AZZA

AZZA
Terlanjur Mencinta


__ADS_3

Semoga pagi ini lebih cerah dari pagi sebelumnya. Semoga duka segera sirna.


...****************...


Zahra berjalan gontai dan malas. Hari ini Angga tidak menjemputnya, itu berarti Angga masih belum masuk sekolah. Begitulah yang ia pikirkan.


Wajahnya ditekuk dengn bibir cemberut. Jalannya menunduk tanpa ada semangat bergairah. Sesekali ditendangnya kerikil-kerikil kecil yang tak sengaja terlihat dan berada tepat di kakinya.


“Cemberut mulu, cepet tua, loh!”


Suara yang sangat dikenalnya. Suara yang tidak asing di pendengarannya. Suara itu, “Angga!”


Sontak Zahra mendongak dan dapat dilihatnya sosok yang amat diharapkannya untuk bisa selalu ada dalam pandangannya.


“Angga, kamu sudah sembuh?”


Angga tersenyum sinis, “Sembuh, memangnya aku sakit!”


“Kamu kemarin tidak masuk karena sakit.”


“Hanya demam biasa, Ra. Bukan sakit!”


“Sama ajah. Demam itu namanya sakit juga.”


“Terserahlah!” ucap Angga yang kemudian melangkah dengan kaki panjangnya.


Zahra yang tak mau ketinggalan mempercepat jalannya untuk bisa mengimbangi langkah lebar Angga.


“Kok terserah? Demam itukan termasuk sakit juga.”


Zahra masih tidak terima dengan jawaban ‘terserah’ dari Angga.


Bagi Zahra kata ‘terserah’ yang baru saja Angga ucapkan, itu terdengar seolah dengan berat hati menerima kebenaran bahwa demam itu termasuk sakit juga.


“Angga!”


“Iya, Ra.”


“Zahra benar, kan?”


“Iya.”


Zahra menghentikan langkahnya. Dilihatnya Angga yang masih terus berjalan.


“Dasar rezeg!”


Kata 'rezeg' hampir menjadi menu andalan Zahra dalam mengungkap kekesalan. Kata 'rezeg' seolah terprogram auto dalam mulut Zahra. Meski sebenarnya ia tak paham betul apa arti kata rezeg.


...****************...


Angga mendudukkan dirinya di bangku tempat duduknya. Dilipatnya kedua lengannya di atas meja dan digeletakkan kepalanya diantara lipatan lengan tanangannya.


Zahra duduk tepat di samping Angga. Tanpa permisi ditempelkan punggung tangannya di kening Angga.


“Apa sih, Ra?”


Risih Angga sembari menepis tangan Zahra.


“Sudah tidak demam.”


“Aku baik-baik ajah, Ra.”


“Angga lemes?” tanyanya khawatir.


Angga mengangguk.


“Kenapa tadi masuk sekolah? Harusnya istirahat saja di rumah.”


“Aku baik-baik ajah.”


“Tapi kamu lemes gitu. Zahra khawatir lihatnya.”


Angga tak menjawab, ia memejamkan matanya. Sejujurnya Angga masih ingin beristirahat, tapi Angga tak ingin membuat cemas Mama.


...****************...


“Ada yang bisa mengerjakan soal yang di papan?” kata Bu Guru yang tengah mengajar pelajaran matematika.

__ADS_1


Hening tak bersuara, seolah berada di ruang hampa tak berpenghuni.


Bu Guru memandang satu persatu siswa yang tengah terduduk di bangku masing-masing. Semua nampak fokus menunduk membaca bukunya. Meski begitu, Bu Guru tahu itu hanya modus para siswa.


“Ada yang bisa─”


“Bu.” Angga mengacungkan tangannya.


“Iya, Angga.”


“Uweeesss, Angga memang Super! Mau mengerjakan soal absurd di papan.”


Ucap salah satu siswa laki-laki yang kemudian disusul dengan tepukan tangan dari teman-teman lainnya.


Angga nampak bingung, ia celingukan mencari kejelasan.


“Silahkan, Angga!” titah Bu Guru mempersilahkan.


“Maaf, Bu. Angga mau ijin ke kamar mandi.”


“What the f─” sarkas siswa laki-laki yang tadi mengapresiasi acungan tangan Angga.


“Permisi, Bu.”


Angga bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri kemudian melangkah.


1


2


3


‘brukk.’


“Angga!” pekik Zahra spontan.


...****************...


Matanya mengerjap-ngerjap. Tangan kanannya terangkat memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut.


“Angga sudah sadar!” kata Zahra.


“Iya, Ra.”


Andi segera memanggil Bu Perawat penjaga UKS.


