AZZA

AZZA
My Hero


__ADS_3

Mom dan Zahra tengah duduk bersama di meja makan. Mom nampak sibuk mengoleskan selai coklat kacang pada lembaran roti tawar yang ada ditangannya. Sedangkan Zahra justru sibuk memandangi Mom.


‘Bilang apa ndak, ya?’ batin Zahra.


Merasa sedang diawasi, akhirnya Mom pun beralih fokus dari roti dan selai, kali ini Mom menatap Zahra yang juga tengah menatapnya namun dengan pandangan kosong.


“Ra?” panggil Mom.


“.....” Zahra masih dengan tatapan kosongnya.


“Hey!” panggil Mom sembari menggoyang telapak tangan Zahra.


“Hah?” kejut Zahra sontak tersadar dari lamunannya.


“Mikir apa sih, kamu? Kok, sampai ngelamun gitu.” Tanya Mom.


“Ehhmm.. itu, Mom─” Zahra menjeda perkataannya.


“Itu apa?” tanya Mom yang kini sudah kembali fokus pada roti dan selai di tangannya.


Sejenak Zahra nampak berpikir, dengan sedikit keraguan Zahra pun memilih untuk berkata.


“Mom, Zahra mau bilang sesuatu.”


“Apa?”


“Papa mau nikah lagi.” Ucap Zahra datar.


Seketika gerakan tangan Mom yang mengoles selai pada roti pun terhenti. Terasa ada batu besar yang tiba-tiba menghantam relung hatinya yang terdalam. Bahkan seolah batu itu kemudian meledak dan menyebarkan rasa panas di dada.


“Mom tahu tentang ini?” tanya Zahra hati-hati.


Mom menggeleng sebagai jawaban tidak.


Zahra menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Zahra tahu, selama ini Mom masih ada rasa berharap kepada Papa, hanya saja Papa seolah tak peduli.


“Kamu tahu dari mana?” tanya Mom pelan masih dengan menunduk beradegan mengoles selai roti.


“Zahra kenal dengan calon yang akan dinikahi Papa.”


“Kamu kenal?” kali ini Mom mendongak dengan raut wajah terkejut.


Zahra mengangguk, “Iya, Mom.”


“Dia sepantaran kamu?” tanya Mom dengan mata yang agak melotot.


“Apa?”


“Dia─” Mom belum selesai dengan perkataannya Zahra pun langsung menyela.


“Oh, bukan gitu, Mom.”


“Maksudnya, Zahra tahu siapa calon yang akan dinikahi Papa.”


“Kamu tahu darimana?”


“Zahra lihat sendiri.”


“Papa yang nunjukkin?”

__ADS_1


“Tidak.”


“Lalu?”


Zahra berkedip-kedip, dalam pikirannya tengah menimbang, haruskah ia ceritakan ke Mom sepenuhnya atau tidak.


“Lalu kamu tahu darimana, Ra?” ulang Mom dengan pertanyaan yang lebih lengkap.


“Waktu di saat Mom dan Zahra melihat Papa di kedai perempatan jalan, di situ Zahra lihat Papa dan calonya.”


Mendengar penjelasan Zahra, seketika Mom memutar kembali memorinya pada kejadian di kedai waktu itu. Mom berusaha keras mengingat apa yang terjadi saat itu. Alisnya berkerut hingga raut mukanya menjadi sangar.


“Mom gak lihat apa-apa.” Celetuk Mom yang menyerah karena merasa tak melihat apa yang dikatakan Zahra.


“Iya emang Mom gak lihat. Mom waktu itu buru-buru pergi.”


“Oh.” Akhrinya Mom hanya bisa ber ‘o’ ria.


Zahra manyun, lalu ia pun mengambil selembar roti lalu mengolesinya dengan selai coklat kacang, sama seperti yang Mom lakukan.


“Mom, mau kemana?” Tanya Zahra yang melihat Mom begitu rapi di hari minggu pagi.


“Mom mau ke kafe. Kemarin Mom dapet kabar kalau ada masalah di sana.”


“Masalah apa?”


“Entahlah! Sebenarnya Mom juga sudah capek ngurusin beginian, tapi karena diminta datang, yaudah Mom datang.”


Zahra mengangguk-ngangguk, sekedar tanda bahwa ia paham.


Dulu di waktu muda sebelum menikah, Mom dipercayai oleh ayahnya untuk menjalankan bisnis kafe. Tapi saat Mom sudah menikah dan sibuk merawat Zahra kecil, akhirnya Mom mempercayakan bisnis kafenya pada seorang kerabat dekat. Dan selama ini semua berjalan baik-baik saja dengan perjanjian bagi hasil yang sudah disepakati.


