama sekali.
"Kak iva. " Sapa ku, kak iva memelukku lalu menghampiri ayah, ibu dan mencium tangannya
"Buk gimana keadaan Tito.? " Tanya kak iva, kulihat wajahnya nampak khawatir.
"Alhamdulillah sekarang Tito udah siuman, tante lega sekali. " Kata ibu yang membuat kak iva tersenyum.
"Alhamdulillah, buk saya boleh liat Tito ke dalam.? "
"Boleh." Kata ibu mempersilahkan, lalu kak iva masuk ke dalam.
Aku menghampiri kawan-kawanku itu yang masih memakai seragam sekolah.
__ADS_1
"Langsung ke sini tadi.? " Tanya ku.
"Iya shin, sebenarnya mau kemarin ke sini tapi kamu gak bisa di hubungi sama sekali. " Kata via.
"Aduh maaf ya, soalnya kemarin aku benar-benar gak mikir apa -apa selain Bang Tito. " Kataku. Via hanya tersenyum lalu menepuk pundak ku memaklumi.
"Tapi sekarang abang kamu gak papa kan shin.? " Tanya mamad.
"Alhamdulillah udah sadar mad, sebelumnya sempat kritis tapi sekarang udah sadar kok " Kataku dengan tersenyum.
Lalu aku menatap Rama, dia juga tengah menatapku, aku tersenyum malu.
"Eh duduk gih jangan berdiri aja. " Kataku, lalu via dan mamad duduk tapi Rama tidak.
"Duduk ram. " Kataku pada Rama.
"Iya." Katanya lalu duduk, aku pun ikut duduk di sebelah Rama.
"Matamu bengkak. " Kata Rama, aku tersenyum malu-malu.
"Hehe iya. " Kataku
"Pasti nangisnya lama. " Katanya.
"Nggak."
"Kok sampek bengkak. "
"Gak tau nih. " Kataku yang membuat Rama tertawa kecil.
"Aku gak suka kamu nangis. " Katanya.
"Terus sukanya aku ngapain. "
"Aku suka kamu senyum" Katanya yang membuat aku tersenyum senang.
"Ini aku senyum"
"Jangan sampai hilang "
"Senyummu."
"Kalau hilang gimana.? "
"Aku bakalan sedih. "
"Selama ada kamu, pasti gak akan hilang, kamu yang jaga. " Kataku yang membuat di tersenyum.
Aku senang karena ada Rama, via dan mamad di sini yang menghiburku. Dan terlebih ada kak iva yang menjenguk Bang Tito. Aku yakin Bang Tito sangat bahagia karena ada kak iva di sini, secara kak iva adalah orang yang di cintai oleh Bang Tito.
Rama terus menggandeng tanganku erat seolah tak ingin di lepas. Dia menyuruh ku untuk menyandarkan kepalaku di pundaknya. Awalanya aku menolak karena malu jika ayah dan ibu melihat tapi ternyata Rama meminta izin dulu kepada ayah dan ibu akhirnya aku pun mau. Katanya aku terlihat sangat lelah, dan itu memang benar.
Aku terbangun ketika leherku terasa sakit, ternyata aku ketiduran. Tapi saat aku bangun aku tak melihat ada via dan juga mamad di sampingku.
"Loh ram via mamad mana.? " Tanya ku heran.
"Udah pulang dari tadi. " Katanya.
"Loh kok gak pamitan dulu. "
"Tadi mau pamitan sama kamu tapi kamunya tidur, dia gak tega buat bangunin jadi cuman pamitan sama aku, ayah dan ibu. " Katanya menjelaskan.
"Kalo kak iva juga pulang.? "
"Iya." Jawab Rama singkat. Aku hanya mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.
Saat aku dan Rama sedang ngobrol-ngobrol asyik tiba-tiba ayah ikut nimbrung dan duduk di sebelah Rama.
"Rama." Kata ayah.
"Iya om. " Jawab Rama.
"Kamu gak pulang.? " Tanya ayah.
__ADS_1
"Pulang om. "
"Makasih ya udah ada buat shinta anak om. " Kata ayah yang membuat aku tersenyum malu.
"Iya om, tapi pundak saya ini capek gara-gara shinta tidurnya lama banget. " Kata Rama yang membuat aku dan ayah tertawa kecil.
"Ileran gak dia.? " Tanya ayah masih dengan tertawa.
"Kayaknya iya om. " Jawab Rama yang membuat aku langsung memukul pundaknya karena kesal, dia dan ayah malah tertawa.
"Ih aku gak ileran. " Kataku kesal.
"Kan kamu tidur, jadinya gak tau. " Katanya yang membuat aku semakin cemberut.
"Udah udah jangan berantem, shinta sekarang kamu pulang aja nya sama Rama, ayah tau kamu capek. " Kata ayah.
"Tapi yah. "
"Udah gak ada tapi-tapian. " Kata ayah yang membuat aku menganggukan kepala karena pasrah.
"Iya yah. "
"Ya udah Rama om titip shinta ya, kamu anterin pulang, kasihan dia dari kemarin di sini. " Kata ayah pada Rama.
"Iya om. " Jawab Rama.
Aku dan Rama pun berpmitan kepada ayah dan ibu tapi sebelum pulang aku juga pamitan kepada Bang Tito, aku memberinya pesan kalau ada apa-apa harus memberitahuku.
"Mau makan dulu.? " Tanya Rama saat kami ada di perjalanan.
"Boleh, laper banget nih. " Jawabku.
Rama tersenyum, aku melihatnya dari kaca spion, dia juga tengah melirikku.
Dia mengajakku makan nasi goreng yang ada di pinggir jalan dekat dengan sekolah.
"Rama kamu gak di cariin sama mamamu.? " Tanyaku sambil mengunyah nasi goreng.
"Enggak, malah kamu yang dicari. " Katanya, yang membuat aku melongo.
"Kok aku.? " Tanya ku heran.
"Gak tau kata mama, shinta mana kok gak pernah kesini lagi. " Katanya yang membuat aku tersenyum.
"Bilangin, iya nanti shinta ke sana kalau ada waktu. "
"Kata mama, kapan.? "
"Nunggu di ajak sama Rama. " Kataku yang membuat dia tersenyum, aku juga.
Setelah makan Rama langsung mengajakku untuk pulang, aku pun mengiyakan karena aku sudah merasa lelah.
"Makasih." Kataku ketika kami sudah ada di depan rumah.
"Sama-sama, habis ini langsung tidur ya. " Katanya.
"Iya, kamu juga. "
"Aku habis ini mau pijet dulu. " Kata Rama yang membuat aku heran.
"Kenalan pijet.? " Tanyaku heran.
"Pundak Ku sakit gara-gara kamu harus pijet ini. " Jawabnya, yang lagi-lagi membuat aku kesal lalu memukul pundaknya.
"Apaan sih. " Kataku kesal. Dia malah tertawa.
"Haha nggak-nggak , ya udah sana masuk. " Katanya.
"Iya, kamu hati-hati. " Kataku.
"Iya." Katanya lalu beranjak pergi dari rumah.
Terima kasih Rama, di saat seperti ini kamu selalu ada untuk aku, ada untuk menghiburku, ada untuk menjagaku. Aku beruntung karena bertemu dengan kamu dalam hidupku. Bagiku itu adalah kebahagiaan tersendiri dalam diriku.
__ADS_1
Dan semoga kita tidak akan pernah merasa bosan satu sama lain untuk saling mengingatkan, menjaga, dan juga saling suka, hehe.