
Tubuh mungil itu masih setia bersembunyi di dalam selimut. Tangannya menggenggam erat ujung selimut berusaha mempertahankan tempat persembunyiannya.
“Ra, ayolah sayang. Papa datang ke sini demi kamu.” Bujuk Papa dengan lembutnya.
“Katanya Zahra rindu Papa. ini Papa sudah di sini malah dicuekin.”
“.....”
“Memangnya Papa jahat kenapa?”
“.......”
“Oh, atau Zahra mau jalan-jalan sama Papa?” Papa masih berusaha membujuk bayi besarnya.
“Zahra, kamu sudah besar, gak seharusnya bersikap seperti itu.” Kata Mom.
“Zahra!” panggil Mom dengan tersirat nada mengancam.
“Ayo sayang, makan ya!” bujuk Papa.
Dengan pelan selimut penutup itu akhirnya terbuka.
“Nah begitu, anak Papa pinter. Papa suapin, ya!” ucap Papa sumringah.
Disendoknya bubur manis buatan Mom yang mungkin sudah mendingin karena terlalu lama terabaikan. Disuapkannya sendokan bubur itu ke mulut Zahra dengan pelan dan telaten.
“Buburnya sudah dingin, apa Zahra mau buburnya dihangatkan?” tawar Papa.
Zahra hanya menggeleng dengan mulut yang sudah penuh dengan bubur suapan Papa.
Disendokannya lagi bubur manis itu dan disuapkannya lagi ke Zahra.
“Zahra sakit kenapa? Karena rindu Papa?”
“.......”
Papa mencoba menampilkan senyum di bibirnya, lalu diusapnya lembut puncak kepala Zahra.
“Sampai kapan pun, Papa tetap akan jadi Papanya Zahra. Dan selamanya akan sayang Zahra.”
Tanpa diperintah, genangan air pun sudah berkumpul di ujung mata Zahra.
“Maaf ya, sayang. Beberapa waktu terakhir ini Papa terlalu sibuk, sampai-sampai membuat Zahra rindu.”
Mengalir sudah airmata yang sedari ditahan Zahra.
“Hey, kenapa menangis?” tanya Papa lembut.
Zahra hanya menggeleng, dan berusaha mengusap airmata dan ingusnya.
Dengan sigap, Papa membantu Zahra mengusap airmatanya. Diletakkannya mangkok berisi bubur manis di meja nakas kamar Zahra.
“Ayo sini, sayang.” Papa memposisikan diri duduk di ranjang Zahra dan menuntun Zahra untuk duduk bersandar dalam rangkulan Papa.
Dibelainya lembut rambut putri satu-satunya. Dirangkulnya erat dan didekap dalam rengkuhan hangat seorang Papa.
“Zahra, apapun yang terjadi, Zahra harus percaya bahwa Papa sayang Zahra.”
Tanpa ada kata, Zahra hanya bisa meringsekkan dirinya semakin dalam dekapan Papa.
Momen haru antara Papa dan putri tercinta, nampaknya membawa perasaan gemuru bagi Mom yang sedari tadi menjadi saksi.
‘Apa semua ini salahku? Apa semua ini karena keegoisanku?’ Batin Mom.
Tak ingin terlihat lemah, Mom pun memilih keluar dari kamar Zahra. Mencari tempat tenang untuk menetralkan perasaannya.
‘Apa keputusanku 3 tahun yang lalu adalah sebuah kesalahan?’
‘Putriku nampak begitu menderita tanpa sosok Papa, dan aku tak mampu menggantikan posisi itu.’
Rangkaian kata dalam batinnya terus mengaung mengiringi langkah kalutnya.
‘Maafkan Mom, sayang. Kamu harus menderita karena Mom.’
...****************...
__ADS_1
Benda persegi panjang itu terbolak-balik, terputar-putar, tengkurap, terangkat lalu terbanting ringan lagi di paha Angga yang masih asyik dalam dunia pikirannya.
Mama hendak ke dapur, namun saat melintas di ruang keluarga, Mama melihat Angga dengan tatapan menerawang jauh dengan jari jemari tangannya yang sibuk membolak-balik, menjungkir balik ponselnya.
Mama berjalan mendekat lalu duduk tepat di sebelah Angga.
“Itu Ponsel bisa pusing kalo kamu bolak-balik gitu terus.”
“.....” Angga masih di alam pikirnya sehingga belum menyadari kehadiran Mama.
“Angga.” Panggil Mama.
“....”
“Angga......” Kali ini dipanggilnya nama Angga dengan nada sedikit tinggi yang dipanjangkan namun tetap dengan kelembutan.
“Hah?” reflek Angga menoleh dengan kelinglungannya.
“Kamu mikirin apa, sih?"
“Enggak.” Jawab Angga mengelak.
“Angga gak lagi mikir apa-apa, Ma.”
Mama memutar bola matanya malas, “Kalo gak mikirin apa-apa, mana mungkin kamu sampai segitunya, sampai gak sadar kalo ada Mama.”
