
Azza, dalam bahasa arab artinya kenyamanan. Bagi setiap manusia kenyamanan adalah rasa yang didamba. Tiada suatu hubungan yang mampu bertahan tanpa adanya kenyamanan.
...****************...
“Zahra…” panggil Angga.
Sejenak Zahra menoleh namun kemudian ia melangkah pergi mengabaikan panggilan Angga.
Angga terheran, tak seperti biasanya Zahra mengabaikan panggilannya.
Dengan langkah yang dipercepat Angga berusaha mengejar Zahra.
Langkah sudah dipercepat namun masih saja terlambat. Saat Angga menyamai langkah Zahra, mereka sudah sampai di kelas yang sudah ramai.
‘Aissshh, gagal deh niat berduaan dengan Zahra.’ Batin Angga.
Zahra masih dengan sikap abainya pada Angga. Dia meletakkan tasnya di meja dan mendudukkan dirinya di bangku samping Hani yang sudah terlebih dulu datang.
“Pagi, Ra.” Sapa Angga yang berdiri di samping meja Zahra. Dan sekali lagi, Zahra hanya acuh.
“Ra?”
“Hani, lihat tugas fisikanya boleh? Aku belum mengerjakan tugasku.”
Bukannya menjawab panggilan Angga, Zahra justru bersikap seolah Angga makhluk transparan yang tak terlihat.
Angga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia celingukan berasa dikacangin.
“Hai Hani.” Kali ini Angga berganti menyapa Hani dengan wajah nyengir, dan Hani paham betul arti cengiran itu.
...****************...
Para penghuni kelas sudah berhambur keluar kelas sesaat bel istirahat berdering nyaring. Bagi mereka, deringan yang paling ditunggu hanyalah deringan bel istirahat dan bel pulang sekolah.
“Ra, ke kantin, yuk!” ajak Hani.
“Maaf Hani, Zahra mau ke perpus saja.”
Hani terheran bahkan tanpa sadar matanya melotot. Sepanjang sejarah Hani menjadi teman Zahra, ini pertama kalinya Zahra bilang ingin ke perpus.
“Ra, Angga temenin ke perpus, ya.” Tawar Angga yang sudah siap siaga di samping Zahra.
“Gak usah.”
“Gapapa, Angga juga mau ke perpus, kok.”
“Zahra lagi pengen sendiri, gak mau diganggu.”
Masih dengan sikap dinginnya, Zahra melangkah meninggalkan Angga dan Hani yang terheran dan penuh tanya.
Angga dan Hani saling pandang kemudian saling menggidikkan bahu.
“Zahra kenapa?”
“Aku juga tidak tahu, Hani.”
“Aishh, tidak biasanya dia begitu.”
“Apa kita buntutin dia ajah, ya?”
“Kalo dia makin marah gimana?”
“Hhhmm...”
...****************...
Zahra berada tepat di pintu masuk perpustakaan. Ia mendongak dan terpampang jelas di pintu masuk bertuliskan ‘PERPUSTAKAAN’.
Zahra menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya berat. Ada nuansa horor yang membuat Zahra merinding saat ia melangkah masuk ke dalam perpustakaan. Seolah ia melangkah ke pintu gerbang dunia lain.
__ADS_1
Zahra melangkah parno, serasa semua mata memandang ke arahnya dan ia benar-benar merasa asing.
Dua cewek tengah bersandar di salah satu rak buku tak jauh dari tempat Zahra berdiri. Salah satunya memandang dengan tatapan sinis dengan aura dendam yang memancar.
“Sstt.. liat itu!”
“Apa?”
“Si Zahra.”
“Zahra?”
“Iya, cewek sok kecakepan yang udah godain Dio waktu itu.”
“Oh itu anaknya.”
Kedua cewek itu sama-sama menatap sinis ke arah Zahra.
“Cih! Cewek biasa gitu ajah sok kecakepan! Pantesan ajah dia ngerjar-ngejar Angga tapi gak pernah digubris ama Angga.”
“Kerjain, kuy!”
“Setting lokasi dulu.”
Dengan cengiran dan tatapan menghujam, keduanya memilih berlalu dan meninggalkan Zahra yang tak pernah sadar bahwa ia berada dalam pengintaian.
Sejujurnya Zahra bingung, karena sebenarnya ia tidak ada kepentingan di perpustakaan. Ia hanya sedang ingin menyendiri saja.
Dengan asal Zahra mencomot satu buku lalu ia memilih tempat duduk terdekat untuk mengistirahatkan kaki lelahnya.
Dibacanya judul yang tertera di sampul buku ‘Fisika dan Terapannya’.
“Aiissshh....” kedua bola matanya refleks berputar malas.
...****************...
“Beneran Hani, malahan kemarin kita pulang bareng.”
“Tiap hari juga kalian pulang bareng.”
Angga sedikit tersedak minuman yang terlanjur meluncur ke kerongkongannya.
