Bad Reality

Bad Reality
-Satu-


__ADS_3

Sekolah sudah sepi sekitar 25 menit yang lalu, dan selama itu tidak ada tanda-tanda kemunculan supir pribadiku. Bosan? Pasti. Berbagai kegiatan sudah aku lakukan untuk mengusir rasa bosanku, melihat kaki orang yang berjalan di depanku, menendang angin, dan memperkirakan harga baju setiap orang yang kulihat.


5 menit


10 menit


Baik, aku sudah tidak tahan lagi, ku langkahkan kakiku menjauh dari tempat membosankan itu.


Sial, tadi saat aku sedang menunggu banyak angkutan umum melewatiku, mengapa sekarang tidak ada satupun yang lewat? Oke angkutan umum kita musuhan sekarang!


Zurrrr


Bagusss!! Ada apa dengan hari ini? Kenapa hari ini menyebalkan sekali huh, tidak dijemput, tidak ada angkutan umum, dan hujan pula, oke hari ini, hari apa sekarang? Ah bahkan aku tidak ingat hari apa ini.


Oke hari ini apapun itu kita musuhan sekarang!



Aku terus berjalan menembus hujan beratap langit yang cerah, sangat cerah sampai panas matahari masih bisa menyapa permukaan kulitku. Aneh bukan? Hujan di saat keadaan langit cerah. Benar benar hari yang sangat aneh.



Aku tidak peduli dengan keadaanku sekarang, lihatlah bajuku yang sudah basah kuyup terguyur hujan di tambah tatapan\-tatapan kasihan setiap orang yang melewatiku, hal itu membuatku terlihat seperti anak hilang yang sedang frustasi mencari ibunya. Ketahuilah bahwa aku membawa payung di dalam tas ku, entah apa yang merasuki diriku sampai aku nekat menembus hujan sialan ini.



Cukup lama aku ber monolog sampai langkahku terhenti di depan gerbang tinggi, gerbang rumahku. Aku mendorong gerbang itu ke dalam dan mulai memasuki rumah yang telah menemaniku sejak kecil, mungkin. Rumah ini cukup besar, rapi, mempunyai halaman yang luas, rumah ini di desain seperti rumah\-rumah para konglomerat di zaman Belanda jadi siapapun yang melihat rumah ini pasti menilai rumah ini angker, di tambah lagi kenyataan cuma aku dan beberapa pelayan rumah yang menempati rumah ini.



"Loh non koh pulang sendiri? Dimana Yadi?" Tanya satpam rumahku. Yadi adalah supir pribadiku.



"Ga tau pak, kalau bapak lihat dia tolong sampaikan untuk segera menemui saya," jawabku acuh.


__ADS_1


Baginilah aku, terlalu kaku dan acuh dengan sekitar, sikap acuhku bukan menandakan bahwa aku sombong atau tidak peduli, sikap acuhku terbentuk karena lingkungan yang terlalu monoton untukku, mau menjadi orang yang peduli juga tidak ada hal yang harus ku pedulikan. Sekalinya aku peduli, aku justru terlihat aneh dan memunculkan tanggapan salah paham dari orang\-orang, karena hal itu aku jadi tidak minat lagi untuk menjelaskan bahwa sebenarnya aku tidak se acuh yang mereka kira.



Langkahku terhenti di ruang tamu, salah satu ruangan besar dari sebagian besar luas rumahku. Aku tidak berniat untuk sombong, tapi aku benci dengan semua ini, sungguh. Tinggal seorang diri di rumah seluas ini seperti tinggal di penjara yang tidak di awasi polisi, bebas tapi tetap terikat, bebas karena aku bisa melakukan apapun disini, terikat karena sebenci dan semuak apapun aku dengan rumah ini, aku harus tetap kembali kesini.



Huft



Ah satu lagi, penasaran dengan orang tuaku? Mereka ada, tentu ada kalau tidak pasti aku tidak akan lahir. Mereka ada, tapi tidak satu negara denganku entah dimana mereka sekarang. Terakhir kali aku menghubungi mereka lewat telpon sekitar satu tahun lalu.



Rindu? Itu pasti. Tapi sekarang aku sudah tidak merindukan mereka lagi, perasaan rindu ku sudah terganti dengan rasa benci, aku tau kesalahanku karena membenci mereka, tapi apakah mereka menyadari kenapa aku bisa membenci mereka? Adakah orang tua di dunia ini melupakan anaknya? Jika ada biarkan saja, fokus saja dengan cerita ini aku malas menjabarkan lagi.




Maaf, adakah seseorang yang bisa menjelaskan hari ini dan sejarahnya? Mungkin hari ini punya sejarah lain selain menjadi hari sialku, semoga saja ada sejarahnya, jika ada itu bagus karena aku akan mengurangi umpatanku pada hari ini.



"Non baik baik saja?" tanya seseorang, bibiku\-\-asisten rumah tangga.



"Aku hanya pusing, bawakan aku segelas teh hangat setelah aku mandi nanti," kulanjutkan langkahku setelah menjawab pertanyaannya.



"Baik non," jawabnya sembari memutar balikkan langkah.


__ADS_1


"Buatkan aku surat izin untuk sekolah besok," suruhku sambil memainkan ujung gelas yang berisi setengah teh manis di dalamnya.


"Baik non, tapi apa ada kegiatan lain yang membuat non tidak ke sekolah besok?" tanyanya kikuk.


"Tidak ada aku hanya malas, keluarlah."


kubalik badanku menatap keluar jendela yang di penuhi pepohonan rimbun seperti hutan, seram memang tapi aku biasa saja, karena ini sore hari mungkin berbeda kalau malam.


Tok tok tok


"Ya?" sahutku


"Maaf non tadi saya tidak jemput karena Istri saya yang harus di bawa ke rumah sakit," ucapnya sambil membungkukan badan.


Selalu seperti ini, kenapa mereka tidak bisa bersikap santai dengan ku? Jika mereka bisa bersikap lebih santai mungkin aku bisa betah dirumah ini karena aku mempunyai teman mengobrol. Apa aku menakutkan? Tidak mungkin, aku imut menurut cermin di kamarku.


"Baiklah, kau boleh mengganti posisimu sementara dengan supir yang lain jika istrimu membutuhkanmu," jawabku.


"Terimakasih non, apa non besok mau pergi ke suatu tempat? Saya dengar non izin ke sekolah besok?"


"Antarkan aku ke sebuah tempat yang bisa membuatku tenang."


"A-ah? Baik non saya akan cari tempat yang non minta, selamat malam."


Dia pergi setelah aku menjawab dengan anggukan kepalaku. Akan di bawa kemana aku besok? Apa tempatnya sesuai dengan ekspektasiku?


~


Malam datang dan sekarang aku sedang memandangi layar 48 inchi yang menampilkan seorang laki-laki tampan yang berasal dari negeri ginseng sana.


"oppa saranghaee~~" lirihku saat laki-laki itu menatap ke arah kamera.


Kim Taehyung namanya.


Tok tok tok


Siapa yang mengetuk jendela kamarku malam-malam begini?

__ADS_1


__ADS_2