“Oh, ya?” tanya Angga masih dengan kelinglungannya.
“Mikirin apa?” ulang Mama.
Angga menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Lalu berganti menggaruk telinganya.
“Eh, anu, Ma─”
“Anu apa?”
“Itu....”
“Angga!” Kata Mama dengan penekanan seolah berusaha mengancam.
“Itu kenapa sih, kepalanya? Ada kutunya?” gemas Mama yang melihat sedari tadi Angga sibuk menggaruki kepalanya.
“Hehehe... enggak kok, Ma.”
“Jadi?”
“Jadi? Apanya?” tanya Angga yang tak kunjung paham.
Mama mengepal erat kedua tangannya sambil berkata, “Hiiiiii....” menyuarakan kegemasannya pada Angga.
“Jadi, Angga tadi lagi mikir apa sampai linglung gitu. Kamu ya, lama-lama Mama gigit juga loh kamu!”
“Aduh!”
“Ayo cepet cerita!”
“Ayooo......” dan kali ini Mama sudah mulai mengucek-ngucek tangan Angga.
“Aduhh... aduhh... iya, Ma. Ampun!” Pasrah Angga dengan berusaha menjauhkan diri dari Mama agar terlepas dari kucekan Mama.
“Angga.....” Angga menggantungkan perkataannya.
“Angga.” Ucap Mama dengan nada peringatan, dan tatajam yang tajam.
“Iya, tadi..... Angga lagi kepikiran Zahra.”
“Zahra? Zahra kenapa?” ekspresi Mama berubah kaget seketika.
“Zahra hari ini tidak masuk sekolah karena sakit. Dan kemarin itu di sekolah Zahra itu habis dilabrak sama anak kelas lain.”
“Dilabrak? Kok bisa? Siapa yang ngelabrak?” Mama memberondong Angga dengan pertanyaan bertubi-tubi.
“Nah itu dia, Ma. Angga juga gak tahu kenapa Zahra dilabrak dan siapa yang ngelabrak Zahra.”
“Aiisshh.... kenapa kamu gak jagain Zahra, sih!”
__ADS_1
“Ya mana Angga tahu kalau Zahra bakal dilabrak. Lagian dilabraknya di toilet perempuan, lah masak Angga ngikutin Zahra ke toilet perempuan.”
“Hemmm... bener juga.”
“Lah terus gimana?”
“Apanya, Ma?”
“Entah!” polos Mama yang membuat Angga sontak memutar bola matanya jengah.
“Kali ini bisa-bisa Mama yang aku gigit.”
Tak selalu harus sesuatu yang besar untuk membangun kedekatan dalam keluarga. Terkadang, obrolan kecil nan ringan bisa menjadi penghantar kelekatan dalam keluarga.
“Jadi apa Ma solusinya?”
“Tak tahu, Mama juga bingung.”
“Aishh.... sia-sia deh Angga cerita.”
“Bentar, dong. Ini Mama masih mikir.”
Dan obrolan itu terus berlanjut meski sebenarnya keduanya tak benar-benar tahu kemana arah obrolan mereka. Disadari atau tidak, kebersamaan yang seperti ini yang nantinya akan dirindukan.
...****************...
Keheningan malam selalu saja menghantar kenyaringan suara binatang malam. Menjadi simponi pengiring hati yang sunyi.
“Sayang, Papa harus pulang, ya. Besok Papa ke sini lagi.”
Zahra mengeratkan genggamannya di lengan Papa.
“Sayang, ini sudah malam. Papa harus pulang.”
“Zahra mau sama Papa.”
“Iya, sayang. Besok Papa akan ke sini lagi, ya.”
“Apa tidak bisa, untuk malam ini saja Papa tidur di sini.”
“Gak bisa, sayang.”
“Kenapa, Pa?”
“Sayang....”
“Papa janji besok akan ke sini lagi. Tapi untuk sekarang Papa harus pulang.”
“Zahra masih ingin bersama Papa.”
“Iya, sayang.”
“.....” lagi-lagi, airmata itu pun mengalir tanpa diperintah.
“Papa minta maaf, sayang. Tapi Papa benar-benar tidak bisa.” Terang Papa dengan selembut sebisanya.
“Papa janji, besok Papa akan datang lagi ke sini.”
‘Zahra gak mau kehilangan Papa. Zahra gak mau Papa menikah lagi.’ Batin Zahra mencoba menyuarakan perasaannya. Namun sayangnya, suara itu hanya sebatas dalam batin saja.
“Papa sayang Zahra, ya.”
‘Cup’ Papa mengecup kening putrinya.
Diusap-usapnya lengan putrinya dan ditepuknya pundak Zahra.
...****************...
Andai rasa mudah diungkap
Mungkin takkan ada perasaan yang terperangkap
Sekuat gemuruh menggetarkan dada
Namun bibir hanya mampu terdiam seribu bahasa
__ADS_1
To be continue......