
Hanya dengan mengingatmu. Senyum terukir dibibirku. Dan saat kita bersama. Kata pisah terasa asing bagi kita.
...****************...
“Zahra…” panggilnya dengan setengah berteriak. Lelaki berseragam putih abu-abu melangkah cepat ke arah gadis yang dipanggilnya.
Dengan wajah sumringah dilebarkannya senyum di bibir plump berwarna semburat pink yang menjadi pesona khas miliknya. Remaja laki-laki beramata sayup dengan bulu mata yang lentik itu tak lain adalah Angga.
“Ra,-“
“Dio, mau ke kelas, ya? Barengan, yuks!”
Bukannya menjawab panggilan dari Angga, Zahra justru melenggang pergi dengan Dio teman sekelasnnya dan menyisahkan Angga yang terdiam di tempat dengan wajah kecut dan senyum yang seketika sirna.
Angga masih setia memandangi Zahra yang melagkah menjauh dan sesekali terhalang siswa-siswi yang berlalu lalang di koridor. Ada perasaan kalut dalam benak Angga.
Entah kenapa, akhir-akhir ini Angga merasa akan terbentang jarak diantara dia dan Zahra.
“Jangan pergi, Ra!” gumamnya pelan, tersirat rasa takut kehilangan dalam ucapnya.
...****************...
Muka jutek dengan raut penuh kekesalan nampak jelas diwajahnya. Dengan kasar ia mendudukan dirinya di bangku lalu menopang dagu dengan kedua tangannya yang bertumpuh di meja. Ditariknya napas dalam-dalam dan dihembuskannya dengan kasar.
“Heeuuhh...” Bibir kecil berisinya bermanyun lancip menjadi gaya khas Zahra ketika merajuk.
“Kenapa, Ra?” tanya Hani yang sedari tadi memperhatikan teman sebangkunya bertingkah layaknya balita ngambek.
”.......”
“Angga mana, Ra?” tanya Hani.
“Tauk, Zahra kesel sama Angga.”
“Emang Angga kenapa?”
“Angga ngeselin. Apaan, dia dideketin cewek-cewek malah seneng gitu, genit banget!” jawabnya dengan nada penuh kekesalan.
Bibir manyun pun bertambah semakin manyun. Tapi wajah manyun Zahra bukannya membuat orang yang melihatnya merasa kesal, tapi justru merasa gemas. Mata lentik bagai rusa, hidung mancung kecil dan pipi mulus merona merah.
“Jadi ceritanya ini lagi marahan sama Angga?” tanya Hani dengan nada menggoda. Kemudian tersenyum melihat tingkah childish Zahra.
“Ra, kamu tau gak rumus perpindahan?”
“Hani… apaan, sih! Udah tau orang lagi bete malah ditanyain soal fisika. Gak nyambung ama topiknya.”
“Nyambung, Ra. Nih, aku kasih tau, ya. Rumus perpindahan itu, saat X bergerak ke arah timur dan Y bergerak ke arah barat, maka akan menimbulkan jarak, dan semakin besar jarak maka akan semakin besar perpindahan yang terjadi.” Terang Hani dengan gaya yang meyakinkan.
“Trus hubungannya apa?” Tanya Zahra yang mulai tertarik tapi masih tidak memahami.
“Jadi artinya itu, semakin besar jarak antara Angga dan Zahra maka akan semakin besar kemungkinan adanya perpindahan hati-“ Hani belum menyelesaikan kata-katanya tapi Zahra tiba-tiba berdiri dengan menggebrak meja namun tetap dengan gaya anggunnya.
“GAK BISA DIBIARIN!” teriakan tertahan Zahra dengan gaya khas manjahnya.
__ADS_1
“Zahra harus nemuin Angga sekarang.” Tanpa basa-basi, Zahra secepat kilat meluncur mencari Angga, dan di kelas menyisakan Hani yang tertawa kegelian.
“Hahahahha…” tawa gelinya melihat tingkah Zahra. “Dasar si Zahra, mau ajah dikibulin, mana ada sih rumus kayak begitu.”
...****************...
Zahra mengedarkan pandangannya berusaha menemukan sosok yang dicari. Ia berhenti sejenak mencoba berpikir dimana kira-kira keberadaan Angga. Dengan tangan kanan berkacak pinggang dan tangan kirinya mengacak-acak kepalanya yang tidak gatal.
“Angga kemana, sih?” gerutunya kesal.
