AZZA

AZZA
Pemuja Cinta


__ADS_3

Zahra terduduk dengan anggun, raut wajah berseri dengan senyum yang alami. Sesekali rambutnya tertiup anggin pagi. Sudah beberapa menit yang lalu ia diam tak bergerak, bertahan dengan posisinya. Bunga-bunga di sekelilingnya menambah sempurna pemandangan yang tercipta.


'Entah mata ini terpejam atau terbuka.


Tetap saja wajahmu tergambar nyata.


Ku coba sadarkan diriku dari sihir cintamu.


Namun aku semakin tenggelam dalam khayalku.


Bunga-bunga melayu


Seolah tak sanggup menandingi indahmu.


Kerling di matamu, senyum di bibirmu.


Dan hembus angin yang menerpa rambutmu.


Semua nampak sempurna dalam pandanganku.


Bagai langit yang terjunjung tinggi.


Itulah arti dirimu.’


Bersajak dalam diam, rangkaian kata memuja terukir dalam hatinya. Sang pemuda yang dilanda cinta, dialah Angga.


“Sudah?” Tanya Zahra.


“Sedikit lagi.”


Angga masih fokus dengan buku gambar dan pensil di tangannya yang bergerak lincah. Matanya sesekali melirik Zahra dan kemudian kembali fokus pada pekerjaannya. Seperti biasanya, gerakan tangannya semakin lincah hingga akhirnya terhenti dan bibir itu pun tersenyum memandangi hasil karyanya.


“Ini!” katanya sembari menyodorkan buku gambar yang sedari dalam kendalinya.


Sejenak Zahra memandang wajahnya sendiri yang tertoreh menjadi sebuah lukisan yang indah.


“Cantik!" Gumamnya tanpa diperintah.


Meski pelan tapi suara itu masih sanggup terdengar.


“Iya,” jawabnya sejenak terhanyut, namun jiwa jahilnya pun segera muncul, “Aku memang pelukis berbakat.”


Seperti yang diinginkannya, kata-kata pujian untuk dirinya sendiri itu pun sukses membuat Zahra nyengir dan memutar bola matanya malas.


"Lukisanmu terlihat cantik itu karena kau melukis objek yang sangat cantik dan menawan.”


“Kemarin aku melukis kodok, hasilnya juga cantik dan menawan.” Kata Angga dengan senyum bangga. Lalu beranjak dari tempat duduknya dan melenggang pergi meninggalkan Zahra. Meski tanpa menoleh untuk melihat, Angga bisa tahu seperti apa ekspresi Zahra saat ini.


“Melukis kodok yang cantik dan menawan. Hufft..” kesalnya dengan bibir manyun menciptakan terpaan pada poninya.


...****************...


Suasana sekolah selalu ramai. Anak-anak pelajar itu berlalu lalang bertebaran di semua titik tempat. Zahra dan Hani memilih kantin untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Dengan beberapa makanan ringan dan minuman dingin mereka menikmati pelepasan benat seusai jam pelajaran.

__ADS_1


“Aku rasa dia berbakat jadi pelukis.”


“Iya, aku tau.”


“Apa itu lukisan wajahmu yang pertama?” tanya Hani.


“Tidak juga, sebelumnya dia sudah pernah melukis wajahku.”


“Oh! Sedari tadi kau memandangi lukisan itu seolah itu lukisan pertamamu.”


Zahra mengerjapkan-ngerjapkan matanya, melepaskan topangan dagunya dan menegakkan posisi duduknya.


“Hani, lihatlah ini, lukisan ini nyaris sempurna. Seorang gadis cantik duduk di sebuah taman bunga yang indah. Dan lihatlah ini, dia bahkan melukis kupu-kupu yang hinggap di sekuntum bunga.” Celoteh Zahra dengan bumbu berbelebihan. Dan jangan lupakan gerakan tangannya yang seolah tengah menari mewakili perasaan kagumnya.


Diambilnya buku gambar tempat lukisan tertoreh. Hani memandangi dengan seksama lukisan yang kata Zahra ‘nyaris sempurna’.


“Hmm.., kau benar. Lukisan ini memang nyaris sempurna. Andai ditambahkan gambaran pangeran tampan, pasti ini akan menjadi lukisan yang sempurna.” Kata Hani sekadarnya.


“OH MY GOD!” pekik Zahra tiba-tiba yang nyaris membuat Hani tersedak kaget di kala minumnya.


“Kau benar Hani, harusnya di sini terlukis wajah rupawan Angga.”


Zahra mengucapkannya dengan mata berbinar. Dan itu membuat Hani geleng-geleng tak habis pikir.


“Zahra yang cantik, sejak kapan ada pelukis yang melukis dirinya sendiri. Bahkan dokter pun tak bisa mengoprasi dirinya sendiri.”


Zahra terdiam nampak berpikir. Raut wajahnya seketika berubah mewek.


...****************...


