
Sepoi-sepoi angin berhembus menerpa dedaunan. Sebagian daun-daun kering itu terlepas dari rantingnya, berjatuhan tergeletak di tanah. Sekali lagi angin berhembus meniup dedaunan yang gugur itu semakin menjauh dari tempat asalnya.
“Ra, lain kali jangan sendirian lagi, ya! Biar aman.” kata Angga dengan tersirat rasa sayang.
“Zahra maunya sama Angga.” Jawab Zahra pelan.
“Iya, gapapa. Tapi kalo ke toilet perempuan kan, Angga gak bisa nemenin.”
“…..” Zahra hanya terdiam.
Keduanya tengah duduk berdampingan bersama di bangku taman sekolah. Zahra menggeser badannya untuk sedikit lebih dekat dengan Angga. Lalu menyandarkan kepala lelahnya di bahu kiri Angga. Sesaat Angga terkejut, tubuhnya menjadi kaku tegang untuk seperkian detik.
Ini bukan pertama kalinya Zahra bersandar di bahu Angga, hanya saja ini adalah momen langka.
“Angga,”
“Iya, Ra.”
Sejenak Zahra terdiam, pikirannya tengah menimbang ‘haruskah ini kutanyakan atau tidak?’.
“Kenapa, Ra?” tanya Angga dengan lembutnya.
“Calon Papa Angga,─” Zahra menjeda ucapannya sejenak, kemudian melanjutkannya, “siapa namanya?”
Angga merasa ada pergerakan di bahunya tempat Zahra bersandar. Sontak Angga menoleh dan di dapatinya Zahra yang tengah mendogak menatapnya. Sesaat pandangan mereka salling bertemu, namun secepat mungkin Angga mengembalikan kesadarannya dan memalingkan pandangannya.
“Siapa?” kata Zahra mengulangi pertanyaannya.
"Eehmm." Angga berdehem ringan, berusaha menetralkan tenggorokannya yang terasa sedikit mengering.
“Emm itu, namanya Om Agus.” Jawab Angga.
Ada gejolak dalam dirinya yang sekuat tenaga Angga tahan. Pandangan singkat yang barusan terjadi, nyatanya menggetarkan relung-relung haus dalam diri Angga. Bagaikan candu, pandangan itu sungguh menghanyutkan.
Berbeda dengan Angga, Zahra nampaknya tak terpengaruh dengan temu pandang yang menghanyutkan bagi Angga. Dengan tenangnya, Zahra berkutat dengan ponselnya, kemudian ia sodorkan ke Angga.
“Apa ini orangnya?” tanya Zahra sembari menunjukkan foto yang terpampang nyata di layar ponselnya.
Diambilnya ponsel itu dari genggaman Zahra, dan dilihatnya foto itu dengan seksama.
“Ini─” ucap Angga tertahan.
Dalam foto itu terlihat jelas Zahra yang tengah berfoto bersama pria paruh baya yang tak lain adalah calon papa Angga.
“Benar itu orangnya?” tanya Zahra memastikan.
Angga masih bingung, antara rasa terkejut dan tanda tanya besar.
“Kamu kenal dengan Om Agus?” tanya Angga serius.
Zahra berdecih pelan tanpa bisa didengar Angga sembari mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung.
“Ra?” ada kepanikan dari nada suara Angga.
“Itu Papaku.” Jawab Zahra santai.
__ADS_1
“APA?”
“Iya, calon papa Angga adalah mantan papa Zahra.” terang Zahra bernada ironi.
Angga menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tengah mengusir pikiran yang tiba-tiba menyerang otaknya. Dilihatnya sekali lagi foto itu.
‘Benar, wajah mereka mirip.’ Batin Angga.
“Kenapa? Angga kaget?”
“Ra, tidak ada istilah mantan papa.”
“Heuh...” Zahra mendengus meremehkan.
Zahra mengangkat kepalanya yang sedari tadi bersandar di bahu Angga. Diambilnya ponsel miliknya yang ada digenggaman Angga.
Dengan langkah kaku, Zahra melenggang pergi meninggalkan Angga.
“Ra, mau kemana?” tanya Angga setengah berteriak.
Tak ada jawaban, dan Angga tak perlu menunggu jawaban. Disusulnya langkah Zahra yang dengan angkuhnya meninggalkannya.
“Ra, tunggu!” teriak Angga.
Belum lama Zahra pergi, tapi kenapa jarak itu begitu jauh terlampaui.
Angka mempercepat langkahnya, namun masih saja tak mampu mengejar Zahra. Angga pun sedikit berlari untuk bisa menggapai Zahra. Langkah mereka saling berkejaran hingga tak terasa mereka telah sampai tepat di pintu masuk kelas.
