AZZA

AZZA
Sepakat


__ADS_3

Andi dan Hani berjalan keluar dari kelas XII-C. Mereka sempat menengok kanan dan kiri mencari Angga dan Zahra.


“Oh, kalian di sini. “ Kata Hani saat melihat Angga dan Zahra duduk di bangku tak jauh dari pintu kelas XII-C.


“Gimana?” tanya Angga antusias.


Angga menuntun Zahra untuk berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Hani dan Andi.


“Udah tahu yang mana anaknya?” tanya Angga.


“Tadi aku tanya temenku. Katanya, kalo menurut ciri-cirinya, kemungkinan itu Susan dan Santi. Terus itu temenku juga bilang kalo dia pernah dengar Susan dan Santi ini lagi rumpi dan nyebut-nyebut nama Zahra gitu.”


“Terus masalah mereka apa ama Zahra?”


“Temenku juga gak tahu pastinya, cuma dia bilang mungkin ini ada hubungannya sama Dio. Kan, Susan itu suka ama Dio, tapi kapan hari itu mereka sempat lihat Zahra malah gandeng-gandeng Dio gitu.”


“Mereka bilang gosip tentang Zahra yang godain Dio itu lumayan viral di kelas XII-C.” Andi mencoba mengimbuhi penjelasan Hani.


Angga mencoba mencerna kata-kata Andi dan Hani.


“Jadi, kalian tahu yang mana anaknya?” tanya Angga.


“Nah itu dia masalahnya, kebetulan tadi mereka lagi tidak di kelas. Jadi kita gak tahu yang mana namanya Susan dan Santi itu.” Terang Andi.


Seketika geraman terasa dalam hati Angga. Seolah merasa mangsanya gagal digenggam.


“Itu!” lirih Zahra sembari menearik-narik lengan baju Angga.


Angga sontak menoleh ke arah Zahra dan mengikuti arah pandang Zahra. Beberapa meter dari tempatnya berdiri dapat Angga lihat dua cewek tengah berjalan mendekat. Saat dua cewek itu berada begitu dekat, dapat Angga rasakan pergerakan Zahra yang beringsut bersembunyi dibalik punggung Angga.


“Susan dan Santi.” Ucap Angga saat mata jelinya mampu membaca name tag yang terpasang di baju dua cewek yang barusan saja melintas di depannya dan berlalu menghilang masuk ke dalam kelas XII-C.


“Kenak kalian” Lirih Angga dengan dendam yang dinyalakan.


Jangan sentuh bungaku


Atau kau akan menyesal seumur hidupmu.


...****************...


Seorang lelaki dan seorang wanita tengah berbincang berdua di sebuah ruang tamu dengan secangkir kopi yang tersuguh di meja.


Mereka nampak asyik dan bahkan sesekali saling tertawa bersama. Entah apa yang mereka perbincangkan.


“Oh iya, bagaimana kabar Angga?” tanya pria paruh baya itu.


“Alhamdulillah, kabar Angga baik.”

__ADS_1


“Ohh…” seru laki-laki itu dengan mengangguk-angguk.


“Angga sekarang SMA, kan?”


“Iya.”


“Kelas berapa?”


“Kelas 3, dan sebentar lagi sudah mau lulus.”


“Hmm.., berarti sama, putriku juga SMA kelas 3.”


“Wah, berarti sepantaran. Semoga saja mereka nantinya bisa saling menerima.”


“Iya, semoga pernikahan kita nantinya tidak membawa luka untuk siapapun.”


“Oh, ya. Anak SMA kelas 3 kalo pulang jam berapa?”


“Pulangnya, ya? Emm.. gak pasti juga, sih. Kalo kata Angga pulangnya itu jam 1 siang, tapi biasanya ada pelajaran tambahan. Jadi pulangnya kadang bisa sampai sore gitu.” Terang Mama.


“Sekolahan sekarang makin gak aturan jamnya. Apa ndak kasihan, dari pagi sampai sore anak-anak disuruh belajar. Mereka dicekoki materi-materi pelajaran, tapi tidak diajari ilmu kehidupan.” Tutur Papa.


“Iya, kadang suka kasihan. Pas pulang gitu, Angga keliatannya udah capek banget. Biasanya dia langsung mandi, masuk kamar, pas aku lihat udah tidur.”


