AZZA

AZZA
Resah


__ADS_3

Angga dan Zahra, dua anak manusia yang selalu bersama.


Saling menggenggam dan menguatkan.


Saling memuja dan mengagumi.


Keduanya saling membangun angan, semoga kelak mereka disatukan.


...****************...


Zahra duduk manis di salah satu bangku taman. Kedua kakinya berayun-ayun dengan bibir yang manyun. Kedua tangannya bertopang di bangku taman seolah menyangga tubuhnya agar tidak ambruk di saat pandangannya masih setia menunduk.


“Memalukan.” Cicitnya pelan.


Di bawah pepohonan yang rindang di kala siang yang terik seakan siap membakar siapa saja hingga berubah menjadi hitam kegosongan. Ranting-ranting pohon yang bergoyang-goyang menciptakan angin yang sepoi-sepoi dan sesekali berhembus lebih kencang hingga menerpa daun-daun yang berserak berguguran.


“Ini.” Katanya sembari menyodorkan sekaleng minuman soda dingin.


“Terimakasih.”


Setelah menyodorkan minuman pada Zahra, kini Angga pun mendudukan dirinya tepat di samping Zahra.


‘Krek’ tutup kaleng itu pun terbuka. Tanpa basa basi Angga meneguk minuman soda dingin itu hingga isinya tersisa setengah kaleng.


Ia menghembuskan napasnya kasar, lalu menoleh ke arah Zahra.


“Tidak diminum?”


“Aku tidak bisa membukanya.”


Angga nyengir, diambilnya kaleng soda itu dari genggaman Zahra. Diperlakukannya kaleng itu sama dengan kaleng miliknya. Dibukanya tutup kaleng itu hingga menciptakan bunyi ‘krek’ lalu disodorkannya kembali pada Zahra.


‘gluk… gluk..’ kurang lebih seperti itulah bunyi irama soda yang diteguk agresif oleh Zahra.


Angga bisa lihat leher jenjang itu terdongak dan menunjukkan pergerakkan naik turun layaknya orang yang minum dengan rakus karena haus.


‘Bahkan saat kau menjadi rakus. Tetap saja kau layak dipuja.’ Batin Angga.


...****************...


Mereka sudah selesai dengan acara mari minum-meminum soda dingin di hari yang panas. Nampak wajah Zahra yang terlihat lebih segar dari sebelumnya. Sesekali angin berhembus menerpa rambutnya. Hingga sesekali Zahra pun harus menyelipkan kembali rambutnya ke celah daun telinganya.


“Mama akan menikah.” Ucap Angga mengawali pembicaraan.


“Waw, bagus dong!”


“Bagus? Apanya yang bagus?” Tanya Angga dengan nada agak dinaikkan merasa kurang setuju dengan celetukan Zahra.


“Iya bagus, kan! Selama bertahun-tahun Mama hidup seorang diri. Dan akhirnya sekarang Mama menemukan kebahagiannya.” Terangnya antusias.

__ADS_1


Angga menunduk, rasanya benar yang dikatakan Zahra. Tapi, entahlah, kenapa Angga merasa ini bukan sesuatu yang ‘bagus’ seperti yang dikatakan Zahra.


“Kenapa?” Tanya Zahra yang menyadari kegelisahan pada raut muka Angga.


“Entahlah!” singkatnya acuh.


Ranting pepohonan itu terus saja bergoyang dengan daun yang melambai-lambai seolah abai dengan anak manusia yang kini berteduh di bawah kerindanganya dengan perasaan gelisah.


Rangkailah syair bernada satire.


Untaian ironi menjadi puisi.


Seberapa pun hati ingin berontak. Namun tetap saja diri diam tak bergerak.


...****************...


Waktu terus saja bergerak meski hati yang kalut enggan untuk beranjak. Bahkan tiap menit pun terus berlari menghantarkan siang pada sore hari.


Kaki jenjang dengan langkah santai berjalan melintas begitu saja tanpa menyadari sosok wanita yang sedari menunggunya.


“Kenapa baru pulang?”


Kalimat pertanyaan itu pun sukses membuat Zahra menghentikan langkahnya.


“Kenapa baru pulang?” ulangnya sekali lagi.


“Tadi main sebentar ke taman.” Jawabnya seadanya namun dengan gugup yang kentara.


“Main sama siapa?”


“A…Angga.” Jawabnya kikuk.


