AZZA

AZZA
Arti Sebuah Kata


__ADS_3

Angga berjalan memasuki rumahnya dengan gontai dan lemah. Tatapan matanya tidak fokus, jelas sekali pikirannya tengah jauh melayang.


Mama mengerutkan dahinya memandanginya putra satu-satunya itu.


“Angga.” Panggil Mama pelan saat Angga melewatinya begitu saja.


Langkah Angga terhenti, ia menoleh dan didapatinya Mama yang tengah menatapnya dengan senyum di wajahnya.


“Eh.. Mama.” Angga melangkah mendekat ke Mama, lalu disaliminya tangan Mama.


Dibelainya kepala putra tercintanya itu dengan penuh rasa sayang.


“Kamu kenapa, sayang? Mama perhatikan kok sepertinya lagi kepikiran sesuatu.” Kata Mama.


“Eehh... enggak, Ma. Tadi Angga cuma capek ajah banyak tugas sekolahh.” Jawab Angga dengan pandangan matanya mengarah ke kanan dan ke kiri. Serta tangannya yang menunjuk-nunjuk ke sembarang arah. Jelas sekali bahwa ia tengah gusar.


Mama tersenyum, sekali lagi dibelainya puncak kepala putranya, dan ditepuk-tepuknya pundak putranya itu.


“Yaudah, setelah ini kamu mandi, ganti baju, biar seger. Setelah itu, ayo makan bareng Mama.” Ucap Mama masih setia dengan senyumnya.


Angga mengangguk, “Iya, Ma.” Dan tak ketinggalan garukan ditengkuk belakangnya, pertanda ia tengah bingung dan tak tahu harus apa.


...****************...


Beberapa menu makanan telah terhidang di meja makan. Ada capcai, tahu goreng, toples berisi kerupuk, dan nasi putih. Serta tak ketinggalan, segelas susu putih hangat untuk Angga.


“Susu?” tanya Angga.


“Iya, sayang. Biasanya kalau lagi capek, penat, minum susu hangat, enak loh!” terang Mama.


“Oh.” Angga hanya bisa ber ’o’ ria.


“Gih, diminum! Mumpung masih hangat.” Titah Mama.


Angga mengangguk, lalu diangkatnya gelas berisi susu putih hangat itu dan diteguknya. Mama tersenyum melihat.


“Gimana, enak, kan?” tanya Mama.


“Iya, Ma.” Jawab Angga sembari menganggukkan kepalanya.


“Ini Mama masak capcai isi sayur campur daging. Mama biasanya kalau lagi males makan, dikasih menu sayur gini jadi semangat makan. Karena rasanya kayak berasa seger, gitu.” Terang Mama dengan penu semangat. Dan tentu saja itu membuat Angga tersenyum.


“Yang bener, Ma?” tanya Angga dengan nada menggoda.


“Ya bener, dong!”


“Kata siapa?”


“Kata Mama.”


Kali ini Angga tertawa kalem dengan sedikit menutupi mulutnya dengan punggung tangannya.


Bagi Angga, Mama adalah keajaiban. Meski tanpa tahu masalah yang tengah Angga hadapi, tapi selalu saja Mama mampu mengerti. Mama tahu yang Angga butuhkan, Mama tahu bagaimana menghibur Angga, dan Mama selalu berhasil mengalihkan dunia rumit Angga menjadi lebih sederhana.


‘Makasih, Ma.’ Batin Angga.

__ADS_1


...****************...


Waktu cepat sekali berlalu.


Kini siang telah berganti malam. Pancaran cahaya surya telah terganti dengan nyala lampu yang menerangi.


‘tok..tok..tok...’ ketukan pintu di kamar Zahra.


“Ra, Mom masuk, ya?”


“.....” tidak ada jawaban.


“Ra?”


“.....” tetap tidak ada jawaban.


Tak perlu menunggu lagi, Mom pun membuka pintu kamar yang tertutup tapi tak terkunci itu. Mom melangkah masuk ke dalam kamar Zahra.


Nampak seonggok selimut yang menggembung, Mom yakin pasti ada Zahra di balik sana. Mom mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang. Lalu berniat menyingkap seliimut itu. Tapi sayang, seseorang di balik selimut itu tengah memegangi erat selimut itu sehingga gagal tersingkap.


“Ra, kamu kenapa? “ tanya Mama.


“......”


“Ra?”


“......”


“Sejak pulang sekolah tadi kamu murung terus. Apa ada masalah?”


