
Angga berdiri setengah bersandar di tembok gerbang sekolah. Zahra di sampingnya masih setia berdiri tak jauh darinya. Berkali-kali Zahra menengok untuk melihat wajah Angga.
“Aku baik-baik ajah, Ra!” kata Angga yang paham akan aksi mari tengok menengok yang dilakukan Zahra.
Sebuah mobil berwarna merah berhenti tak jauh dari mereka. Dengan sigap Angga melangkah ke arah mobil merah itu.
“Ayo, Ra!” ajaknya.
“Hah? Kemana?”
Saat Zahra masih celingukan dengan kebingungannya, tiba-tiba seorang wanita paruh baya keluar dari dalam mobil merah itu.
wanita itu Nampak tak asing bagi Zahra.
‘Sepertinya aku pernah lihat, tapi dimana, ya?’ batinnya.
Wanita itu mendekat kearah Angga kemudian berkata,
“Kamu baik-baik saja kan, sayang?”
“Angga, baik-baik saja, Ma!”
‘Ma?’
“Oh ya, Ma, ini Zahra temen Angga.”
Terang Angga memperkenalkan.
“Oh ini yang namanya Zahra. Cantik, ya!” kata Mama penuh dengan senyuman.
Zahra masih setengah fokus, ia hanya paham di bagian ‘cantik,ya!’ yang membuat Zahra turut tersenyum manis.
“Yaudah, ayo kita pulang, sayang!” ajak Mama.
“Ayo, Ra!” ajak Angga.
“Hah?” Zahra mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Ah, tidak usah. Zahra bisa pulang sendiri.” Tolaknya merasa sungkan.
“Ayo Zahra kita pulang bareng biar aman.” Kata Mama masih dengan senyuman di wajahnya.
Zahra masih nampak kikuk, Angga yang paham akan hal ini tanpa berbasa basi lagi ditariknya tangan Zahra dan digandengnya untuk naik ke dalam mobil.
...****************...
Mama masih fokus dengan setir kemudinya namun sesekali melirik ke arah kaca spion sekedar mengintip Angga dan Zahra duduk tenang di bangku penumpang.
“Eehhmm..” Mama berdehem meski tenggorokannya tidak gatal dan tidak kering.
Angga dan Zahra masih tetap anteng tak bergeming seolah tak paham akan kode-kodean Mama.
“Rumah Zahra di mana, sayang?”
Tanpa ada jeda detik dengan cepat Angga menjawab, “Depan dikit lalu belok kiri.”
“Waw, Angga hafal jalan ke rumah Zahra. Padahal tadi Mama niatnya bertanya pada Zahra.” ucap Mama dengan nada menggoda sekaligus menahan tawa.
Sontak saja rona merah menyeruak di pipi Angga, dan sialnya tepat di saat itu Zahra menengok melihat ke arah Angga.
“Hahahh...” tawa Mama pun pecah.
“Oke, depan dikit lalu belok kiri.” Ucap Mama mengulangi perkataan Angga.
...****************...
Biarlah lelah merangkul jiwa
Memaksa terhenti kaki yang letih
Namun apa daya
__ADS_1
Waktu terus saja melaju
Seolah tak peduli akan diriku yang rapuh.
Zahra merebahkan punggung lelahnya di atas kasur empuk miliknya. Dilepasnya napas berat seolah mengepul gumpalan oksigen dari tubuh.
Matanya menyalang dan pikirannya melayang.
‘*Aku pernah melihatnya tapi di mana*?’ otaknya masih bekerja keras untuk menemukan jawaban.
Memorinya pun mulai memunculkan satu persatu adegan yang pernah dilaluinya dalam hidup. Sampai pada akhirnya ia terlonjak dan menghentikan aksi mari ingat mengingat.
“ITU!” matanya bahkan nampak melotot, dan ia dalam kesadaran penuh. Jika dapat dilihat gelombang otaknya mungkin akan tergambar jelas grafik gelombang Beta.
“Mama Angga adalah wanita yang duduk bersama Papa di kedai waktu itu. Berarti─”
Jantungnya berdegup kencang layaknya atlet balap lari. Degupan itu teramat kencang bahkan terasa nyeri. Sontak saja Zahra memegangi bagian dadanya.
“Tidak mungkin! Ini tidak boleh begini!” mata cengengnya sudah mulai berair. Bibir imutnya sudah mewek dengan raut muka penuh tekukan.
“Ini gak boleh! Papa Zahra gak boleh jadi Papanya Angga.” Isakan kecil itu pun lolos dari bibir meweknya.