Mom mendengus memutar bola matanya malas.


“Lain kali kasih kabar kalau mau main!” ucap Mom, kemudian melenggang abai meninggalkan Zahra.


Zahra cukup paham dengan Momnya, gelagat yang barusan Mom tunjukkan adalah pertanda teguran marah namun dibingkai dengan gaya anggun khas milik Momnya.


...****************...


‘Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Kau takut perhatian Mama terbagi. Jadinya kau merasa gelisah.’


Kata-kata Zahra di siang tadi terngiang dalam pikiran Angga. Mungkin Zahra benar, dirinya hanya merasa tak rela jika perhatian Mama harus terbagi. Sepertinya, tanpa disadari ada keegoisan dalam dirinya.


“Zahra benar, harusnya aku senang jika Mama menikah.” Monolognya mencoba mensugesti diri.


“Heuuhh..” akhirnya napas berat itu pun terhelah untuk yang kesekiankalinya.


Isi kepala anak laki-laki itu pun mulai bekerja mencoba memikirkan sesuatu yang mungkin belum pernah ia pikirkan sebelumnya.

__ADS_1


Selama ini Mama seorang diri membesarkannya tanpa ada sosok suami di sampingnya. Betapa kesepiannya Mama karena selama ini sendiri.


Angga pun mulai membandingkan dengan dirinya. Saat ini betapa ia merasa bahagia saat ada Zahra dalam hidupnya karena di situ ia bisa merasakan apa itu cinta.


Meski Angga sendiri belum tahu pasti akan perasaannya, tapi ia yakin rasanya kepada Zahra paling cocok dinamai sebagai rasa cinta.


Senyum pun mulai mereka di wajahnya. Setiapkali mengingat tentang Zahra selalu saja rasa bahagia menguar dari dalam benaknya. Bagai Morfin yang menciptakan sensasi melayang. Seolah Dopamin dalam tubuhnya terus meningkat hingga menghantarkannya pada rasa senang yang memuncak.


“Kau selalu indah dalam ingatanku, Ra!”


Ungkapnya dengan senyum sebagai penghantar tidurnya.


...****************...


‘Kamu selingkuh, Mas!'


‘Itu tidak benar! Aku tidak pernah mengkhianatimu, sayang.’


‘Bohong!’ elaknya setengah berteriak.


‘Kau bilang ada bisnis di luar kota, tapi yang sebenarnya kau punya wanita lain, iya, kan!' terangnya menuntut pembenaran.


‘Kau ini kenapa sih? Kenapa kau selalu saja menaruh curiga!’


‘Jawab aku dengan jujur, Mas!’ ucapnya menuntut.


‘Aku tidak selingkuh.’ Jawabnya dengan penuh penekanan.


‘Bohong.’ Elaknya tak percaya.


‘Terserah! Apapun yang aku katakan itu takkan pernah benar di matamu.’ Pria itu pun melangkah pergi. Meninggalkan kenangan yang masih tersisa.


Mom menghela napasnya panjang. Diusapnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Ia melirik ke arah jam yang bertengger manis di dinding kamarnya. Jarum pendek berada di angka satu dan jarum panjang berada di angka 5. Matahari masih berselimut dan di luar masih gelap. Berarti ini setengah 2 dini hari.


“Sudah 3 tahun berlalu tapi semuanya masih jelas dalam ingatanku, Mas.”


Tak banyak yang tahu, selama ini Mom masih sering memikirkan masa perpisahan dengan mantan suaminya. Perceraian memang bukan sesuatu yang mudah.


Mom beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkah beberapa meter dari tempatnya lalu mengambil gelas berisi air putih yang sudah tersedia di meja nakas kamarnya. Diteguknya air minum itu hingga dirasa sudah berkurang dahaganya.


“Andai saja di antara kita ada yang mau mengalah. Mungkin perpisahan ini takkan terjadi”


Entahlah, apakah ini ungkapan penyesalan atau sebatas ungkapan kesakitan karena rasa kesepian.


Hidup ini penuh misteri. Selalu ada tanya dalam setiap momennya. Bahkan untuk sesuatu yang telah berlalu. Masih saja menyisahkan tanya tanpa ada jawabannya. Berandai-andai adalah kebiasaan yang selalu dilakukan manusia untuk menciptakan kebahagiaan yang fana.


*to be continue*

__ADS_1


__ADS_2