AZZA

AZZA
Sang Candu


__ADS_3

Panik dan gusar, begitulah yang terlihat. Mereka bergegas menuju kelas. Mereka menduga pasti Zahra sedang ada di sana. Dan benar saja, sesampainya di kelas bisa mereka lihat Zahra yang tengah duduk dengan wajah tertelungkup di meja dan disembunyikan di balik kedua tangannya yang melingkar.


Dengan langkah tergesa Angga mendekat ke arah Zahra. Tanpa basa – basi ditariknya kedua bahu Zahra yang sontak saja membuat kepala Zahra terdongak.


“Zahra.”


Wajahnya basah akan air mata, remuk sudah hati Angga.


“Sudah, tenanglah. Semua akan baik-baik saja!” ucap Angga dengan menggenggam erat tangan Zahra.


‘Astaga, sebenarnya aku ingin sekali memeluknya!” Batin Angga.


“Ra.” Panggil Hani dengan memeluk Zahra begitu saja.


“Sudah jangan nangis. Ada kita di sini.” Kata Hani berusaha menenangkan.


Zahra masih sibuk mengelap air matanya. Dengan sigap, Andi mengeluarkan tisu dari sakunya.


“Ini, Ra.” Ucapnya dengan meyodorkan tisu pada Zahra.


Disautnya tisu itu oleh Angga, lalu dihapusnya air mata yang terurai di wajah si cantik yang selalu dipujanya. Dengan perlahan dan tatapan nanar, disingkirkannya noda-noda airmata itu.


“Selamat siang, anak-anak.....” salam Bu Guru yang tahu-tahu sudah ada di dalam kelas.


Pandangan Bu Guru auto terfokus ke arah gerumbulan kecil yang berpusat pada Zahra, dan telihat jelas Zahra yang masih sesunggukkan.


“Zahra kenapa?” tanya Bu Guru.


Zahra menggeleng pelan.


Angga masih berdiri di samping Zahra dan bahkan masih menggenggam tangan Zahra. Tanpa sengaja tatapannya bertemu pandang dengan Bu Guru.


Mata Bu Guru melotot dan seolah mengisyaratkan ‘lepaskan genggamanmu dan duduklah di bangkumu!’.


Angga berkedip-kedip sok manis. Dengan pelan dilepaskannya genggaman tangan itu.


“Kamu tenang ya, Ra!” ucap Angga yang kemudian ia pergi duduk di bangkunya.


“Anak-anak, buka halaman 174, baca dan pahami. Setelah itu akan Ibu terangkan.”


...****************...


Murid-murid berhamburan memadati jalanan. Jelas sekali ini adalah jam pulang sekolah.


“Hani, mau kemana?” tanya Andi.


“Nganterin Zahra pulang.”


“Apa? Tapi, kan, rumah kita gak searah sama rumahnya Zahra.”


“Ya gapapa. Kan yang mau nganterin aku bukan kamu.” Jawab Hani skakmat.


‘Bener juga, sih!’ Batin Andi.


Dengan sigap Andi memutar balik arah motornya.


“Yaudah, hayuk!”


“Eh, kemana?”


“Katanya nganterin Zahra.”


“Katanya rumah Zahra gak searah.”


“Iya gapapa.”


Andi dan Hani, keduanya berseteru tanpa sadar bahwa Angga dan Zahra tengah menatap mereka dengan pandangan sangar.


“Biar aku ajah yang anterin Zahra pulang. Kalian pulang saja.” Titah Angga.


“Gapapa, Ga. Kita juga mau nganterin Zahra pulang.”


“Tapi rumah kalian kan, gak searah sama rumahnya Zahra.” ucap Angga menirukan perkataan Andi.


“Hehhehe, iya maaf. Tapi gapapa, kita juga mau anterin Zahra pulang, biar aman.”

__ADS_1


...****************...


Matahari terik tepat berada di atas kepala. Panas membakar membuat siapa saja pasti mengeluh ‘hareudang’ panas.


Hani dan Zahra berjalan bergandengan. Angga mengekor di belakangnya dengan menuntun sepeda gowesnya.


Sedangkan Andi mengendarai motornya dengan kecepatan 10 km/jam.


“Ayo Ra, sini aku boncengin, gapapa.” Tawar Angga untuk yang kesekian kalinya.


“Atau aku boncengin ajah pakek motorku.” Tawar Andi.


“Gak usah, Zahra jalan, ajah.”


‘Ya Tuhan, panas bener ini hari.’ Batin Angga.


‘Bisa-bisa gue meleleh, panas.... panas...’ Batin Hani.


‘Nih ubun-ubun berasa membara, mungkin kalo dikasih telor ceplok bakalan mateng, deh.’ Batin Andi.


Mereka menggerutu dalam hati karena hari yang panas. Namun mereka berusaha nampak semangat demi menemani Zahra yang sedang tidak baik-baik saja.