Jam dinding menunjukkan jarum pendek di angka 11 dan jarum panjang di angka 5. Matahari semakin tinggi dengan terik yang mengepul bagai uap minyak panas. Halaman sekolah sudah sepi ditinggalkan anak-anak yang kini duduk di kelas masing-masing. Sebagian dari mereka belajar dan sebagian lagi hanya menunggu bunyi bel pulang.


‘Bagaimana bisa Tuhan menciptakan makhluk yang indah tampan mempesona. Apapun yang ia lakukan sangat pantas untuk dipuja. Lihatlah, bahkan saat menguap pun ia nampak menawan. Oh astaga, ingin rasanya aku menjadi jari-jari lentiknya yang tengah menggaruk leher jenjangnya. Ya Tuhan, bahkan cara ia bernapas pun membuatku jatuh cinta.’ celoteh Zahra dalam hatinya.


“Zahra...” panggil Bu Guru.


“............”


“Zahra...” ulangnya sekali lagi.


“............”


Zahra masih saja diam dan terlampau nyaman dalam lamunannya. Hani yang berada tepat di sampingnya berusaha mengguncang-guncang Zahra berniat menyadarkannya.


“ZAHRA!”


Panggilan tegas dan keras, sukses menyadarkan Zahra dari lamunannya. Pandangan pertamanya tepat saling berhadapan dengan tatapan tajam Bu Guru.


“Maju ke depan!” perintah Bu Guru.


Kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul. Ia celingukan berharap ada yang memberinya penjelasan, tapi teman-temannya hanya terdiam menambah ketegangan. Dengan langkah pelan dan penuh keraguan, Zahra pun sampai tepat di depan papan.


“Kerjakan soal nomer 3!” perintah Bu Guru dengan menyerahkan spidol pada Zahra.

__ADS_1


Spidol itu pun berpindah dari tangan Bu Guru ke tangan Zahra. Ia bingung, sedari tadi ia sibuk melamun memuji keindahan makhluk ciptaan Tuhan. Tapi apa ini, kini ia malah harus mengerjakan soal fisika yang terpampang nyata seolah mengecenya.


Jelas sekali tampang kebingungannya, sudah beberapa detik berlalu dan Zahra hanya berdiri kaku dan sesekali cleingukan berharap sebuah bantuan.


“Kenapa, Zahra?”


“............”


“Soalnya sulit, ya?” tanya Bu Guru tersirat nada mengancam bagi Zahra.


“Jika ada guru yang menerangkan harusnya diperhatikan supaya paham dengan materi yang diajarkan. Bukannya malah fokus memandangi Angga.” Dan benar saja, perkataan Bu Guru disambut dengan suara sorakan "Huuuuuu..."dari teman-temannya untuk Zahra.


“Sudah, kembali duduk!” Titah Bu Guru pada Zahra yang hanya bisa tertunduk dan melangkah kembali ke bangkunya.


“Anak-anak, sekolah itu waktu untuk belajar bukan untuk pacaran. Kalian tidak akan sukses hanya dengan pacaran.” Terang Bu Guru.


“Paham!”


“Iya, buuu...” jawab anak-anak meski tidak sepenuhnya mengiyakan.


...****************...


Seperti biasanya, Zahra dan Angga pulang bersama berjalan kaki dengan sepeda gowes yang dituntun Angga. Sepanjang perjalanan Zahra hanya diam, raut mukanya penuh kemurungan. Angga paham apa kiranya yang menjadi penyebab gundah gulana Zahra. Kejadian di kelas siang tadi, cukup menjadi sebuah tragedi memalukan bagi Zahra.


“Sudahlah, Ra. Tak usah dipikirkan lagi.”


“......." Zahra manyun, bibirnya terkerucut lucu bagi Angga.


Seolah mengerti Zahra yang takkan terhibur hanya dengan kata-kata. Angga pun menaiki sepedanya lalu memberi isyarat pada Zahra dengan menepuk bagian frame bagian depan sepedanya.


“Ayo!” Zahra masih terdiam.


“Ayo naik, kita gowes-gowes menghempas huru-hara.” Ajak Angga yang berhasil mengukir senyum di bibir Zahra dan menuruti perintah teman terbaiknya.


“Kita mau kemana?” tanya Zahra.


“Ke tempat yang bisa menghilangkan penat.”


“Kita tidak pulang?”


“Tentu saja pulang.”


Keduanya menyusuri jalanan dengan bersepeda bersama. Angga duduk di saddle dan kaki mengayuh pedal, sedang Zahra duduk manis di frame bagian depan sepeda.


Adegan yang jarang sekali bisa dijumpai. Biasanya Angga hanya akan menuntun sepedanya dan mereka pun berjalan kaki bersama. Pernah Zahra meminta dibonceng oleh Angga tapi Angga justru berkilah kalau ia merasa kasihan pada sepedanya bila harus menanggung beban bobot Zahra.


...****************...


Hidup ini indah jika kita bersama. Alangkah baiknya jika Tuhan menakdirkan kita untuk tidak terpisah.


*to be continue*


 

__ADS_1


__ADS_2