Papa tersenyum menanggapi cerita Mama. Dia mengangkat cangkir kopinya lalu meneguknya basa-basi. Perkataan Mama barusan mengingatkannya akan putrinya yang tak pernah ia jaga. Papa jadi memikirkan etapa ia kehilangan momen-momen berharga dengan putrinya.


‘Ternyata aku memang tak berguna.’ Batin Papa.


...****************...


“Kalian lihat dua cewek yang jalan melintas di depan kita tadi?” tanya Angga antusias dengan berbisik.


“Yang mana?” tanya Andi.


“Dua cewek yang lewat di depan kita pas kita di depan kelas XII-C. Cewek yang satunya berponi dan satunya rambut lurus sepinggang.”


Andi dan Hani mencoba mengingat-ingat kejadian sesaat sebelum bel tanda istirahat berkahir.


“Oh, iya. Cewek yang mencolok tadi, ya?” tebak Andi.


“Ah aku ingat, dua cewek yang pas lewat bau parfumnya seeng... nyong-nyong banget tadi, ya?” kata Hani antusias.


“Nah, betul!” kata Angga sambil menjetikkan jarinya.


“Ehh.. tapi emangnya kenapa?” tanya Andi mode o’on.


“Ck,” Angga berdecih dengan wajah males.

__ADS_1


“Yah itu tadi yang namanya Susan dan Santi.” Terang Angga.


“Ohh...” seru Andi dan Hani bersamaan.


“Ok, kalau gitu. Kita tinggal eksekusi mereka.” Kata Hani dengan antusias kegeramannya.


Andi, Angga, dan Hani, mereka berunding bersama perkara eksekusi tersangka pelabrakan. mereka berunding di kala Zahra memilih ke UKS untuk beristirahat. Zahra merasa kepalanya pusing, dan ia tak mau semakin pusing karena setelah istirahat adalah waktunya pelajaran kimia.


“Selamat siang, anak-anak....” seru Bu Guru sesaat memasuki kelas dan berjalan menuju meja. Dan itu menjadi akhir sesi perundingan Angga, Andi, dan Hani.


...****************...


"Dek, kamu mau kita honeymoon ke mana?”


“Gak usah!” ketus wanita yang ditanyai itu.


“Oh.” Jawab pria itu dengan tersirat rasa penolakan.


“Oh ya, apa kita jalan-jalan ajah di taman atau belanja-belanja lalu nonton bioskop gitu?” pria itu kembali bertanya.


“Aku capek, aku mau istirahat.” Jawab wanita itu lalu berlalu meningalkan si pria.


Pria itu hanya menatap kepergian wanita itu dengan perasaan yang sulit diartikan. Wanita itu tak lain adalah istrinya sendiri.


Mereka baru saja menikah, seperti yang biasa orang-orang bilang, mereka adalah pengantin baru. Tapi kehidupan pengantin baru mereka sedikit berbeda dengan pengantin lainnya. Jika hari-hari pengantin baru lainnya dipenuhi dengan kemesraan dan kebahagian. Lain halnya dengan mereka berdua yang justru hari-harinya diisi dengan saling diam dan pengabaian.


“Jika aku bisa lebih menerima kenyataan dan tidak egois. Mungkinkah semua tidak akan berakhir seperti ini?” tanya Mom pada dirinya sendiri.


Mom masih duduk termenung di sofa ruang tamunya. Ia belum beranjak sejak pagi tadi. Dan pikirannya pun belum beranjak dari kenangan masa lalu.


“Saat itu, hatiku masih terpaut dengan seseorang yang dulu hingga aku menjadi abai dengan seseorang yang menjadi pendamping hidupku.” Mom tersenyum kecut.


“Iya, ternyata aku pun bersalah dalam perpisahan kita.” Pungkasnya menepis rasa.


Mom segera bangkit dari duduknya. Ia merenggangkan otot-otot pegalnya karena hampir setengah hari terduduk di sofa.


“Ahh.... ku sesali sampai mati pun takkan bisa membuat waktu terputar kembali.”


Mom melangkah berjalan menuju dapur.


“Aku akan memasak makanan yang enak dan aku akan memakannya sampai kenyang. Perutku terlalu lapar hingga aku menjadi melankolis.”


Dikuncirnya rambut Mom dan di rapikan agar tak berjatuhan di makanan selama ia memasak nanti.


“Hidup terlalu keras padaku.” Celetuk Mom.


Hidup memang terlalu keras untuk siapapun, Mom.

__ADS_1


To be continue.....


__ADS_2