
Jika dalam benakmu tersirat harap untuk bersamaku. Maka peluklah aku dalam do’amu.
...****************...
Hari masih terlalu pagi, matahari pun masih malu-malu. Hari minggu, hari libur waktu untuk bersantai tapi Mom malah dibuat keheranan dengan Zahra yang tergopoh-gopoh, dengan seragam rapi lengkap dengan tas yang bertengger di pundaknya. Sesekali Zahra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dengan grusa-grusu ia berusaha menemukan sepatunya.
“Ra, kamu mau kemana?” tanya Mom yang akhirnya tak tahan dengan rasa penasarannya.
“Hai, Mom. Pagi!” sapa Zahra yang masih sibuk dengan memaksa masuk kakinya ke dalam sepatu.
“Kamu mau sekolah?” tanya Mom dengan nyengir karena heran.
Dan sekali lagi, Zahra hanya menjawab singkat, “Iya.” dan masih dengan kegopohannya.
Diletakkannya cangkir kopi yang di tangannya. Dengan langkah santai, Mom mendekat ke arah Zahra.
“Zahra sayang, hari ini hari minggu. Jadi kamu gak perlu ke sekolah.” Tutur Mom yang menyadari bahwa anak kesayangannya ini masih setengah ngelindur.
Dan benar saja, mendengar perkataan Mom membuat Zahra terdiam sejenak seolah sedang proses koneksi dengan kesadarannya. Matanya mengerjap-ngerjap dengan wajah bengong.
“Sekarang minggu?” tanyanya memastikan.
Mom pun mengangguk manis namun kentara sekali kalo dipaksakan.
‘Puk’ telapak tangannya pun akhirnya mendarat di dahi.
“Zahraaa..... kebiasaan banget, sih! **** dipelihara. Haaa...” teriaknya pada diri sendiri.
Ia merasa benar-benar konyol. Sedari tadi ia bersiap-siap ke sekolah dengan tergopoh-gopoh bahkan hanya bernapas setengah-setengah. Tapi semuanya zonk, karena sekarang adalah minggu.
“Hahaha.” Kali ini Mom tertawa.
“Kok bisa iloh, belum mandi apa kok masih ngelindur gitu.” dan tanpa ada dosa, Mom malah melangkah pergi meninggal Zahra yang manyun dengan perasaanya yang absurd.
...****************...
Zahra hanya membolak-balikan rotinya tanpa ada selera untuk memakannya. Raganya terduduk di kursi di hadapan meja makan, tapi pikirannya justru melayang pada sang dambaan hati.
‘Tadinya mau buru-buru sekolah biar bisa ketemu Angga. Eh, lah kok malah hari libur.’ Monolognya dalam batin.
Bibirnya manyun dengan wajah tertekuk malas. Sesekali ia membuang napas kasar. “Heeeuuhh..”
“Kenapa, Ra?” Tanya Mom.
“Gapapa, Mom. Zahra Cuma lagi penasaran, kira-kira sekarang Angga lagi ngapain, ya?”
...****************...
“Angga lagi nyiram tanaman, Ma.” Jawab Angga saat Mamanya tiba-tiba datang dan menanyakan apa yang sedang Angga lakukan.
“Angga, mama ingin ngomong sesuatu.”
Tersirat nada keraguan dalam perkataan mama dan Angga menyadari itu. Ia pun mematikan aliran air pada selang yang sedari tadi dalam genggamannya dan diletakkannya begitu saja.
“Ada apa, Ma?” tanya Angga dengan lembut dan wajah tersenyum.
Ada kegelisahan dalam raut wajah Mama, dan Angga pun juga menyadarinya.
__ADS_1
Mama menghela napasnya pelan lalu berkata, “Mama.., mau menikah.” Ucapnya lemah.
Perlahan senyum dibibir Angga pun memudar. Raut wajahnya seketika berubah seolah menampakkan kekosongan.
“Angga, kamu tidak marah, kan?” tanya mama. “Mama takut kamu kecewa karena ini.”
“......” Entah apa yang Angga rasakan, ia pun tak mengerti. Hanya saja Angga merasa ini bukan sesuatu yang baik.
“Angga,” panggilnya sekali lagi. “Kamu marah?” kali ini terlihat jelas raut cemas di wajah Mama.
Matanya berbinar, air di ujung matanya mulai menggenang. Dengan pelan dibelainya lembut wajah putra satu-satunya itu. “Maafkan mama.” Ucapnya lirih.
“Tidak, Ma. Angga tidak marah, selama Mama bahagia, Angga pun bahagia.”