Jika Mom Zahra yang memiliki bisnis kafe pemberian orangtuanya, lain halnya Mama Angga yang memiliki butik yang dijalankannya dari hasil usahanya sendiri.


Awalnya Mama hanya membuka jasa menjahit pakaian, tapi karena hasil jahitannya yang memuaskan. Akhirnya ada seseorang yang dengan baik hati memberi dana untuk membuka usaha butik. Dan sekarang usaha butik Mama Angga bisa dikatakan cukup sukses karena dari butik itulah Mama dan Angga bisa hidup berkecukupan.


“Ma, nanti kalau menikah, Mama mau bikin baju penganti Mama sendiri atau mau pakai jasa desainer lain?” tanya Angga.


“Bikin sendiri ajahlah.” Jawab Mama santai.


“Kalau jas pengantin Angga, siapa nanti yang bikin?” tanya Angga dengan nada menggoda.


“Mama dong!” Jawab Mama dengan percaya diri.


“Kalau baju pengantin calon mempelai wanita Angga, siapa yang bikin?” kali ini nada bicara Angga semakin dibuat-buat.


Mama nampak berpikir sejenak, lalu menjawab.


“Kalau dia mau baju pengantin buatan Mama, ya pasti Mama akan buatkan baju penganti yang cantik buat calon Angga. Tapi kalau dia gak mau. Yaudah! Berarti Angga harus carikan desainer yang sesuai dengan keinginannya.”


Angga tersenyum, lalu merangkul Mama yang sedari tadi ada di sampingnya.


“Angga sayang Mama.” Ujarnya dengan setulus hati.


Mama tersenyum dan menepuk-nepuk pundak putra tercintanya.


“Mama juga sayang Angga.” Ujarnya lembut.


“Angga tahu.”

__ADS_1


Momen sederhana tapi mengharukan. Ibu dan anak itu saling berbagi kasih dan sayang. Bagi Angga, Mama adalah segalanya. Sejak ia kecil, sosok hebat yang ia tahu hanyalah Mama. Terkadang Angga pun berpikir, apa pentingnya sosok seorang papa jika dengan hadirnya Mama sudah cukup menjadi segalanya.


“Ma.”


“Hmm?”


“Terima kasih.”


“Untuk?”


“Terima kasih karena sudah membesarkan dan menyayangi Angga.”


Lagi-lagi Mama tersenyum, dan kali ini Angga dihadiahi kecupan Mama di pipi kirinya.


“Itu sudah tugas Mama, sayang. Mama yang menghadirkanmu di dunia ini berkat karunia Tuhan. Jadi sudah seharusnya Mama bertanggungjawab atas putra tercinta Mama ini.” Sekali lagi Mama mengahadiahi kecupan, tapi kali ini di pipi kanan Angga.


“Justru Mama yang berterimakasih pada Angga karena sudah jadi anak yang baik selama ini.”


“Makasih, sayangku.” Pungkas Mama lalu memeluk erat Angga.


Keduanya saling memeluk menyalurkan rasa kasih sayang. Mama selalu tahu cara menunjukkan rasa sayangnya pada Angga. Dengan begitu Angga bisa merasa cukup tanpa ada rasa kekurangan kasih sayang meski hanya dibesarkan oleh singgle mama.


“Eh, udah jam berapa ini?” tanya Mama membuyarkan momen haru itu.


“Hampir jam 9, Ma.”


“Aduh, hayuk buruan cuz ke butik. Mama ada janji temu dengan seseorang.”


“Siapa, Ma?”


“Ayo buruan!” bukannya menjawab, Mama justru buru-buru beranjak untuk berangkat menuju butik.


“Oke.” Jawab Angga yang hanya bisa mengiyakan ajakan Mama untuk saat ini.


Mama sudah siap di bangku kemudi, dan Angga sudah siap duduk di sampingnya.


“HP, dompet,...” Mama mengabsen barang bawaannya.


“Oke, tidak ada yang ketinggalan.” Pungkasnya lalu menutup tas yang baru saja di koyak-koyaknya.


“Bismillah.... berangkat....”


Berjuang dan bertahan


Begitulah rumus kehidupan


Tak ada yang tak mempunyai masalah


Setiap yang bernyawa pasti diberi ujian dan cobaan


Bersyukur dan menerima


Itulah kunci kebahagiaan


‘I love you Mama.’ Ucap batin Angga mengagumi ketegaran Mamanya.


‘You are my hero.’


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2