AZZA

AZZA
Tanda Tanya


__ADS_3

“*Namanya Agus,” kata Ayah.


“……..”


“Ayah sudah memberimu kesempatan untuk menentukan pilihanmu sendiri, tapi nyatanya kau gagal,”


Ayah menjeda perkataannya sejenak berharap adanya respon dari lawan bicaranya.


“…….”


Masih diam, tanpa ada jawaban, ayah pun melanjutkan perkataannya.


“Seperti janjimu─”


“Iya, Ayah. Aku akan menepati janjiku.” Sahutnya memotong pembicaraan Ayah.


...****************...


Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang menghangatkan. Nampak sepasang remaja laki-laki dan perempuan berjalan beriringan di koridor sekolah.


Raut sumringah terlihat jelas di wajah mereka. Sesekali remaja lelaki itu tersenyum namun ia tahan.


“Ya Tuhan!” pekik salah satu remaja laki-laki yang tengah duduk di bangku koridor bersama segerombolan Cowker (bagi mereka, Cowker \= Cowok Keren)


“Uwuuuu..., gadis desa mana, nih!” Sahut yang lainnya.


“Ssstt…, diem! Gak boleh bawel. Gadis cantik mau lewat! Hush.. hush.”


Ketusnya manjah sembari mengibas-ngibaskan tangannya seolah mengusir lalat yang menghalangi jalannya.


Dengan langkah angkuh namun manjah ia melenggang pergi begitu saja.


“Ga, tuh Zahra luh apain bisa kayak gitu.”


“Entahlah, kesambet mungkin dia.”


Jawab Angga masih dengan senyumannya.


...****************...


“Good Morning......” sapanya riang, tepat di pintu masuk kelas.


“Oh My God, Zahra.”


“Haii... Hani..” ucapnya sembari berjalan mendekat ke arah Hani.


“Zahra, luh kenapa? Itu rambut kenapa dikepang dua gitu, sih?” cecar Hani.


“Kenapa? Ini bagus, kok!” ucapnya dengan kepedean maksimal. “Ada masalah?” tanyanya.


“Iya, enggak juga. Tapi ini kan bukan gaya luh. Ini... ini─”


“Kenapa sih pada heboh. Lagian apa masalahnya kalo Zahra rambutnya dikepang dua. Zahra tetap terlihat cantik, kan.”


“Iya.” Sahut Angga.


“Omona!” kejut Zahra.


Zahra menoleh ke arah Angga yang duduk di bangku nomer 2 dari depan.


“Angga setuju kalo Zahra cantik?” tanyanya dengan berbinar-binar.

__ADS_1


Angga masih tersenyum sembari memandangi Zahra. Kemudian ia menjawab,


“Iya, Zahra cantik!”


“OMONAA.....” pekiknya.


“Hani, kau dengar, kan, Angga bilang Zahra cantik! Uuhhh...” hebohnya dengan mengguncang-guncang lengan Hani yang kini hanya bisa memasang wajah seolah mau muntah.


Sungguh sesuatu yang langka bagi Zahra untuk bisa mendengar Angga mengatakan bahwa dirinya cantik. Biasanya Angga selalu saja meledeknya seolah tiada sedikit pun niatan untuk memujinya.


‘Haruskah aku mengatakannya setiap detik di hembus napasku untuk membuatmu senang.’ Batin Angga.


'Kau cantik Zahra! Bagiku kau akan selalu indah.’


Mereka bilang, ‘cinta itu buta’, tapi sepertinya itu kurang tepat. Nyatanya dengan cinta seseorang mampu melihat keindahan yang tak bisa dilihat oleh orang lain.


...****************...


“Ada yang tahu rumus berat benda?” ujar Bu Guru menciptakan sebuah pertanyaan.


“Bu,” Zahra mengacungkan tangannya tinggi-tinggi.


“W \= m . g, yaitu berat benda sama dengan massa benda dikali percepatan gravitasi bumi."


“Waw, betul!” kata Bu Buru membenarkan jawaban Zahra.


“Uwuuuu, ternyata bukan hanya penampilannya yang berubah. Ternyata mesin berpikirnya (otak) juga diupgrade.” Canda salah satu anak laki-laki yang sontak diiringi gelak tawa hampir seluruh penghuni kelas.


“Wah, Ga! Itu gimana cara upgrade-nya. Gue minat.” Seketika sebongkah buku melayang menimpahnya. “Aduh...”


“Rezeg...” teriak Zahra.


Sekali lagi, Angga hanya tersenyum menanggapi candaan teman-teman maupun sikap konyol Zahra. Apapun yang terjadi, selama itu tentang Zahra, bagi Angga itu adalah sesuatu yang indah.