Mereka terus melangkah tanpa terasa tiba-tiba Zahra menghentikan langkahnya.


“Auuh...” pekik Hani saat tak sengaja sepeda Angga menabrak kakinya.


“Maaf-maaf.” Ucap Angga.


“Kenapa berhenti, Ra?” tanya Angga.


“Hhmm?” gumam Zahra kurang paham dengan pertanyaan Angga.


“Ini rumah Zahra.” tunjuk Zahra pada pintu gerbang yang terpampang nyata di hadapan meraka.


“Astaga...” Ucap Angga sambil menepuk jidatnya.


“Iya, Ra. Maaf, aku gak fokus.” Angga nyengir dengan ke konyolannya.


“Yaudah, kamu masuk, gih!” titahnya.


“Kalian tidak mampir dulu?”


“Ah gak usah, Ra. Kita mau lanjut pulang ajah.” Tolak Angga yang diikuti dengan anggukan oleh Andi dan Hani.


“Makasih, ya. Kalian sudah nganterin Zahra.”


“Iya sama-sama.”


“Bye.”


“Bye.”


Zahra membuka gerbang rumahnya, lalu melangkah menuju pintu rumahnya. Ia nampak melambaikan tangan.


Ketiga temannya membalas dengan lambaian yang sama. Setelahnya Zahra pun menghilang dibalik pintu rumahnya itu.


Angga dan Hani melongok memastikan Zahra sudah benar-benar masuk ke dalam rumahnya.


“Astaga kakiku.” Keluh Hani dengan membungkuk dengan lengan bertumpuh pada lututnya.


Diangkatnya kakinya dan dilihatnya sol sepatu yang ia pakai.


“Ku kira kau meleleh, ternyata kau masih utuh."


“Lebay....” sahut Andi.


“Panas... panas...” keluh Angga.


Hari semakin terik dan mereka tak ingin berlama-lama menjemur diri.


“Andi, Hani, makasih ya, sudah repot-repot nganterin Zahra.”


“Iya, sama-sama.”


“Aku gak tega lihat Zahra. Siapa, sih, yang usil pakek bikin gara-gara sama Zahra.” kesal Hani dengan gerutuannya.

__ADS_1


“Udah-udah, kita bahas itu nanti ajah. Sekarang buruan naik, kita cuz pulang.” Titah Andi pada Hani.


Tanpa penolakan, Hani langsung saja naik di boncengan motor Andi.


“Kita pulang. Bye... bye...” mereka saling melambaikan tangan dan melajutkan berjalanan pulang.


“Panas.......”


...****************...


Sang candu berusaha menjauh


Membentang jarak bagi si rindu


Tapi apa mau dikata


Takdir selalu saja menyatukan keduanya


Angga : Ra, are u okay?


Zahra : iya.


Angga : udah makan?


Zahra : Angga sudah makan?


Angga : Belum.


Zahra : Buruan makan, gih!


Angga : Zahra udah makan?


Zahra : Ngantuk, mau tidur.


Angga memanyunkan bibirnya. Kemudian lanjut membalas chat Zahra.


Angga : Yaudah, selamat malam.


Zahra : Malam.


Chat mereka pun berakhir, menyisahkan Angga yang manyun-manyun sendiri.


“Hmmm... Zahra kenapa, ya?”


“Apa aku udah berbuat salah?”


Angga bertanya-tanya pada dirinya sendiri mencoba mencari tahu alasan perubahan sikap Zahra.


“Atau memang Zahra memang lagi ada masalah. Buktinya dia sampai dilabrak gitu. Tapi kok, Zahra gak cerita, ya!”


Angga mengubah posisi tidur miringnya menjadi terlentang menengadah menatap langit-langit kamar.


“Kemarin juga Zahra bilang mau tanya sesuatu, tapi gak jadi. Kira-kira Zahra mau tanya apa?”


Angga mengacak-acak rambutnya frustasi.


“Aiisshhh... bikin pusing kepala saja.”


“Astaga, itu yang gangguin Zahra juga siapa? Tadi mau tanya tapi Zahranya gitu. Hhmmm..”


“Awas ajah, ya, pasti bakal ku bejek-bejek si manusia-manusia usil itu.”


Angga meracau menggerutu seorang diri. Banyak tanda tanya yang mengisi kepalanya. Ia rasa, tidurnya pasti takkan nyenyak malam ini.


“Pokoknya awas saja, berani-beraninya gangguin Zahraku sayang. Hemmmm... tak kunyak-kunyah baru tahu rasa tuh manusia-manusia resek.


Sang bunga terluka oleh hama


Hati sang pemuja tentu takkan rela


Bara amarah merongrong hatinya


Tak sabar ia ingin mengempas para hama


“Awas... pokoknya awas saja, ya!”

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2