Pikirannya bingung, otaknya tak berjalan dengan benar. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan? Kenapa begini?
Pertanyaan semacam itu pun mulai berputar-putar di kepalanya. Dipeganginya kepalanya agar tidak pecah karna Zahra merasa isi kepalanya ingin meledak saja.
“Zahra harus bagaimana?” monolognya pada diri sendiri.
Gusar, itulah kata yang tepat untuk Zahra saat ini. Ia kalang kabut menghadapi kenyataan.
“Zahra harus tanyakan langsung ke Angga. Zahra harus dengar sendiri penjelasan dari Angga.”
Segera diraihnya ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempat ia duduk sekarang. Lalu dengan gupuh diketiknya sebuah kata pada pesan yang akan dikirimnya pada Angga.
Zahra : Angga.
Jantungnya berdegup dengan tak karuan. Bahkan tanpa disadari jari-jari tangannya gemetar layaknya orang tremor.
Tak menunggu lama pesan itu pun berbalas.
Zahra : Angga, Zahra mau nanya
sesuatu.
Angga : Nanya apa, Ra?
Zahra : Boleh?
Angga : Boleh? Apanya yang boleh, Ra?
Zahra : Zahra mau nanya sesuatu,
boleh?
Angga : Iya, silahkan.
5 detik
15 detik
1 menit
Angga : Katanya mau nanya, kok di read
doang.
Angga : Zahra mau nanya, apa?
5 detik
10 detik
__ADS_1
30 detik
Anggga : Ra?
Zahra : Maaf, Zahra dipanggil, Mom.
Nanti ajah Zahra nanyanya.
Zahra : see u.
Angga : Hmmm... oke.
Zahra masih menatap nanar layar ponselnya.
‘Kenapa aku tiba-tiba ragu untuk bertanya?’
Ponsel itu masih berada di genggamnnya dan menjadi bahan garukan jarik-jari lentiknya.
“Rumit!”
...****************...
Kakinya berselonjor lurus, punggungnya bertumpuh pada kasur dengan posisi rebahan. Bibirnya mengerecut dengan raut muka yang tersirat akan rasa penasaran.
“Zahra tadi mau tanya apa, ya?”
Ia merubah posisinya menjadi miring ke samping. Tangannya masih setia memegangi ponsel miliknya. Ditekannya ikon galeri tempat tumpukan foto-foto dari yang berguna hingga yang tidak berguna.
Jari tangannya menggeser-geser layar ponselnya menampilkan slide foto-foto wajah gadis yang selalu saja memenuhi hati dan pikirannya. Seperti biasa, senyum pun terulas di wajahnya tiap kali teringat gadis pujaannya.
Otak nganggur yang kurang kerjaan itu pun mulai mengulas kembali kejadian saat di mobil bersama Zahra dan Mama.
“Oh sial, malu banget! Mama kejam.” Celetuknya dengan wajah bahagia.
Tiba-tiba saja tanpa ada memerintah, otak nganggurnya mulai menciptakan sketsa wajah Zahra. Mata lentik bagai rusa, hidung mancung kecil, bibir imut berwarna semburat pink dan pipi mulus merona merah.
“Sempurna!” gumamnya.
Seolah langit akan runtuh karna tak sanggup menandingi indahmu
Lukisan senja yang merona jingga
Seolah tiada apa bila disanding dengan dia
Matanya, hidungnya, bibirnya
Sungguh pahatan Tuhan yang Maha Sempurna
Andai dia minuman
Mungkin sudah kuteguk dalam-dalam
Andai dia hidangan
Mungkin sudah kulahap dengan keserakahan
Hanya dengan memikirkannya
Rasa dahaga dan lapar selalu saja datang tiba-tiba
Namun hanya dengan memandanginya
Segala rasa beriak itu pun sirna
Hingga yang tersisa hanya rasa damai di jiwa
Bait-bait syair pujangga yang dilanda cinta. Terangkai begitu saja tanpa naskah terencana. Mengalun melodi seolah mengiringi. Menjadikan indah bagi yang dilanda asmara.
“Ra, andai kamu tahu betapa aku mengagumimu. Mungkin kau akan merasa mual karna terlalu banyak gula-gula asmara yang kuramu untukmu.” Ia mengakhir ucapan monolognya dengan senyum bahagia.
“Semoga takdir menjadikan kita indah.”
__ADS_1
“Aku menyanyangimu, Zahra.”
To be continue...