
Mentari pagi menyambut dengan senyum mengawali hari. Cuaca lebih cerah dari hari sebelumnya. Burung-burung pun berkicau ringan meramaikan pagi yang tenang.
“Zahra, mau kemana?” tanya Mom heran.
“Ke sekolah.” Jawab Zahra singkat.
“Kamu masih lemes, sayang. Udah istirahat di rumah ajah, dulu!”
Zahra terdiam, otaknya terrpaksa berpikir sejenak. Benar kata Mom, dirinya memang masih lemas. Tapi ada hal yang membuat Zahra ingin buru-buru ke sekolah, Angga.
“Gapapa, Zahra kuat.”
“Jangan maksain diri, Ra!”
“Beneran gapapa, kok.”
Keras kepala, itulah Zahra.
Dengan gontai Zahra berjalan ke arah rak sepatu. Dengan gerakan yang kentara lemasnya, ia mulai memakai satu persatu sepatunya.
“Mom antar, ya.”
Zahra menggeleng lemah, “Gak usah, Zahra bareng Angga saja.”
“Kalau Angga gak lewat gimana?”
“Pasti lewat.”
Disaliminya tangan Mom, lalu ia berjalan keluar rumah dengan diikuti Mom dibelakangnya.
Zahra berdiri di depan gerbang rumahnya. Berharap Angga datang untuk berangkat bersama.
“Kalau Angga gak lewat gimana?” tanya Mom.
“Kita tunggu ajah.”
Zahra celingukan berharap menemukan sosok Angga datang. Hingga tanpa ia sadari Mom sempat pergi ke dalam rumah, dan kembali dengan membawa kursi.
“Sini sayang, duduk sini!”
“Hem?” heran Zahra.
“Kamu kan masih lemes. Kalau berdiri lama-lama nanti bisa pingsan. Ayo duduk!”
Tak ada penolakan, Zahra pun duduk di kursi yang Mom bawakan.
“Kalau ternyata Angga gak lewat, nanti Mom anter, ya.”
Zahra mengangguk, tapi dalam hati besar pengharapan ia ingin berangkat bersama Angga.
Zahra melihat jam di ponselnya.
'Harusnya Angga sudah lewat.’ Batinnya.
Ia tertunduk lesu, berpikir harapan kecilnya di pagi ini tak terwujud.
“Oh! Sayang, itu Angga.” Girang Mom yang membat Zahra sontak mendongak dan melebarkan senyumnya seketika.
“Angga.....” Panggil Mom.
Tanpa diperintah, tentunya Angga langsung turun dari sepedanya dan mendekat menghampiri Zahra.
“Ra, kamu mau kemana?”
“Ya ke sekolah, lah. Udah pakai seragam rapi gini masak mau renang.” Jawab Mom berniat melucu.
“Eh, tante. Pagi, tante.” Sapa Angga lalu menyalimi tangan Mom.
“Angga, Tante titip Zahra, ya. Tolong dijagain. Tadi tante udah minta dia untuk istirahat dulu di rumah, tapi Zahra malah mau sekolah.”
Angga berusaha menampilkan senyum terindahnya, dan berkata “Iya, tante. Pasti akan Angga jagain.”
“Yaudah, kalau gitu. Ini kamu bonceng Zahra kuat, kan?”
“Kuat kok, tante.”
__ADS_1
“Uuhh.... cowok sejati. Makasih, ya, Angga.”
“Iya, tante.”
“Ayo, Ra!”
Dengan gerakan lemahnya, Zahra duduk di frame depan sepeda Angga.
‘Aduh... anakku kok suka dirangkul cowok gitu, sih. Kemarin dirangkul Papanya mah, gapapa. Lah ini dirangkul cowok asing bukan muhrim.’
Kecemasan batin Mom. Namun karena kondisi Zahra yang sakit, Mom berusaha untuk memaklumi.
“Bye... ati-ati!” ucap Mom sambil melambaikan tangan.
Angga dan Zahra pun melaju dan berlalu dengan sepedanya.
“Ya Tuhan, apa putriku jadi kurang kasih sayang dari sosok laki-laki karena kehilangan sosok seorang papa?”
“Ya Tuhan, lindungilah putriku. Semoga ia selalu dipertemukan dengan orang baik yang takkan pernah merusaknya.”
...****************...
Angga mengayuh sepeda dengan penuh senyum di wajahnya. Sesekali ia fokus ke jalan, dan sesekali melihati puncak kepala Zahra.
Sedikit berbeda dengan Angga, tak ada senyum di wajah Zahra. Ia hanya menatap tenang jalanan, hanya saja ada kebahagiaan tersendiri dalam hatinya.
Sekitar 50 meter dari gerbang sekolah, Angga dan Zahra memutuskan turun dari sepeda.
“Zahra gapapa kan jalan sampai ke sekolah?”
Zahra mengangguk, “Iya.”
Mereka tahu adab yang harus dipatuhi di sekolah. Meski tak ada peraturan tertulis akan larangan berpacaran. Namun jika terlihat mereka berboncengan dengan sepeda gowes. Dengan Zahra yang duduk di depan dan Angga mengayuh di belakang dengan pose seolah merangkul Zahra, kesannya akan sangat tidak etis jika dilakukan di area sekolah.
