
Mata yang sedari tadi terpejam itu akhirnya terbuka. Ia mengerjap-ngerjap membiasakan dengan cahaya yang terasa menyilaukan. Tangannya terangkat tepat menyentuh keningnya.
“Plaster demam?”
Dengan perlahan ia bangkit dari posisi tidurnya. Diambilnya plaster demam yang melekat di keningnya. Dipandanginya sejenak plaster itu kemudian diletakkannya di meja nakas kamar.
Dengan setengah gontai ia berjalan melangkah keluar dari kamarnya. Jujur ia merasa lemas.
“Angga.” Kaget Mama.
“Kamu sudah bangun, Nak?”
Dengan bergegas Mama mendekat ke arah Angga. Lalu ditempelkannya punggung tangan Mama ke kening Angga.
“Alhamdulillah, demammu sudah turun.”
Angga celingukan, mencoba mencari jam dinding yang sekiranya bisa memberinya petunjuk pukul berapakah sekarang.
Jarum jam pendek berada di angka tiga dan jarum jam panjang berada tepat di angka dua belas.
“Pukul tiga sore!” kagetnya.
“Berarti aku tidur selama sehari penuh.”
“Iya, sayang. Semalam kamu tiba-tiba demam bahkan menggigil. kamu membuat Mama cemas, Nak.”
Angga mencoba mencerna apa yang ia dengar. Tapi tiba-tiba badannya terhuyung nyaris terjatuh ke belakang.
“Astaga!” reflek Mama memegangi badan Angga agar tak terjatuh.
“Duduk sini!” didudukannya Angga di kursi dapur.
“Mama buatkan bubur, ya”
“Gak usah, Ma.”
“Tapi kamu belum makan sama sekali.”
“Gapapa, Angga gak lapar.”
“Tapi kamu harus makan.”
“Angga gak suka bubur.”
“....” Mama tak lagi berkata-kata, tapi tatapannya tajam menusuk dan memaksa.
“Kue choux pastry.” Jawab Angga.
“Angga mau kue choux pastry saja.” Pungkasnya.
Dengan sisa tenaganya, Angga bangkit dari posisi duduknya kemudian melangkah menuju kembali ke kamarnya.
...****************...
“Haduh...” keluhnya pelan.
Perjalanan dari dapur ke kamar terasa begitu amat melelahkan. Napasnya bahkan setengah tersengal.
Sesaat kemudian pandangannya tertuju pada ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas.
Diraihnya ponsel itu dengan sekuat tenaga.
“Zahra.” Ucapnya saat melihat notifikasi pesan masuk.
Dibukanya pesan dari Zahra.
Zahra : Angga.
...****************...
Detik demi detik terasa amat menyiksa
__ADS_1
Pujaan hati tak terlihat entah bagaimana kabarnya
Aduhai, alangkah malangnya
Di benak penuh tanda tanya
Namun tak tahu harus pada siapa mencari jawabnya
Zahra baru saja selesai dengan acara mandi sorenya. Direbahkannya badan penatnya yang kini sudah lebih segar.
Pandangan kosongnya menatap ke arah atap langit-langit kamar. Sejenak ia terhanyut dalam lamunannya sampai akhirnya nada pesan masuk terdengar oleh telinganya.
Dengan cepat disautnya ponsel yang tergeletak di kasur tak jauh dari tempat ia rebahan.
Zahra : Angga.
Angga : Iya, Ra.
Matanya berbinar, dengan antusias diketiknya pesan balasan.
Zahra : Angga baik-baik saja?
Angga : Iya, Ra.
Zahra : Angga sakit?
Angga : Cuma demam
Zahra : Sudah periksa ke dokter?
Angga : Gak usah.
Zahra : Zahra serius.
Angga : Angga juga serius.
Zahra terdiam, ia bingung harus membalas apa. Sejujurnya Zahra ingin sekali menanyakan tentang pertemuan Angga dengan calon papa di kedai kemarin sore. Tapi saat ini Angga sedang sakit, sangat tidak pantas jika Zahra tanyakan hal itu sekarang.
Akhirnya Zahra pun mengetikkan kalimat lain yang tidak ada kaitannya dengan calon papa.
Angga : Sudah tidak.
Zahra : Sudah minum obat?
Angga : Gak suka obat.
Zahra mengerucutkan bibirnya. Ia bingung mencari bahan bahasan.
Zahra : Yasudah, Angga istirahat ajah!
Angga : Iya
Angga : Makasih, Ra.
Zahra : Lekas sembuh, ya! Rara kesepian tanpa Angga.
5 detik
10 detik
30 detik
Angga : Oke.
“Oke?” baca Zahra.
