
Mom dan Zahra melangkah keluar dari super market dengan menenteng kantong kresek belanjaan. Zahra menatap ke kedai seberang perempatan jalan.
“Kenapa, Ra?” tanya Mom sembari mengikuti arah pandang Zahra.
“Mom, kapan terakhir kali kita ke kedai seberang jalan itu?”
“Kenapa? Kamu mau ke situ?” tanya Mom yang merasa pertanyaan Zahra adalah kode bahwa putrinya ingin ke sana.
‘Nanti sore di kedai perempatan jalan.’
Zahra ingat perkataan Angga tadi siang.
Sebuah kedai dengan kaca transparan sebagai bangunan utama. Mereka yang di dalam kedai bisa menikmati pemandangan lalu lalang lalu lintas jalan raya.
Begitu pun mereka yang berlalu lalang melintas di sekitar kedai bisa menyaksikan pemandangan klasik nan elegan desain interior kedai. Bahkan mereka juga bisa melihat manusia-manusia kalangan menengah berpunya yang menikmati waktu mereka dengan bersantai di kedai.
Mom dan Zahra berjalan mendekat ke arah kedai. Zahra sudah mulai menyalangkan pandangannya mencoba mencari seseorang yang dia tahu kini sedang berada di kedai.
Diedarkannya pandangannya seluas yang ia bisa. Hingga ia menghentikan aksinya saat ia menabrak Mom yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Mas Agus!” lirihnya.
Zahra yang tidak asing dengan nama itu pun seketika mengikuti arah pandang Mom.
“Papa.” Ucapnya tersirat nada antusias saat ia melihat sosok yang namanya terucap lirih oleh Mom. Tapi tunggu! Papa tidak sendirian di dalam kedai itu.
Dari tempat Zahra berdiri sekarang, jelas terlihat bahwa Papa sedang duduk bersama seorang wanita paruh baya dan seorang remaja laki-laki.
Zahra berusaha menamatkan pengelihatannya. Meski sosok remaja laki-laki itu hanya nampak tengkuk leher dan punggungnya saja, tapi Zahra merasa tidak asing dengan remaja laki-laki yang sedang duduk bersama Papa Zahra.
“Zahra, lain kali saja ya ke kedainya!” kata Mom sembari buru-buru melangkah pergi meninggalkan kedai.
Melihat Mom yang melangkah semakin menjauh membuat Zahra mau tidak mau harus segera menyusul Mom. Meski saat ini pikiran Zahra dipenuhi dengan tanda tanya.
‘Remaja laki-laki itu seperti Angga. Apa mungkin itu memang Angga?'
...****************...
‘tek, tek,’ bunyi peraduan antara pisau dan telenan.
Wortel-wortel segar itu terpotong menjadi bulatan-bulatan.
Tanpa ada kata tanpa ada suara. Mom nampak fokus dengan aksi mari masak memasak untuk santap malam kita.
Sesekali Zahra melirik ke arah Mom, dalam hatinya ia ingin mengatakan sesuatu tapi ia tahu suasana hati Mom pasti sedang tidak baik.
“Mom,”
“Hmm,”
“Tadi itu....”
“Apa?”
Zahra mengggigit bibir bawahnya, ia tengah menimbang-nimbang, haruskah ia mengatakannya atau tidak.
“Kenapa, Ra?” ulang Mom.
“Mom,”
“Iya.”
“Tadi itu Papa lagi bersama siapa?”
“Entahlah!”
Zahra menatap Mom sejenak, lalu ia membuang napasnya pelan.
__ADS_1
“Remaja laki-laki yang duduk bersama Papa tadi mirip dengan seseorang yang Zahra kenal.
“Oh, ya, Siapa?”
”Entahlah, Zahra hanya melihat punggungya saja. Jadi Zahra tidak tahu, dia memang seseorang yang Zahra kenal atau hanya mirip saja.”
‘Atau hanya perasaanku saja.’ Batin Zahra.
“Mom,”
“Hmm?”
“Apa Mom masih marah dengan Papa? Mom masih benci Papa?”
‘tek’ bunyi peraduan antara pisau dan telenan itu terhenti seketika. Jari-jari lentik Mom terhenti melakukan aksi mari potong memotong sayur.
Tatapan kedua matanya menyalang seolah memandang jauh ke masa lalu. Ada gemuru dalam benaknya. Kilasan-kilasan masa lalu itu pun satu persatu datang membawa kenangan.