“.......”


“Lagi berantem sama Angga?” tebak Mom.


“......”


“Ada masalah di sekolah?” sekali lagi Mom mencoba menebak.


“......” dan sekali lagi Zahra hanya diam tanpa jawaban.


“Ra... kamu ini kenapa? Jangan cuma diam, dong! Mom dari tadi sudah berusaha tapi kamunya malah kayak gini!”


“ADA APA? ADA MASALAH APA?” nada bicara Om naik level, dari pelan menjadi lantang karena merasa kesal dengan sikap acuh Zahra.


“Kamu lagi PMS? Lagi dapet?”


“RA...." panggil Mom dengan sembari menarik-narik selimut Zahra supaya berhasil tersingkap.


“Apa sih, Mom!”


Akhirnya Zahra pun menyerah. Selimut itu terbuka dan nampaklah Zahra dengan wajah yang telah basah dengan airmata.


“Kamu nangis? Nangis kenapa?” tanya Mom.


“Gapapa.” Singkat Zahra.

__ADS_1


“Gapapa kok nangis?”


“Udahlah, Mom. Zahra gak mau diganggu.” Kata Zahra sembari menarik kembali selimutnya.


“……” Mom terdiam, ia mencari cara agar Zahra mau cerita tentang masalahnya.


“Yaudah, kalau emang gapapa, ayo sekarang ikut Mom makan malam bersama!”


“Zahra gak laper.”


“Makan itu untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Bukan Cuma untuk ngilangin laper.”


“Udahlah, Mom. Zahra gak mau diganggu….” Ucapan Zahra lebih terdengar seperti rengekan.


Sungguh Zahra yang keras kepala atau memang ia kurang ada sopan santunnya terhadap orang tua. Entahlah! Apapun itu, toh pada akhirnya semua tergantung pada didikan orang tuanya. Itulah kenapa kini Mom mencoba menahan diri untuk tidak marah meski amarahnya sudah diujung ubun-ubun kepalanya.


Mom mencoba menarik napas dalam-dalam, dan bahkan sangat dalam. Lalu menahannya selama yang ia bisa, lalu dihembuskannya perlahan melalui mulutnya hingga manyun monyong parah.


“Yaudah, terserah sekarang kamu mau apa. Besok kalau sudah tenang, Mom pasti akan dengar apapun yang akan Zahra ceritakan.” Terang Mom menepis dan mengakhiri perdebatan dengan putri satu-satunya.


Malam terlalu hening


Terkadang membuat kepala pening


Belum lagi suara berisik hewan malam


Menggema seolah memenuhi seluruh ruang.


“Papa jahat, Mom!” lirih Zahra tanpa ada yang bisa mendengarnya.


...****************...


Dingin masih menjadi rasa yang menemani


Meski telah diseruput kopi


Tetap saja tak mampu menghangatkan hati


Di tengah remang malam. Papa sedang terduduk seorang diri. Pikirannya melayang memikirkan seseorang yang nyatanya telah ia terlantarkan, ‘Zahra’ putri satu-satunya.


Kata-kata Mama Angga, masih terngiang dalam ingatan Papa. Kata-kata itu mengalir sederhana, namun nyatanya begitu bermakna.


“Papa macam apa aku ini yang begitu tega meninggalkan putrinya begitu saja.” Makinya pada diri sendiri.


“Karena harga diriku, aku tega mengabaikan putriku.”


Papa dan Mom, mereka bercerai 3 tahun yang lalu. Mereka berpisah dengan cara yang tak bisa dikatakan baik-baik saja. Ada pertengkaran yang terjadi saat itu.


“Aku bisa menjaga putriku sendiri. Aku tak butuh kamu.”


Satu pesan dari Mom yang sampai saat ini masih teringat jelas dalam benak Papa. Kata-kata itu begitu menohok dan terasa melukai harga diri Papa.


Entahlah, mungkin karna ego yang tak terkendali. Atau mungkin kata-kata itu memang terlalu menyakitkan.


“Aku sudah berusaha agar kita tak berpisah. Aku mencoba bertahan selama 16 tahun lamanya. Tapi kau tak pernah ada pengertian. Bahkan sikapmu begitu acuh sejak kita menikah.” Papa bermonolog dengan dirinya sendiri. lebih tepatnya, meratapi nasib yang terlanjur dijalani.

__ADS_1


“Zahra, maafkan, Papa.” Lirihnya dengan penuh rasa sesal.


To be continue.....


__ADS_2