Kini Zahra hanya berjarak selangkah di depan Angga. Diulurkannya tangan Anggan berniat menggapai tangan Zahra untuk menghentikan langkahnya. Namun di luar harapan, nyatanya Bu Guru sudah siaga berdiri di depan pintu masuk dengan bersedakap dada sepaket dengan tatapan tajam matanya.
...****************...
Pelajaran setelah jam istirahat memanglah terasa berat. Hanya segelintir siswa yang masih fokus dengan pelajaran yang diterangkan. Sedangkan sisanya sibuk memandangi jam dinding berharap bel pulang segera berdering nyaring.
Sesekali Angga menoleh ke belakang, tepatnya menoleh ke arah Zahra. Dapat dilihatnya Zahra yang menggeletakkan kepalanya di meja dengan jari-jari lentiknya memainkan bolpoin yang diputar-putar tak beraturan.
Kali ini Angga beralih melihat ke arah jam dinding, seperti halnya siswa yang lain, ia berharap jam belajar ini segera berakhir.
‘15 menit lagi.’ Batinnya.
“Bagaimana, apa ada yang ditanyakan?” Kata Bu Guru.
“.......” hening, tak ada jawaban.
“Anak-anak, ada yang ditanyakan?” Ulang Bu guru sembari menyalangkan pandangannya ke seisi penghuni kelas.
“Baiklah. Kalo tidak ada yang ditanyakan, mari kita akhiri dengan mengucap hamdalah!”
“ALHAMDULILLAHIRABBIL ALAMIN....” kompak anak-anak bersemangat mengakhiri jam belajar.
“Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” Salam Bu Guru peretanda kelas telas diakhir.
“WAALAIKUMSALAM... Hati-hati di jalan, bu....” lantang salah seorang teman laki-laki di kelas.
“Alay...” dan teman yang lain menimpali.
__ADS_1
Angga buru-buru merapikan bukunya dan memasukannya ke dalam tas. Lalu ia menengok ke belakang untuk memastikan Zahra.
“Loh!” kaget Angga saat dilihatnya Zahra sudah tak ada.
Angga pun celingukan, dan dilihatnya ternyata Zahra sudah lebih dulu keluar dari kelas. Dengan bergegas Angga berusaha menyusul langkah Zahra yang terlebih dulu meninggalkannya.
“Ra, tunggu!” lantang Angga. Namun Zahra seolah tak peduli, ia justru melangkah pergi dan mempercepat langkahnya.
Angga tak bisa menunggu hari esok untuk meminta penjelasan akan diamnya Zahra. Angga pun berlari menerobos gerombolan siswa yang berhamburan menuju jalan pulang.
“Ra!” panggil Angga.
Angga mengambil beberapa langkah lagi, dan langkahnya kini seiring dengan langkah Zahra.
“Ra, kamu marah?” tanya Angga saat berada tepat di samping Zahra.
“.......”
“Ra, kamu kenapa?” tanya Angga sekali lagi.
“......”
Tak ada jawaban dari Zahra, ia masih terus saja melangkah sampai akhirnya berhenti di depan gerbang sekolah.
“Ra, jawab!” pinta Angga untuk yang kesekian kali.
Lagi dan lagi, Zahra masih diam tanpa ada jawaban. Zahra menyalangkan pandangannya, kemudian kembali melangkah menuju ke sebuah mobil merah yang sudah terparkir tak jauh dari gerbang sekolah.
“Ra, kamu kenapa?” ulang Angga tiada letih dan masih terus mengikuti langkah Zahra. sampai akhirnya Zahra membuka pintu mobil merah itu dan masuk ke dalamnya. Sesaat Angga terkejut, namun kemudian kaca mobil itu terbuka dan nampaklah seseorang yang dikenalnya.
“Angga........” Sapa Mom dengan riangnya.
“Mom.” Lirih Angga.
“Angga, ayo kita pulang bersama.” Ajak Mom.
“Eh, anu, tidak usah, tante. Tadi Angga bawa sepeda.” Jawab Angga dengan gugupnya.
“Oh gitu. Yaudah, kita duluan, ya!”
“Bye...bye....” Ucap Mom dengan melambaikan tangannya.
Tak ada pilihan lain, Angga pun hanya bisa menanggapi dengan lambaian tangan yang sama. Mobil merah itu melaju dan Zahra pun berlalu.
“Kamu kenapa, Ra? Kenapa kamu marah padaku?” tanya Angga pada dirinya sendiri.
Kasih telah pergi
Menyisahkan tanya dalam hati
Kiranya apa yang membuatnya marah
Mengapa harus aku yang menanggung tanya.
To be continue......
__ADS_1