“Angga, kamu buat aku jantungan tau!”


“Ini dimana?” tanya Angga yang kesadaranya belum sepenuhnya terkumpul.


“Ini UKS. Kamu tadi tiba-tiba pingsan.”


Angga masih memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut.


Tak lama kemudian Andi kembali dengan Bu Perawat penjaga UKS.


“Tekanan darahmu sangat rendah, makanya tadi pingsan.” Kata Bu Perawat dengan tersenyum.


“Minum obat penambah darah ini dulu, setelah itu kamu kembali istirahat saja. Atau kalau mau pulang lebih awal nanti ibu akan hubungi orang rumah.”


“Tidak, Bu. Saya istirahat di UKS saja.”


Angga tak mau membuat Mama khawatir, kalau Mama tahu Angga pingsan di sekolah, Mama pasti sangat panik.


“Yasudah, terserah kamu saja, yang penting kamu minum obatnya kemudian istirahat.”


“Iya.”


“Oh ya, kalian kembali ke kelas saja. Biar Angga ibu yang jaga.”


“Baik, Bu.” Jawab Andi.


“Tapi─”


“Ayo, Ra!”


Belum sempat Zahra menyelesaikan perkataannya tapi dengan cepat Andi sudah menggandeng paksa Zahra untuk kembali ke kelas.

__ADS_1


“Zahra mau nemenin Angga.”


“Gak boleh, Ra. Nanti kita dimarahi.”


“Tapi Angga gak ada yang jaga.”


“Kan, ada Bu Perawat.”


“Andi.....”


Andi terus menggandeng paksa Zahra. Bahkan ia tak peduli jika saat ini Zahra dengan adegan dramatisnya berjalan mundur seolah tak rela pangannya lepas dari Angga. Meski saat ini mereka sudah berada di luar UKS dan Angga sudah tidak lagi terlihat.


...****************...


Mewek, itulah ekspresi yang dipasang Zahra.


“Kenapa, Ra?” tanya Hani yang merasa khawatir.


“Andi jahat! Zahra mau nemenin Angga tapi malah gak boleh.”


Suara Zahra yang cukup terdengar oleh Andi, membuat Andi sontak menoleh dan berkata.


“Bu Perawat yang gak ngebolehin, bukan aku.”


“Sama ajah! Rezeg.”


Hani tertawa kecil. Kelakuan Zahra selalu saja menggemaskan.


“Yaudahlah, Ra. Nanti waktu jam istirahat kita ke UKS untuk lihat keadaan Angga.”


“Kelamaan!” sahutnya dongkol.


‘Kenapa sih orang-orang ini gak ada yang paham betapa cemasnya Zahra. sepanjang sejarah Zahra mengenal Angga, ini pertama kalinya Zahra lihat Angga pingsan.’ Batin Zahra.


...****************...


Angga memejamkan matanya, tapi kemudian membukanya kembali. Kedua tangannya bersendekap di bawah dada tepat di perut atasnya.


‘Huft...’ ia membuang napas berat.


Bu Perawat mendongak, dihentikannya aktivitas menulisnya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah Angga.


Ia tersenyum, “Ibu akan senang jika ada yang bisa ibu bantu.”


Angga diam, ia mencoba mencerna kata-kata Bu Perawat.


“Berbagi cerita mungkin bisa mengurangi beban di pikiranmu.”


Sekali lagi, Angga hanya diam dan berusaha mencerna kata-kata yang didengarnya.


Biasanya Angga tidak selamban ini dalam mencerna kata, tapi untuk saat ini kondisi Angga sedang tidak seperti biasanya.


“Terlihat jelas kalau Angga sedang ada beban pikiran. Jika Angga berkenan untuk berbagi cerita, dengan senang hati ibu akan mendengarkannya.”


Kali ini Bu Perawat mencoba menjelaskannya dengan kalimat yang lebih sederhana. Dan kali ini Angga tersenyum.


“Terima kasih, Bu.”


“Masalah keluarga?” tebakan jitu Bu Perawat.


Sedikit terkaget, tapi Angga masih tahan untuk diam.


Bu Perawat tersenyum, “Yasudah, istirahatlah! Apapun yang terjadi semua pasti ada solusinya.”


“Terima kasih.”


...****************...


Andai kata dapat mewakili rasa


Pastilah sudah ku ucap beribu banyak dalam untaian indah


Mensyairkan bait tiap bait dengan penuh penghayatan


Menyuarakan segala yang tertahan demi pengungkapan


“Angga sayang Mama. Asal Mama bahagia, Angga pun akan bahagia."

__ADS_1


~to be continue~


__ADS_2