“Zahra menunggu selama 30 detik dan balasannya hanya kata ok"
“Angga rezeg!” keluhnya kesal sembari melempar ponselnya ke sembarang arah.
...****************...
__ADS_1
Lain Zahra, lain pula Angga. Jika Zahra merasa kesal dengan chat terakhir Angga. Lain halnya dengan Angga yang saat ini justru tersipu dengan senyum lembut di bibirnya.
‘Lekas sembuh, ya! Rara kesepian tanpa Angga.’
Dibacanya kembali pesan dari Zahra dan senyum pun kian mengembang di bibirnya.
“Angga juga merasa sepi tanpa Zahra.”
‘ceklek’ suara gagang pintu yang ditarik disusul dengan pintu kamar yang akhirnya terbuka.
Mama dengan kue choux pastry di tangannya melangkah mendekat ke arah Angga yang duduk di tempat tidur dengan bersandar di kepala ranjang.
“Ini, sayang, kuenya.”
Mama duduk di samping Angga. Dibukanya segel platik kue itu lalu disuapkannya ke mulut putra tercintanya.
“Angga bisa sendiri, Ma.” Kilah Angga menolak suapan dari Mama.
Diambilnya kue choux pastry dari tangan Mama. Dengan gerakan pelan dimakannya kue choux pastry dengan vla manis yang nyaman di mulut hambarnya.
Sekali lagi, Mama menempelkan punggung tangannya ke kening, pipi, dan leher Angga.
“Demamnya sudah reda."
“Angga baik-baik saja, Ma!”
“Semalam demamnya tinggi sekali. Mama sangat cemas.”
“Sekarang, kan sudah tidak demam.”
‘Heuuhh....’ Mama menghela napas pelan.
Dilihatnya Angga yang melahap kue choux pastry dengan vla manis yang nikmat.
“Apa kamu merasa terbebani dengan rencana pernikahan Mama?” tanya Mama pelan.
Sontak Angga menghentikan aksi makannya. Kerongkongannya terasa tercekat seketika.
‘Ehhmmm,’ Angga berdehem berusaha melonggarkan kembali kerongkongannya.
“Apa Angga kurang suka dengan Om Agus untuk jadi calon papa Angga?”
“Ma....” ucapannya terpotong oleh kue sus yang mendesak ingin ditelan.
“Angga, Mama hafal betul kebiasan kamu. Saat tertekan atau terlalu banyak pikiran kamu pasti sakit seperti ini.”
“Angga sakit karena memang sudah waktunya sakit, Ma.”
“Sepulang dari kedai kamu terlihat lemas. Malam harinya saat Mama melihatmu di kamar ternyata kamu demam tinggi. Padahal sebelumnya kamu baik-baik saja.” Cecar Mama yang berusaha mendapat jawaban jujur dari Angga.
“Jika Angga merasa terbebani dengan ini, katakan saja, Nak!”
“Ma...”
“Angga bahagia saat Mama bahagia. Angga sama sekali tidak terbebani dengan rencana pernikahan Mama. Om Agus jug terlihat baik dan Angga tidak ada masalah dengan ini semua.”
“Tapi kenapa kamu tiba-tiba sakit, sayang?”
“Angga sakit karena memang sudah takdirnya sakit. Lagi pula Angga cuma demam biasa dan sekarang sudah baik-baik saja.”
“.......” raut mukanya masam. Mama tak tahu apakah Angga mengatakan kejujuran atau kebohongan.
Memahami kegelisahan Mama, tanpa berkata apapun lagi, diraihnya Mama ke dalam pelukannya. Dirasakannya hangat dan nyamannya rangkulan ini.
Dieratkannya dekapannya seolah meminta kehangat lebih.
“Angga sayang Mama!”
Mama tahu Angga sedang tidak baik-baik saja. Hanya saja Mama tidak tahu pasti apa penyebabnya. Mama hanya menduga-duga kemungkinan akar masalahnya. Sekedar firasat Mama, sepertinya Angga merasa kurang senang dengan rencana pernikahan Mama. Bahkan seolah terbebani dan tak ingin pernikahan ini terjadi.
“Mama sangat menyayangimu, Nak! Mama sangat sangat menyayangimu!”
__ADS_1
Seolah magma panas terasa mengalir di hati Angga. Perasaan bersalah karena ia tak bisa mengatakan perasaannya yang sesungguhnya. Mama benar, Angga merasa tertekan dengan rencana pernikahan Mama. Angga berpikir keras bahkan sangat keras hingga ia merasa lemas dan berakhir dengan demam tinggi. Tapi meski begitu, sesungguhnya Angga pun tak tahu hal apa yang membuatnya merasa sangat gelisah dengan rencana pernikahan Mama. Angga hanya merasa sepertinya ini bukan sesuatu yang berakhir bahagia.
~to be continue~