AZZA

AZZA
Mencari Yang Tak Pasti


__ADS_3

Mentari pagi menyambut dengan hangat. Tetesan embun yang membasah di daun-daun pun telah menguap. sesekali angin pagi berhembus seolah membawa pertanda musim hujan segera tiba.


Angga mengayuh sepedanya dengan santai. Saat tiba di belokan dekat rumah Zahra, ia pun turun dari sepedanya.


Dituntunnya sepeda gowesnya, dengan celingukan Angga mencoba menemukan sosok yang dicarinya.


“Zahra mana, ya?”


Angga berhenti tepat di depan rumah Zahra dan berusaha mengedarkan pandangannya.


“Apa dia sudah berangkat?”


Angga mengerecutkan bibirnya dengan sedikit perasaan kecewa. Dengan lesuh ia hendak melanjutkan perjalanan berangkat sekolah.


“Angga....”


Terdengar suara memanggilnya, namun itu bukan suara Zahra.


“Angga, tunggu sebentar...” seru suara itu, terdengar jelas bahhwa seseorang itu tengah berlari.


Angga menghentikan langkahnya, dan mencoba melihat siapa yang memanggilnya.


“Kamu, Angga, kan?”


“Iya.”


“Ah, syukurlah!” ucap Mom dengan wajah lega.


“Angga, ini tante mau nitip suratnya Zahra.”


“Oh, Mom.” Lirih Angga, kemudian dengan segera mendekat dan menyalimi tangan Mom.


“Zahra sudah berangkat, tante?”


“Nah itu, tadi tante manggil kamu karena mau titip surat ijin Zahra sedang sakit jadi tidak bisa masuk sekolah.”


“Zahra sakit apa, te?” terdengar nada kepanikan dari suara Angga.


“Semalam tiba-tiba saja Zahra demam.”


“Oh ya, ini suratnya, tante nitip, ya!” disodorkannya sepucuk surat berbungkus amplop.


‘Zahra sakit apa, ya?’ batin Angga.


“Terima kasih ya, Angga.”


“Iya.” Jawabnya lemah.


Dengan senyuman yang menambah kecantikan di wajahnya, Mom melambai dan melangkah masuk ke rumah.


...****************...


Angga menatap sendu amplop di tangannya.


“Ini.” Ucapnya sambil menyodorkanya pada Andi.


“Ini apa?”


“Surat ijin Zahra tidak masuk karena sakit.”


“Lah, kok dikasih ke aku? Kan, aku ketua kelas bukan sekretaris.”


“Iya, tolong nanti kasihkan ke sekretaris.” Ucap Angga dengan lemah.


“Oh, ok.”


Angga mendudukan dirinya dengan berbarengan dengan napas berat yang dihembuskannya.


“Zahra sakit apa?” tanya Andi.


“Tidak tahu.”


“Lah, tadi Momnya bilang apa?”


“Katanya Zahra demam, udah gitu ajah.”


“Oh.”


‘Heeuuhh....’ napas berat itu dihembuskannya lagi.


“Rasanya ingin sekali aku masuk ke dalam rumah itu dan melihat keadaannya Zahra.” ucapnya lemah dengan bibir yang sedikit terkerucut.


Andi menoleh, dilihatnya temannya yang nampak jelas sedang galau. Dengan jiwa solidaritasnya, Andi menepuk-nepuk punggung Angga.

__ADS_1


“Zahra pasti baik-baik saja. Mungkin hanya sakit demam biasa saja.”


Angga menunduk tak bersemangat, kemudian kembali mendongak. Dilihatnya Hani yang baru saja datang dan berjalan mendekat ke arahnya.


“Hani.”


“Hai, selamat pagi.” Sapa Hani.


Dengan buru-buru Angga menghampiri Hani.


“Zahra sakit.”


“Hah?”


“Zahra sakit.” Ulang Angga.


“Oh, Ya Ampun. Apa jangan-jangan Zahra sakit gara-gara insiden kemarin.”


“Apa iya?”


“Iya, mungkin ajah, Zahra kaget, dia shock, akhirnya sakit.”


“Aaiiissshh... siapa, sih, manusia resek yang sudah gangguin Zahra?” kesal Angga.


...****************...


Ketiga anak manusia duduk berjejer di bangku taman. Kesemuanya nampak serius memikirkan sesuatu.


“Gimana caranya kita bisa tahu siapa yang sudah jahilin Zahra. Kita tidak punya petunjuk apapun.” Ucap Andi sembari menyedot minuman di tangannya.


“Mira cuma bilang kalo yang ngelabrak Zahra itu cewek, tanpa ngasih tahu ciri-cirinya.” Terang Hani sembari melahap tahu bulat.


“Kesabaranku sudah berasa di ubun-ubun!” celetuk Angga.


Andi yang paham akan amarah Angga, dengan sigap ia mengusap-ngusap punggung Angga.