‘Benar juga sih.’ Batin Angga mengiyakan ucapan Hani.
“Ini aneh banget. Zahra nyuekin Angga dan pergi ke perpus.”
Angga nampak berpikir, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan Hani.
“Oh, ya! Kemarin Zahra bilang mau tanya sesuatu tapi gak jadi.”
“Tanya apa?” sahut Hani antusias.
“Gak tahu, kan gak jadi tanya.” Jawab Angga polos.
“Aiishh....” Hani memutar bola matanya dengan malas.
Riuh ramai kantin seolah bagai gedung sepi bagi Hani dan Angga. Keduanya sibuk berfokus memikirkan keanehan yang terjadi pada Zahra. Bagi mereka, sikap Zahra benar-benar membawa ke khawatiran.
...****************...
‘Brukk...’ punggung Zahra terhantam berbenturan dengan tembok.
“Hey, Zahra. luh jangan sok kecakepan, ya! Gue enek lihat luh.” Ucap cewek berponi.
“Sok-sok, an, godain cowok-cowok. Berasa cantik luh.” Ucap gadis berambut lurus sepinggang sembari menonyor kepala Zahra.
“Denger baik-baik, ya. Sekali lagi luh sok kecakepan, gue pastiin luh bakal nyesel seumur hidup!” dan sekali lagi tangan jahat itu menonyor kepala Zahra.
“Inget itu baik-baik!” ancam keduanya lalu kemudian melenggang pergi meninggalkan Zahra begitu saja.
__ADS_1
Sesaat kemudian, salah satu pintu toilet itu terbuka. Mira salah seorang teman sekelas Zahra datang mendekat.
“Ra, kamu gapapa?” tanya Mira khawatir.
“Gapapa.” Jawab Zahra singkat lalu setengah berlari Zahra pergi keluar meningalkan ruang kamar mandi.
“Kasihan Zahra.” ucap Mira yang sempat melihat mata Zahra berkaca-kaca dengan wajah merah.
...****************...
Hani, Andi dan Angga, ketiganya berjalan santai dari kantin menuju kelas. Sesekali ketiganya nampak tertawa, entah apa yang mereka perbincangkan.
“Angga....” sebuah panggilan yang lebih menyerupai teriakan terdengar oleh ketiganya. Sontak saja meraka menoleh dan menghentikan langkah.
“Angga...” sekali lagi Mira memanggil sembari berteriak sembari berlari.
“Mira?”
Ketiganya menatap penasaran.
“Ada apa, Mir?” tanya Hani sesaat Mira sudah sampai di hadapan mereka.
‘Hoshh... Hoss...’
“Bentar-bentar, aku napas dulu.” Ucap Mira dengan napas yang tercekik.
“Iya... iya.. kamu napas dulu.” Ucap Andi ngeri.
“Oh, ini minum.” Tawarnya menyodorkan minuman yang sedari tadi dipegangnya.
“Gak, gak usah. Makasih.”
Ketiganya memandang Mira ngeri, berteriak dan berlari dan sekarang berakhir dengan napas ngos-ngosan dan bahkan badannya membungkuk dengan lengan yang ia tumpuhkan pada lututnya.
“Ada apa, Mir?” kali ini Angga yang bertanya saat dilihatnya Mira sudah bisa bernapas dengan normal.
“Itu!” ucap Mira dengan tangan yang menunjuk ke depan yang sontak saja Hani, Andi dan Angga mengikuti arah tunjukan tangan Mira.
“Ahh... bukan begitu.”
“Gak ada apa-apa.” Celetuk Andi.
“Aduuhh..., gini, maksud aku─” Mira menjedah perkataannya.
“Iya, lanjutkan.” Titah Angga.
“Tadi pas aku ke toilet, aku lihat Zahra lagi dilabrak ama cewek-cewek.”
“APAAA?” pekik Angga seketika dengan amarah membuncah.
Andi yang yang sigap, langsung saja memeluk Angga dalam dekapannya. “Tenang, bro! Sabar!”
“Siapa yang ngelabrak Zahra?” tanya Angga dengan nada marah.
“Aku..., aku gak tahu. Jadi, tadi aku di dalam toilet, dengar ada ribut-ribut. Tapi jelas banget kalo mereka itu kayak ngancem-ngancem gitu. Terus pas aku keluar ternyata itu Zahra, dan dia kayak mau nangis gitu.” Terang Mira seadanya.
“Gak bisa dibiarin!” muntap Angga.
“Eeh.. eh.. bro, tenang, bro! Tenangin diri dulu!” Andi masih setia memeluk Angga berusaha menahan agar Angga tidak gegabah dan berbuat kekacauan.
Dirawat dan dijaganya si bunga.
Bagaimana bisa ada hama datang mengganggunnya.
Tiada ampun tiada pengampunan.
Si hama harus enyah.
~To be continue~
__ADS_1