
Andi, Hani, dan Zahra berdiri sembari menunggu Angga yang masih memarkir sepedanya.
“Kamu beneran udah gapapa, Ra? Kok keliatannya masih pucet?” tanya Hani.
Zahra mengangguk, “Iya.” Jawabnya singkat.
Dari kejauhan dapat dilihat Angga yang sudah selesai dengan urusan memarkir sepedanya. Ia sedikit berlari agar bisa segera bergabung dengan temannya.
“Ayo!” ajak Angga saat telah berbagung bersama ketiga temannya.
“Let’s go….” Seru Andi.
Mereka berjalan bersama menuju kelas. Mereka berjalan santai karna memang tak lagi buru-buru.
“Ra, kamu sakit apa?” Tanya Andi.
“Hanya demam biasa.”
“Ohh.. deman biasa, kirain demam KPOP.”
“Heuhh… apaan coba?” dengus Hani.
“Yah kan biar lucu gitu.”
“Tapi gak lucu.”
“Yaudah….”
Seperti biasa, Hani dan Andi selalu saja memperdebatkan hal sepela yang mereka sendiri tak paham faedahnya.
“Sangar….”
“Biarin.”
“Resek.”
“Eh, itu kan kata hak milik Zahra, kok kamu pakek.”
“Ih, apaan─”
“Udah-udah, kalian ini ribut mulu kayak Tom & Jerry.” Lerai Angga.
...****************...
Tidak ada Bu Guru di kelas, tapi anak-anak tetap aman dan terkendali. Bagaimana bisa? Rahasianya satu, berikan mereka tugas fisika dan harus dikumpulkan hari ini juga.
Zahra mendongakkan kepalanya. Lalu ia menengok kearah sekitarnya. Bisa ia lihat, ada temannya yang sibuk dengan kalkulatornya, ada yang sibuk dengan ponselnya, dan ada yang sibuk memutar-mutar bolpoinnya.
‘HUuufft…’ Zahra membuang napas berat.
“Kenapa, Ra.” Tanya Hani.
“Seharusnya aku dengarkan kata Mom untuk tidak masuk hari ini.” Terang Zahra.
“Kenapa?”
“Fisika.”
“….”
“Kepalaku masih pusing dan semakin pusing karena harus mengerjakan tugas fisika.”
“Ppfft…” Hani tertawa tertahan.
“Udah, biar aku yang kerjakan, nanti kamu tinggal salin jawabannya ajah.” Kata Hani.
Zahra menatap Hani dengan mata berbinar yang dilebih-lebihkan.
“Oh, Hani, kamu memang yang terbaik.” Kemudian dirangkulnya teman sebangkunya itu.
“Aiiisshh… udah gak usah lebay.”
“Hehehe.”
‘sreett…..’ Angga menyeret bangkunya untuk mendekat ke meja Zahra.
‘Duk’
__ADS_1
“Aauhh..” keluh Angga saat lututnya terbentur meja Zahra.
“Ck, banyak tingkah!” Sahut Hani lirih.
Angga manyun, lalu memposisikan diri untuk di bangku yang diseretnya tadi dan kini ia menghadap tepat di sisi samping Zahra.
“Ra,”
“Hm?”
“Kamu tahu siapa yang udah ngelabrak kamu waktu itu?”
Zahra menggeleng.
“Beneran?”
“Iya.”
“Lah terus, kok bisa mereka ngelabrak kamu?”
“Yah, mana ku tahu.” Jawab Zahra dengan nada sedikit meninggi yang dipanjangkan.
Angga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Kenapa?” tanya Zahra.
“Kita mau kasih peringatan tuh anak, biar gak jahil-jahil lagi ke kamu.” Sahut Hani yang turut geram.
Zahra menggigit bibir bawahnya sembari berpikir. Alisnya pun berkerut mencoba mengingat-ngingat kejadian pelabrakan itu.
“Aku tidak mengenal mereka, cuma aku sempat lihat di lengan bajunya tertulis XII-C.”
“XII-C?”
Zahra mengangguk.
“Terus mereka bilang apa? Mungkin mereka bilang apa masalahnya gitu.” Lanjut Hani.
“Aku gak tahu, cuma yang aku ingat mereka bilang kalo aku itu sok kecakepan padahal gak cakep.”
“AHH.. FITNAH MACAM APA, TUH!” sahut Angga yang sukses membuat seisi kelas pandangannya tertuju pada Angga.
“LAH ABIS NGESELIN. APAAN, MEREKA BILANG ZAHRA SOK KECAKEPAN, LAH WONG EMANG CAKEP KOK.”
“IYAYA, GUE JUGA TAHU KALO ZAHRA CAKEP, TAPI GAK USAH TERIAK-TERIAK KELES.” Sahut salah satu teman laki-laki di kelas.