Lalu ia pun melanjutkan langkahnya menyusuri koridor kelas sampai akhirnya ia menemukan sosok yang dicarinya, tapi bukannya merasa senang, Zahra justru merasa kesal. Zahra melihat Angga sedang berdiri sambil mengobrol dengan seorang cewek.
“Anggaa......” geramnya.
Dengan langkah yang dihentakkan Zahra mendekat ke arah Angga. Dan tanpa peringat langsung saja ia menyerang Angga dengan hantaman bertubi-tubi dari genggaman tangannya yang kecil.
“Yah.., Angga resek...ressek...ngeselin.”cicitnya setengah berteriak.
Angga yang diserang secara tiba-tiba tanpa peringatan, sontak saja merasa kaget.
“Aduuhh, Ra.. apaan, sih!” reflek Angga berusaha menghindari hantaman manjah dari Zahra.
Bukannya menjawab perkataan Angga, Zahra justru memilih pergi meninggal Angga dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan. Dengan wajah mendongak dan bibir meruncing karna marah.
Angga yang paham dengan kelakuan sahabatnya ini dengan buru-buru ia menyusulnya.
“Eh, vina, aku duluan, ya.” Pamitnya buru-buru pada cewek yang sedari tadi diajaknya ngobrol bersama.
Dengan berlari Angga berusaha menyusul Zahra. Dan tak butuh banyak langkah Angga kini sudah berada persis di samping Zahra.
“Cemburu!” tebaknya.
“......” Zahra diam tak menjawab.
“Tadi katanya gak mau ama Angga. Bahkan tadi Angga dicuekin.” Godanya. “Kalo orang cemburu gitu tandanya apa, ya?”
“Iihhh... Angga. Udah, ya! Zahra kesel ama Angga. Resek ngeselin.”
Dengan rona merah yang mulai menyebar di pipinya. Secepat kilat Zahra berlari meninggalkan Angga. Wajah tersipu malunya, jangan sampai ketahuan oleh Angga.
Dan sekali lagi, Angga hanya diam mematung namun dengan tersenyum. Ia paham betul dengan tingkah Zahra. Gaya manja Zahra adalah daya tarik tersendiri baginya. Lagi dan lagi, Angga terpesona dengan Zahra untuk yang kesekian kalinya.
“Zahra.” Gumamnya masih dalam keterpakuannya.
...****************...
Zahra duduk dengan bertopang dagu. Bibirnya mengerucut, wajahnya pun cemberut.
"Zahra." Panggil Angga dengan nada menggoda.
"......" Zahra hanya diam.
Angga menoleh, dipandangnya wajah marah Zahra. 'Bahkan ketika marah pun kau nampak indah.' Batin Angga.
"Marah?" tanya Angga yang masih setia memandangi wajah Zahra, dan jangan lupakan senyum Angga yang merekah.
__ADS_1
"Ciee... marah nih, yeeh." godanya lagi.
"Ra,"
"Zahra."
Zahra masih bertahan dalam diamnya. Bahkan bibir manyunnya semakin berkerut. Deru napas marahnya pun terdengar nyata.
Tanpa berkata-kata lagi, Angga pun mengambil ponselnya lalu menjepret wajah cemberut Zahra.
"Angga... apa, sih! Gak lucu, tau!"
Akhirnya, kediaman Zahra pun runtuh sudah.
"Sini, ayo hapus!" Titahnya dengan berusaha merebut ponsel Angga.
"Angga, sini ponselnya....."
Bukannya menuruti, Angga justru menyembunyikan ponselnya dan dengan senyum yang menggoda.
"Angga....." Teriak Zahra.
"Wooiiii.... berisik!" sahut salah seorang teman di kelas.
"Kalo mau pacaran, noh di taman. Jangan di kelas."
"Enak, ajah. Siapa yang pacaran?" Elak Zahra tak terima.
"Yah luh lah, masak gue."
"Enggak-"
"Udah-udah, iya ini aku hapus." Ucap Angga berusaha melerai adu mulut antara Zahra dan temannya.
"Prahara rumah tangga." Imbuh temannya mengejek.
"REZEEGG."
"Udah, Ra." Pinta Angga menenangkan.
Cinta tak pernah buta
Karna cinta mampu melihat keindahan yang tak kasat mata
Entah itu tawa atau marah
Entah itu canda atau tanpa kata
Semuanya bermakna dalam cinta
Karna bagiku...
Senyummu adalah bahagiaku
Tangismu adalah dukaku
__ADS_1
**to be continue**