“Zahra, gapapa?”
“Iya.”
Ada kecemasan tersendiri dalam benak Angga saat melihat Zahra yang harus berjalan di saat kondisinya belum benar-benar sehat.
“ZAHRA......” panggilan nyaring bernada histeris.
Dari kejauhan dapat terlihat Andi dan Hani yang berboncengan naik motor. Mereka menghampiri Angga dan Zahra.
“Stop... stop..” titah Hani sembari memukul-mukul pundak Andi.
“Iyaya, sabar.”
“Kalian ngapain, gerbangnya udah kelewat di sana.” Tanya Angga heran.
“Iya, tahu. Tapi kita kesini mau jemput Zahra.”
“Nanggung, tinggal selangkah lagi juga sampai.”
“Ihh... selangkah apaan. Ini masih ada 30 meter lagi untuk sampai di gerbang sekolah. Belum lagi nanti dari gerbang ke kelas, bisa-bisa nanti Zahra kecapean.”
“Aduuhh... tadi kamu sarapan apa sih, Hani? Perasaan kok cerewetnya gak seperti biasanya.” Komen Andi.
‘Puk’ sebuah tipukan mendarat sempurna di helm Andi.
“Bawel!”
“Yaudah, mendingan sekarang Zahra buruan bonceng Andi.”
“Gak usahlah, Hani. Sedikit lagi sampai, kok.”
“Udah gak usah nolak. Aku juga bakal bonceng, kok. Kita boncengan bertiga.” Terang Hani dengan menaik turunkan alisnya.
“Udah, Ra. Kamu naik ajah. Bener kata Hani, daripada kamu kecapean mending bonceng bareng Andi dan Hani.”
“Lalu, Angga?”
“Ah udah biarin, gak bakal ada ayam yang matok si Angga, kok.”
Akhirnya, dengan segala bujuk dan paksa, Zahra pun menuruti Hani dan mereka pun berboncenga bertiga.
__ADS_1
“Go.....”
“Cerewet!”
“Bawel!”
...****************...
Senandung lagu mengalun beriringan dengan sebaran air yang membasahi bunga di halaman rumah. Bunga disirami agar senantiasa bersemi sehingga tidak melayu dan mati.
Mom begitu asyik dengan kegiatan mari siram menyiram bunga sehingga tak menyadari Papa yang sudah di sampingnya.
“Zahra, di dalam?”
Sontak Mom berjingkat terkejut, “Kapan datangnya, kok tiba-tiba di sini?”
“....” Papa hanya berkedip-kedip bingung.
“Kamu jalan kaki? Kenapa jalan kaki?”
Papa masih bingung, tapi berusaha menjawab sepahamnya.
“Aku naik mobil. Dan iya, aku jalan kaki, kalau jalan tangan, jungkir dong!“
Mom celingukan, diliatnya di luar gerbang rumah, ternyata benar, Papa datang dengan mobil.
“Zahra di dalam?” ulang Papa.
“Oh, itu. Zahra udah ke sekolah.”
“Sekolah? Kan, dia masih sakit.” Ucap Papa dengan nada agak meninggi.
“Iya, tadi udah aku larang. Tapi dianya maksa buat masuk sekolah, kok.” Kali ini jawaban Mom ikut bernada emosi karena merasa disalahkan.
‘Heeuuh...’ Papa membuang napasnya kasar.
“Lah terus sekarang aku ke sini ngapain?”
“Ya mana ku tahu!” Sewot Mom.
Papa berkacak pinggang, dia mengedarkan pandangannya. Sebenarnya Papa bukannya marah kepada Mom. Nada bicaranya yang meninggi adalah bentuk reflek dari keterkejutannya.
“Padahal hari ini aku batalin meeting karna udah janji datang ke sini. Lah udah sampai di sini kok malah Zahranya gak ada.”
“Yah terus, itu salahku gitu?”
Papa sedikit terkejut mendengar ucapan Mom, nyaris ia terbawa emosi. Namun dengan segera Papa menenangkan dirinya.
‘Tarik napas... tahan.. buang....’ batin Papa mengintrupsi.
“Zahra pulangnya jam berapa?”
“Tauk!” Jawab Mom sewot.
Papa mengedarkan pandangannya jengah sembari menaham emosinya.
“Aku nanya serius!” kata Papa pelan.
“Ya aku juga serius. Zahra itu pulangnya gak pasti jamnya. Jadi aku gak tahu jam berapa pulangnya.”
“Lah kok bisa?” nada bicara Papa kembali meninggi.
“Kok kamu marahin aku, sih.”
“Aku gak marah!”
Papa bilang ia tidak marah, tapi nada bicaranya layaknya orang marah-marah.
“Kamu memang gak pernah berubah ya, mas.”
Kepingan kisah yang tak kunjung terlupa.
Selalu saja, diam-diam mencuri ruang untuk menjelma.
Sekuat apa untuk memusnakannya.
__ADS_1
Tetap saja, kenangan itu tetap ada.
To be continue......