AZZA

AZZA
Potongan Kisah


__ADS_3

Zahra dan Hani sedang berjalan santai dan berakhir mendudukkan dirinya di salah satu bangku kantin. Belum ada semenit mereka di sana, tiba-tiba terdengar bisik-bisik dari cewek-cewek yang sedang duduk bergerombol tak jauh dari tempat duduk Hani dan Zahra.


“Oh itu yang namanya Zahra, yang sampai dibela-belain Angga buat ngelabrak Susan dan Santi.” Ucap salah seorang cewek dari gerombolan itu.


“Eh, bukan cuma Angga, itu temen ceweknya juga ikut ngelabrak Susan dan Santi.” Imbuh yang lain menambahi bahan gosip.


“Tapi katanya emang Susan dan Santi yang bikin gara-gara ngelabrak Zahra duluan.”


“Yah itukan karena Zahranya sok kecakepan.” Sahut yang lainnya.


Suara rumpi mereka terdengar jelas oleh Hani dan Zahra. Tapi Hani hanya diam berusaha berpura-pura tak dengar apa-apa.


“Hani.” Panggil Zahra pelan.


“Hmm?” lagak ***** Hani.


“Emangnya kapan kamu dan Angga ngelabrak Susan dan Santi?” tanya Zahra pelan.


“Ngelabrak apa?” elak Hani.


Mukanya masam, matanya menatap garang, ekspresi Zahra yang dibuat-buat sukses membuat Hani ngeri.


“Hani…” panggil Zahra bernada peringatan.


“Iyaya, apa?” kata Hani tanpa berani memandang ekspresi wajah Zahra.


“Yang mereka bilang itu bener?”


“Yang mana?”


“Jangan pura-pura gak denger, di sini aku bisa denger jelas, gak mungkin kamu gak denger.”


“Iya, terus kenapa, Ra?” tanya Hani yang masih berusaha mengelak dari fakta.


“Kamu dan Angga ngelabrak Susan dan Santi?”


“Iya.” Singkat Hani.


“Kapan?”


“Kemarin.”


“Kok aku gak tahu?”


“Ya emang gak dikasih tahu.”


“Kenapa gitu?”


“Ya biar kamu nanti gak ikut kena masalah kalau sampai guru BP tahu.”


“Ahh.. kalian ini gak asyik. Padahal aku juga ingin ikut. Jujur dari lubuk hatiku yang terdalam aku tuh pengen banget ngelabrak balik mereka, cuma aku gak berani ajah.” Terang Zahra dengan rasa gemasnya.


“Udahlah, Ra. Gak penting juga mereka itu, lagian kita ngelabrak mereka cuma mau kasih peringatan ajah biar gak gangguin kamu lagi.”


“Yah tapi aku tuh pengen bales mereka yang udah seenakya tonyor-tonyor.” Ucap Zahra dengan ekspresi kekesalan.

__ADS_1


“Kamu ditonyor?” tanya Hani antusias dan Zahra menjawab dengan anggukan.


“Memang kurang ajar mereka itu, tahu gitu sekalian aku guyur ajah mereka.”


“Harusnya gitu!”


“Yaudah, ini kita mau makan apa?” tanya Hani.


“Makan Susan dan Santi.” Jawab Zahra.


“Jangan, gak enak!”


Adegan percakapan Hani dan Zahra di kantin sekolah itu terus berlanjut. Dengan topik-topik receh namun cukup ampuh mengusir ketegangan pikiran.


...****************...


“Bro, gak ke kantin?” tanya Andi.


Angga menggeleng sebagai jawaban.


“Kenapa? Gak laper?” tanya Andi lagi.


“Lagi males ajah. Gak selera.” Jawab Angga singkat.


“Ohh...” Andi ber ‘o’ ria.


Angga masih dengan kelesuhannya. Tatapannya kosong dan jari-jarinya membolak-balik, memutar, dan menjungkir balik ponselnya tak beraturan.


Andi hanya memandangi temannya yang nampaknya sedang ada masalah itu. Rasa hati ia ingin bertanya, tapi sepertinya Angga sedang tak ingin berbagi kisah.


Angga mengangguk-angguk, tanda ia mengiyakan kata-kata Andi. Sejujurnya, Angga tengah memikirkan Zahra yang sudah mendiamkannya sejak kemarin.


‘Kenapa Zahra marahnya ke Angga. Padahal yang mau menikah kan Papa.’ Batin Angga.