“Huuu.... lebay...” sorakan dari teman sekelas.
Sontak saja Hani dan Zahra menutupi mukanya dengan buku fisika di hadapannya. Sedangkan Angga hanya berkedip-kedip tak tahu harus menyangkal apa.
...****************...
Hening dan sepi bagai ruang tak berpenghuni
Tak ada candaan, tak ada kebersamaan
Hanya ada ke kosongan
Hanya ada ke hampaan
Mom duduk termenung di sofa ruang tamu. Pandangannya menyalang jauh, pikirannya melayang ke masa lalu.
Baru beberapa saat yang lalu Papa di sini, namun sekarang sudah pergi karena tak ada alasan dia untuk di sini, begitulah katanya.
“16 tahun kita hidup bersama, lalu menjadi asing hanya dalam waktu 3 tahun.”
Ada ketidakrelaan dalam benak Mom saat sikap Papa yang seolah tak pernah terjalin hubungan apapun di antara mereka.
“Mungkin memang hanya aku yang menangis di setiap malam karena memikirkanmu.”
Pandangannya masih menyalang jauh, menerawang kilasan kenangan.
“Aku hanya berpura inginkan kau pergi, tapi kau benar-benar pergi dan tak ada niatan untuk kembali.”
‘Hiks.’ Isakan itu hadir begitu saja.
“Aku merasa cemburu dan ku ungkapkan padamu, namun kau tak pernah menenangkanku untuk itu.”
__ADS_1
‘Hiks.’ Kali ini air matanya pun mulai turut mengalir.
“Aku masih ingat semuanya. Aku masih ingat semuanya, mas.”
Runtuh sudah pertahanannya, tangisnya pun pecah. Meratapi masa lalu tiada beda dengan membuat luka baru.
Sayatan-sayatan kecil itu menuai luka lagi
Terasa sakit nan perih menyeruak hati
Buliran derai airmata
Tak cukup membasuh duka
Berbagai penangkal telah diupayakan
Namun luka tetap gagal disembuhkan
“Kamu jahat, mas! Kamu jahat! Hiks..”
...****************...
“Terus kita harus ngapain?” tanya Andi.
“Aku punya teman di kelas XII-C.” Jawab Hani.
“Terus?” lanjut Andi.
“Iya kita tanya kira-kira siapa anak yang ciri-cirinya mirip kayak yang dijelasin Zahra.”
“Emang ciri-cirinya gimana?”
Hani mengepalkan kedua tangannya erat. Dengan gerakan meremas menggambarkan kekesalan sekaligus gemas.
“Yak! Dari tadi tanya mulu.”
“Lah, kan aku gak tahu.”
“Kan tadi udah dijelasin ama Zahra.”
“Lah, kapan?”
“Tadi di kelas.”
“Kan aku gak ikut rundingan tadi. Aku sibuk ngerjain tugas fisika.”
“Hiiii....” gemas Hani dengan gerakan seolah-olah ingin meremas Andi dan membejek-bejeknya.
“Udah-udah!” lerai Angga.
“Ini kita langsung masuk ajah atau gimana?” tanya Angga sembari melihat ke arah penanda pintu yang bertuliskan XII-C. Sekedar memastikan kalau mereka tidak salah masuk kelas.
“Go..” titah Hani.
Mereka hendak melangkah bersama, namun langkah Angga tertahan tarikan Zahra di lengan bajunya.
Sontak Angga menoleh dan dilihatnya tangan Zahra yang tergenggam erat dengan wajah pucat.
“Kenapa, Ra?” tanya Angga pelan syarat akan kekhawatiran.
Zahra menggeleng.
“Kamu takut?” tanya Angga.
Kali ini Zahra mengangguk.
Angga menarik napas banyak-banyak, menahannya sebentar, lalu dilepaskan perlahan.
Dilepaskannya genggaman tangan Zahra di lengan bajunya. Lalu digantikannya dengan tangannya sendiri hingga kini tangan mereka saling menggengam.
“Semua akan baik-baik saja. Ada Angga yang akan selalu menjaga Zahra.” Tutur Angga dengan senyum semanis yang ia bisa.
“Yaudah, kita tunggu di sini aja. Biar Hani dan Andi yang masuk.”
Zahra mengangguk patuh.
Angga menuntun Zahra untuk duduk di bangku panjang yang terletak tak jauh dari tempat mereka. Angga mendudukkan dirinya, lalu menepuk sisi samping dirinya mengisyaratkan Zahra untuk duduk.
__ADS_1
Lagi-lagi Zahra mengangguk patuh dan menuruti perintah Angga untuk duduk.
To be continue....