Sebuah genangan air di sudut mata Mom pun tercipta. Sontak saja Mom mendongak untuk mencegah terjatuhnya air mata.
Ia mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Disekanya pelan ujung matanya memastikan tidak ada air mata yang tumpah.
“Zahra, tolong ambilkan panci beserta air satu gayung, ya!” titahnya mengalihkan topik pembicaraan.
“Oke.”
...****************...
Hari telah berganti, sore kemarin telah berubah menjadi pagi hari ini.
‘Pesanku semalam masih centang satu. Tadi pagi tidak menjemputku. Sekarang di sekolah juga tidak terlihat.’ Batin Zahra.
Zahra masih duduk termangu di bangkunya. Pikirannya melayang penuh dengan tanda tanya.
‘Apa mungkin, calon papa Angga adalah Papa Zahra.’
‘Huft..’ Zahra menghela napas beratnya.
“Andi!” panggil Zahra pada teman sebangku Angga.
“Iya?”
“Angga kemana?”
“Oh, Angga. Dia sakit.”
“Sakit? Sakit apa?”
“Mana ku tahu, tadi Mama Angga menelponku dan bilang kalau Angga gak bisa masuk sekolah Karena sakit.”
“Kamu gak tanya dia sakit apa?”
“Aduh Ra, yang nelpon itu Mamanya, sungkan aku kalau musti tanya-tanya.”
“…..” Zahra mengerucutkan bibirnya.
...****************...
Jam istirahat pun tiba. Seperti biasa, kantin adalah tempat Hani dan Zahra untuk menghabiskan waktunya.
Hani tengah menikmati bakso kantin langganannya. Sedangkan Zahra masih termenung dengan pikirannya.
“Kenapa, Ra?” tanya Hani setelah ia berhasil menelan masuk bakso yang telah ia kunya.
“Aku lihat dari tadi mururng mulu?”
“Angga sakit, dan aku tak tahu dia sakit apa.”
__ADS_1
Hani Nampak berpikir sejenak. Ia mencoba mencari respon yang tepat. Tapi sayangnya, Hani juga tidak tahu apapun perihal sakitnya Angga.
‘Apa remaja laki-laki yang aku lihat di kedai bersama Papa kemarin itu benar-benar Angga?’
Perrtanyaan itu terus saja berputar-putar dalam pikiran Zahra.
‘Huft…’
‘Duk!’
Suara helaan napas Zahra yang diikuti suara benturan kepala yang mendarat di meja.
“Hey, itu kepala jangan dibentur-benturin, nanti malah turun.”
Zahra mengernyit, “Turun?”
Seketika Zahra mengangkat kepalanya,
“Apanya yang turun?”
“Ya itu, kualitas isi kepalamu nanti makin turun kalo dibentur-benturin gitu.” Terang Hani dengan santainya.
Zahra menatap sinis ke arah Hani. Bahkan nampak ada kilatan kemarahan di ujung matanya.
Ditariknya napas dalam-dalam lalu dalam hitungan detik kemudian.
“YAAKK…., HANI. TEGA SEKALI KAU MENGATAI AKU BODOH!”
Masih dengan napas beratnya, Zahra masih setia dengan death glare miliknya .
Tanpa berkata-kata lagi, Hani dengan sigap mengangkat mangkok baksonya dan kabur ke bangku seberang.
...****************...
Terdengar senandung angin.
Sepoi berhembus bagai irama.
Dedaunan bergoyang mengikuti alunanan nada.
Burung-burung berkicau melafal syair yang indah.
Terik mentari membakar menambah gairah.
Namun sayang, Sang Kekasih tak lagi ada mengiringi langkah.
Zahra melongok kanan dan kiri. Betapa sepinya perjalanan pulang ini tanpa ada Angga yang menemani. Mungkin ini nampak hiperbola, tapi apa mau dikata, memang begitu kenyataannya.
“Harusnya kamu ada di sini. Langkah ini terasa sangat letih saat sendiri.”
Langkah terasa tertatih meratapi sepi
Berjalan seorang diri bagai fakir tak berkasih
Ayunan tak berirama terasa hampa
Kini kekasih telah tiada
Terasa diri terputus raga dan nyawa
“Aku merindukanmu! Aku membutuhkanmu! Aku ingin selalu ada kamu di sisiku!”
Tanpa dipinta tanpa diperintah, genangan air di mata terkumpul sudah di ujung mata. Siap berderai melukis garis air mata.
“Aku butuh kamu, Angga!”
~to be continue~
__ADS_1