“Oh, Hani. Saat Bu Guru bilang ‘berat benda’ seketika aku teringat perkataanmu. Seperti ini,”


Zahra pun berbicara dengan menirukan gaya bicara Hani.


“Ra, kamu tahu? Nilai suatu berat benda dipengaruhi oleh massa benda dikali percepatan gravitasi bumi. Nah ini sama seperti, besar rasa cinta dipengaruhi oleh rasa ingin bersama dikali daya tarik satu sama lain. Jadi, semakin besar rasa ingin bersama dan daya tarik yang ada maka akan semakin besar pula rasa cinta yang tercipta. Tara....” terangnya dengan kebanggaan.


“Waw, luar biasa! Ternyata selama ini kau mendengarkan kata-kataku. Aku kira semua hanya masuk lewat telinga kanan lalu keluar lewat telinga kiri.”


“Rezeg!” sungut Zahra kesal.


...****************...


Waktu selalu saja cepat berlalu. Hari yang tadinya pagi kini telah berubah menjadi siang.


Seperti biasanya, Angga dan Zahra kini tengah berjalan bersama dengan sepeda gowes yang dituntunnya.


Adegan seperti ini adalah bagian favorit Zahra karena di saat seperti ini dia bisa menghabiskan waktu bersama Angga secara eksklusif.


Sesekali Angga menoleh ke arah Zahra. Nampak jelas ada sesuatu yang ingin ia curahkan.


Di garuknya pelan kepala bagian belakangnya meski tidak gatal. Sudah menjadi ciri khas yang selalu Angga lakukan saat gugup ataupun bingung.


“Ra,” panggilnya memulai pembicaraan.


“Ya?”


“Nanti sore...”

__ADS_1


“Nanti sore kenapa?”


Angga kikuk, ia bingung bagaimana mengatakannya. Jujur saja, selama ini Angga tidak pernah mencurahkan atau menceritakan tentang kehidupan pribadinya pada Zahra. Tapi kali ini, entah kenapa menceritakan masalahnya kepada Zahra membuatnya merasa lebih tenang.


“Nanti sore, Mama mengajakku bertemu dengan calon papa.”


“Oh,”


“.....”


“Dimana?”


“Di kedai dekat perempatan jalan.”


“Ehmm.”


Suasana terasa berubah menjadi hening. Hembusan angin menerpa-nerpa rambut dan rok Zahra sehingga nampak berkibar-kibar.


“Nanti sore, kamu ada acara” tanya Angga ragu-ragu.


“Tidak juga.”


“Oh,”


“Kenapa? Angga mau ajak Zahra untuk ketemu calon papa?”


Nyengir, itulah ekspresi yang Angga suguhkan.


“Itukan acara pribadi keluarga Angga, kurang cocok kalau Zahra ikut.”


“Iya, kau benar.” Lesuh Angga.


Sebenarnya Angga juga tahu itu, hanya saja rasanya ia butuh Zahra di sampingnya untuk membuatnya lebih tenang.


“Angga tenang saja, calon papa pasti orang yang baik. Semuanya pasti akan baik-baik saja.”


Zahra mencoba menenangkan Angga sebisa yang ia bisa. Meski ia tahu, hanya dengan kata-kata sederhana darinya tidak akan cukup menenangkan pemikiran rumit Angga.


Siang selalu saja terasa terik. Mengundang gerah panas yang membara. Entahlah, sepertinya itu hanya majas hiperbola, gaya bahasa dalam melebih-lebihkan penggambaran kata. Iya, Angga rasa itu sama dengan dirinya, hanya melebih-lebihkan keadaan. Mungkin benar kata Zahra, semua akan baik-baik saja.


Dua pasang kaki itu pun berhenti melangkah tepat di depan pintu gerbang yang memagari rumah. Bukan sebuah rumah yang megah dengan penjaga di sini – sana, itu hanya sebuah rumah sederhana dengan kategori menengah namun cukup berpunya.


“Masuklah!” titah Angga.


Zahra menoleh ke arah Angga.


“Sampai jumpa!” ucap Angga dengan melambaikan tangannya.


Tapi bukan itu, saat ini Zahra terfokus menatap mata Angga. Jelas sekali ada kegelisahan dalam mata itu.


“Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!” semanis mungkin senyum diciptakan oleh Zahra. Berharap dengan senyum itu bisa mengurangi gelisah yang menderah Angga.


“Iya,” balas Angga dengan senyum selebar yang ia bisa. Tapi tetap saja, senyum itu justru terlihat menyedihkan bagi Zahra.


Bagai gersang yang menanti hujan.


Berharap basah mengusir kekeringan.


Begitulah senyummu yang aku nantikan.


Berharap ia mampu mengusir kegelisahan.

__ADS_1


*to be continue*


__ADS_2