“Tenang bro, semua pasti ada solusinya.”


“Tapi aku kesel banget. Bisa-bisanya mereka buat gara-gara sama Zahra, dan sekarang Zahra jadinya sakit.”


Kali ini giliran Hani yang menepuk-nepuk punggung Angga.


“Tenanglah sobat, kita pasti bisa menemukan tersangka itu.” Ucap Hani dengan ekspresi semeyakinkan mungkin.


...****************...


“Ayo sayang, kamu harus makan biar bisa minum obat.” Bujuk Mom.


“Ayolah sayang, sedikit saja!”


“Nanti, ajah!”


“Nanti-nanti terus...”


Zahra hanya diam, ia masih menyembunyikan dirinya di balik selimut.


Mom nampak putus asa, sedari tadi ia membujuk Zahra untuk makan tapi tak juga berhasil.


“Zahra mau apa? Mungkin nanti Mom bisa belikan.”


“....”


“Zahra?”


“Zahra rindu Papa.” Lirih Zahra namun masih bisa didengar oleh Mom.


Sesaat Mom terkaget , tapi kemudian tanpa sadar Mom refleks memalingkan muka dengan raut mencelos.


“Zahra rindu Papa!” ulangnya, dan kali ini airmata terlihat mengalir diujung matanya.


Hati Mom seketika kalut, rasanya setara dibentak oleh seribu tentara. air pun mulai menggenang di ujung matanya.


“Mom akan telponkan Papa.” Kemudian Mom berlalu keluar dari kamar Zahra.


Zahra menggigit bibirnya menahan tangisnya yang ingin pecah. Diusapnya airmatanya.


“Kenapa Papa jahat ke Zahra? Kenapa Papa ninggalin Zahra?”


Entahlah, Zahra tidak tahu apa yang dirasakannya. Entah dirinya kalut karena Papa yang akan menikah lagi, entah karena kejadian pelabrakan di sekolah kemarin.


“Papa jahat.”


...****************...

__ADS_1


Kerinduan yang tak kunjung padam


Membuat hati membiru meradang


Merangkul diri dalam derah rasa duka


Merintih-rintih menahan perih


Mencoba mencari di manakah sang kekasih


Angga masih setia berdiri di depan rumah Zahra. Ia menatap jauh memandang berharap ada keajaiban.


“Ya Tuhan, ingin sekali aku masuk dan memastikan keadaan Zahra.”


‘Heuhh..’ Angga membuang napasnya berat.


Diambilnya ponsel yang ada di dalam tasnya. Lalu diketikannya pesan kepada Zahra.


Angga : Ra,


Angga : Bagaimana keadaanmu?


Centang satu.


‘Heeuhh..’ kelesuhan Angga pun meningkat.


Sebuah mobil hitam melaju ke arahnya, lebih tepatnya ke rumah Zahra.


Angga yang mengerti pun segera berlalu dari rumah Zahra. Ia tidak benar-benar pergi, ia hanya menyingkir agar tidak menghalangi jalan masuk ke rumah Zahra.


Seorang lelaki paruh baya nampak turun dari mobil hitam itu dan melangkah terburu-buru masuk ke dalam rumah Zahra.


“Siapa?”


Angga mencoba menajamkann pandangannya. Tapi sayangnya, wajah pria yang turun dari mobil itu tak terlihat oleh Angga.


Angga celingukan, jaraknya terlalu jauh untuk mengintai.


“Hmm... yasudahlah!”


Angga pun menaiki sepeda gowesnya dan mulai mengayuh untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.


Mentari tak seterik hari kemarin karena awan mendung menutupinya. Daun-daun pun berjatuhan dan berserakan terterpa angin yang berhembus lumayan kencang.


“Aku menyanyangimu, Zahra!”


...****************...


“Sayang, ayo makan biar bisa minum obat.”


“....” Zahra masih setia bersembunyi di balik selimutnya.


“Ini Papa sudah di sini, katanya tadi Zahra rindu Papa.” Bujuk Papa.


“Zahra...”


“.....”


Papa menoleh ke arah Mom seolah meminta penjelasan.


“Zahra!” panggil Mom dengan nada peringatan.


Dengan pergerakan pelan, kepala yang sedari tadi bersembunyi di balik selimut itu pun akhirnya muncul.


“Sayang...” panggil Papa.


“Papa jahat!” lirih Zahra.


“Apa, sayang?” tanya Papa pelan karena mendengar samar ucapan Zahra.


“Papa jahat!” ulang Zahra.


Benci dan rindu seringkali berbaur menjadi satu


Menyiksa si empunya, memporak-porandakan rasa


Selalu saja, hati terlalu rumit untuk dimengerti


Tak pernah memberi arti yang pasti


 


To be continue...

__ADS_1


 


__ADS_2