‘Apa karena perkataanku yang kemarin, yang bilang kalau tak ada istilah mantan papa. Apa Zahra marah karena itu?’ Angga terus mengira-ngira sebab kemarahan Zahra.


‘Padahal aku sudah bertanya secara langsung, tapi Zahra malah menghindar. Lah apalagi aku chat, palingan juga gak dibales.’ Angga terus bersuara dalam hatinya. Ia sampai tak sadar bahwa kini bibirya tengah manyun-manyun monyong.


“Bro, push rank! Daripada suntuk.” Ajak Andi.


Lagi-lagi Angga mengangguk, “Kuy!” jawabnya.


Mereka bukan pecandu game, tapi mereka juga bukan anti game. Saat rasa penat begitu mendominasi, bermain game adalah cara mereka melarikan diri.


Biarlah penat terasa mengikat


Menggelayuti diri mengundang letih


Menyeret langkah memaksa tuk bergerak


Berniat diri terlolos dari rasa yang menjerat


...****************...


“Kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu, Mas! Kamu gak pernah ada waktu untukku dan Zahra.”

__ADS_1


“Aku lakuin ini semua juga demi kalian. Biar bisa hidup berkecukupan.” Elaknya.


“Hidup kita sudah berkecukupan, Mas. Tanpa kamu kerja lembur dan gak pulang berhari-hari, kita juga sudah bisa makan enak.”


“Kamu ini kenapa, sih? Setiap aku pulang selalu saja kamu ajak berantem.” Lemah Papa.


“Udahlah, Mas! Aku juga udah capek. Aku jelasin sampai berbusa juga kamu gak bakal ngerti, karena kamu gak pernah mau mengerti!” pungkasnya lalu melenggang pergi begitu saja.


Pertengkaran kedua orangtua itu tanpa mereka sadari bahwa ada seorang gadis kecil yang tengah mengintip di balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Gadis itu hanya bisa diam menyaksikan Mom dan Papa yang lebih sering bertengkar daripada berbagi kasih sayang.


Setelah pertengkaran itu usai, gadis kecil itu menutup pintu kamarnya dan kembali memposisikan diri untuk tidur di ranjangnya.


"Kenapa Mom dan Papa Zahra selalu bertengkar? Apa Mom dan Papa tidak saling menyayangi?" tanyanya seorang diri.


Gadis kecil itu baru berusia 5 tahun. Ia tak cukup memahami tentang kehidupan. Ia hanya tahu bahwa ia begitu menyayangi Mom dan Papa. Tak ada pilih kasih siapa yang lebih disayangi dari keduanya. Ia hanya berharap semua akan membaik dan tidak ada lagi pertengkaran antara Mom dan Papa.


...****************...


Matahari sudah berada di ujung barat. Rona jingga kemerahan bahkan sudah mulai bersemu menampakkan dirinya.


Angga masih terpaku diam dari duduknya di salah satu bangku taman tempat yang dulu pernah ia datangi dengan Zahra sembari meminum soda.


‘Heuh...’ Hela napas Angga.


‘Doink’ bunyi pesan masuk dari ponsel Angga.


Mama : Sayang, belum pulang?


“Mama.” Ucap Angga lemah.


‘Doink’


Tertera di notifikasi.


Mama : Semua baik-baik saja, kan?


Angga menatap lesuh layar ponselnya, ia hanya membaca pesan Mama dari notifikasi tanpa ada niatan untuk membukanya.


Entahlah, Angga pun tak tahu. Hanya karena diamnya Zahra, hilanglah ketenangan dalam hidup Angga. Waktunya terusik penuh oleh pikiran tentang Zahra.


Angga tak mau Mama menjadi cemas karena sikap lesuhnya. Itulah kenapa Angga memilih untuk duduk di taman daripada langsung pulang ke rumah. Ia hanya ingin menenangkan dirinya sejenak saja.


Diangkatnya lagi ponselnya, ditariknya tanda notifikasi di bagian atas layar ponselnya, dan dibacanya lagi pesan dari Mama.


‘Heuh..’ lagi-lagi Angga menghela napasnya.


Dengan lesuh Angga memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Kemudian ia beranjak dari duduknya dan mulai menaiki sepedanya.


‘Angga pulang, Ma.’ Jawab Angga untuk pesan-pesan Mama, namun hanya sebatas dalam batinnya.


Kakinya yang terasa lemah tak bertenaga itu akhirnya mengayuh pedal sepeda dan bergerak menuju jalan pulang ke rumah.


Rumah adalah satu-satunya tempat untuk berpulang bagi Angga.


to be continue....

__ADS_1


__ADS_2