Tanpa bisa berkata-kata lagi. Dipeluknya Mama dengan erat. Sejujurnya perkataan itu hanya sebatas di lisan dan bukan dari hatinya. Entahlah, hanya saja saat ini Angga merasa ada yang bergemuruh dalam benaknya.
...****************...
Pandangan menyongsong jauh tanpa arah. Gejolak dalam benaknya masih saja terasa. Ia masih terpikirkan dengan kejadian siang tadi. Selama ini Mama membesarkan Angga seorang diri. Sejak kepergian ayah di saat Angga masih berusia 2 tahun. Ia menjadi yatim tanpa pernah tahu bagaimana sosok seorang ayah.
Angga menghela napasnya berat. Matanya menyalang menatap atap langit kamarnya.
“Harusnya aku senang, setelah sekian lama Mama berjuang seorang diri. Kini akhirnya Mama bisa menemukan kebahagiannya lagi. Tapi entah kenapa perasaanku kini terasa berkecambuk.”
Sekali lagi ia pun menghelas napasnya berat sembari mengubah posisi terlentangnya menjadi miring ke kanan dengan badan setengah meringkuk.
Malam masih setia dengan kesunyiannya. Suara derikan binatang malam pun jelas terdengar. Dentang jam dinding seolah menggema menyorakkan kesepian yang dirasakannya. Angin dingin merayap menyentuh kesendirian membawa kerinduan. Mengingatkannya pada sosok sang pengisi hati.
Bagai mantra yang dilafal tanpa perlu dihafal
Sebuah kata yang tak lagi asing
Sebuah kata yang mudah terucap Namun sulit untuk terungkap
Sebuah kata yang mewakili sebuah rasa Namun ambigu pada makna
"Aku merindukanmu".
...****************...
Angga : Ra.
Zahra : Iya,
Angga : Lagi apa?
Zahra : Gak lagi apa-apa?
Angga : (emot manyun)
Zahra : Kenapa?
Angga : Zahra belum tidur?
__ADS_1
Zahra : Kalo udah tidur mana bisa bales chat Angga (emot jengah)
Angga : Hehehhe, iya
Kehabisan kata, Angga bingung mencari topik perbincangan. Tak ada hal penting yang ingin dikatakan, ia mengirim pesan hanya karna kerinduan.
Satu pesan muncul di notif.
Zahra : Ada apa?
" Ada apa?" Ucap Angga mempertanyakan dirinya sendiri.
'Heeuhh...' Napas berat itu pun terhelai lagi.
"Tidak ada apa-apa, Ra. Tak ada yang penting." monolognya pada diri sendiri.
Satu pesan masuk.
Zahra : Angga?
Angga : Hehhehe, iya, Ra.
Angga : Yaudah, selamat malam.
Zahra : (emot tanda tanya)
Percakapan pun berakhir. Menyisakan rasa yang bergumuruh di dada. Kata-kata itu sudah di ujung lidah, namun sulit sekali untuk berkata.
"Aku rindu, Ra. Aku rindu."
Kalimat itu terlantun dengan irama putus asa. kerinduan yang membuncah, gagal tersampai pada tuannya. Tetap terkurung di dalam hati, tersimpan ia hingga terbawa mimpi.
Di taman yang indah dengan sebuah kolam penuh bunga. Tericum harum semerbak bunga bermekaran.
Di sana ia melihat, dirinya berjalan bersama gadis yang dipuja. Melangkah seirama seolah bernada. Tak ada kata, tapi saling melempar senyum indah.
Setangkai bunga lili putih seakan menyerahkan diri. Dipetiknya bunga dengan kelembutan, dipersembahkannya pada gadis pujaan.
Senyumnya semakin mengembang, nampak ada bentuk hati merah melayang-layang di sekitarnya. Bahkan lantunan lagu opera cinta seakan terdengar mengiringinya.
Tanpa dipinta, ia pun berputar-putar menyuarakan bahagiannya. Ia terus berputar-putar tanpa sadar telah berpijak di tepian kolam. Keseimbangannya hilang dan tubuh hilang penopang.
'Byuurrr...' terjebur ia dalam kolam.
'Haaahhh.....' Pekiknya dengan keterkejutan.
"Astaga!"
'Hosh...hoshh..' napasnya memburu beradu.
"Cuma mimpi."
Angga tersadar penuh dari tidurnya, dan berusaha mengatur napasnya.
Ada kelegaan, karna ia tak benar-benar jatuh ke kolam. Tapi ada pula kekecewaan, karna dirinya tak benar-benar ke taman bunga bersama Zahra.
"Aku basah karnamu, Ra." Celetukan ironi menjadi pengakhir hari ini.
__ADS_1
~to be continue~